Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Rencana Seopomo Grub #1


__ADS_3

Aris sampai di rumah. Aris langsung memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Bram. Aris menurunkan mie ayamnyang dipesannya tadi. Aris kemudian langsung masuk kedalam rumah dan menuju ruang makan khusus keluarga. Ternyata memang benar Bram sudah duduk dengan ditemani mangkok kosong dan segelas jus jeruk dingin. Bram langsung menyerbu kantong yang dibawa Aris.


"Woi sabar napa."


"Laper bro. Loe enak habis kerja pergi kencan. Nah gue harus baca proposal."


"Eee monyet, ada gue suruh. Perintah gue pulang ke rumah utama Bram. Nanti malam baru bahas proposal. Gitukan."


"Hm gue penasaran aja. Mana sini mie ayam gue."


Aris meletakkan kantong yang dibawanya ke atas meja.


"Kok banyak?" Bram heran dengan lima porsi mie yang dibawa Aris.


"Mau gue kasih bibik. Gue lupa jumlah mereka berapa. Jadi gue lebihin aja empat."


"Pelit loe. Jelas bibik loe sepuluh. Loe lebihin empat aja." kata Bram.


"Bik" teriak Aris.


Bibik yang mendengar teriakan Aris langsung berlari menuju ruang makan.


"Ya Tuan Muda." kata bibik yang suaranya bergetar tanda takut.


"Ngapain takut Bik. Ini mie ayam ada empat bungkus. Pandai pandai bibik aja membagi dengan semua rekan yang lain." Aris memberikan kantong yang dibawanya tadi.


"Makasi Tuan Muda." kata bibik.


"Bram loe tengok dak ekspresi bibik tadi?"


"Yup. Kenapa?"


"Kayaknya mereka takut dengan guelah Bram."


"Baru sadar loe nyet. Mereka kan dari dulu memang takut sama loe. Loe kalau marah waduah kayak bom hirosima yang bisa meluluhlantakkan semua orang" kata Bram sambil menuangkan mie ayam kedalam mangkok makannya.


"Ye. Gue ke atas dulu. Malam baru bahas yang tadi. Kita tunggu Papi sama Mami dulu." kata Aris.


Aris kemudian pergi menuju kamarnya. Dia sangat lelah, Aris langsung masuk kedalam kamar mandi membersihkan badannya. Sehabis mandi Aris langsung merebahkan badannya. Aris bener bener sudah lelah dan letih. Aris langsung terlelap masuk kealam mimpinya.


Bram yang selesai makan juga masuk kekamarnya untuk.membersihkan diri dan beristirahat. Bram juga sama lelahnya dengan Aris. Terlebih lagi Bram belum bisa berbagi temuannya dalam proposal kerjasama perusahaan Z. Membuat Bram semakin pusing.


Papi dan Mami yang sudah siap langsung masuk kedalam mushalla. Aris dan Bram menyusul kedua orang tuanya untuk menunaikan sholat maghrib berjemaah. Bram maju untuk menjadi imam sholat berjamaah.


Selesai sholat berjamaah mereka kemudian makan malam bersama. Selesai menikmati makan malam, Papi, Aris dan Bram langsung masuk keruang kerja membahas tentang masalah kerjasama dengan perusahaan Z.


"Bagaimana Bram hasil pemeriksaan kamu?"


"Luar biasa bagus Pi. Mereka terlihat ingin menjatuhkan perusahaan kita, kemudian berniat membeli dengan harga murah."

__ADS_1


"Keren itu" kata Papi.


"Jadi bagaimana Pi?" kata Aris.


"Setujui aja."


"Apakah Dion mampu Pi? Aku ragu." kata Bram.


"Mampu itu. Tapi kalian harus memberikan gambarannya kepada Dion terlebih dahulu. Intinya jangan kalian lepas. Bimbing Dion terus."


"Pi bagaimana kalau kita retas dulu databesa perusahaan mereka. Kita lihat dulu sistemnya sampe mana."


"Jangan. Itu namanya ngajak perang dulua. Lebih baik kalian memperketat pengawasan database perusahaan disana. Jadi kalau mereka udah mulai menyerang database kita barulah kita menyerang mereka balik." kata Papi.


"Oke Pi. Serahkan ke Aris masalah memperkuat database. Atau bagaimana kalau kita buat ganda database. Satu yang bisa mereka bobol tapi itu data sekian tahun yang lalu, sedangkan yang satunlaginbaru database asli perusahaan."


"Papi setuju. Tapi apakah kamu bisa membuat dalam waktu secepat ini. Sedangkan papi tau kamu sedang bucin." Papi meledek Aris.


"Mana ada bucin. Biasa aja." jawab Aris.


