Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bunga Lili Putih


__ADS_3

Pagi harinya semua anggota keluarga telah pergi meninggalkan rumah utama untuk bekerja. Argha juga sudah berangkat ke sekolah di antar Pak Paijo. Hari ini Ghina berencana untuk memasak makan siang dan akan mengantarkannya ke kantor Aris.


Tok tok tok. Bunyi pintu yang diketuk dari luar.


"Maid, tolong bukakan pintu depan ya." ujar Ghina yang sedang fokus dengan pekerjaannya.


Seorang Maid yang sedang membersihkan meja makan berjalan menuju pintu ruang utama. Dia membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya maid saat ada seseorang yang mengantarkan buket bunga lili putih.


"Benarkah ini kediaman Tuan Soepomo?" ujar kurir bunga tersebut.


"Benar Tuan." jawab Maid.


"Saya di minta oleh Nyonya Erlin untuk memberikan buket bunga ini kepada Tuan Soepomo." kata kurir bunga sambil memberikan bunga lili putih itu kepada Maid.


"Tunggu sebentar Tuan." jawab Maid.


Maid kembali masuk ke dalam rumah. Dia menemui Ghina yang sedang fokus bekerja.


"Permisi Nyonya Muda. Ada seseorang di depan pintu sedang membawa buket bunga lili untuk Tuan Besar. Katanya itu adalah kiriman buket bunga dari Nyonya Erlin." ujar Maid yang termasuk lama bekerja di sana. Makanya maid tersdbut terkejut dan memilih untuk memberitahukan kepada Ghina.


"Oh baiklah Maid, saya yang akan keluar. Kamu teruskan aja pekerjaan kamu." ujar Ghina.


Ghina kemudian menutup pekerjaannya tadi. Dia penasaran juga dengan kurir bunga tersebut.


"Maaf Tuan, tadi Tuan mengatakan kalau buket bunga ini dari Nyonya Erlin untuk Tuan Besar Soepomo. Apakah Tuan tidak tau kalau Nyonya Erlin sudah lama meninggal? Bahkan semenjak Tuan Muda Aris masih bayi." kata Ghina membicarakan perihal kematian mertuanya itu.


"Apakah iiiiiittttuuuuuu benar Nyonya?" tanya kurir bunga ketakutan.


"Yap benar. Ngapain saya berbohong. Jadi maaf Tuan, saya tidak bisa menerima buket bunganya. Silahkan kembalikan lagi kepada Nyonya Erlin yang memesan bunga tersebut." ujar Ghina dengan tegas.


"Oh ya sampaikan lagi kepada dia. Hati hati kalau ingin bermain dengan kami. Makasi Tuan kurir yang baik." ujar Ghina.


"Pastikan pesan saya tadi sampai kepada orang yang menyuruh anda mengirimkan buket bunga itu. Dan ini sedikit untuk Anda karena sudah mau menyampaikan pesan saya." ujar Ghina sambil menyelipkan lembaran uang seratus ribu ketangan kurir bunga.


Kurir bunga itu kemudian pergi dari rumah utama Soepomo. Dia kembali mengendarai motornya. Dia sangat heran kenapa orang yang sudah meninggal lama mengirimkan bunga kepada orang yang masih hidup.


"Ah orang kaya mah bebas." ujar kurir tersebut.


Kurir kembali menuju tokonya. Dia akan kembali menemui orang yang sudah memesan bunga lili yang diantarnya ini.


Seorang pengawal Ghina mengikuti kurir tersebut. Ghina ingin memastikan apakah benar tebakannya tentang siapa yang telah berani mengirimkan bunga lili putih ke rumah utama dengan mengatasnamakan nama mendiang mertuanya.


Tak lama kurir telah sampai kembali di toko bunga miliknya. Dia melihat Nyonya yang membeli bunga tadi masih duduk di sana memakai kaca mata hitam dan topi lebar miliknya.


"Nyonya ini bunga milik Anda. Anda sudah mengerjai saya Nyonya." ujar kurir bunga ktu dengan sedikit marah.


"Maksud Anda?" tanya wanita yang membeli bunga tadi.


"Ya. Orang yang anda katakan mengirim bunga ini sudah lama meninggal. Serta satu lagi, ujar wanita muda yang menerima bunga ini tadi, dia mengatakan kepada saya untuk menyampaikan kepada Nyonya, kalau Nyonya sudah salah memilih lawan dan Nyonya diminta untuk berhati hati." ujar kurir bunga tersebut.


