Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 29


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Hendri sudah melaju dengan kecepatan sedang menuju mansion utama keluarga Soepomo. Hendri akan mengantarkan Frenya dan Rani yang baru saja selesai berbelanja di mall pusat. Sedangkan mobil milik Rani, sedang di bawa sopir pergi menjemput Daniel. Tadi Daniel menelpon Rani mengatakan kalau mobilnya pecah ban di jalan mau pulang kantor.


"Nya, biasanya Juan pulang dari perusahaan jam berapa?" tanya Rani yang sekarang ada ide yang baru lagi di otaknya itu.


"Nggak jelas aja jamnya uni, kadang bisa cepat kadang bisa larut malam, tergantung berapa banyak kerjaannya aja, emangnya ada apa, Uni?" tanya Frenya yang heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Rani kepada dirinya. Tidak biasanya Rani bertanya jam berapa Argha atau Juan pulang


"Nggak kalau dia belum pulang, hadiah itu bisa di taruh di kamar uni dulu, nanti saat Juan sudah pulang dan dia menanyakan kepada kamu apa yang kamu beli di mall, nah baru deh kamu ambil ke kamar aku, jadi kejutan itu akan semakin sukses" kata Rani yang memiliki ide selanjutnya untuk kejutan yang akan diberikan oleh Frenya kepada Juan.


"Bener juga tu Uni, ya udah, kejutan ini kita simpan di kamar uni aja dulu, nanti saat Juan bertanya apa yang aku beli, baru aku ambil ke kamar uni, ide bagus sekali itu" kata Frenya yang setuju dengan ide kreatif yang diberikan oleh Rani kepada dirinya.


"Tapi, aku coba hubungi Juan dulu Uni, terkadang dia sudah sampai di rumah sebelum pukul empat sore"


"Oke" jawab Rani


Saat Frenya menghubungi Juan, Rani menghubungi Daniel. Dia ingin memastikan Daniel dalam kondisi baik baik saja setelah mobil yang dipakai Daniel mengalami bocor ban di jalan. Sehingga mobil yang dipakai oleh Rani, menjemput Daniel ke tempat dimana mobil bocor ban.


Frenya mencoba menghubungi Juan, tetapi panggilan pertamanya tidak diterima oleh Juan. Frenya kembali mengulangi panggilannya, tetapi hasilnya tetap sama, walaupun sudah yang kelima kalinya Frenya menghubungi Juan, hasilnya tetap sama saja, Juan sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Frenya.


"Nggak di angkat Uni" kata Frenya sambil menggoyang goyangkan ponselnya.


" Hendri tolong hubungi asisten suami saya, tanyakan dimana keberadaan suami saya sekarang" Frenya memberikan perintah kepada Hendri untuk menghubungi asisten Juan. Satu satunya orang yang akan tau keberadaan Juan ada dimana sekarang adalah asistennya itu.


"Siap Nona" jawab Hendri.


Hendri kemudian melaksanakan perintah yang diberikan oleh Frenya kepada dirinya. Frenya menatap lama layar ponselnya, dia berharap Juan menghubunginya kembali. Pas bertepatan dengan Hendri yang selesai menghubungi asisten Juan, ponsel milik Frenya bergetar dan menyanyikan lagu favorit dirinya. Nada dering khusus yang hanya dipakai oleh Frenya untuk nomor ponsel Juan.


"Hallo sayang, Maaf tadi aku sedang di kamar mandi" ujar Juan yang tidak pernah membawa ponselnya ke dalam kamar mandi.


"Di kamar mandi? Kamu sakit sayang?" tanya Frenya yang cemas dengan kondisi Daniel.


"Nggak sayang, aku cuma pengen ke kamar mandi aja, udah terasa sesak sekali" kata Daniel menjelaskan kepada Frenya kalau dirinya dalam kondisi baik baik saja, tidak sakit seperti yang di cemaskan oleh Frenya.


"Oke sayang." jawab Frenya


"Kamu sudah dimana?" tanya Juan


"Ini sedang dalam perjalanan menuju mansion. Kamu jam berapa pulang sayang?" tanya Frenya.


"Palingan sampai mansion jam lima paling cepat, ada satu dokumen lagi yang harus aku baca sebelum pulang" jawab Juan.


"Oke sayang, hati hati pulang. Kalau sempat tolong belikan aku pisang coklat ya. Aku laper"


"Oke sayang. Pisang coklat plus rujak jambu kristal ya. Ntah kenapa tiba tiba aku pengen makan jambu kristal" kata Juan yang ntah kenapa ikut ikutan Frenya yang ingin memakan sesuatu saat ini.


"Kelihatannya enak juga rujak jambu kristal, beli dua porsi ya sayang"


"Haha haha haha, kamu memang lah ya, nggak boleh lihat orang makan sesuatu yang seger seger, pasti langsung minta beli juga" komen Juan atas kelakuan Frenya yang ikut ikutan mau menikmati rujak jambu kristal seperti yang dikatakan oleh Juan sebentar ini.


