Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Tidak Ada Masalah yang Tidak Ada Jalan Keluarnya


__ADS_3

"Aris" panggil Bram kepada Aris yang barusan saja pulang dari markas.


Aris melihat ke arah Bram.


"Apa?" tanya Aris


"Gimana dengan Felix?" tanya Bram


"Peduli loe?" lanjut Aris lagi dengan nada kesal yang sudah tidak ditutupinya lagi.


Ghina menahan pundak Aris, dia tidak ingin Aris ribut dengan Bram saat situasi seperti ini. Ini bukan situasi dan tempat yang tepat untuk kedua bersaudara itu ribut akan suatu masalah. Aris melepaskan tangan Ghina, dan kemudian menggenggam tangan itu. Aris meremas tangan Ghina dengan sedikit kuat, sehingga membuat Ghina meringis menahan rasa sakit di tangannya itu.


"Loe nggak usah peduli dengan orang lain, cukup peduli dengan Sari saja, yang lain biar urusan Gue, Ghina, Bayu dan Mira. Tapi satu hal Bram, gue tadi tersinggung dengan loe." ujar Aris.


"Maafin gue Ris." ujar Bram sambil menatap Aris.


Bram mengakui kesalahannya dimana, dia tidak seharusnya memilih untuk tidak pergi ke markas, seharusnya Bram pergi, karena Bram tau siapa itu Felix.


"Loe tau kan siapa Felix?" tanya Aris kepada Bram.


"Loe tau kan bagaimana sikap dan pengabdian Felix kepada Sari dan keluarga kita?" lanjut Aris dengan murka


"Loe tau kan bagaimana pengorbanan kelompok Ghina untuk keluarga kita?" kata Aris selanjutnya.


"Mereka hanya minta kita mengembalikan kepercayaan diri Felix, mereka tidak minta kita melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri kita untuk mereka, kenapa hanya dengan berbicara kepada Felix saja loe nggak mau?" lanjut Aris.


"Sekarang gue akan ke markas, gue akan ngomong dengan Felix." ujar Bram.


"Oh sudah tidak perlu, Felix sudah kembali normal seperti semula. Jadi, sekarang loe silahkan temani istri loe." ujar Aris.


"Sayang, aku ke kantor sebentar ya" ujar Aris beralih kepada istrinya.


Aris benar benar sedang kesal dan tidak bisa berpikir jernih lagi sekarang, kalau dia di sini terus, dia akan kembali bertengkar dengan Bram. Jadi, lebih baik Aris mengalah dan pergi dari rumah sakit untuk menghindari keributa.


"Aku ikut" ujar Ghina kepada suaminya itu.


Ghina tidak mungkin membiarkan Aris pergi sendirian ke perusahaannya, dengan emosi yang seperti sekarang ini. Ghina harus menemani suaminya itu kemanapun dia akan memilih untuk menenangkan perasaan dan emosinya.


"Baiklah, ayo ikut." ujar Aris


Aris dan Ghina pergi meninggalkan rumah sakit, bagi mereka berdua sebenarnya sangat berat melakukan hal itu, tetapi ini adalah keputusan terbaik yang harus mereka ambil untuk menghindari perselisihan antara Aris dan Bram. Mira dan Bayu yang melihat Aris dan Ghina pergi memilih untuk duduk di dekat Ayah Hans, mereka berdua lah sekarang yang bisa diajak mengobrol oleh Ayah Hans.


"Mir, maafin kakak ya karena tidak ikut ke markas tadi, menemui Felix." ujar Bram kepada Mira.

__ADS_1


"Tidak apa apa Kak, lagian Felix sudah bisa kok menerima semuanya, dia sudah kembali seperti Felix yang dulu." ucap Mira menjawab perkataan Bram.


"Sayang, kamu bawa kak Bram makan gih, sepertinya kak Bram sedih ditinggal kak Aris begitu saja." ujar Mira berbisik kepada Bayu.


Bayu mengangguk, dia setuju dengan ide istrinya itu. Saat ini sepertinya Bram sedang membutuhkan dirinya untuk melampiaskan semuanya. Bayu akan berada di tengah tengah antara Bram dan Aris, dia tidak akan memihak kesalah satu dari mereka berdua. Mereka berdua adalah keluarga bagi Bayu, jadi tidak ada yang harus dipilih oleh Bayu, mereka berdua sama.


