
MALL
"Uni, baa Sari dek lamo bana ko Ni, lah jak tadi ka ec indak juo baliak nyo do ni? (Kakak, kenapa Sari lama sekali ke kamar mandinya, dari tadi Sari belum juga kembali?)" ujar Bibi yang sudah kesekian kalinya melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Iyo juo dak diak, kama kok la Sari nyo. Wak caliak ka wc tu lah. (Betul juga dak dek, kemanalah Sari pergi kok lama sekali.)" Ibu setuju dengan pendapat Bibi, mereka berdua kemudian mencari Sari ke kamar mandi.
Sesampainya mereka di sana, mereka tidak melihat keberadaan Sari di kamar mandi, cuma sebelah sendal yang di pakai Sari mereka dapatkan.
"Uni, iko tarompa Sari ma, lai dak di cilok Sari ni? (Kakak, ini sendal Sari, apa Sari di culik Kak?)" uajr Bibi sambil mengangkat sendal tersebut.
"Batuah, iko tarompa Sari. Co telpon Sari tu diak. (Betul itu sendal Sari, coba telpon Sari Dek)" kata ibu memberi perintah kepada Bibi.
"Baa ka manelpon, hp nyo sajo ko di dalam tas e ko ha. (Gimana mau menelpon, ponselnya saja di dalam tas ini)" ujar Bibi mengangkat ke depan Ibu tas tangan milik Sari.
"Pulang a la lai diak. (Pulang aja lagi Dek)" ujar Ibu yang sudah kehilangan minat untuk berbelanja.
Anak gadisnya yang mau menikah sebulan lagi mendadak hilang saat mereka berbelanja di mall. Ibu dan Bibi benar benar tidak tau kemana harus mencari Sari.
PERUSAHAAN JAYA
"Pi, menurut Papi apa yang menjadi dasar Mami bisa berbuat seperti itu??? Apakah semua ini menyangkut dengan harta dan jabatan Pi?" tanya Ghina yang sama sekali tidak paham dengan maksud Mami seperti itu.
"Ntah lah Ghin, ntah apa yang ada di dalam pikirannya. Padahal semua keuangan dan semua kebutuhannya sudah Papi cukupkan. Ntah apa lagi yang membuat dia bisa berbuat seperti itu. Papi juga heran dengan semua yang terjadi sekarang." jawab Papi sambil menekurkan kepalanya.
Papi benar benar tidak habis pikir dengan semua yang terjadi saat ini.
"Ntah apa kesalahan masa lalu yang Papi buat sehingga terjadi hal seperti ini. Papi benar benar tidak paham" lanjut Papi lagi mengeluarkan keluh kesahnya.
"Udahlah Tuk yang jelas sekarang ini bagaimana kita memberikan ganjaran kepada nenek lampir itu, biar dia tau rasa. Sudah terlalu banyak masalah yang dia buat untuk keluarga kita." ujar Argha sambil memeluk Atuknya dari belakang.
Dret Dret Dret bunyi ponsel Asisten Hendri yang bergetar di atas meja. Asisten Hendri mengambil ponsel tersebut. Dia melihat nama Bram tertulis di layar ponsel miliknya.
"Siapa Hen?" tanya Papi penasaran dengan panggilan telpon itu.
"Tuan Muda Bram, Tuan Besar." jawab Asisten Hendri.
"Angkat aja Hen, sepertinya penting," perintah Papi.
Hendri mengangkat panggilan dari Bram.
"Hallo Paman Hendri, apa Ghina ada di sana?" tanya Bram langsung saja saat panggilannya baru diangkat oleh Asisten Hendri.
"Ada, kenapa tidak telpon ke ponsel Ghina, kalau hanya perlu dengan Ghina, kenapa harus ke ponsel saya." ujar Asisten Hendri.
"Nggak diangkat Paman. Cepat Paman serahkan ponsel Paman ke Ghina. Ini darurat." ujar Bram kembali dengan nada mendesak.
