Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 35


__ADS_3

Juan yang sedang sibuk bekerja mendadak menjadi kaget saat merasakan getaran ponsel miliknya. Juan mengambil ponsel yang biasa dihubungi oleh keluarga intinya saja. Juan melihat ke arah layar ponsel miliknya, ternyata nama Sayang yang ada di layar ponsel itu tertulis.


"Hallo sayang" Sapa Juan kepada seseorang yang menghubunginya pagi pagi itu.


"Sayang, aku dan Nana akan berangkat dari mansion ke rumah sakit sekarang. Kamu dimana?" ujar Frenya menyampaikan tujuannya menghubungi Juan saat jam sibuk kantor seperti sekarang ini.


"Masih di kantor. Aku bentar lagi jalan. Rumah sakit harapan kita kan sayang pemeriksaan nya?" tanya Juan memastikan kalau rumah sakit yang akan dikunjungi oleh Frenya memang rumah sakit harapan kita.


"Yup sayang. Rumah sakit mana lagi. Rumah sakit milik GA grup ya hanya itu sayang" jawab Frenya.


"Oke aku akan langsung jalan sayang." jawab Juan.


Sambil masih menerima telpon dari Frenya, Juan merapikan meja kerjanya yang sama sekali tidak berantakan itu. Tetapi Juan harus menyimpan beberapa dokumen dokumen penting perusahaan ke dalam brangkas.


"Aku jalan lagi sayang" kata Juan.


"Hati hati sayang. Sampai jumpa di rumah sakit" jawab Frenya.


Frenya memutuskan panggilan telponnya dengan Juan. Frenya kemudian turun ke lantai satu mansion besar mereka tersebut. Ghina sudah menunggunya dari tadi di ruang tamu.


"Siap Nya?" tanya Nana yang sudah siap untuk melakukan pengecekan kehamilan Frenya di rumah sakit.


"Siap Nana" jawab Frenya.


"Maaf tadi nelpon Juan dulu, ngasih tau kalau kita akan berangkat" kata Frenya menjelaskan kepada Ghina kenapa dirinya bisa terlambat.


"Oh Oke santai saja" jawab Ghina.


Hendri sudah berdiri di depan pintu masuk mansion. Dia siap mengantarkan Frenya dan Ghina ke rumah sakit.


"Kenapa harus mobil ini Hendri?" tanya Frenya saat melihat mobil apa yang disiapkan oleh Hendri.


"Mobil yang biasanya kemana?" lanjut Frenya bertanya


"Tuan Juan meminta saya menyiapkan mobil ini untuk Nona. Kata Tuan Juan ini adalah mobil ternyaman yang ada di mansion" jawab Hendri.


Ghina tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Hendri. Juan akan menjadi suami yang posesif mulai sekarang. Ini sudah terlihat dari pemilihan mobil yang dilakukan oleh Juan tadi pagi.


"Selamat datang suami posesif" ujar Ghina sambil melihat ke arah Frenya.


"Sepertinya Nana. Aku harus membiasakan diri mulai dari sekarang" kata Frenya yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ghina kepada dirinya.


Ghina dan Frenya masuk ke dalam mobil limousine yang sudah disiapkan oleh Hendri.


"Tu orang harus berangkat pagi pagi, milihin mobil tetap aja ingat. Kayak kita nggak bisa aja ingat" ujar Frenya mengomel sendirian.


"Hay wanita hamil tidak boleh ngedumel. Nanti anak kamu pas lahir suka ngedumel pula" kata Ghina.


"Emang iya ada gitu Na?" tanya Frenya penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ghina


Ghina mengangguk meyakinkan Frenya.


"Bahkan, kalau kamu sekarang nggak mau makan, maka besok saat anak kamu malas makan, kamu tidak bisa memarahi dia" lanjut Ghina memberikan sugesti nya kepada Frenya.


"Hubungannya apa Nana? Aku semakin tidak mengerti" tanya Frenya.


Hendri dan asisten Ghina menyimak pembicaraan antara Ghina dengan Frenya di kursi belakang mansion. Mereka berdua hanya bisa tersenyum kecil saja saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ghina kepada Frenya.