"Bram ke kantin yuk, temani gue makan." ujar Bayu kepada Bram


"Mira dengan siapa?' tanya Bram yang melihat Mira tidak ada kawannya.


"Dengan Rani Papi, jadi Papi pergi makan aja dengan Papi Bayu, Rani akan menemani Mami Mira di sini, lagian bentar lagi Daniel juga akan ke sini." ujar Rani yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya sebagai dokter.


"Oke sip, Ayah ikut ke kantin?" tanya Bram kepada Ayah mertuanya itu.


"Nggak usah nak, kamu saja dan Bram, tapi nanti tolong bawakan Ayah makanan ya." ujar Ayah yang menolak untuk ikut dengan Bram dan Bayu.


"Baik Ayah, kami pergi sebentar." jawab Bram.


Bram dan Bayu berjalan menuju kantin rumah sakit, Bram sangat tau kalau Bayu sengaja membawa dirinya ke kantin untuk berbagi cerita dengan Bayu tentang masalah antara dirinya dengan Aris. Bram dan Bayu memilih untuk duduk di kursi bagian belakang kantin, mereka akan mengobrol di sana membahas masalah yang terjadi. Seorang pelayan datang membawakan buku menu untuk mereka berdua, Bram dan Bayu memesan makanan dan minuman yang akan mereka jadikan sebagai santapan makan siang hari ini. Bayu juga tak lupa memesan untuk istri dan juga ayah mertua Bram.


"Gimana dengan keadaan Sari?" tanya Bayu membuka ceritanya dengan Bram.


"Masih belum ada respon sama sekali Bay, Gue dan Ayah bergantian bercerita tentang masa lalu dia, tetapi mungkin dia masih betah dalam tidurnya sehingga sampai sekarang masih belum ada respon." jwab Bram sambil menatap jauh ke depan.


"Apa yang loe pikirin?" tanya Bayu lagi.


Bayu mengangkat kedua alisnya ke arah Bram. Bram terlihat mulai akan bercerita tentang masalah antara dirinya dengan Aris, Bayu mengaktifkan rekaman yang ada di ponsel pintarnya. Dia akan mengirimkan rekaman itu nanti kepada Aris.


"Gue tau gue salah Bay, tapi saat itu pikiran gue terfokus kepada Sari, Gue bukannya nggak mau pergi ke markas tadi, tapi loe sama taulah kan Bay, gimana perasaan loe saat melihat istri yang baru saja loe nikahi sudah terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit." ujar Bram memulai ceritanya.


"Sebenarnya gue sangat ingin pergi Bay, gue sangat tau bagaimana Felix selama ini menjaga keluarga kita, dia menjaga dengan nyawanya. Gue juga tau bagaimana terpukulnya Felix atas kejadian yang menimpa Sari dan Ibu, tapi sungguh Bay, saat Aris membawa gue untuk pergi ke markas, gue ingin pergi, tapi satu sisi hati gue melarang gue, karena Sari lebih membutuhkan gue di sisinya, sedangkan Felix, bukannya gue mengatakan dia tidak butuh siapa siapa, tapi loe taukannya ada Ghina dan Mira yang pergi ke markas. Dua wanita itu cukup membuat Felix kembali sadar dan menjadi dirinya kembali." lanjut Bram.


"Tapi gue akan tetap menemui Felix Bay, gue akan mengatakan kepada dirinya kalau Sari masih membutuhkan dirinya. Gue akan mengatakan kalau semua kejadian ini pasti ada dalangnya, gue tau kok Bay, mobil yang dikemudikan oleh sopir adalah mobil baru walaupun Sari tidak cerita ke gue." kata Bram melanjutkan ceritanya.


Curahan hati Bram berhenti sejenak karena kedatangan pelayan yang membawa pesanan makan siang mereka. Pelayan menghidangkan makanan tersebut di atas meja. Setelah pelayan pergi, Bram kembali melanjutkan ceritanya.


"Gue juga tau kok Bay, Alex dan Juan sedang melakukan penyelidikan terhadap siapa sebenarnya yang namanya Etek dari pulau K itu. Etek yang memberi mobil kepada Sari. Gue sebenarnya mau meminta gank black jack melakukan penyelidikan atas kejadian ini, tetapi karena kejadian ini menimpa Sari sebelum menikah dengan gue, makanya gue menyerahkan penyelidikan ini kepada grub Ghina, karena gue yakin mereka akan bekerja dengan sangat disiplin dan bisa dihandalkan." lanjut Bram.