"Paling cepat jam lima Uni" ujar Frenya mengatakan kepada Rani jam pulang Juan.


"Kita masih punya waktu yang banyak" jawab Rani.


Mobil kemudian berbelok masuk ke dalam perkarangan mansion utama keluarga Soepomo. Frenya dan Rani turun bersamaan. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mansion.


"Tumben sepi. Nana dan Daddy kemana ya?" ujar Frenya saat melihat keadaan mansion yang sepi.


Biasanya di jam pulang kerja seperti sekarang ini, Ghina dan Aries sudah menunggu putra putri mereka pulang dari perusahaan. Mereka berdua akan menunggu mereka di depan pintu masuk mansion.


"Bener juga ya Nya. Kemana Nana dan Daddy?"


Frenya yang merasakan tubuhnya lumayan letih habis berjalan jalan di mall, memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di sofa ruang tamu. Rani yang melihat Frenya beristirahat di sana, akhirnya memilih untuk ikut juga duduk di sofa ruang tamu.


"Bik tolong buatkan aku jus jeruk dingin ya" kata Frenya.

__ADS_1


"Aku juga sama Bik" kali ini Rani yang berkata.


"Siap Non"


"Nya mana hadiah kamu tadi, sini Uni tarok ke kamar dulu. Nanti keburu Juan datang, atau Nana dan Daddy datang"


Frenya menberikan hadiah kejutan yang akan diberikan kepada Juan dan keluarganya kepada Rani. Mereka berdua harus menyusun rencana kejutan itu sesempurna mungkin.


"Loh Nya, mana Rani?" tanya Daniel saat melihat Frenya hanya duduk sendiri di sofa ruang tamu, sedangkan Rani istrinya sama sekali tidak terlihat duduk di sana.


"Uni sedang di kamar Uda. Tadi naruh belanjaan"


"Kamu baik baik saja kan Nya?" tanya Daniel sambil duduk di sebelah adik perempuannya itu.


"Baik baik aja. Emang ada apa? Apa aku terlihat dalam kondisi tidak baik baik saja?" Frenya bertanya balik kepada Daniel.


Frenya merasa kalau Daniel memiliki diagnosa nya sendiri sebagai seorang dokter atas kondisi Frenya saat ini.


"Bukannya gitu, kamu terlihat sedikit pucat hari ini. Apa kamu sedang sakit?"


"Oh itu, nggak Uda, cuma aku sedikit kecapean karena sudah berjalan jalan di mall. Seru jalan sama Uni, udah lama banget kami berdua tidak jalan jalan bersama. Sehingga kami berdua memutuskan untuk pergi jalan jalan hari ini" kata Frenya sambil membayangkan jalan jalan mereka yang hanya ke tiga tempat saja.


"Jalan jalan? Kamu serius Nya?" lanjut Daniel bertanya dengan menatap Frenya dengan tajam.


"Serius jalan jalan, tapi hanya tiga tempat saja. Nggak lebih"


"Uda jangan mikir kami mengelilingi mall seperti remaja remaja itu. Sama sekali bukan uda. Mana mungkin kami mengelilingi mall." kata Frenya yang akhirnya sadar dengan maksud dari pertanyaan Daniel yang tajam itu.


"Uda kira kalian berkeliling mall yang luas itu."


"kalu iya, maka alamat Uni nggak akan boleh keluar seminggu" ujar Daniel.


"siapa ayo yang nggak boleh keluar seminggu?" Rani bertanya sambil duduk di sebuah sofa tunggal.


"kamu sayang. Aku kira kamu sama Frenya berkeliling mall yang luas itu, sehingga membuat kamu capek" kata Daniel menjelaskan kepada Frenya.


"Sabar sayangku cintaku. Aku tau kekhawatiran kamu. Aku juga nggak mau capek, Frenya juga tau itu. Jadi kamu aman" jawab Rani dengan nada yang dibuat buat manja.


Frenya yang mendengar dan melihat bagaimana cara Rani dan Daniel berbincang bincang membuat ditnya ingin muntah. Tetapi Frenya berusaha menahannya dengan meminum jus jeruk yang disediakan oleh pelayan rumah.


"Oh ya Nana dan Daddy kemana? Kenapa tidak terlihat dari tadi?" tanya Daniel kepada Rani dan Frenya.


"kami juga tidak melihat Nana dan Daddy dari tadi Uda" jawab Frenya.


"Kemana mereka berdua ya?"


"Apa kalian sudah tanya sama bibik, kemana Nana dan Daddy pergi?" tanya Daniel.


"Belum" jawab Rani dan Frenya kompak.


"Bik" panggil Daniel dengan suara lantang.


Kepala pelayan setengah berlari menuju Daniel, Rani dan Frenya.