Kurir yang sebenarnya adalah pemilik toko bunga itu masuk ke dalam toko miliknya. Dia benar benar kesal karena sudah dikerjai oleh salah seorang customernya yang berani bayar mahal itu.

__ADS_1


"Tau gini nggak mau gue nerima uang tu wanita sialan" ujar pemilik toko bunga dengan emosi.


"Gina........... Lagi lagi kamu Gina. Berani beraninya kamu mengancam saya. Kita lihat Gina siapa yang akan menjadi Nyonya utama Soepomo." ujar wanita tersebut, dia karena emosinya membuka kaca mata hitam dan topi lebar yang dipakainya.


Pengawal yang diminta Ghina untuk mengikuti kurir bunga melihat jelas wajah wanita itu. Dia kemudian langsung mengirimkan video yang berhasil di rekam oleh dirinya kepada Ghina.


Ghina yang melihat video itu langsung menghubungi pengawal tersebut.


"Hallo, apakah dia masih di sana?" tanya Ghina menanyakan keberadaan wanita itu.


"Masih Nyonya..." jawab Pengawal.


"Oke saya ke sana sekarang." ujar Ghina.


Ghina meraih tas miliknya serta kunci mobilnya yang baru dibelikan oleh Aris. Mobil sport keluaran terbaru yang dibuat dalam edisi terbatas. Ghina sengaja memilih mobil itu untuk membuat wanita tersebut makin emosi.


Ghina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia harus cepat sampai di toko bunga itu sebelum tu wanita kabur. Dalam waktu tidak kurang dari sepuluh menit, Ghina sampai di toko bunga itu. Pengawal sudah menunggu Ghina. Dia membukakan pintu mobil Ghina saat melihat mobil Nyonya Muda mereka telah parkir.


Ghina turun dari mobil. Pengawal menunduk memberikan hormat. Ghina memasang kaca mata hitam miliknya.


"Dimana dia?" tanya Ghina kepada pengawal dengan dinginnya.


"Di sana Nyonya." jawab pengawal sambil menunjuk dimana keberadaan wanita itu.


Ghina berjalan mendekati wanita yang sudah kembali memakai kaca mata dan juga topi lebarnya. Ghina melihat wanita itu sedang menyeruput kopi pesanannya dan juga sepiring wafel yang masih utuh ada di atas meja.


"Hay Nyonya" sapa Ghina.


"Mami, terakhir kalinya saya mengingatkan Mami untuk tidak meneror keluarga Soepomo lagi. Atau Mami mau merasakan bagaimana kejamnya saya saat keluarga saya diusik seseorang." ujar Ghina sambil membuka kacamata hitamnya.


Dia memberikan Mami tatapan tajam setajam silet dan tatapan dingin sedingin kutub utara.


"Sekali lagi saya ingatkan, hentikan semua permainan ini kalau anda masih ingin selamat. Kalau tidak silahkan teruskan dan saya akan melayani permainan Anda. Setelah itu silahkan tunggu kehancuran Anda." kata Ghina memberikan Mami peringatan.


"Hahahahaha. Saya tidak takut dengan kamu wanita ingusan. Sedangkan kepada Tuan Soepomo saja saya tidak takut. Ketua mafia black jack. Apalagi kamu wanita lemah plus cemen yang hanya berlindung di balik ketiak suami." ujar Mami sambil mendorong bahu Ghina.


Ghina meraih jari Mami yang tadi mendorong bahunya. Ghina memelintir jari itu sampai berbunyi.


Krak. Sebuah jari Mami sudah sukses dipatahkan oleh Ghina.


"Kau, beraninya kau mematahkan jariku yang mulus ini." ujar Mami sambil menahan rasa sakitnya.


"Itu baru jari. Besok besok akan lebih dari pada itu. Makanya hentikan permainan sebelum semua terlambat." lanjut Ghina lagi


"Hahahahahaha. Hentikan dalam mimpi mu." jawab Mami yang kembali mrndorong Ghina dengan kedua tangannya.


Dua orang pemuda kekar yang dari tadi hanya duduk saja berdiri dan menolong Ghina yang hampir jatuh.


"Apakah anda baik baik saja Nyonya?" tanya seorang pengawal.


