
Pagi hari Gina sudah bangun terlebih dahulu, Gina tidak mau membangunkan kedua sahabatnya yang terlihat sangat kelelahan. Gina keluar dari kamar untuk melihat ke arah villa tempat para kaum laki laki.tidur, lampu villa masih belum hidup, tandanya mereka masih berada di balik selimut.
Gina kemudian keluar menuju dapur, Gina berencana untuk.membuat sarapan pagi dengan bahan yang ada di dalam kulkas. Gina melihat semua bahan, terlihat bahan yang ada hanya bisa untuk membuat nasi goreng. Gina kemudian mengeluarkan semua bahan yang dia butuhkan dari dalam kulkas, Gina asik membuat bumnu untuk nasi goreng dan menyiapkan sua toping nasi gorengnya. Setelah Gina selesai menyiapkan semua bahan Gina mulai memasak nasi gorengnya. Setelah berkutat selama satu jam di dapur nasi goreng Gina selesai.
Gina kemudian kembali ke kamar untuk membersihkan badannya. Setelah itu Gina membangunkan kedua sahabatnya.
"Mir, Sar bangun udah jam tujuh." kata Gina sambil mengguncang badan kedua sahabatnya.
Mira dan Sari yang merasa badannya diguncang langsung saja duduk.
"Apa Gin?" tanya Sari.
"Udah jam tujuh sana mandi." kata Gina.
Sari dan Mira kemudian bergantian untuk membersihkan badan. Mereka bener bener lelah sehingga tidak terbangun saat azand subuh berkumandang. Setelah selesai Gina dan kedua sahabatnya menuju meja makan yang terletak ditengah tengah antara kamar yang ditempati Gina dan kamar yang ditempati Aris.
Aris dan keempat temannya sudah duduk di meja makan. Gina membawa sarapan pagi mereka. Sedangkan Sari dan Mira membawa teh dan kopi. Gina kemudian menata sarapan yang di buatnya tadi di atas meja makan. Aris terheran heran, rasanya dia belum memesan menu sarapan.
"Siapa yang pesan sayang?" tanya Aris.
"Mana ada pesan. Aku yang bikin sayang."
"Seriusan?"
"Yup. Kamu nggak yakin sayang?" Gina menatap tajam ke arah Aris.
"Yakin. Tapi kurang yakin dengan rasanya." Aris menatap mencemooh ke Gina. Gina yang ditatap seperti itu tertantang untuk menantang Aris.
"Bagaimana kalau kita main taruhan kecil kecilan sayang." kata Gina sambil menyipitkan matanya dan menopang dagunya melihat ke arah Aris. Semua teman mereka menatap curiga ke arah Gina.
"Setuju. Taruhan apa?" tanya Aris yakin kalau dia akan menang.
"Gampang sayang, nanti kamu akan tau sendiri." jawab Gina.
__ADS_1
"Oke. Sepakat." Aris kemudian menjabat tangan Gina. Gina pun tersenyum penuh kemenangan. Afdhal yang tau keahlian Gina memasak hanya mampu menepuk jidatnya saja. Afdhal sudah tau hasil akhir taruhan itu.
Aris dan rombongan langsung menyuap nasi goreng yang telah dibuat Aris. Aris memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya dengan tatapan penuh keraguan ke arah Gina. Gina yang ditatap seperti itu memasang mimik wajah pura pura takut.
"Sayang, masih ada kesempatan untuk jujur akan rasa makanan mu sayang." kata Aris sambil menatap Gina.
"Sayang, apa kamu takut kalah sayang?" balas Gina dengan manjanya.
"Oke. Aku makan, tapi jangan menyesal sayang." balas Aris sambil memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya dan merasakan rasa dari nasi goreng buatan Gina.
Betapa terkejutnya Aris dengan rasa dari nasi goreng itu. Rasanya betul betul sempurna, belum pernah Aris merasakan nasi goreng senikmat dan selezat itu. Gina dan semua temannya memperhatikan reaksi dari Aris.
"Gimana sayang, siapa yang kalah? Apakah aku?" kata Gina sambil memegang kedua telinganya.
"Kamu sengaja sayang?"
"Nggak sayang, kamu yang nantang aku." tanya Gina dengan mengerjap ngerjapkan kedua matanya.
"Hahahahhahahahaha" tawa Afdhal disela sela sindiran manja Aris dan Gina.
""Nelas tau lah gue kakaknya. Kalau Nana tidak di rumah urusan dapur pasti Gina yang ngurus." jawab Afdhal dengan gampangnya.
"Loe kenapa nggak ngode gue?"