"Berapa lama siap?" tanya Papi.


"Tiga hari Pi. Tapi bantuin Bram." Aris melirik Bram.


"Ini ni yang nggak enaknya ujung ujungnya gue yang kerja. Nggak malez, loe kerjain sendiri. Gue mau coba masuk kedata base mereka tanpa diketahui." jawab Bram.


"Biar"


"Ops tahan udah belum jadi bagaimana ini dengan pola kerjanya." Papi menghentikan keributan yang tak berarti itu.


"Jadi Pi. Kita akan memanggil Dion untuk kesini besok. Setelah dia sampai kita akan membicarakan langkah langkah yang harus dilakukan Dion. Aris rasa Dion pasti bisa."


"Oke Sip. Hubungi aja sekarang. Kirim pesawat kita kesana sekarang juga. Jadi tidak ada waktu terbuang sia sia."


Bram kemudian mengeluarkan ponselnya. Bram tau disana sudah pagi.


"Hallo Dion. Kamu sekarang juga berangkat ke negara I. Kami tunggu kamu disini. Masalah pesawat pakai saja privat jet kita yang ada."


"Baiklah Tuan Bram, saya akan bersiap siap terlebih dahulu. Saya akan sampai disana malam waktu negara I." kata Dion.


"Sejak kapan beli jet untuk negara F?" tanya Papi.


"Udah dua bulan Pi. Emang Papi kemaren kenegara A waktu kami dinegara F pakai apa?"


"Pesawat kita yang biasa. Ya itu, Papi bisa make karena kami make yang satu lagi."


"Oh. Baru paham. Udah kelarkan ni urusan. Papi capek mau tidur."


"Udah Pi."

__ADS_1


Papi keluar dari ruang kerja. Sedangkan Bram lebih memilih main game di ponselnya. Aris juga sama, dia menatap lekat ponselnya.


"Woi pecah tu layar dipelototin"


"Gue mau ngirim pesan. Tapi nggak tau mau tanya apa." jawab polos Aris.


"Nyet nyet. Loe tinggal tanyak udah makan belom. Atau yang lain kek. Gitu aja repot nyet." jawab Bram yang langsung keluar menuju kamarnya.


"Ye main kabir aja" Aris pun keluar dari ruang kerja menuju kamarnya di lantai atas.


✉️ Aris


Gimana tesisnya? Ada kendala dalam membuatnya?


✉️ Gina


Gangguin aja. Ini lagi konsentrasi merangkai kata kata. Jangan ganggu ya sayang.


✉️ Aris


Ye, udah untung disapa masih aja ngedumel. Nanti dicuekin marah lagi.


✉️ Gina


Sayang bukannya marah atau gimana. Cuma ini sedang konsentrasi sayang. Tapi mau pergi hari sabtu jadi harus kelar besok ini sayang.


Aris yang baru ingat udah ada janji dengan Gina ke Bali sabtu langsung menggedor pintu kamar Bram yang terletak tepat disebelah kamarnya. Bunyi gedoran Aris luar biasa memekakan telinga yang mendengar. Untuk kamar mereka dilantai dua.


"Apaan Ris." kata Bram membuka pintu kamar. Aris langsung saja menerobos masuk.


"Bram, Dion datang besok kan. Bukan sabtu?"


"Besok. Emang kenapa dengan sabtu. Sabtu gue akan ajak loe, Bayu, Gina, Sari dan Mira untuk kebali. Tapi perginya jumat malam." terang Aris.


"Ya udah bawa aja Dion sekalian. Atau kalau perlu Dion kita suruh aja mendarat di Bali. Nggak usah ke sini."


"Ide loe briliant. Laksanakan Bram. Gue mau tidur dulu." Aris tanpa merasa bersalah langsung keluar dari kamar Bram. Bram yang ditinggal langsung kesal.


Bram langsung menghubungi Dion.


"Hallo Dion. Kamu langsung saja ke Bali. Kami akan keBali jumat sore."


"Baik Tuan saya akan langsung ke Bali."


"Kamu nggak usah cekin kamar. Kita akan nginap di Villa keluarga Soepomo. Jadi kalau kamu sampai di Bali sebelum kami. Kamu main main saja dulu dimananya. Nanti akan saya kabari kalau kami sudah di bandara."


"Baik Tuan. Saya akan menunggu informasi dari Tuan. Saya juga akan memberitahu kalau saya sudah sampai Bali Tuan."


Bram kemudian memutuskan panggilannya dengan Dion. Bram naik ketempat tidurnya untuk beristirahat. Bram sangat lelah setelah melakukan penerbangan jauh dan membaca proposal kerjasama yang penuh dengan kelicikan itu.

__ADS_1


__ADS_2