"Intinya gini Nya. Saat kamu tidak makan saat hamil maka anak kamu juga akan payah makan nanti saat dia sudah lahir."

__ADS_1


"Jadi, apa yang kamu lakukan terhadap dia semasa dia masih dalam kandungan, maka hal itu akan terbawa sampai dia lahir. Jadi, Nana berharap kamu tidak ada melakukan hal hal aneh saat hamil." kata Ghina berusaha menjelaskan sebaik mungkin kepada Frenya.


"Jadi kalau tiba tiba aku nggak suka bawang, nanti anak aku juga nggak suka bawang? Gitu Na?" tanya Frenya.


Frenya memang mulai tidak suka bawang. Setiap dia menciun aroma bawang apapun, maka perutnya aka langsung bergejolak. Frenya akan langsung tiba tiba menjadi mual dan ingin muntah.


"Yup bener. Bayangkan aja gimana cara kita masak tanpa bawang" ujar Ghina bertanya kepada Freya.


Frenya bergidik ngeri saat mendengar masak tanpa bawang. Dia tidak bisa membayangkan hal itu bisa terjadi. Masak tanpa bawang sama saja dengan masak tanpa garam.


"Jangan sampai Nana" kata Frenya.


"Aku akan makan semuanya" lanjut Frenya dengan sangat yakin.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit. Saat Hendri akan membelokkan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah sakit, tiba tiba sebuah mobil sport warna hitam dove masuk dari arah kanan menyalip mobil Hendri.


Hendri yang kaget menginjak pedal rem dengan cepat. Mobil berhenti dengan mendadak, untung saja Frenya dan Ghina memakai seatbelt kalau tidak sudah bisa dipastikan Ghina dan Frenya akan terjatuh dari kursi mereka.


"Ada apa Hendri?" tanya Ghina kepada Hendri.


"Maaf Nyonya besar, ada mobil yang tiba tiba menyalip kita dari arah kanan" jawab Hendri.


"Mobil yang mana Hendri?" tanya Ghina.


Hendri menunjuk mobil yang tadi hampir menyelakai mereka. Ghina tersenyum, dia tau siapa pemilik mobil itu.


"Kok Nana senyum? Nana kenal dengan pemilik mobil itu?" tanya Frenya saat melihat Ghina yang tersenyum


"Kenal sayang. Kamu juga kenal" jawab Ghina.


"Loh kenapa dia parkir di tempat keluarga kita parkir Nana?" tanya Frenya masih kurang tau siapa yang mengendarai mobil tersebut.


Ghina dan Frenya turun dari mobil, begitu juga dengan mobil yang memotong mobil mereka dari arah kanan.


"Yah bontot kiranya" ujar Frenya saat melihat siapa yang turun dengan gaya sok cool nya itu.


Tak lama sebuah mobil parkir di sebelah mobil Argha. Terlihat Juan turun dari mobilnya dan langsung berjalan cepat ke arah Frenya.


"Woi loe berdua kira di rumah" kata Argha yang kesal saat melihat Juan tiba tiba mengecup bibir Frenya.


"Lah biarin aja, kan dia istri Uda. Makanya cepat cepat nikah biar bisa main cium wanita di depan semua orang" kata Juan ngeledek Argha.


"Hem" Argha sama sekali tidak bisa lagi menjawab apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya. Juan benar benar mengunci jawaban dari Argha.


"Sudah jangan ribut. Gaya sudah sok cool eeee ternyata ribut" kata Ghina menyindir Argha dan Juan.


Mereka berempat kemudian berjalan masuk ke dalam lobby rumah sakit. Saat itulah dua mobil yang juga mereka kenali berhenti tepat di depan mereka berempat sebelum mereka masuk ke dalam lobby.


"Biasalah dua pria sibuk" kata Ghina saat melihat suaminya dan anak pertamanya sama sama turun dari dalam mobil mereka masing masing.


"Maaf Nana aku telat" kata Daniel.


"Maaf sayang aku juga telat" kali ini aries yang minta maaf kepada Ghina.


"Tenang, kami juga baru sampai" jawab Ghina.


"Oh ya Bontot, itu mobil siapa? Kok uni baru lihat?" tanya Frenya saat ingat kalau mobil yang dipakai oleh Argha adalah mobil baru.


