
Makan malam keluarga Soepomo hari ini tidak dihadiri oleh Papi dan Mami yang sedang berada di luar negeri. Makan malam kali ini hanya ada Aris, Gina, Bram, Bayu, Mira dan Sari. Mereka semua makan dengan sangat lahapnya. Apalagi Gina yang seharian tidak makan karena keasikan main di taman bermain.
Tok tok tok, bunyi pintu rumah di ketuk dari luar. Maid yang berada di dapur langsung saja berlari membuka pintu depan.
"Uda?" kata Gina menatap tidak percaya kepada Afdhal yang datang bersama Anggel.
"Masuk Dhal. Udah makan belum?" kata Aris yang melihat kakak iparnya juga datang.
Bram dan Bayu melihat ekspresi Aris yang rada kesal, karena kalau ada Afdhal maka Aris tidak bisa beralasan apapun untuk keluar. Afdhal pasti akan meminta Gina untuk menemani Aris kemana Aris pergi. Apalagi kalau malam hari. Bram dan Bayu langsung tersenyum senang.
"Siapa yang ngabari Uda?" tanya Gina.
"Bayu tadi ngirim pesan. Katanya kalian semua ngumpul di sini. Makanya uda mau ikut. Kebetulan juga Anggel nggak dinas malam." kata Afdhal sambil duduk di sebelah Bram. Sedangkan Anggel duduk di sebelah Sari.
"Kalian udah makan malam?" kata Bram.
"Sudah. Jadi kita mau ngapain?" kata Afdhal yang tidak tau apa maksud diundang ke sini.
"Rencana kita mau main jujur atau tantangan. Setuju nggak loe?" kata Bram kepada Afdhal.
"Wah seru itu. Gue mau banget. Ayuk cepat selesaikan makan malamnya. Kita langsung main. Sampe jam berapapun gue jabanin." kata Afdhal yang sangat semangat untuk main.
"Tapi tuan saya" kata Sari menunjuk dirinya.
"Udah nggak usah formal Sar. Gue di sini posisinya kakak sahabat loe bukan bos loe. Jadi kalau besok loe kesiangan buat izin aja. Gampang nggak usah dipersulit. Sekali sekali huga bisa main kayak gini" kata Afdhal yang bener bener semangat untuk main.
Mereka selesai makan langsung pindah ke teras belakang. Mereka akan main jujur atau tantangan. Mereka memposisikan diri tidak berpasang pasangan. Tetapi semua adalah lawan.
"Supaya adil, bagaimana kalau kepala maid kita minta untuk memutar botolnya" kata Gina yang juga semangat untuk main.
"Wah setuju. Bik Ina, sini" teriak Bram.
"Satu lagi, pertanyaan hanya di ajukan oleh empat orang penanya, tidak lebih dan tidak kurang" kata Mira
"Setuju" jawab mereka serentak.
Bik Ina yang memang sudah menunggu untuk menerima perintah dari Tuan mudanya langsung saja berjalan menuju tempat para Tuan Muda sedang bermain.
"Iya Tuan Bram. Ada yang bisa saya bantu?" kata Bik Ina.
"Kamu putar botol itu oke" perintah Bram.
"Siap tuan" kata Bik Inah.
Bik Ina kemudian memutar botolnya. Ternyata mulut botol tepat berhenti di depan Aris. Aeis langsung melongo tidak percaya dengan mulut botol yang berenti tepat di depan dia.
"Maaf tuan muda" kata Bik Ina.
"Tidak apa apa bik. Namanya juga permainan. Bibik balik ke belakang aja lagi. Ambilkan kami minuman dan puding yang saya buat tadi pagi" kata Gina.
Gina memutuskan tidak akan memakai maid untuk memutar botol lagi. Kasian para maid ditatap dengan tatapan membunuh oleh mereka yang kena.
"Gue yang tanya dulu" kata Bayu
"Loe pilih jujur atau tantangan?" lanjut Bayu
"Jujur" jawab Aris.
" Loe mencintai istri loe sepenuh hati atau hanya?" kata Bayu.
"Pertanyaan loe Bay Bay. Jelas gue cinta istri gue lah. Susah dapatinnya tau" kata Aris sambil menatap tajam Gina yang berada di depannya.
"Pertanyaan kesua dari gue, diselingkuhin atau menyelingkuhi?" kata Bram sambil menatap Aris dan Gina bergantian.
"Menyelingkuhi" jawab jujur Aris.
Gina menatap Aris dengan tajam.
"Sayang diselingkuhi itu sakit. Aku nggak kuat melihat dan menanggungnya." kata Aris
"Jadi aku kuat gitu?" kata Gina.
