Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kena kerjai lagi


__ADS_3

"Gina" teriak Sari dan Mira saat membuka pintu ruang rawat Gina.


"Hay kalian berdua. Kapan datang? Kok bisa tau aku sedang di rumah sakit?" kata Gina sambil melihat ke arah Bram.


"Bukan gue Gin" kata Bram yang tidak mau di tuduh oleh Gina.


"Terus?"


"Gue Gin. Kemaren gue ke sini nengok teman sakit. Kiranya gue mendengar saat gue di lobby kalau Nyonya Muda Soepomo masuk rumah sakit" kata Bayu.


"Loe tega Gin. Masuk rumah sakit nggak ngasih tau kami. Kami masih sahabat loe kan Gin?" kata Mira sambil mengusap ujung matanya yang mulai basah.


"Loe berdua sahabat terbaik gue. Nggak ada yang bisa ngalahin loe berdua"


Mira dan Sari langsung memeluk sahabat mereka yang sangat tegar itu.


"Gin, kami udah tau kenapa loe sampai jatuh dari tangga." kata Sari.


Nana yang menyimak langsung menuju Sari.


"Maksud Sari apa ya?" kata Nana.


"Sar, gue jatuh gara gara paket gue nyasar. " kata Gina mengedipkan matanya ke Sari dan Mira.


"Iya Na. Masak hanya gara gara paket doang Gina bisa nyungsep kan lucu Na" kata Sari mengalihkan perhatian Nana.


Nana kemudian kembali duduk ke dekat Mami. Nana kira ada hal lain yang menyebabkan Gina bisa jatuh dari tangga.


"Selamet" kata Sari sambil mengusap dadanya.


Mami yang melihat Gina ingin berbicara dengan sahabat sahabatnya membawa Nana keluar menuju kantin.


"Nana, kantin yuk. Aku lapar lagi. Gina ada tuh empat orang yang jaga." kata Mami mengajak Nana keluar menuju kantin rumah sakit.


"Yuk. Aku juga udah laper. Gimana kalau kita ke kafe Bayu aja." kata Nana.


"Bay, Nana sama Mami bolehkan makan di kafe kamu?" kata Nana menatap ke Bayu.


"Boleh Na. Makan aja sepuas nana dan mami. Urusan jaga Gina, serahin ke kami berempat. Kalau perlu Mami dan Nana telpon Papi dan Ayah supaya juga makan ke sana." kata Bayu.


Bayu mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi manager kafenya yang baru.


"Hallo Danu, Nanti Nyonya Soepomo dan Nyonya Wijaya akan makan di kafe. Tolong siapkan menu kita yang paling oke. Sekalian satu saung kosongkan. Mana tau nanti kedua Nyonya akan membawa kedua tuan besar. Kamu boleh berfhoto dengan mereka. Ajak sekalian karyawan" kata Bayu yang memang tidak pelit berbicara dengan bawahannya. Berbeda dengan Aris dan Bram yang terkenal pelit.


Nana dan Mami langsung pergi menuju kafe Bayu. Mereka berdua berencana akan menghubungi papi dan ayah saat sudah sampai di kafe Bayu.


" Gin. Loe serius ingin membuktikan sendiri perselingkuhan Aris dengan sekretaris brengsek itu?" tanya Sari, saat memastikan Nana dan Mami sudah pergi dari ruangan.


"Iya. Gue ingin buktinya pas mereka berdua sedang ebrmesraan. Kalau bukti pesan dan telpon gue udah punya. Tapi nggak asik, masak gue marah marah dengan nunjukin bukti pesan dan telpon. Nggak asik itu." kata Gina sambil membayangkan bagaimana dia akan melabrak pasangan selingkuh itu.


Gina terlihat senyam senyum sendiri membayangkan semua dalam kepala cantiknya itu.


"Gin, loe amankan ya?" tanya Mira.


"Aman lah. Loe kira gue gila gara gara kelakuan bejat tu manusia. Nggak kale Mir. Gue ingin membuktikan ke Aris kalau dia salah cari lawan" kata Gina sambil tersenyum devil.


Sari dan Mira yang paham kalau Gina sudah tersenyum seperti itu, tandanya dia tidak main main membalas perlakuan orang tersebut kepada dirinya.


"Kak Bram. Aku denger loh tadi, kalau Aris ngomong aku wanita terlalu mandiri. Jadi dia pengennya aku selalu meminta tolong kepada dirinya. Jadi mulai besok aku akan selalu merepotkan dirinya. Kalau dia masih ngeluh berarti semua yang dikatakannya kepada mu adalah bulsyit. alias omdong atau omong doang" kata Gina berapi api.


