
"Gina, kita langsung berangkat sayang?" tanya Mami yang sudah memakai pakaian andalannya untuk melakukan shoping gilak gilakan yaitu celana kulot dan baju kemeja.
"Oke Mi. Kita berangkat sekarang. Gina telpon uda Aris dulu ya Mi. Biar uda langsung ke mall." kata Gina sambil mengeluarkan ponselnya.
Gina menghubungi Aris. Aris yang memang sudah menunggu panggilan dari Gina langsung mengangkat telpon dari Gina.
[Ya sayang? Kamu sama Mami udah mau berangkat? Nana bagaimana?] tanya Aris dari seberang sana.
[Kami mau berangkat sayang. Kami bertemu dengan Nana di mall aja. Kamu jalan lagi ya sayang, biar nggak nunggu kamu lama nanti.] kata Gina.
[Baiklah, aku langsung berangkat sekarang sayang. Kamu dengan Mami hati hati. Ngomong sama sopir untuk membawa mobil tidak ngebut.] lanjut Aris mengingatkan Gina untuk mengatakan kepada sopir agar tidak ngebut bawa mobil
[Baik sayang, nanti aku ngomong dengan sopirnya. Kamu berangkat juga hati hati ya sayang, jangan ngebut.] lanjut Gina membalas perhatian Aris kepada dirinya.
Gina memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang akan dibawanya untuk belanja membeli keperluan Blip. Gina juga tidak lupa membawa cemilan buah potong yang sudah disiapkannya tadi.
"Ayuk Mi berangkat." kata Gina kepada Mami yang sudah menunggu Gina di ruang tamu.
Mami dan Gina masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di lobby rumah.
"Pak ke mall besar pusat kota ya." kata Mami.
"Ke mall milik kita kan Nyonya?" tanya pak Sopir yang ragu akan menuju mall milik Soepomo atau milik pribadi Tuan Aris.
"Soepomo" jawab Mami.
Gina mengeluarkan ponselnya kembali. Dia akan menghubungi Nana mengatakan di mall mana mereka akan belanja. Beberapa kali panggilan tidak diangkat oleh Nana. Baru pada panggilan kelima telpon dari Gina diangkat oleh Nana.
[Halo Nana] kata Gina saat telpon diangkat oleh Nana.
[Hallo sayang, maaf tadi Nana sedikit ketiduran di mobil. Ini Nana mau menuju mall. Mall yang mana ya Gin?] tanya Nana yang tidak tau mau menuju mall yang mana hari ini.
[Mall Soepomo Grub Na. Mall yang di daerah Z itu.] jawab Gina.
[Berarti Nana tidak salah mall. Sebentar lagi Nana samlai di situ sayang. Nana nunggu di mobil aja ya. Nana pakai mobil yang warna merah sayang.] kata Nana sambil mengatakan mobil apa yang dipakainya hari ini. Jadi nanti Gina tidak perlu susah mencari Nana.
[Oke Nana. Nanti Gina akan cari mobil merah favorit Nana itu.] jawab Gina sambil tersenyum mengingat mobil yang dikatakan Nana tadi.
Tak terasa perjalanan yang mereka lalui akhirnya berakhir sudah, Gina dan Mami sudah sampai di parkiran mall. Sopir memarkir mobil yang dikendarainya di samping mobil Aris.
Mami dan Gina kemudian turun dari mobil, begitu juga dengan Aris dan Bram. Nana yang melihat mereka berempat sudah turun, juga turun dari mobilnya. Nana juga memakai celana kulot dan baju kemeja. Aris dan Bram yang melihat staile yang berbeda dari dua Nyonya besar menatap heran ke arah Mami dan Nana.
"Kenap Ris?" tanya Nana yang ditatap sedemikian rupa oleh Aris.
"Heran aja, kenapa dua Nyonya besar bergaya berbeda hari ini. Biasanya pakai midi dress atau gaun, sekarang celana kulot dan kemeja. Malahan biasa nggak lepas dari higtheels sekarang sepatu kets." tanya Aris heran melihat gaya dua nyonya itu.
