
"Wow keren. Ini bener bener keren, kalau tau sekeren ini dari kemaren kemaren kita kesini." ujar Mira saat melihat dermaga manjunto yang terkenal itu. Mira merentangkan tangannya lebar lebar. Dia benar benar sangat bahagia berada di manjunto. Tempat yang ternyata luar biasa bagus dan indah.
"Bunda, Argha langsung berenang ya Bun. Argha udah ndak tahan lagi melihat air sebening itu. Argha pengen nyelam." ujar Argha yang langsung membuka celana panjangnya. Tanpa menunggu aba aba lagi, Argha langsung saja berlari menuju pantai yang memang sangat minim ombak. Mungkin karena itu seperti teluk makanya tidak begitu berombak.
"Argha pakai celana pendek. Nggak malu ada Bree." teriak Ghina saat melihat Argha yang berlari hanya pakai ****** ***** saja. Dia benar benar nggak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu. Main buka celana saja dan langsung kabur menuju laut.
"Uni ambilkan celana Argha tolong. Argha udah ndak tahan lagi." teriak Argha yang sudah berada di dalam air. Argha langsung berenang.
Ivan yang melihat Argha sudah langsung masuk ke laut, akhirnya terpaksa mengikuti Argha masuk ke laut. Dia terpaksa membuka celana panjangnya di balik sebuah pohon besar. Ivan tidak mungkin membiarkan Argha sendirian di dalam laut. Bisa bisa saat Argha kenapa kenapa hidupnya juga akan berakhir di Manjunto siang ini juga.
"Om Ivan kita berenang ke sana." ujar Argha sambil menunjuk batu karang yang ada di dekat dermaga.
"Oke." jawab Ivan.
Mereka kemudian berenang ke tempat yang ditunjuk oleh Argha tadi. Sedangkan yang lain membawa barang barang mereka ke dalam kamar kamar yang sudah di pesan.
"Om Ivan ikannya keren keren. Argha mau" ujar Argha sambil melihat ikan hias yang berenang renang di dekat kakinya.
Ivan berusaha menangkap ikan ikan itu. Tetapi karena ikan disana tidak jinak sama sekali membuat Argha dan Ivan tidak bisa menangkap ikan tersebut.
Papi, Ayah Wijaya dan Ayah Hans, duduk di sebuah saung yang menghadap langsung ke laut lepas. Mereka bertiga terlihat mengobrol ringan. Ntah apa yang diobrolkan oleh ketiga Tuan besar itu.
"Argha, Bree ikut." teriak Bree yang sudah memakai pakaian renang dan pelampung badan.
Juan menggendong Bree masuk ke dalam laut lepas. Juan membantu Bree berenang menuju Argha dan Ivan yang sudah berada di dekat batu karang.
Aris, Bram, Bayu, Daniel dan Afdhal naik ke atas sebuah speadboot yang sudah disewa. Mereka akan memancing di tengah laut.
Sedangkan para wanita duduj di saung saung yang ada di tepi pantai. Sedangkan yang lain sibuk bermain, ada yang main boyan, ada yang memilih umang umang dan masih banyak yang lainnya.
__ADS_1
Siang hari, mereka berkumpul di restoran home stay, mereka akan makan siang bersama sama. Koki restoran sudah menyiapkan hidangan laut yang lezat lezat. Semua anggota keluarga sudah berkumpul mengelilingi meja besar yang di atasnya sudah tersedia makanan laut tersebut.
"Mari makan" ujar Aris dengan semangat.
Mereka menyantap menu makan siang itu. Mereka semua berbaur menjadi satu. Tidak terlihat batasan antara boss dengan asisten dan anak buah. Mereka bersama sama menyantap seluruh hidangan.
"Bunda besok kita nyebrangkan ya?" tanya Argha yang ingin ke pulau pulau yang ada di daerah itu.
"Iya besok kita akan pergi ke pulau sirandah dan pasumpahan." jawab Ghina yang sudah membaca agenda yang akan mereka lakukan esok hari.
Setelah selesai makan siang, Argha kembali menarik Ivan dan Alex menuju speadboot.
