
Ghina yang bangun sangat pagi karena tidak ada yang menemaninya tidur langsung menuju dapur. Hari ini dia akan masak sup iga kesukaan Argha. Ghina berkutat dengan semua perlengkapan dapur. Dia masak sambil bersenandung kecil.
Aris yang melihat istrinya sedang serius masak mulai memiliki niat jahil di kepalanya.
Hup. Aris tiba tiba memeluk Ghina dari belakang. Ghina yang sudah melihat Aris jalan mengendap endap dari pantulan lemari membiarkan saja niat jahil Aris muncul.
"Kok nggak kaget?" ujar Aris sambil meletakkan dagunya di pundak Ghina.
"Ngapain harus panik Sayang, hanya dua orang yang berani meluk aku saat sedang masak sayang. Satunya suami tampan aku, kedua anak bontot aku yang kalau lagi kumat manjanya." ujar Ghina sambil menoel hidung Aris.
"Bener juga ya sayang. Siapa juga yang berani meluk istri tercinta aku ini. Ada yang berani kuburan obatnya." ujar Aris sambil menoel sebelah bukit kembar milik Ghina.
"Hay main noel noel aja. Pengen dia baru tau." ujar Ghina sambil menatap Aris.
"Udah selesai masaknya sayang?" tanya Aris yang tiba tiba pengen buang sesuatu di dalam Ghina.
"Nah kan ya mulai. Belum sayang. Nanti siang aku ke perusahaan. Batalin semua kerjasama dengan orang luar ya." ujar Ghina yang sebenarnya juga sangat pengen.
"Hahahahaha. Oke oke. Aku tunggu sayang." ujar Aris.
Cup. Aris mencium sekilas bibir milik istrinya.
"Aku mandi dulu." ujar Aris.
"Bentat. Argha gimana?" tanya Ghina yang ingat dengan anak bontotnya yang demam itu.
"Udah nggak demam lagi. Udah seperti biasa suhu tubuhnya." jawab Aris sambil menggenggam tangan Ghina.
"Oh baiklah. Sana mandi." ujat Ghina sambil mendorong suaminya keluar dari area dapur.
Rina dan Bik Imah serta satu orang maid yang mau masuk ke area rumah utama membatalkan niat mereka. Mereka menikmati kemesraan dari Tuan dan Nyonya muda mereka pagi ini. Hal yang jarang terlihat di pagi hari.
Aris yang melihat ada pelayan yang sedang menikmati pertunjukan langsung drama korea langsung terbatuk dengan keras.
"Jangan biasakan mengintip Bik Imah. Nanti bintitan tu mata." ujar Aris dengan suara keras.
Bik Imah dan yang lainnya terpaksa menekurkan kepala mereka dan tersenyum simpul saja. Aksi mengintip di pagi hari mereka ketahuan langsung oleh Tuan Muda yang dulunya terkenal dingin.
"Sayang" panggil Ghina.
__ADS_1
"Oke Sayang." jawab Aris.
Aris kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar di lantai atas. Dia akan mandi dan bersiap siap untuk ke perusahaan. Pakaian yang akan dikenakannya sudah disiapkan oleh Ghina di tempat biasa. Semuanya langkap dengan jam, dasi dan sapu tangan yang semuanya senada.
"Sayang, kamu selesai? Tumben?" tanya Ghina kepada Aris yang terlihat sudah selesai memakai pakaiannya.
"Hehehehe. Aku mau nanyak Argha dulu. Dia mau sekolah atau tidak." ujar Aris.
"Kamu mandi sana, bauk Iga." ujar Aris sambil memijit hidungnya di depan Ghina.
Ghina kemudian mengejar Aris. Aris yang kaget langsung berlari menghindar dari Ghina. Dia tidak mau istrinya itu berhasil memeluknya dan membuat dia harus berganti pakaian lagi.
"Sayang udah capek. Kamu enak bisa mandi, aku udah mandi sayang. Lagian ada meeting pagi." ujar Aris.
Ghina berhenti mengejar Aris. Dia menatap Aris dengan tatapan penuh makna.
"Nggak akan sampe siang sayang. Jam sebelas aku udah di perusahaan." jawab Aris yang tau arti tatapan mata Ghina.
"Udah sana mandi. Aku ke kamar Argha dulu." ujar Aris.
