
Setelah seharian berkendara Gina dan Sari sampai juga di ibu kota kembali. Sari langsung mengarahkan mobilnya menuju apartemen Bram. Satu satunya tempat paling aman bagi Gina dari rong rongan orang adalah apartemen Bram. Gina harus beristirahat terlebih dahulu sebelum menampakkan hidungnya di rumah utama Soepomo.
"Gin, hari ini atau besok mau ke rumah utama?" tanya Sari kepada Gina sambil membuka pintu utama apartemen.
"Kayaknya nanti siap maghrib aja gue ke sana. Loe anter gue jmya Sar." kata Gina sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Bram yang luas itu.
Apartemen dua lantai yang sangat jarang ditempati oleh Bram. Bram sama sekali tidak boleh oleh Mami untuj tinggal di luar rumah utama. Makanya apartemen ini sangat jarang digunakan. Palingan Bram memakainya saat dia lelah dengan urusan bisnis. Maka siang hari Bram akan beristirahat di sini.
"Loe istirahat di kamar tamu aja Gin. Gue akan masak bentar. Nanti setelah makan sore kita ke rumah utama." kata Sari yang sudah mengeluarkan semua bahan bahan untuk dimasaknya. Sari tadi berhenti di supermarket perbatasan kota untuk membeli bahan bahan tersebut.
Gina yang memang sudah lelah langsung masuk kamar tamu untuk beristirahat. Sedangkan Sari langsung mengolah setiap bahan makanan yang dibelinya tadi. Sari akan memasak ayam goreng mentega, cumi goreng tepung dan capcay. Sari juga membeli mangga harum manis untuk cemilan Gina. Sari dengan lihai memasak semua masakan tersebut. Tidak terlihat kecanggungan sedikitpun dari gerak gerik Sari bekerja di dapur apartemen milik Bram. Setelah berkutat dengan semua bahan yang dibelinya tadi selama lebih kurang dua jam akhirnya semua masakan Sari selesai. Sari meletakkan semuanya di meja makan. Setelah menata semua hasil masakannya di meja makan, Sari langsung masuk ke dalam kamar Bram. Dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu, setelah itu barulah dia akan membangunkan Gina yang sedang terlelap tidur.
"Gin bangun Gin, mandi siap itu kita makan." Sari membangunkan Gina.
Gina mengusap kedua matanya yang masih belum puas tidur.
"Udah jam berapa?"
"Jam lima lewat. Sana mandi cepat, ibu hamil nggak boleh mandi maghrib"
"Siap ibuk yang super tau. hahahahahahaha" Gina berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terletak di kamar tamu. Gina mandi dengan cepat, dia tidak mau mandi kelamaan.
"Ayuk makan, gue udah laper" kata Gina sambil langsung jalan ke meja makan.
Gina melihat begitu banyak makanan lezat yang terhidang di meja makan itu. Semuanya adalah makanan favorit Gina.
"Wow. Loe memang keren Sar"
"Biasa aja kali Gin. Ayuk makan, siap itu kita langsung ke rumah keluarga Soepomo. Kita lihat bagaimana reaksi mami saat melihat loe pulang"
Gina dan Sari mulai melahap semua makanan yang ada di atas meja. Mereka makan dengan begitu lahapnya. Gina dan Sari tidak membiarkan ada makanan yang tersisa. Sari memasak sesuai dengan kebutuhan mereka. Selesai makan, Gina mencuci piring yang mereka pakai tadi. Sedangkan Sari merapikan dua kamar yang mereka gunakan. Setelah selesai mencuci semua piring kotor, Gina duduk bersantai di ruang tamu. Tidak beberapa lama kemudian Sari juga telah selesai membersihkan kamar.
"Yok Gin berangkat"
Gina berdiri dari tempat duduknya. Tina tiba saja Gina berlari ke wastefel yang ada di dapur. Gina mengeluarkan semua isi perutnya. Gina terus saja mual mual, Sari membantu mengurutkan tengkuk Gina. Sari meletakan handuk hangat di tengkuk Gina. Tidak berapa lama penyiksaan mual yang diterima Gina berakhir.
"Loe nggak apa apa? Atau besok aja kita ke sana?" tanya Sari dengan nada yang sangat cemas.
"Jangan sekarang aja."
"Gue baru ingat. Gue tadi beli mangga, bentar gue ambil ke lemari es dulu" Sari melangkahkan kakinya ke lemari es. Sedangkan Gina mengambil air hangat untuk diminumnya.
__ADS_1
"Ni mangganya" Sari memberikan sebuah kotak transparan berisi potongan mangga.
"Makasi Sar" kata Gina sambil menerima kotak mangga.