"Om Ivan, kita main speadboot, kita pergi ke sana." ujar Argha menunjuk sebuah pulau yang berada dekat dari dermaga.
Alex mengambil alih kemudi speadboot. Mereka bertiga menuju pulau yang ditunjuk oleh Arga.
"Om ke sana." ujar Argha menunjuk tempat lainnya.
"Om Alex pasti kalau naik motor kita bisa melihat pulau pulau itu dari pendakian. Pasti terlihat bagus." kata Argha sambil menatap sebuah jalan mobil yang terletak agak tinggi.
"Gimana mau coba ke jalan itu sekarang?" tanya Ivan.
"Nggak. Kita raun pakai speadboot aja." ujar Argha yang semangat untuk naik speadboot melihat keindahan alam yang satu itu.
Alex melajukan speadboot dengan kecepatan sedang. Argha menikmati setiap pemandangan yang ada.
"Om ini tempat luar biasa keren. Kalau ada pulau yang dijual, Argha mau beli satu." ujar Argha.
"Ngomong sama Daddy. Katakan Argha mau beli pulau di sini Dad." ujar Ivan memanas manasi Argha.
__ADS_1
"Emang Daddy mau beli satu?" ujar Argha yang tertarik dengan pembicaraan ringan mereka.
"Maulah Gha. Kan inventaris itu. Jadi nanti pulaunya dibuka untuk objek wisata. Siapapun boleh datang ke sana. Kayak pulau yang akan kita datangi besok ini." lanjut Alex memperkuat pernyataan Jero.
"Iya yah Om. Nantilah Argha ngomong sama Daddy. Mana tau Daddy berbaik hati belikan pulau. Keren juga. Nanti pulaunya Argha kasih nama pulau impian." ujar Argha asal sebut nama saja.
"Bisa jadi." jawab Alex.
"Balik om. Argha mau lihat sunset."
Alex memutar speadbootnua mereka kembali ke homestay tempat mereka menginap sekarang. Boit diparkir Alex di dermaga. Argha dan kedua asistennya bergabung bersama keluarga melihat matahari yanh sebentar lagi akan tenggelam.
Para asisten mempersiapkan alat untuk barbeque di tepi pantai. Mereka akan membakar seafood. Para laki laki membakar seafood, sedangkan yang wanita dan anak anak duduk di saung. Tiga Atuk duduk di atas boyan. Mereka bertiga main boyan bersamaan.
Mereka melakukan acara BBQ sampai tengah malam. Waktu berjalan sangat cepat saat mereka berada di sana. Setelah lelah dengan acara bakar bakaran, mereka kemudian masuk kedalam kamar masing masing. Mereka akan beristirahat dan besok akan melakukan penyebaran ke pulau sirandah dan pasumpahan.
"Daddy, Bunda, Uni, Argha boleh ngomong sesuatu?" tanya Argha kepada ketiga orang yang menurut Argha memiliki uang yang banyak.
"Ngomong apa?" tanya Aris sambil memutar tubuhnya menghadap Argha. Suara deburan kecil ombak terdengar sampai ke kamar mereka.
"Kalau Argha minta beli pulau yang ada di sini, apa Daddy mau belikan untuk Argha?" tanya Argha sambil menatap Daddynya itu dengan harapan yang tinggi untuk dikabulkan.
"Argha mau beli pulau?" tanya Aris sambil menatap anaknya itu.
"Iya. Kalau bisa." jawab Argha lagi.
"Daddy nggak tau proses belinya gimana di sini Gha." ujar Aris menolak keinginan anaknya itu.
"Ya Argha kira tau. Besok besok kita beli ya Dad. Biar ndak nyewa lagi. Jadi kapan pengen kita bisa ke sana." ujar Argha sambil menatap pulau pulau jauh.
__ADS_1
"Oke kapan kapan. Sekarang kita tidur dulu. Besok mau ke pulau."
Keluarga besar Aris masuk kedalam kamar masing masing. Mereka akan beristirahat karena besok mereka akan menyebrang ke pulau sirandah dan pasumpahan.