__ADS_1
Asisten Hendri memberikan ponsel miliknya kepada Ghina.
"Kok????" tanya Ghina yang heran asisten Hendri memberikan ponselnya kepada Ghina.
"Angkat Ghin" perintah Papi.
Ghina mengambil ponsel yang diberikan oleh asisten Hendri kepada dirinya.
"Hallo kak, ada apa?" tanya Ghina yang masih heran kenapa Bram tidak menelpon ke ponsel miliknya kalau dia perlu dengan Ghina, kenapa harus melalui telpon asisten Hendri.
"Ghina, apa Sari dengan kamu sekarang?" tanya Bram dengan nada yang mendesak.
"Nggak, kenapa Kak? Aku sama Argha di kantor Papi." jawab Ghina.
"Aku sehari ini nggak ada chat dia Kak, besok rencana kami akan bertemu. Ada apa Kak? Sepertinya sangat penting sekali." ujar Ghina dengan nada cemas.
"Kakak dari tadi menghubungi dia, tapi tak satupun pesan yang dibalasnya, jangankan untuk dibalas dibaca aja tidak. Tidak biasanya Sari seperti ini." ujar Bram dengan nada cemas.
Sudah beberapa kali dari pagi dia mengirim pesan kepada Sari, tapi tak satupun dibalas oleh Sari.
"Apa Kakak sudah mencoba menghubungi Sari?" tanya Ghina yang juga sudah mulai merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan Sari.
"Sudah tapi tidak diangkat angkat Ghin. Kakak benaran cemas dengan keadaan Sari. Dia sama seklai tidak bisa dihubungi." ujar Bram yang terdengar sangat panik.
Papi meraih ponsel Hendri.
"Belum Pi, tapi ini Aris sedang menghubungi mereka untuk melakukan pencarian." jawab Bram yang jawabannya sudah tidak singkron dan fokus lagi.
"Oke Bram, sekarang kita semua pulang ke rumah utama. Kita harus memikirkan kemana perginya Sari." kata Papi lagi memberikan perintahnya.
"Kak Bram, pergi ke rumah Ayah dulu, keluarga Sari kan datang kemaren, mana tau dia pergi dengan mereka." Ghina teringat dengan agenda penerbangan pesawat GA Grub yang kemaren berangkat ke kota Padang untuk menjemput keluarga besar Sari.
"Oke Ghin, kakak dan Aris akan ke sana sekarang, sampai bertemu di rumah Pi." ujar Bram yang masih berusaha terlihat tenang, padahal di dalam hatinya dia sudah kalut karena Sari yang tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Ayuk pulang, sepertinya ini masalah baru lagi. Heran Papi kenapa masalah tidak henti hentinya menimpa keluarga kita." ujar Papi sambil melangkah ke meja kerjanya untuk merapikan semua barang barangnya ke dalam tas kerja.
"Semoga kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan nenek lampir itu. Sempat ada maka nasibnya akan sama dengan selingkuhan Aris terdahulu." ujar Ghina denga ngeramnya.
Ghina sama sekali tidak menyangka sahabatnya itu akan hilang lenyap tanpa kabar berita. Padahal Ghina sangat tau kalau Sari akan selalu memberi kabar kemana dia pergi.
Mereka semua naik ke atas mobil. Papi semobil dengan Asisten Hendri, sedangkan Ghina dengan Argha.
"Bun, menurut Bunda apakah ada keikutsertaan nenek lampir dalam masalah ini?" tanya Argha mengingat siapa kompor dari permasalahan kali ini.
"Bunda belum bisa berpikir Gha, ntah siapa dalang dibalik semua ini. Tetapi menurut Bunda memang ada kaitannya dengan Nenek lampir." jawab Ghina sambil tetap fokus ke jalan.
__ADS_1
"Bun, kenapa nggak coba tanya ke pengawal saja yang mengiringi Tante Sari?" ujar Argha yang teringat kalau masing masing mereka ada yang mengikuti.