Gina memakan beberapa potong mangga, setelah dirasa badannya sudah kembali fit. Gina memutuskan untuk berangkat ke rumah keluarga Soepomo.
"Yuk Sar jalan. Gue udah enakan"
"Beneran?" Sari masih ragu dengan keadaan Gina.
"Yup. Gue udah oke" jawab Gina meyakinkan Sari.
Gina dan Sari keluar dari aparteman. Mereka langsung menuju parkiran. Sari kemudian melajukan mobilnya menuju rumah utama keluarga Soepomo.
"Loe udah yakinkan Gin?" tanya ulang Sari. Sari tidak ingin sesuatu terjadi kepada Gina.
"Udah. Loe percaya sama gue kan?" tanya balik Gina.
"Percaya" jawab Sari sambil memberikan senyum terbaiknya ke Gina.
Sari melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi menuju rumah utama Soepomo. Dia ingin cepat sampai ke rumah itu. Sari sangat ingin melihat ekspresi Papi dan Mami saat melihat Gina berdiri di depan mereka dengan keadaan utuh dan sehat. Apalagi dengan kehamilan Gina yang sudah mereka nanti nantikan.
"Sar, ponsel loe getar tuh" kata Gina kepada Sari yang tidak sadar ada panggilan masuk ke ponselnya.
Sari kemudian menerima panggilan telpon tersebut.
"Bram" kata Sari kepada Gina.
"Assalamualikum sayang"
"Waalaikumsalam sayang. Kalian udah dimana?" tanya Bram.
"Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah utama sayang."
"Gina bagaimana kondisinya?"
"Aku baik baik aja kak. Kakak bagaimana?" tanya Gina balik.
"Kami juga baik Gin. Kamu hati hati ya. Jangan emosi, karena Papi dan Mami tidak layak menerima emosian dari kamu. Ingat pesan kakak, mereka sangat sayang kamu" kata Bram memberikan nasehat kepada Gina.
"Siap kak. Aku nggak akan emosian kepada Papi dan Mami" jawab Gina.
__ADS_1
"Kakak masih melakukan pencarian?"
"Iya. Sekarang sedang istirahat. Aku dapat jatah mencari kamu dengan Daniel."
"Daniel?" tanya Sari.
"Yup. Dia udah sangat kesal dengan Gina. Dia udah ubek ubek daerah sini tapi sama sekali tidak menemukan Gina"
"Hahahahaha. Sayang sayang, samoe tumbuh uban Daniel nggak akan dia nemuin Gina di sana. Kamu nggak ngasih tau Daniel sayang?"
"Nggak sayang. Biarin aja, aku menikmati alur pencarian aja. Sekalian wisata kuliner"
"Sayang jangan makan yang aneh aneh, nanti sakit pulak" Sari mengingatkan kebiasaan buruk Bram yang pemakan segala hal dan ujung ujungnya diare.
"Aman sayangku. Aku nggak mau sakit saat seperti ini. Bisa ngamuk singa jantan Gina nanti" jawab Bram sambil menahan tawanya.
"Kak Bram, kalau mau ketawa, ketawa aja jangan di tahan kakak. Nanti angin yang keluar." jawab Gina yang sudah hafal dengan gaya Bram yang sedang menahan tawanya.
"Hahahahahahaha. Tau gak Gin"
"Nggak" jawab Gina langsung.
"Gina" teriak Bram.
"Suami loe yang ganteng paripurna itu, sangat yakin bisa nemuin loe di daerah ini. Gue pengen rasanya ngoming balik ibu kota aja. Gina udah pulang. Tapi gue males. Gue maunya mami yang nelpon dia" kata Bram.
"Kakak, kamu memang lah ya" kata Gina.
"Sayang, jangan pulang sama Aris nanti ya. Kamu pulang sama Daniel aja" kata Sari.
"Mana bisa pulang sama Aris. Kami beda lokasi pencarian Gina sayang ku" jawab Bram yang tau Sari khawatir dengan dirinya kalau pulang dengan Aris.
"Sayang udah duluya. Kami udah mau masuk pintu gerbang rumah utama."
"Sayang. Tahan dulu. Aku telpon satpam dulu."
"Siap sayang"
Bram menghubungi satpam untuk tidak memberi tahukan orang rumah tentang kedatangan Gina dan Sari.
"Sayang, masuk aja. Aku udah koordinasi dengan satpam dan ketua pelayanan rumah utama."
__ADS_1
"Makasih sayang ku. Muach. Aku mencintaimu"
Sari memutuskan panggilannya dengan Bram. Dia akan mengantarkan Gina ke rumah mertuanya yang sudah lama dia tinggalkan.