Aris keluar dari kamar mereka. Dia menuju kamar sebelah ingin memastikan apakah Argha akan sekolah atau tidak karena sakitnya semalam.
"Sekolah Daddy. Argha udah sembuh." jawab Argha dengan yakin.
Argha terus menyisir rambutnya yang sudah di beri gel. Dia benar benar terlihat seperti Aris versi kecil.
"Mana Bunda Dad?" tanya Argha saat melihat yang masuk ke kamarnya adalah Aris bukan Ghina.
"Tadi Daddy tinggal sedang mandi. Bunda siap masak masakan kesukaan kamu." ujar Aris sambil merapikan dasi yang dipasang Argha.
Aris kemudian merapikan pakaian Argha. Setelah pakaian Argha rapi, Aris memasangkan sepatu.
"Oke selesai. Anak Daddy udah jadi anak paling tampan sedunia." ujar Aris.
"Kita ke kamar Bunda ya Dad. Nanti lama Bunda siap. Argha udah nggak sabar mau makan." ujar Argha sambil menarik Daddynya untuk kembali ke kamar Bunda.
"Bunda" teriak Argha saat baru saja membuka pintu kamar Ghina.
"Bunda di kamar ganti sayang." jawab Ghina yang sedang memakai make up.
__ADS_1
Argha dan Aris kemudian duduk di sofa kamar sambil menunggu Ghina selesai bersiap siap.
"Daddy kenapa ya para wanita lama dandannya? Padahal menurut Argha, wanita itu cantik kalau nggak dandan norak." kata Argha.
"Menurut Argha, apa ada diantara keluarga kita yang perempuan makeup dengan norak?" tanya Aris yang penasaran dengan penilaian Argha terhadap keluarganya sendiri.
"Nggak Daddy. Perempuan dikeluarga kita semuanya pake makeup biasa aja nggak ada yang berlebihan." jawab Argha.
Ghina mendengar semua pembicaraan antara Ayah dan anak itu. Ghina senyum saja mendengar pembicaraan ayah dan anak yang membahas tentang makeup.
"Udah diskusi tentang makeupnya? Jadi kami semua lolos seleksi Argha dong ya? Kan nggak ada yang make makeup tebal kayak badut." ujar Ghina sambil menghadapkan wajahnya ke wajah Argha.
"Lulus Bunda. Semua perempuan di keluarga kita nggak ada yang pake makeup tebal." jawab Argha.
"Mari sarapan. Pembahasan makeup udah selesai." ujar Aris menengahi pembicaraan Argha dan Ghina.
Mereka bertiga kemudian turun ke bawah menuju meja makan. Terlihat di sana semua orang telah berkumpul termasuk Papi dan Ayah Hans.
"Bunda masak sup iga?" ujar Argha yang melihat menu sarapan pagi mereka sup iga.
"Bener sayang. Biar kamu makin sehat." jawab Ghina.
Ghina mengambilkan sarapan untuk Aris dan Argha semangkok sup iga dan sepiring nasi hangat.
Mereka semua kemudian sarapan.
"Sayang, kamu hari ini langsung pulang ke rumah setelah selesai sekolah. Jangan kemana mana ya. Sampai rumah makan terus istirahat. Argha belum sembuh benar. Ada ngerti sayang?" kata Ghina memberikan instruksi apa yang harus dilakukan Argha saat dia pulang sekolah nanti.
"Ngerti Bunda. Argha nggak akan kemana mana selepas pulang sekolah. Argha akan langsung pulang dan beristirahat. Bunda dan Daddy pulang jam berapa? Jam makan siang pulang ya. Argha pengen makan siang dengan Bunda dan Daddy." ujar Argha dengan pandangan memohon kepada Aris dan Ghina.
Aris menatap Ghina. Ghina mengangkat bahunya.
"Baiklah Daddy dan Bunda akan pulang saat jam makan siang." jawab Aris yang mengalah dengan keinginan Argha.
"Siap itu nggak usah kantor lagi. Main dengan Argha aja ya." Argha melanjutkan permintaannya.
"Oke sip. Untuk anak Daddy apa yang nggak. Asal kamu cepat sehat." ujar Aris.
Setelah selesai sarapan, mereka menuju tujuan masing masing. Argha hari ini ditemani oleh suster Rina dan juga Asisten Ivan. Ghina tidak mengizinkan Argha berdua saja dengan Ivan.
__ADS_1