"Males lah. Gue mau nengok seberapa beraninya loe menghadapi keisengan Gina nanti." kata Afdhal sambil memakan nasi gorengnya.
"Sayang, jadi?" kata Gina menggantung ucapannya.
"Jadi. Kamu yang terbaik sayang." kata Aris sambil mengacungkan kedua jempolnya ke depan muka Gina.
"Buka itu sayang, apakah kamu siap nerima tantangan sayang?"
"Siap. Apapun itu akan aku jalani, Aku pria sejati pantang mengelak dari kekalahan." jawab Aris dengan tegas dan mantap.
__ADS_1
"Oh ya sayang? Aku suka lelaki seperti itu, lelaki yang bertanggung jawab." kata Gina sambil memakan nasi goreng buatannya.
Mereka semua makan dengan lahap. Sedangkan Aris kelihatannya saja yang tenang menunggu hukuman Gina. Tapi dalam hatinya Aris lumayan setress jenis hukuman apa yang akan diberikan Gina kepada dirinya.
"Semoga Gina ngasih hukuman yang tidak akan membuat malu gue, kan nggak lucu tiba tiba Gina nyuruh gue memakai daster." kata Aris dalam hatinya.
Mereka akhirnya selesai menikmati sarapan pagi. Setelah selesai sarapan, para lelaki pergi mandi untuk siap siap untuk pergi jalan jalan di Bali. Sedangkan yang wanita langsung merapikan meja dan mencuci pinring kotor. Setelah selesai membereskan sisa sisa hasil sarpan Gina dan kedua sahabatnya pergi mengganti pakaian dan bersiap siap untuk pergi jalan jalan di pulau Dewata.
Mereka semua sudah siap, sebuah mobil hiave sudah terparkir di depan villa lengkap dengan supirnya. Mereka kemudian menuju pantai terkenal di pulau Dewata. Erjalanan yang syahdu itu mereka lalui dengan bernyanyi nyanyi di tas mobil. Predikat CEO mereka tanggalkan dahulu, mereka bener bener menjadi khalayak ramai. Tak terasa mereka sudah sampai di pantai terkenal itu.
Mereka semua langsung berjalan jalan di sepanjang pantai. Mereka sibuk bermain air, kecuali Aris. Aris masih belum bisa berbaur dengan tingkah kekonyolan teman temannya. Aris hanya tersenyum melihat Gina berkali kali gagal membuat istana pasir. Gina yang melihat Aris duduk sendirian di saung pinggi pantai langsung duduk di sebalah Aris.
"Kenapa sayang?" tanya Gina.
"Nggak ada apa apa. Kok kamu berenti mainnya?"
"Sayangku, gimana mau main akunya kalau lihat muka kamu kusut kayak kain baru diangkat dari jemuran." kata Gina sambil memeluk tangan Aris.
"Sayang, kasih aku waktu supaya bisa seperti Bram dan Afdhal. Aku masih belum terbiasa sayang. Jadi kamu jangan cemas sayangku cintaku aku tidak apa apa" kata Aris sambil mencubit hidung Gina.
"Kita nengok mereka main aja sayang. Aku juga udah capek, gagal terus aja."
Gina dan Aris akhirnya melihat semua teman mereka sedang aksik bermain kejar kejaran. Mereka betul betul terlihat seperti masa kecil kurang bahagia.
Mereka akhirnya selesai juga bermain air. Waktu makan siang dan sholat zuhur sudah masu. Aris dan semua temannya langsung saja memesan makan siang mereka. Mereka makan dengan sangat lahap. Selesai makan mereka menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, dengan imam adalah Afdhal.
Selesai sholat zuhur Aris, Gina dan kedua sahabatnya pergi melihat patung dewa yang terkenal di dunia itu.
"Ke Wisnu Kencana pak." kata Aris sambil memakai hearphone ke ketelinganya untuk mendengar lagu favoritnya.
Mereka bermain di taman itu sampai maghrib menjelang. Setelah merasa puas bermain mereka kembali ke vikla untuk melepaskan lelah. Para lelaki langaung saja mengambil celana pendek lalu nyebur ke dalam kolam renang. Sedangkan Gina memanaskan sambal yang mereka beli di perjalanan pulang.
Azand maghrib sudah terdengar di telinga mereka semua, mereka kemudian mengambil wudhu dan menunaikan kewajiban mereka sebagai muslim.
__ADS_1
Selesai sholat Gina dan kedua sahabatnya bermain demgan riang Tak terasa malampun dagang mereka kemudian bersiap siap unruk tidur. Daerah yang kedi tetepi butuh biaya besar.