Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Fitnah Mami


__ADS_3

Hari hari berlalu dengan begitu cepatnya. Mami tetap bersikap seperti tidak ada Arga di rumah saat Papi dan Aris bekerja. Sedangkan apabila Papi dan Aris berada di rumah maka Mami akan bersikap seperti biasa kepada Arga.


Siang itu ntah kenapa Papi dan Aris cepat pulang dari kantor. Mereka sedang menikmati hari bermain dengan Arga di kolam renang. Arga tertawa setiap kali berhasil tertangkap oleh Aris saat mereka berenang bersama. Gina tersenyum bahagia melihat anaknya yang diperlakukan seperti itu oleh Aris dan Gina.


Tap. Bunyi pundak Gina yang di pegang dari belakang dengan sangat kuat. Gina membalik badannya dia melihat Mami yang berdiri di dekat dirinya dengan tersenyum smirk.


"Kamu jangan senang dulu. Mereka belum tau kekurangan yang diderita Arga. Sempat mereka tau, saya yakinkan tamat riwayat kamu dengan tiga anak kamu. Silahkan angkat kaki dari rumah saya." kata Mami dengan sinisnya.


"Mami tenang saja saya dan ketiga anak saya sudah bersiap untuk keluar dari rumah ini. Saya tidak akan ragu untuk pergi dari sini." jawab Gina dengan santainya


"Kita lihat sampai mana kemampuan kamu untuk hidup tanpa keluarga Soepomo." jawab Mami.


"Oh Mami ibu mertua ku tersayang, apakah anda lupa kalau saya adalah putri satu satunya keluarga Wijaya?" ujar Gina menatap tajam ke arah Mami.


Mami menatap tajam Gina.


"Aku tidak akan lupa akan hal itu. Tapi aku pastikan Wijaya grub pasti akan membenci kamu dan ketiga anak kamu." balas Mami.


"Maksud Mami, Mami mau melihat kami menjadi gelandangan?" tanya Gina dengan nada tidak percaya.


"Hahahaha. Aku akan pastikan kalau kalian akan menjadi gelandangan." ucap Mami sambil menunjuk kiri Gina.


"Stop Mami, Aku yakinkan kepada Mami. Suatu saat kalian yang akan bersujud ke kaki anak aku yang kalian anggap anak tidak berguna itu. Camkan itu Mami." ujar Gina sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ibu mertua yang sudah sangat berubah itu.


Gina merenung di tepi kolam ikan. Ingin rasanya menghubungi kedua orang tuanya. Tapi separo hatinya melarang karena tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Gina sudah tidak tau lagi kepada siapa dia harus berbagai keluh kesahnya ini.


Gina terus memberikan makanan ikan. Dia bener bener lelah dengan semua ini. Daniel yang hari ini juga pulang cepat dari rumah sakit melihat Bundanya yang sedang tidak semangat mengurungkan niatnya untuk memberi kabar tentang beasiswa kuliah S3nya.


Daniel berjalan mendekati Bundanya. Dia duduk di sebelah Bunda.


"Bun, ada apa?" tanya Daniel kepada Gina.


"Nggak ada apa apa Niel." jawab Gina berusaha memberikan senyumnya kepada Daniel.


"Bunda, aku bukan Daddy yang tidak peka terhadap kondisi seperti ini. Bunda lebih baik cerita ke aku sebelum aku ngelabrak orabg tersebut." ujar Daniel menatap memohon kepada Bundanya.


"Niel, Bunda tidak bisa cerita di sini. Besok Bunda akan cerita saat Bunda mengantarkan Arga terapi." ujar Gina berusaha memberikan sedikit ketenangan kepada anak pertamanya itu.


"Baiklah Bun. Sebenarnya juga ada yang mau aku katakan kepada Bunda. Tapi setelah aku pikirkan kembali, lebih baik besok aku kasih tau ke Bunda." ujar Daniel kembali.


"Aku ke kamar dulu Bun." jawab Daniel yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar.


Daniel berselisih dengan Mami saat dia mau ke kamar. Mami menatap Daniel dengan pandangan tidak suka. Ntah itu perasaab Daniel saja atau memang yang sebenarnya seperti itu.


"Aku akan menanyakan kepada Frenya. Apakah dia juga menerima sikap tidak baik dari Nenek." ujar Daniel sambil terus menuju kamarnya.


.


.


.


Malam harinya semua keluarga sudah berkumpul untuk makan malam. Gina sudah mengambilkan Aris menu makanannya, sedangkan untuk Arga, Gina sudah membuatkan sepiring nasi tim hati ayam. Semua orang mulai menyantap hidangan makan malam. Sedangkan Gina menyuapi Arga.


"Sayang, kamu makan sana biar aku yang nyuapin Arga." ujar Aris yang ternyata sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Nanti aja sayang. Nanggung sedikit lagi." jawab Gina yang memang sudah berjanji tidak akan menyentuh makanan dari rumah utama ini lagi.