"Loh kamu kok tau Gina?" tanya Bram heran. Bram hanya bercerita kepada Sari. Bram menatap Sari.


"Sayang aku nggak ada cerita apapun sama Gina. Neh Gina masih idup tanya dia aja. Jangan natap aku kayak gitu sayang" kata Sari sambil memeluk tangan Bram.


"Kak, kamu sudah pasti tau siapa aku dari Alex kan. Jadi jangan heran kenapa aku bisa tau kak." kata Gina.


"Hem. Aku penasaran Gin. Kamu hutang sama aku" kata Bram.


"Oke" jawab Gina.


Tiba toba ponsel Gina berbunyi. Gina langsung mengangkat panggilan itu. Bram langsung menuju Gina. Gina memberikan satu handsetnya kepada Bram. Bayu mendekat ke arah Bram. Sedangkan Sari dan Mira langsung duduk di kursi. Mereka tidak ingin ikut campur dengan Aris. Tetapi dengan Vina tinggal tunggu tanggal mainnya.

__ADS_1


"Hallo Lex ada apa?"


"Nona, unsub sedang menuju kantor Soepomo Grub. Sepertinya dia akan menjemput Jalang."


"Alex kamu ikuti terus. Saya butuh alamat lengkapnya. Langsung kamu petakan."


"Baik Nona. Semua perintah akan saya jalankan dengan baik."


"Alex kamu jangan lupa ambil semua gambarnya"


"Siap Nona."


Bram dan Bayu geleng geleng kepala dengan kenyataan yang baru saja mereka dengar. Aris yang dari perusahaan Jaya rela menjemput Vina ke perusahaan Soepomo tanpa merasa harus langsung pulang ke rumah sakit melihat istrinya.


"Gin, kamu amankan?" kata Bayu.


"Kak Bayu tenang aja. Aku aman selalu. Bukannya yang tidak aman adalah sahabat kak Bayu?"


"Itu bukan nggak aman lagi. Tapi udah gila beneran. Berlian di buang di pungut batu kali. Gila tu anak" kata Bayu.


Aris yang menunggu Vina di halte dekat perusahaan Soepomo terlihat sedang memainkan ponselnya. Dia terlihat mengetik sesuatu di ponselnya.


✉️ Aris


Sayang, hari ini aku ada lembur jadi maaf ya aku pulangnya malam


✉️ Gina


Oke sayang. Hati hati meetingnya ya.


✉️ Aris


Siap. Jangan lupa minum obat dan istirahat.


Gina tidak lagi membalas pesan yang bohong itu. Gina melihatkan pesan tersebut kepada ke empat temannya.


"Wah kebangetan kamu Aris." kata Bram.


"Op. Loe berdua nggak boleh mendahului gue. Tapi kalau gue udah ngelabrak baru loe berdua juga boleh. Terserah mau loe apain tu makhluk." kata Gina yang paham kedua temannya mau ngapain. Sari dan Mira kembali duduk di sofa. Mereka berdua sangat geram dengan tingkah Aris.


Ponsel Gina berbunyi. Ternyata video call dari nomor Alex.


"Nona, silahkan saksikan dan rekam Nona" kata Alex.


Aris yang sedang menunggu Vina di dalam mobil langsung tersenyum dengan senang, karena dia sudah mendapatkan izin untuk pulang sore dari Gina. Tiba tiba dari luar terdengar seseorang yang mengetuk kaca jendela mobil Aris. Tok tok tok. Aris langsung membuka pintu mobilnya. Vina langsung masuk ke dalam mobil.


"Sayang maaf lama. Tadi aku harus berdandan dulu." kata Vina sambil memeluk manja Aris.


"Nggak apa apa sayang. Aku kangen kamu sayang" kata Aris.


Aris kemudian memajukan mulutnya. Mereka berciumanndengan sangat panas di dalam mobil. Tangan Aris sudah menuju payudara Vina. Aris meremas kedua payudara Vina.


"Ah sayang"


"Apa sayang?" kata Aris yang sudah mulai tidak fokus.


"Jangan di jalan sayang. Nanti ada yang lihat. Kita ke apartemen aja sayang" kata Vina.


Aris mengecup sekilas bibir Vina. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemen Vina. Aris sudah tidak tahan untuk menyentuh Vina. Dia sudah seminggu tidak menyentuh selingkuhannya itu.


"Nona maaf kalau mereka turun dari mobil saya tidak bisa mengambil gambar lagi Nona. Saya yakinkan besok akan saya pasang kamera di apartemen si jalang" kata Alex yang menyesal tidak sempat memasang kamera di apartemen Vina.