"Oh ini gaya untuk shoping besar besaran." kata Nana sambil tersenyum melihat gayanya sendiri.
"Aris, Mami dan Nana mau buat kesepakatan dengan kalian berdua sebelum kita pergi berbelanja." kata Mami sambil duduk di kursi yang disediakan di mall itu.
"Apaan Mi?" tanya Aris yang penasaran.
"Belanja hari ini, kalian tidak boleh mengeluarkan uang. Semua barang yang dibeli akan di bayar oleh Nana dan Mami. Paham," kata Mami melihat ke arah Aris dan Gina.
"Tapi" kata Aris.
"Nggak pake tapi, tidak ada penolakan. Semua yang bayar kami berdua. Kalian kalau mau bayar pergi aja berdua jangan bawa kami. Tapi lain kali." lanjut Mami smabil berdiri dari duduknya.
"Ayuk Na, kita jalan. Kita harus beli semuanya hari ini. Jangan biarkan mereka bisa membeli apapun dilain hari." kata Mami dengan semangat empat lima.
"Ayuk mari kita jalan. Kita harus berburu semua keperluan dedek bayi. Kita akan kosongkan semua babyshop." kata Nana dengan penuh semangat.
"Ayo Mami, Nana jangan kasih kendor. Kita mulai acaranya. Nanti aku suruh truk datang untuk bawa barang ke rumah." kata Bram ikut menyemangati Mami dan Nana untuk membeli semua barang.
"Tapi Mi." kata Gina dengan wajah memelas butuh dikasihani.
"Maaf sayang, untuk muka memelas kamu kali ini tidak ada pengaruhnya ke Mami. Kami tetap teguh dengan pendirian kami." kata Mami sambil tersenyum bahagia.
"Udah sayang, pasrah aja." kata Aris sambil memegang tangan Gina.
"Gimana lagi sayang. Semoga nggak yang aneh aneh aja diambil Mami dan Nana." kata Gina dengan tersenyum kepada Aris. Gina nggak mau Aris menjadi sedih karena Gina merasakan kesedihan.
Mereka berlima ditambah dengan dua orang sopir berjalan masuk ke dalam mall. Mereka mencari babyshop yang lengkap di dalam mall itu. Mereka masuk kedalam sebuah babyshoop yang sangat besar. Mami dan Nana langsung masuk dengan semangatnya.
"Saatnya pertunjukan" kata Bram sambil mengangkat tinjunya ke atas langit.
__ADS_1
"Semangat kali kak." kata Gina.
"Semangat untuk jadi tukang angkat Gin. Gue nggak kebayang berapa duit yang akan mereka berdua keluarkan hari ini." kata Bram kepada Gina.
"Taruhan yuk kak" ajak Gina.
"Sip. Kalau gue menang, Aris harus masak nasi goreng selama seminggu." kata Bram mengajukan taruhannya.
"Kalau gue menang, kakak harus siap sedia gue suruh apapun." kata Gina.
"Setuju dan sesuai." kata Bram.
"Kalau aku di bawah 500an" kata Bram.
"Kalau aku atas 500an" jawab Gina.
"Mari kita buktikan. Gue jadi wasitnya." kata Aris.
Mami dan Nana yang sudah masuk ke dalam baby shoop melihat barang barang yang begitu banyak jenisnya langsung bingung mau membeli apa. Ini adalah perdana bagi mereka berdua membeli perlengkapan bayi setelah begitu lama tidak melakukannya.
"Kita mulai dari mana dulu Mi?" tanya Nana.
"Bingung Na." jawab Mami.
Seorang karyawan babyshoop menghampiri Mami dan Nana.
"Maaf Nyonya ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan toko.
"Kebetulan, kami mau mencari kebutuhan bayi. Tapi nggak tau mau mulai dari mana. Pusing juga melihat begitu banyak jenisnya." jawab Mami kepada pelayab.
"Baiklah bu, saya tau ibu berdua ragu. Saya akan bantu keraguan ibu. Bagaimana kalau kita mulai dari perlengkapan dasar baby dulu. Tempat tidur bayi." kata karyawan.
