Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Aneka Bubur


__ADS_3

Pagi harinya seperti kebiasaan Ghina. Ghina bangun sebelum azand subuh berkumandang. Ghina menatap suami dan anaknya yang tidur sambil berpelukan. Ghina selalu merasakan hangat di hatinya saat melihat pemandangan indah itu. Ghina mengecup pipi kedua laki laki yang dia sayangi itu. Ghina kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan wajahnya dan menggosok gigi sebelum turun ke dapur.


Ghina turun menuju dapur, dia akan memasak sarapan untuk semua anggota keluarganya yang sedang tertidur itu. Sudah sehari semalam mereka tidak tidur dengan nyenyak karena kasus penculikan Sari.


Ghina memakai apron berwarna pink milik dirinya. Ghina kemudian mengeluarkan semua bahan bahan yang diperlukan untuk membuat hidangan istimewa di pagi hari ini. Ghina berencana membuat bubur mulai dari bubur putih, ketan hitam, cande, mutiara dan kacang hijau. Ghina benar benar akan dibuat sibuk oleh masakannya sendiri.


Ghina mulai membuat buburnya itu. Dia berkutat sendirian di dapur. Para maid sebenarnya sudah bangun, tetapi mereka tidak mau mengganggu Ghina yang sedang serius itu. Mereka membiarkan saja Nyonya Muda itu berkreasi di dapur miliknya.


Ghina selesai memasak semua bubur tersebut dalam waktu satu setengah jam untuk semua bubur. Ghina menghidangkan dan menata semuanya di atas meja makan. Hari ini kali pertama sarapan berbeda di rumah utama Soepomo. Ntah ide dari mana yang jelas Ghina sedang ingin sekali makan bubur kampiun di pagi hari.


"Akhirnya selesai" ujar Ghina.


Ghina kembali menuju lantai dua rumahnya. Dia membangunkan Daniel dan Rani yang ternyata sudah bangun dan sedang bersiap siap. Sedangkan anak gadisnya memang masih terlelap. Frenya bangun saat Ghina sudah mulai emosi menggedor pintu kamar.


"Iya Bun. Frenya udah bangun." ujar Frenya sambil mengeluarkan kepalanya sedikit.


"Mandi, sholat, sarapan. Kamu ikut tidak ke markas?" tanya Ghina kepada Frenya.


"Ikutlah rugi nggak nengok Daddy marah." jawab Frenya yang langsung menutup pintu dan berlari ke kamar mandi.


Frenya lupa kalau Ghina masih berdiri di depan pintu.


"Dasar anak itu. Untung hidung ku nggak hilang." ujar Ghina.


Ghina menuju kamarnya sendiri. Ternyata dua pria tampan miliknya sudah bangun dan sedang mandi bersama. Ghina keluar kembali menuji kamar Argha. Dia mengambilkan pakaian untuk Argha. Setelah selesai menyiapkan pakaian Argha, Ghina menyiapkan pakaian milik suaminya. Ghina mengambil jas dan celana warna dongker serta baju kemeja berwarna biru muda dan dasi berwarna dongker. Ghina meletakan semuanya di atas kasur.


Ghina juga mengambilkan jam tangan dan sepatu untuk suaminya. Serta lap tangan berwarna biru muda. Setelah dirasa pakaian Aris sudah lengkap, Ghina mengambil pakaian untuk dirinya sendiri. Saat ini Ghina ingin sekali memakai dress berwarna baby pink. Ghina mengambil semua pakaiannya dan meletakan di atas sebuah meja kecil di ruang ganti pakaian.


Ghina menunggu dua pria tampannya selesai mandi sambil membaca baca dan melihat lihat sosial medianya. Suatu hal yang sangat jarang dilakukan oleh Ghina.


"Bunda, Argha siap" ujar Argha.


"Sayang, aku siap" ujar Aris tak mau kalah


"Pakaian sayang sayang Bunda ini udah ada di atas kasur. Silahkan pakai. Bunda mau bersih bersih dulu." ujar Ghina sambil masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Aris dan Argha memakai pakaian mereka yang senada itu. Ghina sengaja memakaikan Aris dan Argha pakaian yang senada kalau mereka berdua akan pergi bersamaan. Setelah selesai memakai pakaian mereka dan bersiap siap. Aris dan Argha menunggu Ghina yang sedang bersiap siap di depan cermin.