"Ah lupa." ujar Argha.

__ADS_1


"Mana tangan Uni?" tanya Argha.


Semua orang melihat ke arah Argha. Argha yang tiba tiba menanyakan mana tangan Uni membuat mereka semua menjadi ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Argha kepada Frenya.


"Ada apa dengan tangan Uni? Apa kamu mau ngeramal Uni? Kamu udah tukar profesi?" tanya Frenya dengan pertanyaan yang luar biasa banyaknya.


"Uni jangan banyak cerita. Mana tangan Uni" kata Argha sekali lagi meminta tangan Frenya.


Frenya memberikan tangannya kepada Argha. Argha merogoh saku jas kerjanya.


Argha menaruh sebuah kunci di tangan Frenya.


"Hadiah untuk Uni. Selamat karena sudah hamil" ujar Argha dengan bangganya memberikan hadiah sebuah mobil kepada Frenya.


"Aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan Uni hadiah." lanjut Argha.


Frenya tiba tiba menangis. Adik yang selama ini terkenal akan keusilannya kepada Frenya, ternyata memiliki kasih sayang yang sangat luar biasa kepada Frenya.


Frenya memeluk Argha. "Makasih bontot. Kamu orang pertama yang memberikan Uni hadiah. Makasi banyak" ujar Frenya dalam pelukan Argha.


"Sama sama Uni. Jangan cengeng, nanti ponakan aku juga ikutan cengeng" kata Argha meminta Frenya untuk berhenti menangis dengan menggunakan anak dalam kandungan Frenya sebagai alasannya.


Frenya berusaha dengan sekuat tenaga menghentikan tangisnya. Sebenarnya hatinya masih bersedih, tetapi karena dia tidak ingin anak dalam kandungannya menjadi cengeng, Frenya berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak menangis.


"Hay bro, loe sudah mengambil kesempatan pertama dari kami semua untuk memberikan Frenya hadiah" ujar Juan.


"Lah, kalian semua yang nggak sigap" jawab Argha sambil senyum senyum penuh kemenangan.


"Dasar bontot" ujar Daniel.


Frenya dan Ghina sudah berjalan paling depan. Sedangkan empat pria yang keren keren dan gagah gagah itu berjalan di belakang mereka dengan asisten asisten yang berjalan di bagian belakang sekali.


"Bentar, apa Daddy, uda udah nyiapin hadiah untuk Uni?" tanya Argha dengan santai.


Ketiga pria itu menggeleng, mereka memang belum menyiapkan hadiah apapun untuk Frenya.


"Nah itu makanya aku menjadi yang pertama. Kan nggak lucu, Uni udah ngasih berita bahagia kita nggak ada yang ngasih hadiah." jawab Argha dengan bangganya.


"Anggap aja hadiah Argha itu mengingatkan Daddy dan uda untuk membeli hadiah saat pulang dari sini" lanjut Argha.


Aries, Daniel dan Juan saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka bertiga hanya bisa saling mengangkat pundak karena kecerobohan mereka yang tidak menyiapkan hadiah untuk Frenya atas kehamilannya.


'Kenapa bisa lupa ya?' ujar Juan dalam hatinya.


'Apa yang mau dibelikan ya? Mobil udah, mansion nggak mungkin' kata Juan dalam hatinya memikirkan hadiah apa yang akan diberikan oleh dirinya kepada Frenya.


"Cie lagi mikirin hadiah ya" kata Argha ngeledek Juan.


Juan mengangguk reflek saat mendengar apa yang dikatakan oleh Argha.


"Kasih satu set perhiasan mahal aja" kata Argha memberikan ide kepada Juan.


"Kawani nanti ya"


"Uda kurang mengerti yang gitu gitu" lanjut Juan mengajak Argha untuk pergi membelikan hadiah untuk Frenya.


"Oke masalah gampang. Lagian aku juga nggak ada kendaraan untuk balik ke perusahaan" jawab Argha yang ternyata punya maksud laun saat mau mengantarkan Juan pergi memilih kado untuk Frenya.


"Sip aman lah itu" jawab Juan yang setuju.

__ADS_1


Satu permasalahan sudah terselesaikan dengan baik oleh Juan.


__ADS_2