"Setuju." jawab Nana.
"Mari ikut saya Nyonya. Akan saya tunjukan tempatnya." kata Karyawan.
Karyawan membawa Nana dan Mami kebagian perlengkapan baby. Pada bagian itu tersedia ranjang tempat tidur, tempat mandi dan memakaian pakaian baby, kursi makan, tempat memandikan bayi, carshet baby, semua yang diinginkan untuk perlengkapan bayi tersedia di sana.
"Mi, kita nggak tau bayinya laki laki atau perempuan. Jadi gimana cara pilih ranjang bayinya ya?" tanya Nana ragu mau pilih ranjang yang mana.
"Iya" jawab Nana.
"Kalau saya boleh saran ibu, pilih warna biru yang soft aja. Karena biru netral ibu. Besok kalau cucunya udah lahir ibu bisa beli yang sesuai dengan jenis kelamin cucu ibu." kata karyawan memberi saran.
"Hahahahaha" Bram tertawa mendengar usul karyawan itu.
"Kenapa tertawa Bram?" tanya Mami.
"Karyawannya pinter Mi. Beli sekarang besok pas lahir beli lagi. Jadikan dia bisa dua kali jual tempat tidur ke kita Mi." kata Bram.
Karyawan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram langsung tersenyum. Dia tidak menyangka Bram akan mengomentari yang dikatakannya tanpa saringan itu.
Mami dan Nana akhirnya sepakat membeli ranjang warna biru dengan kelambu putih. Mereka kemudian sibuk memilih semua perlengkapan bayi sesuai dengan warna ranjang. Temanya adalah biru.
"Sayang mereka lupa membeli lemari pakaian, itu bagian kita." kata Gina yang akhirnya ada juga yang bisa dia beli untuk bayinya.
"Mami, kita ada yang lupa" kata Nana.
"Apaan Na?" kata Mami yang sudah mau menuju pakaian bayi. Pakaian yang dari tadi sudah menarik narik Mmi untuk dipilihnya.
"Kita mau beli pakaian, dimana di simpan kalau lemarinya nggak di beli." jawab Nana.
"Ah iya. Sampai lupa ya. Ayok pilih lagi, pokoknya warna biru." kata Mami.
"Yah gagal deh sayang." kata Nana.
"Sabar sayang" jawab Aris sambil mengusap lengan Gina.
"Mami, Gina yang milih. Dari tadi Mami dan Nana udah milih. Lemari bagian Gina." kata Gina langsung maju ke bagian lemari. Gina memilih lemari yang besar dan juga berwarna biru. Aris dan Bram yang melihat begitu besar lemari yang dipilih Gina hanya bisa melongo saja.
"Gin besar banget?" tanya Bram heran.
"Sengaja kak. Nanti Mami dan Nana pasti beli baju yang banyak. Makanya aku milih lemari yang juga besar. Kakak juga harus siap siap kalah ya." kata Gina sambil tersenyum lebar.
"Curang kamu Gin" kata Bram.
__ADS_1
"Hahahahahaha" Gina dan Aris tertawa bersamaan.
"Suami istri sama aja. Sama sama nggak ada akhlak" kata Bram yang langsung mengikuti Mami dan Nana ke bagian pakaian.
Bram memiliki rencana lain untuk membuat dia tidak kalah melawan Gina. Bram harus melakukannya.
Mami dan Nana sibuk memilih baju untuk dikenakan oleh cucu pertama mereka. Mami dan Nana memilih sesuai dengan keinginannya. Dua orang supir mengikuti kemana saja dua Nyonya besar itu pergi. Dua sopir membawa kantong belanjaan Nyonyanya masing masing.
Mami dan Nana main ambil dan masuk ke dalam keranjang setiap pakaian yang mereka rasa menarik dan lucu. Bram yang melihat geleng geleng kepala. Bram kemudian menemui para sopir yang membawa pakaian. Bram mengambil beberapa pakaian dari dalam keranjang dan menaroknya kembali ke rak rak pakaian. Aris, dan Gina tertawa kecil melihat tingkah Bram.
