
"Tuhan yang maha baik dan maha bijaksana, tolong jangan uji kesabaran saya Tuhan. Saya tidak setangguh Nana dalam menghadapi cobaan rumah tangga yang begitu berat."
"Jangan buat saya menjadi kesetiaan seorang istri part berikutnya Tuhan"
Frenya berdoa dengan lantangnya. Dia benar benar tidak akan sanggup kalau harus menjadi Ghina. Dia ya dia, Ghina ya Ghina.
"Haha haha haha. Kamu ada ada aja sayang" kata Juan yang melihat wajah Aries sudah berubah warna.
"Bener apa yang dikatakan oleh Frenya, Juan." kali ini suara Aries yang terdengar di antara semua anggota keluarga.
Rani yang sedang istirahat sekarng sudah berada di antara mereka semua. Rani sudah duduk dengan manis di sebelah Daniel.
Mereka semua terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Aries sebentar ini. Mereka tidak menyangka Aries akan menanggapi doa yang diajukan oleh Frenya kepada Tuhan.
"Daddy minta, kamu, Daniel dan Argha tidak menjadi Daddy. Tolong jangan ambil kesalahan Daddy di masa lalu. Biarkan itu hanya menjadi milik Daddy seorang. Jangan pernah kalian ambil contoh yang keliru tersebut" kata Aries menasehati ketiga pria yang ada di sana.
"Istri istri kalian belum tentu sekuat istri Daddy. Nana sangat kuat, Nana benar benar kuat menjadi seorang istri."
"Kalian semua tahu bukan apa yang telah Daddy lakukan dalam pernikahan Daddy dan Nana. Suatu hal yang tidak bisa dimaafkan sama sekali." lanjut Aries menjelaskan kepada ketiga putranya itu.
"Apa kalian bertiga bisa berjanji kepada Daddy untuk menjaga pernikahan suci kalian?" tanya Aries kepada ketiga pria tampan itu.
Mereka bertiga mengangguk.
"Kami berjanji Daddy." jawab Daniel, Juan dan Argha bersamaan.
"Kalian bertiga harus dengar. Saat istri kalian, kalian sakiti. Maka orang pertama yang akan berhadapan dengan kalian adalah Daddy."
Ancam Aries kepada ketiga putranya itu.
"Daddy tidak mandang, apakah yang perempuan adalah anak atau menantu Daddy. Bagi Daddy anak dan menantu sama saja. Tidak ada bedanya. Mereka sama sama anak Daddy" lanjut Aries.
"Sayang kuenya" ujar Frenya yang ingat dengan kue yang dibuat oleh Juan.
Juan berlari menuju dapur. Waktu memanggang kuenya sudah sangat lewat sekali. Anggota keluarga yang lain ikut ikutan lari ke arah dapur. Argha yang usil sudah mengaktifkan kameranya dari jauh. Jadi kehebohan itu terelam jelas di dalam kamera.
Juan main buka tutup oven tanpa memakai sarung tangannya. Sehingga panas oven langsung pindah ke tangannya. Tetapi dasar Juan yang bucin panas oven tidak dipedulikan nya. Juan menarik keluar loyang yang berisi cake dengan tangan terbuka. Saat cake sudah pindah ke atas piring barulah Juan merasakan tangannya sudah memerah karena panasnya loyang.
"Sayang tangan kamu" ujar Frenya saat melihat tangan Juan yang sudah memerah.
"Ini memerah sekali sayang. Kok bisa gini banget" ujar Frenya yang panik melihat tangan Juan.
Daniel pergi mengambil kotak p3k yang ada di dekat lemari es. Daniel dengan segera mengobati tangan Juan yang terbakar itu. Sedangkan Frenya sudah menangis tersedu sedu di sudut dapur.
__ADS_1
Rani melihat gelagat Frenya yang aneh itu. Ghina melihat ke arah Rani. Ghina mengangguk. Rani kemudian berjalan ke arah Frenya.
"Kenapa duduk di sini sendirian?" tanya Rani kepada Frenya.
Rani memilih untuk ikut duduk di sebelah Frenya. Rani sengaja melakukan itu supaya mereka bisa mengobrol dengan leluasa.
"Hay apa yang terjadi?" kata Rani mengajukan sekali pertanyaan yang sama kepada Frenya.
"Nggak ada yang terjadi Uni" jawab Frenya sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Jangan bohong. Kenapa menangis?" kata Rani langsung ke topik pembicaraan saat melihat Frenya mengusap air matanya yang jatuh.
Frenya menatap Rani.