"Dad, tumben Bunda pake pink. Biasanya paling alergi." ujar Argha menatap Bundanya yang sekarang memakai pakaian berwarna pink.


"Lagi pengen kali Gha. Tapi cantik kan?" ujar Aris.


"Cantik pake banget Dad." jawab Argha sambil tersenyum.


"Siapa dulu" ujar Aris yang tidak jadi sampai melanjutkan kalimatnya.


"Anaknya Argha" ujar Argha memotong perkataan Daddynya.


"Hem bisa aja motongnya." ujar Aris


Ghina yang sudah selesai bersiap siap, langsung menuju suami dan anaknya.


"Ayuk turun" ujar Ghina.


Saat mereka keluar kamar, kebetulan Frenya, Daniel dan Rani juga keluar dari kamar mereka masing masing.


"Wow Bunda pake pink??? Hujan kayaknya nanti." ujar Frenya sambil menatap Bundanya


"Cantik Bun, asli." ujar Rani kemudian.


"Udahlah mujinya sekarang kita turun Bunda laper." ujar Ghina mencari cari alasan suapaya tidak dibully oleh suami, anak dan menantunya.


Mereka semua berjalan beriringan menuju meja makan. Papi ternyata sudah berada di sana dengan Bram dan Sari. Serta Mira dan Bayu.


"Kapan datang kak?" tanya Ghina kepada Bram.


"Burusan Ghin. Sari katanya ingin ikut ke markas." ujar Bram memberitahukan kenapa mereka sepagi ini sudah berada di rumah utama.


"Oke. Loe ikut juga kan Mir?" tanya Ghina kepada Mira.


"Pastinya. Gue mau dendeng tu orang nggak ada hati." ujar Mira dengan emosi.

__ADS_1


"Udah nanti aja di markas kalian eksekusi nggak usah dibicarakan di meja makan." kata Papi lagi yang maksudnya memberhentikan percakapan nggak ada guna itu.


Aris menatap semua menu sarapan. Semua sarapan memiliki tema yang sama yaitu bubur.


"Tumben bubur?" tanya Aris kepada Ghina.


"Sedang pengen" jawab Ghina lagi.


Semua orang mengambil setiap jenis bubur. Mereka memang sudah lama sekali tidak menikmati bubur baik untuk makan pagi atau makan waktu lainnya.


"Wow enak Ghin. Karena kita jarang makan beginian saat bertemu langsung wow rasanya." ujar Papi yang akhirnya melepas rindu dengan bubur kampiun.


Aris menatap istrinya. Dia melihat beberapa tingkah aneh Ghina dalam beberapa hari ini


"Apa dia hamil ya?" ujar Aris bermonolog sendirian


"Tapi nggak mungkin" jawab Aris sendirian.


Aris kembali fokus dengan bubur yang sedang dimakannya. Semua orang menikmati sarapan bubur mereka. Apalagi Argha sampai nambah memakan bubur ketan hitam.


"Enak Bun. Jarang jarangnya ada ini mah." ujar Argha lagi.


Akhirnya mereka selesai menyantap sarapan pagi yang berupa berbagai jenis bubur itu.


"Kita ke markas sekarang?" tanya Ghina kepada semua orang.


"Bentar sayang." ujar Aris.


"Pi, Aris mau bertanya satu hal. Apakah Mami adalah ibu kandung Aris?" tanya Aris kepada Papi


"Tidak nak. Dia bukan ibu kandung kamu." jawab Papi.


"Oke Pi. Sip. Cerita lebih lanjutnya nanti malam saja. Aris hanya butuh iya atau tidak, karena saat Aris menyiksa dia dan ternyata dia ibu kandung Aris, maka dosa Aris akan luar biasa. Tapi kalau dia bukan ibu kandung Aris. Aris akan nyaman setelah menyiksa dia Pi." ujar Aris kepada Papi.


"Silahkan Nak. Dia bukan ibu kandung kamu. Malahan dia yang menyebabkan ibu kandung kamu meninggal karena dia menginginkan kedudukan dan harta." ucap Papi

__ADS_1


"Baiklah Pi. Aris akan melakukan apa yabg seharusnya kita lakukan terhadap dirinya." ujar Aris lagi


Mereka semua kemudian berangkat menuju markas. Kecuali Papi yang berangkat menuju kantor Jaya Grub. Papi juga membungkuskan untuk Asisten Hendri segala jenis bubur yang dimasak oleh Ghina.


__ADS_2