"Sepertinya dia udah tau mau kalah sayang." kata Aris kepada Gina.
"Sepertinya. Apa kata Nana dan Mami ya kalau mereka tau pakaian yang capek mereka pilih sudah tidak ada di dalam keranjang lagi." kata Gina kepada Aris.
"Kita saksikan aja sayang. Bentar lagi juga kejadian." jawab Aris.
Mami dan Nana kembali memeberikan pakaian atau celana yang dipilihnya kepada sopir. Tetapi kali ini bukan sopir yang menerima melainkan Bram. Bram meletakan kembali ke rak rak baju.
"Mami aku rasa penuh satu keranjang. Kita tarok ke kasir dulu. Nanti kita pilih lagi." kata Nana kepada Mami.
"Sip." jawab Mami.
Mami dan Nana membalik badannya, mereka melihat keranjang yang mereka yakin sudah penuh hanya berisi separonya saja.
"Loh kok bisa separo?" tanya Nana yang heran kepada sopirnya.
"Punya aku juga separo." kata Mami.
"Apa yang terjadi?" tanya Nana dan Mami serempaj.
Kedua sopir saling pandang pandangan. Mereka takut dimarahi oleh kedua Nyonya besar yang menggaji mereka itu.
"Ayo jawab kenapa pandang pandangan." kata Mami yang sudah naik gulanya.
Mereka capek memilih ternyata barangnya sudah tidak ada di dalam keranjang belanjaan.
"Begini Nyonya. Semua barang yang Nyonya pilih kami masukkan kedalam keranjang masing masing. Terus Tuan Bram meletakan kembali pakaian tersebut ke rak raknya Nyonya." jawab Sopir mami.
"Bener begitu pak?" tanya Nana kepada sopirnya.
"Bener Nyonya. Nyonya bisa tanya sama Nyonya Muda." jawab sopir Nana.
"Gin?" tanya Nana.
"Bener Na. Tengok tu kak Bram udah keluar keringat dingin." jawab Gina sambil menunjuk Bram yang sudah tersenyum kecil atas ulahnya.
"Bram" kata Mami dengan geram.
"Maafin Bram Mi." jawab Bram sambil memegang kedua telinganya.
"Jelasin" perintah Mami.
Bram kemudian menjelaskan masalah taruhannya dan niat Gina memilih almari besar untuk kamar bayinya. Semua yang mendengar cerita Bram dan ide konyol Bram langsung tertawa ngakak, tidak percaya Bram bisa memiliki ide seperti itu.
"Nah sekarang Bram. Kamu ambil kembali semua pakaian yang sudah Mami dan Nana pilih. Kamu kira nggak capek milihnya. Capek sangat, kamunya enak tinggal tarok aja." kata Mami memberikan perintah kepada Bram.
"Tapi Bram nggak tau modelnya Mi. Bram juga lupa narok dimananya tadi pakaian itu." jawab Bram sambil menunduk.
Mami berdiri dan memukul kepala Bram.
"Makanya jangan banyak ulah. Pake taruhan segala." kata Mami jengkel dengan ulah Bram.
"Mi makan dulu yuk. Nanti lanjut lagi. Gina lapar Mi." kata Gina yang memang sudah merasakan lapar di perutnya.
"Oke. Nanti kita ulang lagi memilihnya."
Mami menuju kasir.
"Hitung semua yang sudah kami beli tadi. Nanti kami ke sini melanjutkan pembelian. Kami makan sebentar." kata Mami kepada kasir.
"Baik Nyonya " jawab manager toko.
Mereka semua kemudian pergi makan siang. Mami dan Nana makan siang seperti di kejar hantu. Mereka makan dengan sangat cepat. Sopir yang kebagian membawa keranjang belanjaan juga ikut cepat memakan makanan siang mereka. Tidak butuh waktu lama, Mami dan Nana selesai makan. Sopir mereka masih belum selesai.
"Kalian makan aja dulu. Kami duluan. Nanti susul saja ke toko yang tadi." kata Nana kepada kedua sopir tersebut.
__ADS_1
Dua orang sopir mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nana. Mereka memang masih sangat lapar.