Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
POV Aris


__ADS_3

Aris mondar mandir seperti seterikaan di ruang kerjanya. Mukanya luar biasa kusut, tidak, seperti hari hari biasanya, hal ini sudah terjadi selama seminggu ini. Dia sudah tidak tau harus berbuat bagaimana lagi dengan Gina. Anjuran Bram untuk membawa Gina dan Arga ketempat bermain anak sudah dilakukannya. Tetapi Gina hanya ramah pada hari itu saja, di hari lain Gina kembali dingin kepadanya. Aris bener bener pusing dibuat oleh Gina.


Bram yang melihat kelakuan Aris dari cctv ruangan hanya bisa geleng geleng kepala.


"Ris Ris. Maaf brother gue juga nggak tau permasalahan antara loe dengan Gina. Kalau gue tau pasti udah gue tolongin." ujar Bram sambil melihat kelakuan lucu dari seorang Aris.


Saat Bram sedang asik memantau kelakuan Aris, tiba tiba Aris menghilang dari layar cctv ruangannya.


"Lho mana tu anak???? Jangan bilang dia mau bunuh diri karena frustasi." ujar Bram yang langsung berdiri dari duduknya. Dia menyambar jas yang disampirkannya di sandaran kursi.


Bruk bunyi pintu yang dibuka dsri luar mengenai kepala Bram.


"Ow" teriak Bram sambil memegang kepalanya yang terkena pintu ruangan.


Aris masuk dengan santainya. Dia tidak menyadari Bram yang sedang menahan sakit.


"Mana tu anak. Gue mau cerita dia ngilang. Tumben nggak ngomong." ujar Aris yang tidak melihat Bram berada di kursinya.


Saat Aris berbalik betapa terkejutnya Aris melihat Bram yang berdiri di belakangnya sambil memegang jidatnya yang sakit karena pintu ruangan.


"Ada apa dengan kepala loe?" tanya Aris.


"Pake nanyak. Gara gara loe" jawab Bram yang langsung menuju toilet.


Bram mematut dirinya di depan kaca wastafel. Dia memerhatikan jidatnya yang lumayan lebar itu.


"Untung tidak bengkak" ujarnya setelah memastikan tidak ada bengkak di jidatnya yang akan membuat malu dirinya nanti.


"Loe buka pintu kira kira napa. Pake ketok dulu kek tu pintu nggak main buka aja. Untung aja kepala gue nggak benjot. Kalau benjot mati gaya gue." ujar Bram bertubi tubi kepada Aris.


"Maaf" ujar Aris dengan lemahnya.


Bram hanya memerhatikan Aris. Dia tidak mau memulai pertanyaannya terlebih dahulu. Bram mau Aris duluan yang bercerita kepada dirinya. Makanya Bram hanya menunggu saja.


"Apa di sini musim kemarau Bram?" mendadak Aris bertanya dengan pertanyaan yang sangat absudr.


"Bener. Gaji gue di potong sama pemilik perusahaan. Makanya gue nggak mampu untuk beli air minum." ujar Bram sambil tersenyum masam ke arah Aris.


Bagi Bram pemotongan gajinya oleh Aris masih selalu diingatnya. Aris memotong gaji Bram karena kesalahan Bram yang teledor menyusun jadwal meeting. Bram lupa kalau sekretaris dari perusahaan K adalah mantan kekasih Aris. Akibat kecerobohan Bram, selama seminggu Aris tidak mendapat jatah mantap mantap dari Gina. Aris yang emosi melampiaskan kepada Bram dengan cara memotong seperempat dari gaji Bram.


"Hahahaha maafin gue. Mulai bulan ini gaji loe kembali penuh." ujar Aris.


"Beneran?" tanya Bram dengan tatapan mata yang secerah mentari pagi.


"Emang wajah gue wajah becanda?"


Bram menggeleng sempurna dengan cepat.


"Tapi ada syaratnya" ujar Aris kembali.


"Batal" teriak Bram yang mendengar Aris mengatakan pakai syarat untuk memulihkan kembali gajinya yang di potong oleh Bram.


"Syaratnya gampang. Nggak susah juga." Aris berkata sambil menatap memohon ke arah Bram.