"Jadi Bay, sekarang gue akan meminta maaf kepada Aris." lanjut Bram lagi.


Aris yang sebenarnya tidak kemana mana mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, langsung menuju kantin tempat adiknya itu sedang duduk dengan Bayu. Ghina mengikuti Aris kemana dia pergi.


"Sayang, mau kemana ini?" tanya Ghina yang melihat Aris melangkahkan kakinya menuju kantin.

__ADS_1


"Kantin sayang." jawab Aris


Ghina mengikuti saja Aris, ternyata Aris pergi menemui Bram dan Bayu, Ghina kemudian memilih untuk duduk saja di kursi paling depan kantin. Dia tidak mau ikut campur permasalahan adik kakak itu. Ghina yakin mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.


"Bram" panggil Aris.


Bram yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang suaranya sangat dikenalinya itu mengangkat kepalanya dan melihat serta meyakinkan dirinya siapa yang datang.


"Aris, maafin gue" ujar Bram sambil memeluk Aris.


"Gue yang seharusnya minta maaf karena tidak memehami perasaan loe, maafin gue ya." ujar Aris kepada Bram.


"Udah udah nggak ada yang perlu minta maaf, semuanya sudah selesai. Adik kakak memang kayak gitu pasti memiliki maslaah. Tapi apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya." ujar Bayu sambil merangkul kedua sahabatnya itu.


Ghina tersenyum bangga melihat suami dan adik iparnya sudah kembali baikan. Ghina yang hatinya sudah nyaman pergi meninggalkan kantin untuk menuju ruang rawat Sari. Dia membiarkan ketiga pria itu makan siang bersama.


"Mana mereka bertiga Ghin?" tanya Mira yang melihat Ghina hanya kembali sendirian ke ruang rawat Sari.


"Biasalah Mir, sedang melepas rasa bersalah masing masing. Untung ada kak Bayu yang menyelesaikan masalah mereka berdua." ujar Ghina sambil duduk tepat di sebleha Rani menantunya.


"Itulah gunanya sahabat bertiga, jadi saat ada yang berselisih satu orang bisa menjadi pendamainya." jawab Mira sambil tersenyum bahagia, akhirnya perselisihan antara Aris dan Bram sudah dapat terselesaikan dengan baik.


"Kamu udah selesai dinas Ran?" tanya Ghina kepada menantunya yang perutnya sudah membuncit itu.


"Sudah Bunda, ini sedang menunggu  Uda Daniel membawakan bekal makan siang." ujar Rani sambil mengusap perutnya yang sebenarnya udah lapar itu.


Saat Rani menahan laparnya, pria yang dari tadi memenuhi pikirannya datang membawakan bekal makan siang dari rumah utama. Menu sehat yang selalu jadi perhatian Daniel selama Rani hamil. Daniel menyusun menu seimbang untuk Rani dan calon bayi mereka, hasil konsul dengan dokter kandungan dan dokter Gizi.


"Sayang ini makanan mu, maaf telat, macet." ujar Daniel yang tidak melihat ada Bunda dan Maminya di sana.


"Woi lu orang kira kami ini ngontrak." ujar Ghina kepada anak sulungnya itu.


"Hehehehe maafin Bunda nggak nampak." jawab Daniel.


Rani kemudian memakan bekal yang dibawakan oleh Daniel. Sedangkan Ghina dan Mira mengobrol obrolan ringan dua sahabat.


Saat mereka asik mengobrol, tiga pria tampan yang sudah berdamai itu masuk ke dalam ruangan Sari.


"Oh udah damai ya Kak?" tanya Mira dengan wajah tak bersalahnya.


"Nggak ada ribut." jawab Aris yang malu mengakui sempat berselisih dengan Aris di depan anak dan menantunya.


"Oh nggak ada ribut, aku kira tadi ribut." lanjut Mira menggoda Aris yang sok jaim itu.

__ADS_1


"Sayang, udah." ujar Bayu menghentian tingkah konyol istrinya.


Mira kemudian diam dan tidak lagi menggoda Aris maupun Bram. Mereka semua melanjutkan obrolan yang tanpa makna itu. Sampai malam menjelang mereka semua kembali ke rumah masing - masing meninggalkan Bram sendirian menjaga Sari di rumah sakit. Ayah Hans yang tadinya tidak mau pulang, akhirnya terpaksa pulang karena dipaksa Papi Soepomo.


__ADS_2