"Bener juga ya Gha biar bunda telpon" jawab Ghina
Ghina meraih ponselnya, dia mencoba menghubungi salah satu pengawal yang memang selalu menjaga Sari kemanapun Sari pergi. Ghina menunggu panggilan itu sampai diangkat oleh pengawal. Barulah pada panggilan kedua, baru panggilan Ghina diangkatnya.
"Selamat Sore Nyonya Ghina, ada yang bisa kami bantu?" ujar pengawal saat mengangkat panggilan telpon dari Ghina.
"Kalian sekarang berada dimana?" tanya Ghina lagi.
"Sedang berada di markas Nyonya" jawab pengawaal memberitahukan mereka sedang dimana sekarang.
"Di markas??? Apa Nona Sari bersama dengan kalian?" tanya Ghina lagi.
"Tidak Nyonya, kemaren saat pulang dari kota Padang, Nona Sari berpesan supaya kami tidak mengikuti dirinya hari ini, karena dia akan pergi dengan Ibu dan Bibinya." jawab pengawal.
"Maaf Nyonya, kalau saya boleh tau ada apa Nyonya?" tanya pengawal Sari.
"Nona Sari tidak bisa dihubungi." jawab Ghina.
"Kami akan melacak dimana keberadaan Nona Sari Nyonya." jawab pengawal yang memang dibekali alat pelacak untuk melacak keberadaan Nyonya mereka masing masing.
"Baiklah, kerjakan, kalau perlu bantuan, minta tolong saja kepada Juan. Dia bisa menyelesaikan hal itu." perintah Ghina selanjutnya.
"Baik Nyonya" jawab pengawal.
Tak terasa mereka sudah sampai di komplek perumahan keluarga Soepomo, Ghina membelokkan mobilnya masuk ke dalam gerbang utama. Terlihat dua mobil yang dikenalnya sudah terparkir dengan rapi di sana.
"Loh kenapa ada mobil Mami Sari dan Papi Bayu, Gha?" tanya Ghina heran saat melihat ada mobil Mira dan Bayu.
Ghina merasa tidak ada menghubungi orang berdua itu, ntah kenapa mobil mereka sudah berada di sana.
"Argha juga nggak tau Bun. Ayo Bun turun. Argha penasaran." ujar Argha yang sebenarnya pengen sekali ke markas menggunakan komputer canggih yang ada di sana.
Mereka berdua lalu turun dari mobil, Argha dan Ghina setengah berlari menuju rumah utama. Ghina membuka pintu rumah utama dengan tidak sabaran. Di ruang tamu sudah terlihat, Papi, Asisten Hendri, Mira dan Bayu yang sudah duduk dengan cemas.
"Ghin gimana ceritanya?" tanya Mira lagi.
"Gue juga nggak tau. Tadi pengawal yang biasa menjaga Sari udah gue hubungi, katanya Sari meminta mereka untuk beristirahat hari ini karena dia mau jalan jalan dengan keluarganya." Ghina menceritakan apa yang diceritakan oleh pengawal Sari kepada dirinya.
"Menurut Argha Bu, ini penculikan, tapi Argha nggak bisa ambil gambaran siapa orangnya. Apa kelompok kita sedang ada membuat masalah dengan kelompok lain Bun?" tanya Argha yang sama sekali tidak menutup peluang untuk suatu hal.
"Nggak Gha, kita sama sekali tidak ada bermasalah dengan kelompok manapun, Bunda yakin akan hal itu." ujar Ghina.
__ADS_1
Semua orang kembali terdiam, mereka sibuk dengan pemikiran masing masing. Saat mereka diam, pintu rumah dibuka dari luar, terlihat Aris dan Bram berdiri di depan rumah dengan wajah panik.
"Kenapa sayang???? Kenapa wajah kamu seperti itu???? Ada apa sayang????? Jangan buat aku cemas sayang????"