__ADS_1


Bram yang ditatap seperti itu oleh Aris hanya mampu menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Aris. Satu kelemahan Bram yang selalu dipegang dan dimanfaatin oleh Aris adalah memberikan Bram tatapan memohon dan mengiba.


"Apa syaratnya?" tanya Bram kepada Aris.


Yes. Aris berkata di dalam hatinya.


"Gue minta tolong ke elo untuk bikin Gina baikan sama gue." ujar Aris sambil menatap kosong langit langit kamarnya.


"Ris gini ya. Gimana cara gue bisa nolongin elo, gue aja nggak tau permasalahan loe dengan Gina itu disebabkan oleh apanya. Itu yang gue pikirin. Gimana mau bantu kalau masalahnya aja gue nggak tau." lanjut Bram kepada Aris.


"Coba loe pikir pikir dulu apa masalah loe dengan Gina." perintah Bram kepada Aris.


Aris kembali membalik balik semua percakapan dan kegiatannya dengan Gina. Aris sama sekali tidak bisa tergambar dibagian mana dia bisa bermasalah dengan Gina. Aris terus berpikir, selagi Aris berpikir Bram memilih untuk tidur, kepalanya masih nyut nyutan karena terkena pintu kamar tadi.


Tak terasa sudah satu jam Aris berpikir, tetapi masih tidak bertemu juga dengan titik permasalahannya.


"Gimana udah ketemu?" ujar Bram kepada Aris.


"Nggak" jawab Aris sambil menggeleng dengan lemah.


"Nggak tau gue ntah dibagian mana salah gue. Pusing." ujar Aris sambil mengusap mukanya.


Mereka kembali terdiam. Sama sama memikirkan dibagian mana terjadinya permasalahan antara Aris dengan Gina.


"Ris, atau mungkin masalah yang terjadi antara Gina dengan anggota keluarga yang lain?" ujar Bram sambil menebak nebak apa yang terjadi.


"Maksud loe?" tanya Aris yang penasaran.


Aris berpikir kembali dengan keras. Dia menimbang nimbang dengan semua yang dikatakan oleh Bram.


"Bram, gue setuju dengan loe. Gue ingat beberapa hari ini Gina sangat jarang makan bersama keluarga. Coba lo ingat kapan terakhir Gina makan bareng kita. Dia selalu mencari alasan untuk tidak makan bersama." ujar Aris yang berusaha mengingat kapan terakhir kalinya mereka makan bersama dengan Gina.


"Gue setuju dengan loe Ris. Gina memang sudah jarang makan dengan kita. Tapi supaya kita lebih yakin lagi, kita harus memperhatikan Gina mulai saat ini." ujar Bram.


"Gue akan memperhatikan Gina. Gue sangat yakin Gina sedang ada ribut dengan orang di rumah. Gue akan cari tau apa penyebabnya." kata Aris dengan kebulatan tekadnya dan kesungguhannya. Dia akan mencari tau apa penyebab Gina berubah itu


"Gue akan bantu elo Ris. Gue yakin masalahnya bukan sama loe, tapi pasti orang di rumah." ujar Bram.


"Tapi Ris. Saat loe tau dengan siapa Gina tidak berbaikan, loe jangan asal marah sama Gina. Loe harus cari penyebabnya apa. Loe tau sendirikan sifat istri loe?" lanjut Bram meyakinkan Aris untuk tidak berbuat sesuka hatinya saat tau Gina ribut dengan siapa di rumah utama.


"Sip gue tau istri gue seperti apa. Dia nggak akan cari ribut dengan orang lain kalau tidak orang itu yang memulai keributan." jawab Aris kemudian.


"Bram apa agenda hari ini bener bener kosong?" tanya Aris yang tiba tiba ingin cepat pulang.


"Kosong nggak, tapi kalau loe mau pulang cepat ya silahkan aja." jawab Bram yang tau Aris menginginkan cepat pulang.


"Bukan gitu Bram. Gue cuma pengen tanyak aja. Emang apa kegiatan siang?" tanya balik Aris.


"Ada pertemuan dengan perwakilan perusahaan Aditama. Membahas tentang kerjasama pembangunan real estate itu." ujar Bram menyebutkan agenda kegiatan yang harus dilakukan oleh Aris.