"Tidak apa apa Alex. Besok suruh anak buah kamu mengerjakan semuanya dengan rapi. Saya tidak mau ada kesalahan sedikitpun" kata Gina.


"Baik Nona Muda. Saya pastikan semua akan berjalan sesuai kehendak Nona muda" kata Alex.


Akhirnya karena mengebut Vina dan Aris sampai di apartemen Vina. Mereka berdua langsung naik menuju apartemen Vina.


"Sayang" kata Vina


"Apa?"

__ADS_1


"Nggak ada. Kangen aja" jawab Vina sambil bergelayut mesra di tangan Aris.


Mereka akhirnya sampai di depan pintu apartemen milik Vina. Vina membuka pintu apartemen itu. Aris yang memang sudah tidak tahan langsung menyerbu mencium Vina. Dia membuka kancing baju Vina. Aris langsung menjadi bayi dan meremas dengan gerakan halus kasar payudara Vina yang tidak disusuinya. Aris benar benar tergila gila dengan tubuh indah itu. Vina yang sudah tidak tahan berusaha membuka celana Aris.


"Sayang tidak" kata Aris.


Vina akhirnya pasrah saja. Dia hanya bisa menikmati bagian atas Aris. Begitu juga dengan Aris hanya menikmati bagian atas Vina.


"Ah" kata Vina yang sampai.


Aris tersenyum kepada Vina. "Sayang baru itu udah sampai. Apalagi kalau sampai mencelup. Aku pastikan kamu akan pingsan" kata Aris dengan bangganya.


Mereka berdua berpelukan di atas kursi.


"Sayang kenapa kamu pindah ke Jaya?"


"Papi ingin aku dan Bram memajukan perusahaan itu sayang. Makanya aku pindah." kata Aris.


"Bukan karena hubungan kita sudah di ketahui kan sayang?" kata Vina dengan nada cemasnya.


"Tidak sayang mereka tidak ada yang tau." jawab Aris menenangkan kecemasan Vina.


"Bram tau sayang" kata Vina.


"Bram bisa dikondisikan sayang" kata Aris.


"Udah ah malas bahas itu. Yang jelas Gina sampai sekarang tidak tau sayang. Jadi kita aman mau ngapain aja." kata Aris sambil mencium dengan hot bibir Vina.


"Sayang kenapa nggak mau celup sayang?" kata Vina sambil memainkan ****** Aris.


"Jangan sayang. Aku mau celup kamu kalau kamu udah punya suami. Kalau masih belum punya suami aku nggak mau celup" kata Aris.


Mereka kembali bercerita. Tak terasa hari sudah jam delapan malam. Saatnya Aris pamit kepada Vina.


"Sayang aku pulang ya. Besok kita ketemu lagi" kata Aris.


"Sip sayang. Besok pagi jemput ya"


"Oke" Aris kemudian mengecub bibir Vina. Aris kemudian turun dan keluar dari Apartemen Vina. Dia naik ke atas mobilnya kembali. Gina kembali bisa melihat Aris.


"Wow lama sekali mereka kencannya" kata Gina dengan santai.


"Dasar brengsek" teriak Bram dan Bayu bersamaan.


"Siapa yang brengsek Bram?" kata Papi.


"Nggak Pi" jawab Bram.


Papi, Ayah, Mami dan Nana baru pulang dari kafe Bayu.


"Gimana mi enak kan makanan di kafe aku?"


"Enak Bay. Kapan kapan kami ke sana lagi. Udah malam ini kalian antar dua gadis dulu. Nanti ke sini lagi habis ngantar mereka ya" kata Mami.


Papi yang tidak melihat Aris langsung menatap Bram.


"Vina" kata Bram dengan gerakan mulut saja.


Papi dan Mami yang tau langsung melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aris.


"Nana dan Ayah istirahat di rumah aja hari ini. Biar Papi dan Mami yang nemani Gina ya" kata Gina yang sadar Aris akan pulang.


"Nggak apa apa Papi?" tanya ayah kepada Papi.


" Tidak masalah. Malam kemaren udah Ayah dan Nana yang menemani Gina. Sekarang giliran kami lagi" kata Papi yang paham kenapa meminta Ayah dan Nana pulang.


"Wah kalau begitu terimakasih banyak. Kami pulang dulu. Kami titp Gina ya" kata Ayah.


"Gina juga anak kami kok. Jangan seperti itu" kata Mami.


Ayah dan Nana menciu. kening Gina bergantian. Mereka akan istirahat di rumah malam ini. Kebetulan sekali Ayah sedang capek habis meeting banyak di kantor.

__ADS_1


__ADS_2