"Ah mulai ne perang. Gina, Gina ini hanya permainan jangan masukin ke hati kenapa?" tanya Afdhal.
__ADS_1
"Iya uda sayang aku tau. Lagian nggak mungkin Aris menyelingkuhi aku" kata Gina menatap tajam Aris.
"Pertanyaan ketiga dari gue" kata Mira.
"Seandainya Aris ketahuan selingkuh, Aris mengaku atau akan tetap berbohong?" Mira menatap Aris tajam. Dia sudah tau perangai dan perbuatan Aris dari Bayu. Mira sangat marah, tapi dia tidak mau gegabah.
"Mengaku" jawab Aris.
"Pertanyaan terakhir dari aku sayang. Kamu beneran cinta sama aku atau tidak?" kata Gina.
"Beneran cinta sayangku. Masih perly bukti lagi?" tanya Aris.
Gina mengecup bibir Aris sekilas. " Tidak sayang" kata Gina.
Aris kemudian memutar botol. Setelah lama botol berputar akhirnya botol berhenti tepat di depan Sari.
"Lah ini botol kok berenti di depan gue cobak" kata Sari dengan kesal.
"Tantangan atau Jujur" kata Aris.
"Jujurlah" jawab Sari.
" Pertanyaan pertama dari gue. Pria seperti apa yang ingin loe jadikan pasangan" kata Aris.
" Mapan, yang paling penting setia. Gue paling nggak suka nengok cowok yang nggak setia" kata Sari mentap tajam Aris. Sari juga sudah tau apa yang terjadi dengan Aris. Aris yang ditatap Sari menganggap tatapan itu biasa aja.
"Pertanyaan kedua dari gue, seandainya elo jatuh cinta terus langsung diajak nikah mau atau nggak?" tanya Mira.
" Ya maulah. Emang elo yang belum juga dilamar. Hahahahaha" kata Sari menjawab pertanyaan Mira.
"Ogeb sialan loe" kata Mira menoyor kepala Sari.
"Pertanyaan selanjutnya dari gue. Ini kalau ya Sar. Kalau seandainya loe ketemu jodoh loe saat ini juga loe terima atau nggak?" kata Bayu.
"Gue terima. Tapi yang penting itu tadi setia." kata Sari.
"Pertanyaan terakhir dari gue" kata Bram menatap Sari tajam.
" Maukah loe menjadi pendamping hidup gue? Maukah loe menjadi keksih gue?" kata Bram dengan tulus menatap Sari
"Serius Sari. Aku nggak becanda sama sekali" kata Bram.
" Tapi janji setia kan. Nggak sekarang aja setianya sampai kapanpun janji akan setia?k kata Sari menatap Bram.
"Janji aku akan selalu setia sama kamu. Aku bukan tipe lelaki yang hobby menyakiti hati pasangan." kata Bram.
"Waduah. Kok jadi ada yang jadian. Ini permainan atau katakan cinta? Bram bilang aja loe nggak mampu ngomong langsung, makanya loe buat permainan inikan?" kata Afdhal.
"Sekali mendayung dua tiga pulau lewat Dhal." jawab Bram yang akhirnya bisa juga menyampaikan isi hatinya yang selama ini udah di pendamnya.
"Sar putar" kata Anggel.
Sari memutar botol kembali, setelah lama berputar botol akhirnya mengarah kepada Gina. Gina langsung saja tersenyum.
"Lama kali empat pertanyaan, mulai sekarang tiga pertanyaan saja." kata Afdhal.
"Oke" kata mereka serempak.
"Gue yang pertama" kata Bayu.
"Gin, ini kalau ya, mudah mudahan tidak terjadi dan jangan sampai terjadi. Seandainya Aris selingkuh apa yang akan kamu lakukan?" lanjut Bayu dan menatap Aris.
" Gampang itu mah kak. Aku akan buat dia menyesal karena udah mengkhianati aku" kata Gina menatap Aris.
" Pertanyaan lanjutan dari pertanyaan Bayu. Kalau seandainya terjadi apakah kamu sanggup berpisah dengan Aris?" tanya Afdhal.
" Wah aku nggak akan bercerai dengan Aris uda. Aku akan membuat luka yang ditoreh Aris akan aku pindahkan ke Aris dengan luka yang lebih tajam" ucap Gina.
"Terakhir, seandainya itu terjadi apakah kamu akan memaafkan Aris" tanya Bram.
"Memaafkanlah kak. Aku bukan tipe manusia tidak pemaaf." kata Gina.
"Sayang kamu nggak niat selingkuhkan dari aku?" kata Gina menatap Aris.
__ADS_1
Aris menghindar dari tatapan Gina. Keringatnya sudah mulai keluar.