"Baik baik saja. Terimakasih." jawab Ghina.

__ADS_1


"Hay harusnya kalian menolang saya bukan dia. Saya istri sah ketua gank Black jack, bukan dia. Dia hanya menantu di sana." ujar Mami yang marah melihat Ghina di tolong oleh dua pengawal yang keren keren itu.


"Kami bukan anggota gank black jack. Kami adalah pengawal Nyonya Muda. Kehebatan kelompok kami jauh di atas black jack. Jadi kalau anda ingin selamat menjauh dari kehidupan Nyonya kami." ujar salah satu pengawal.


"Hahahahahahaha. Kamu menghalu terlalu tinggi Ghina. Mana ada orang seperti kamu merupakan Nyonya di kelompok mafia. Bangun Ghina bangun. Jangan kelamaan tidur." ujar Mami yang puas mengata ngatai Ghina.


Plak.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mami. Salah satu pengawal yang sudah tidak tahan mendengar Nyonya mereka di hina hina menampar keras pipi Mami. Mami terhunyung kebelakang.


"Itu adalah tamparan peringatan dari kami." ujar pengawal.


Ghina menghampiri Mami. Dia tepat berdiri di depan Mami. Mami mengangkat mukanya. Pipinya diusapnya karena masih perih luar biasa.


"Ingat satu hal. Satu orang anda ganggu seumur hidup anda akan membayar." kata Ghina dengan tatapan penuh kebencian kepada Mami.


"Saya tidak takut. Saya punya kartu as untuk membuat kamu terusir dari rumah utama." kata Mami dengan bangganya.


"Oh silahkan saja mau as skop mau as wajik mau as hati mau as keriting terserah anda. Atau sekalian kartu joker juga boleh. Saya nggak ambil pusing." ujar Ghina.


Ghina kemudian melangkah pergi meninggalkan Mami. Dia menuju mobilnya kembali.


"Kalian ikuti dia. Saya yakin dia pasti menunu rumah putih itu. Sepertinya kita tidak bisa mengulur ngulur waktu lagi. Juan Jero kalian harus selesaikan semua ini secepatnya." ujar Ghina kepada dua pengawal yang ternyata adalah Juan dan Jero yang kebetulan sedang minum kopi di sana.


"Baik Nyonya kami akan selesaikan." jawab Jero.


"Kalau bisa sebelum acara pernikahan Kak Bram semuanya sudah kelar. Saya bosan dengan tingkah nenek itu."


"Siap Nyonya. Itu masalah sepele. Kami akan selesaikan secepatnya." jawab Juan.


"Baiklah terimakasih. Saya harus pergi dulu. Gara gara tu nenek lampir, batal saya memasak makan siang untuk suami." ujar Ghina.


Ghina kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat jam mewahnya.


"Wah kebetulan sebentar lagi Argha akan pulang. Jemput Argha dulu aja, setelah itu baru ke kantor Soepomo untuk makan siang dengan suami, anak dan adik ipar." kata Ghina bermonolog sendirian.


"Dulu aja main kabur kaburan. Sekarang suamiku. Haduh. Cinta memang gila." ujar Juan.


"Yup cinta memang gila. Makanya jangan bercinta kalau nggak mau jadi gila." kata Jero menimpali perkataan Juan.


"Yup kayak elu kan ya menolak bercinta karena takut menyebar benih." ujar Juan mulai membully Jero.


"Biarlah kayak gini dari pada elo yang tiba tiba pusing saat ada wanita menuntut untuk dinikahi karena berhasil lu semai." ujar Jero mengingatkan Juan kisah dua tahun yang lalu


"Brengsek loe. Jelas itu hanya akal akalan cewek itu agar gue nikahin dia. Untung aja hari itu ada Alex yang jadi saksi kalu gue udah nggak berhubungan lagi dengan dia. Kalau ndak mati gue." ujar Juan yang mengingat kisah kelas karena kelajuan menebur benih di mana saja.


"Udah cerita tabur benih selesai. Sekarang mulai kerja. Mau loe di bunuh Nyonya Ghina kalau kita gagal?" tanya Juan.


"Nggak gue belum menabur benih." jawab Jero.


Mereka berdua kemudian pergi mengikuti Mami yang ternyata memang pergi ke rumah putih itu. Juan dan Jero mengamati dari jarak aman.

__ADS_1


__ADS_2