"Kamu bisa percaya sama aku. Ada apa?" tanya Rani dengan melihat dan fokus kepada Frenya.
"Aku sudah berapa hari ini selalu dengan mudahnya berubah mood. Malahan aku bisa tiba tiba menangis saat merasa sedih."
"Ntah apa yang terjadi kepada diriku. Aku benar benar tidak bisa memastikan apa yang terjadi" kata Frenya memulai ceritanya kepada Rani.
"Jadi maksudnya kamu sering merasa sedih?"
"Sering berubah mood dengan cepat?"
"Tepat sekali. Ntah kenapa aku bisa seperti itu. Aku merasa terlalu letih dengan semuanya" jawab Frenya dengan sangat meyakinkan kepada Rani.
"Apa kamu mau mendengar saran Ku?" tanya Rani.
"Apa?" Frenya bersemangat mendengar apa yang dikatakan oleh Rani kepada dirinya.
"Apakah kamu mau ikut dengan aku besok ke rumah sakit?" ujar Rani mengatakan idenya kepada Frenya.
"Untuk apa? Kenapa aku harus ke rumah sakit?" Frenya tidak mengerti dengan permintaan Rani yang meminta dirinya untuk ikut ke perusahaan.
"Kita hanya bisa memastikannya di sana Frenya. Atau kamu mau ikut keluar dengan aku sekarang?" ujar Rani menawarkan solusi yang lain.
"Aku sedang malas kemana mana" jawab Frenya dengan sangat lesu.
"Oke kalau begitu besok, kamu akan ikut dengan aku ke rumah sakit"
"Tidak ada menolak" ujar Rani saat melihat Frenya akan membuka mulutnya dan menolak ajakan Rani ke rumah sakit.
"Oke aku akan datang, saat jam makan siang bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak Frenya, kamu harus datang jam sembilan." Rani menolak jam kedatangan Frenya dengan tegas.
"Kenapa?"
Frenya menjadi sangat tidak mengerti dengan keinginan dari Rani. Rani betul betul mendesak Frenya untuk datang lebih cepat dari pada biasanya.
"Lebih cepat lebih baik" jawab Rani.
Setelah mengatakan hal itu, Rani kemudian berdiri, dia berjalan meninggalkan Frenya yang masih setia duduk di tempatnya.
"Uni sini, tapi Uni mau menghias cake itu" ujar Argha memanggil Frenya.
"Apa kuenya sudah siap untuk dihias?"
"Ya sudah siap. Ayo cepat Uni. Aku sudah tidak sabar lagi ingin mencoba cake buatan Uda" kata Argha dengan luar biasa semangat.
Frenya kemudian mulai menghias kue tersebut. Frenya menyiramkan coklat cair ke atas kue. Setelah itu dia memarut coklat batang. Serta tidak lupa pula Frenya menaruh stroberi sebagai hiasannya.
"Tara kue cinta buatan chef Juan telah selesai. Mari kita coba" kata Frenya dengan semangat di depan kamera yang masih menyala itu.
Juan memotong cake yang telah dibuatnya dengan susah payah dengan percobaan berkali kali yang gagal, yang harus dialami oleh Juan tadi malam.
Juan menyiapkan potongan cake pertama untuk Frenya. Frenya mengunyah cake tersebut dengan sangat perlahan. Frenya harus memastikan bahwasanya cake buatan Juan itu memang sangat lezat.
"Sayang, lezat sekali. Ini bener bener enak sayang."
"Lebih enak dari pada cake yang kita beli di cafe bahkan toko roti ternama sekalipun" ujar Frenya.
Semua yang ada di sana berebutan untuk mencoba cake yang dibuat oleh Juan. Mereka sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Frenya.
"Gimana Nana?" tanya Frenya
"Beneran enak kan?" sambung Frenya.
Ghina menjawab dengan mengangguk. Cake yang dibuat oleh Juan beneran enak. Sangat enak sekali.
"Ini lebih enak dibandingkan dengan yang dibuat Nana" ujar Aries.
Dalam sekejap kye satu loyang ukuran besar itu sudah habis.
"Sepertinya, kamu bisa membuka toko kue Juan. Kamu langsung jadi chefnya. Ini beneran lezat" kata Aries dengan semangat mengomentari cake yang dibuat oleh Juan.
"Bener daddy, ini cake luar biasa lezatnya. Kenapa tidak dari dulu saja Uda Juan bikin cake seperti ini. Ini bener bener lezat" kali ini Argha yang memuji kelezatan cake buatan Juan.
__ADS_1