"Oke sip. Kita adakan saja di restoran, loe boking satu ruangan VIP. Gue kebetulan juga laper banget." ujar Aris.


Aris kembali ke ruangannya. Dia harus bersiap siap untuk meeting. Sedangkan bram menghubungi pihak Aditama untuk memberitahukan kepindahan tempat meeting.

__ADS_1


"Ris" ujar Bram memanggil Aris untuk pergi meeting.


Aris memasang kembali jasnya. Dua pria dingin dan angkuh itu berjalan meninggalkan lantai tempat kerja mereka. Mereka akan selalu menjadi pusat perhatian para karyawan. Apalagi Bram yang masih sendirian, maka banyak karyawan, rekan bisnis yang berusaha mengambil perhatiannya.


"Bram kenapa mereka nggak bosan memperhatikan kita ya. Gue aja bosan diperhatiin." ujar Aris saat mereka sudah berada di dalam mobil


"Resiko jadi orang ganteng Ris." jawab Bram.


Pak Paijo yang mendengar jawaban Bram langsung menyemburkan air minum yang belum sempat ditelannya. Bram kemudian memukul mukul punggung Pak Paijo agar minuman yang nyangkut itu bisa langsung lancar masuk ke dalam perutnya.


"Ada apa Pak?" tanya Aris kepada Pak Paijo.


"Ini Tuan. Tuan Bram ngomong jujur banget. Makanya saya sampai keselek air." jawab Pak Paijo dengan jujur dengan sedikit ketakutan yang dimilikinya.


"Pak Paijo karena saya tau saya ganteng makanya saya ngomong." jawab Bram.


Pak Paijo menjalankan mobilnya. Dia tidak mau melayani Bram yang makin lama akan merembet kemana mana nanti obrolannya.


"Pak Paijo jawab jujur saya ya. Apa menurut Pak Paijo, Pak Bram itu ganteng?" tanya Aris.


Pak Paijo terlihat sedikit berpikir.


"Kalau jawab jujur Pak Bram memang ganteng, tetapi ada sayangnya Pak." jawab Pak Paijo dengan senyum jahilnya.


"Apa?" tanya Aris yang bener bener niat membully Bram.


"Jomblo Pak. Saya aja yang jelek udah coba surga dunia. Masak Pak Bram yang ngakunya ganteng tapi nggak laku laku." ucap Pak Paijo menjawab pertanyaan Aris.


"Hahahahahahaha. Bram Bram. Masak loe kalah dengan Pak Paijo." ujar Aris yang sangat senang dengan candaan dirinya dengan Pak Paijo.


Pletak. Bunyi sentilan di kening Pak Paijo. Pak Paijo mengusap keningnya yang disentil oleh Bram.


"Iri bilang bos." jawab Pak Paijo sambil membalas Bram.


"Wah ni Bapak udah berani bales dan bully gue. Mau gaji gue potong seperempat?" ujar Bram.


"Pak Aris haris ganti gaji saya yang dipotong Pak Bram." ujar Paijo melirik Aris dari kaca spionnya.


"Loh kok saya?" tanya Aris sambil menunjuk dirinya.


"Lah iyalah Pak Aris. Mau siapa lagi. Wong yang bikin saya ngeledek Pak Bram kan Bapak." ujar Pak Paijo membela dirinya.


"Awas loe Bram gaji loe gue potong seperempat karena berani memotong gaji Pak Paijo." ujar Aris yang tidak mau dirugikan akibat ulahnya sendiri.


Mereka semua sampai di restoran yang dituju. Bram yang berencana sampai duluan ternyata datang terlambat. CEO perusahaan Aditama sudah datang duluan.


Mereka kemudian memulai meeting hari itu. Aris dan CEO Aditama terlibat pembicaraan serius. Setelah meeting selama dua jam akhirnya mereka sepakag untuk melakukan kerjasama. Kedua CEO perusahaan ternama itu menandatangani perjanjian.


"Mari kita makan siang dulu untuk memeriahkan kerjasama ini." ajak Aris kepada CEO Aditama.


"Terimakasih Tuan Aris."


Mereka kemudian makan siang bersama. Selesai makan semua kembali ke perusahaan masing masing untuk melanjutkan meeting dengan tim kecil.

__ADS_1


__ADS_2