"Nggak lah sayang. Apalagi yang mau aku cari di luar sana. Di sebelah aku udah ada yang sempurna" kata Aris sambil menggenggam tangan Vina.
"Awas aja kalau sempat. Jaluk aku potong kecil kecil" kata Gina dengan penuh ancaman.
Permainan kembali dilanjutkan, ditengah tengah permainan, ponsel Aris berdering tanda ada panggilan masuk.
"Sayang tunggu bentar ya, aku nagkat telpin dulu" kata Aris kepada Gina.
Gina mengangguk mengiyakan permintaan Aris. Aris berdiri dan menjauh dari oendengaran teman temannya. Bram yang melihat langsung beraksi.
Bram oergi ke dapur dan memasukkan obat tidur ke minuman Aris. Bram kemudian membawa beberapa minuman.
"Ris ni minum loe" kata Bram sambil memeberikan minuman yang sudah diisi obat tidur ke Aris. Sedangkan gelas yang lain diletakkan Bram di depan teman temannya.
Bram mengacungkan jempol kepada Bayu, Mira dan Sari.
"Hallo sayang" kata Aris.
"Jam berapa mau ke sini sayang. Aku udah menunggu dari tadi sayang" kata Vina sambil merajuk.
" Sayang sabar ya. Malam ini kayaknya nggak bisa. Orang rame di sini sayangku" kata Aris membujuk Vina.
"Aku nggak mau tau sayang, kalau kamu tidak datang malam ini jangan harap akan dapat moodboster untuk besok pagi." ancam Vina.
Aris yang kaget mendengar ancaman dari Vina langsung meminum habis dalam satu kali minum air yang diberikan Bram tadi.
"Sayang jangan gitu sayang. Kamu paham dong dengan kondisi aku yang udah tidak single lagi sayang" kata Aris berusaha membujuk Vina.
"Tapi sayang" kata Vina.
"Sayang lama banget nelponnya . Siapa yang nelpon sayang" panggil Gina dari tempat duduknya.
"Bentar sayang. Klayen untuk besok yang nelpon sayang" kata Aris berdusta kepada Gina.
"Sayang udah dulu ya. Nanti aku usahakan ke sana. Kalau tidak berarti besok pagi di kantor kita berjumpa" kata Aris sambil langsung menutup ponselnya. Aris tidak mau Gina makin curiga sama dia.
"Aris sialan. Berani beraninya kamu mutusin telpon aku. Awak kamu Aris besok aku pastikan kamu akan membujuk aku untuk memberikan moodboster kamu" kata Vina.
Vina kemudian memeluk gulingnya. Dia akan tidur, hatinya bemar benar kesal dan marah kepada Aris. Vina juga muak dengan Gina yang mendapat perhatian Aris lebih besar dari pada ke Vina.
"Ayuk main lagi" kata Aris.
Bari separo jalan lagi, Aris sudah berkali keli menguap. Matanya benar benar terasa berat.
"Sayang kamu ngantuk?" kata Gina.
"Iya sayang, ngantuk berat" kata Aris.
"Ya udah kalau gitu kami pulang dulu lah Gin. Sepertinya Aris benar benar ngantuk berat." kata Afdhal.
" Oke Uda. Lagian udah malam juga. Kasian Anggel, Mira dan Sari" kata Gina.
Tiba tiba Aris ambruk dan tertidur di atas karpet.
"Sayang." kata Gina.
" Bram loe urus Aris. Biar gue yang ngantar pacar teranyar elo" kata Bayu.
"Sip" kata Bram.
" Sayang hati hati pulang ya. Besok pagi aku jemput ke kos." kata Bram sambil mengecup puncak kepala Sari.
" Sip. Kalau gara gara wanita sundel itu lagi Aris kayak gini. Rendam aja sayang" kata Sari.
"Aman. Tapi jangan ngomong ke Gina. Oke"
"Oke sayang"
Akhirnya semua tamu sudah pulang ke rumah mereka masing masing. Gina di bantu oleh Bram membawa Aris ke kamar mereka. Gina kemudian menukar pakaian Aris dengan piyama tidurnya. Setelah membereskan Aris, Gina juga membersihkan mukanya dan berganti pakaian dengan piyama tidurnya.
Gina kemudian melihat ponsel Aris. Ada beberapa pesan yang masuk. Tapi Gina tidak ada niat untuk membuka ponsel Aris. Bagi Gina ponsel dan dompet adalah ranah pribadi seseorang. Makanya Gina tidak berniat untuk membukanya. Gina kemudian berbaring di sebelah Aris.
__ADS_1
" Sayang kalau sempat kamu berselingkuh dari aku maka aku katakan sama kamu sayang, siap siap saja menerima ganjaran yang akan aku berikan sama kamu" kata Gina menatap muka Aris.