"ya tuan, ada yang bisa saya bantu?" ujar kepala pelayab.


"Nana dan Daddy kemana? Kok mereka sama sekali tidak kelihatan?" tanya Daniel.


"Oh Nyonya dan Tuan besar tadi katanya pergi ke mansion Tuan Rangga, katanya Nona Bree akan pulang hari ini" uajr bibik memberitahukan kemana perginya Ghina dan Aries.


"Makasi Bik" kata Daniel.


"Bree pulang? Perasaan kita nggak tau ya Bree pulang sekarang"

__ADS_1


"Apa Argha ada ngomong atau memberitahukan kita?" tanya Daniel kepada Rani dan Frenya.


"Nggak. Ke aku nggak ada" jawab Frenya.


"apa lagi aku" kali ini Rani yang menjawab.


Saat mereka asik mengobrol itu, Aries dan Ghina masuk ke dalam mansion.


"Nah ini dia yang kita cari. Nana dan Daddy kemana aja?" tanya Frenya


"Uni sampai pusing mikirinnya" lanjut Frenya dengan nada manja.


"Yakin uni pusing mikirin kami berdua? Atau uni pusing mikirin Juan yang belum pulang?" Goda Ghina yang sudah duduk di sebelah Frenya.


"Dua duanya" jawab Frenya sambil tersenyum.


"Nana sama Daddy dari mana?" ujar Daniel bertanya.


"Biasanya, setiap kami pulang pasti Nana dan Daddy pasti ada di depan mansion, tapi hari ini lain dari pada biasanya" lanjut Daniel menanyakan kemana kedua orang tuanya pergi tadi.


"Kami ke rumah Om Rangga" jawab Ghina.


"jadi Bree beneran pulang?" Frenya langsung menyambar jawaban yang belum selesai di jawab oleh Ghina.


"Mana ada, Daddy kamu bohong ke kepala pelayan. Kami ke sana karena sudah sangat lama tidak berkunjung ke mansion mereka. Kami kangen mengobrol berempat" kata Ghina yang heran kenapa anak anak mereka langsung percaya kalau Bres pulang dari negara A.


"Mana tau kan ya. Argha kan semalam senyum senyum sendiri" ujar Frenya yang ingat bagaimana wajah bahagia Argha semalam yang sama sekali tidak bisa ditutup tutupi oleh Argha di depan anggota keluarganya.


"Senyum karena mereka siap video call itu. Bukan karena Bree pulang" ujar Ghina.


Saat mereka berlima mengobrol, Argha dan Juan sama sama masuk. Mereka berdua sama sama baru sampai dari perusahaan.


"kelihatannya asik sekali. Ada apa ya?" ujar Argha yang merasa ingin tau semuanya.


Sedangkan Daniel hanya menatap wajah istri yang seharian ini di kangeninya dari pagi sampai saat dia masuk ke dalam mansion.


"Ini uni dan uda percaya kalau Bree pulang ke sini" kata Ghina.


"Lah, Bree kan pulang dua tahun lagi." jawab Argha dengan santainya.


"Juan apa itu?" tanya Ghina saat melihat Juan membawa dua kantong kresek di tangannya.


"Oh pesanan Frenya Nana" jawab Juan.


Juan menaruh dua kantong kresek yang dipegangnya ke atas meja yang ada di depan mereka semua.


"Satu kantong isinya pisang coklat, yang satu lagi rujak jambu kristal" ujar Juan memberitahukan apa yang dibawanya.


"Wow mau rujak jambu kristal, Nana udah lama banget nggak makan itu" kata Ghina dengan semangat membuka bungkusan rujak jambu kristal.


Untung saja Juan membeli dalam jumlah yang banyak rujak jambu kristal itu. Kalau hanya dua porsi saja, bisa jadi Frenya tidak akan puas menikmati rujak tersebut.


"Wah ini enak banget Juan. Jambu nya juga segar" kata Ghina.


"dimana kamu beli?" tanya Ghina penasaran.


Juan memberitahukan tempat dirinya membeli jambu kristal itu.


"Besok aku bawakan lagi Nana." kata Juan.


Sedangkan Frenya menikmati pisang coklat pesanannya, sedangkan untuk rujak jambu kristal, Frenya hanya memakan sedikit saja. Frenya kurang menyukai makanan yang itu.


"Ayuk sudah sore, mari kita istirahat setiap itu kita maghrib berjama'ah, kemudian makan malam bersama dan terakhir duduk duduk di ruang keluarga" ujar Aries mengajak semua anggota keluarganya untuk bubar.

__ADS_1


"Siap Daddy" jawab mereka dengan kompak.


Mereka semua berjalan masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka akan melakukan aktivitas pribadi di dalam kamar. Apalagi Juan, dia sudah bisa membayangkan kasur yang empuk. Tetapi Juan harus bertanya apa yang dibeli oleh Frenya di mall tadi.


__ADS_2