"Berhubung kita sudah lama tidak ngobrok santai, gimana kalau kita duduk di ruang keluarga terlebih dahulu sebelum beristirahat?" kata Papi yang memang sedang ingin merasakan ngobrol dengan anggota keluarga yang lain.


"Sip Pi." jawab Bram.


Semua anggota keluarga yang telah selesai makan malam mulai berjalan menuju ruang keluarga. Mereka akan mengobrol ringan di sana malam ini.


Gina yang merasakan lapar, memilih untuk meninggalkan Arga dengan susternya. Dia akan makan makanan yang telah di pesannya tadi di taman belakang rumah. Tempat selama ini dia menikmati makanannya saat ada Aris di rumah.


Gina makan dengan cepat, dia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Arga yabg sedang sibuk bermain. Gina benar benar tidak tau akan berbuat apa kalau Arga sempat melakukan sesuatu yang membuat mami mertuanya itu marah.


Tiba tiba dari arah dalam rumah terdengar bunyi barang yang jatuh dan pecah dengan begitu kuatnya. Gina sampai meninggalkan makan malamnya yang masih tersisa seperempat itu. Gina berlari dengan kencang menuju sumber pusat benda terjatuh itu.


Gina melihat di lantai sudah bertebaran pecahan guci yang sangat banyak. Gina tau itu adalah salah satu guci kesayangan dari Mami. Gina tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mami serta kata kata yang dikeluarkan Mami dari mulutnya.


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di tempat guci tersebut pecah. Terlihat Arga sudah di gendong oleh Aris. Arga sama sekali tidak takut dan menyesal karena sudah memecahkan Guci itu.


Arga melihat Gina, minta langsung di gendong oleh Gina. Arga takut dengan Mami yang sudah menatap tajam ke arah Arga. Gina langsung menggendong Arga.


"Bawa Arga ke kamar sayang. Biar nanti semua gucci ini di bersihkan oleh maid." ujsr Aris memberikan instruksi kepada Gina.


Gina membawa Arga menuju kamarnya. Sedangkan yang lain kembali masuk keruangan keluarga. Sedangkan Frenya masuk ke dalan kamarnya. Dia tadi melihat Mami yang menatap Arga dengan penuh kebencian.


Mami yang melihat Aris, Bram dan Papi mengobrol serius, langsung naik ke lantai dua untuk menemui Arga.


Mami membuka pintu itu dengan keras dan kasar, sehingga membuat Arga menangis karena kaget. Gina melihat ke arah Mami. Dia sudah sangat yakin Mami pasti akan menemuinya.

__ADS_1


"Hai bocah sialan. Kamu memang bener bener anak terkutuk. Tau kamu beraba dan bagaimana langkanya gucci yang kamu pecahkan tadi." ujar Mami dengan penuh kebencian kepada Arga.


"Mami" ujar Gina dengan penekanan.


"Kamu diam. Orang tua yang tidak becus mengurus anak. Anak memecahkan gucci saja kamu tidak tau." ujar Mami sambil menunjuk kiri Gina.


"Saya tidak tau menau Gina. Besok gucci sudah ada kembali di ruang tengah. Terserah kau mau mendatangkannya dari mana." ujar Mami sambil kembali mendotong Arga.


Untung saja Gina tidak jauh dari Arga berdiri. Gina langsung menggendong anaknya itu. Gina membawa Arga masuk ke dalam kamar mereka. Gina sangat takut Mami berbuat sesuatu terhadap Arga.


Aris yang baru dari ruang keluarga kaget melihay Arga yang tertidur di atas ranjang mereka.


"Sayang itu?" tunjuk Aris kepada Arga yang tidur memeluk Gina.


"Dia sangat takut tadi sayang. Sehingga dia minta tidur di sini. Kalau kamu merasa terganggu, biar kami berdua kembali pindah ke kamar Arga." ujar Gina sambil akan menggendong Arga.


"Sayang tidak perlu, kita tidur bersama saja. Aku juga kangen tidur dengan Arga." ucap Aris sambil naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap ke arah Arga.


Mereka kemudian tertidur dengan lelap. Gina melupakan sejenak sikap Mami terhadap Arga.


****************


Sudah setahun sikap dan perilaku Mami semakin tidak menganggap Arga ada. Malahan hari itu saat Arga memakan sebuah Apel, Mami datang mendekat ke arah Arga.


"Hay bocah tidak tau diri. Kamu kira Bunda kamu yang membeli apel ini. Semua makanab di rumah ini yang membeli adalah suami saya. Bukan Bunda kamu itu." ujar Mami kepada Arga.


Arga yang masih tidak peduli dan tidak mengerti hanya diam saja. Dia malahan menangis saat apel tersebut direbut oleh Mami.


Gina yang mendengar suara tangis Arga langsung berlari menuju suara Arga. Gina melihat Mami sedang berdiri tegak pinggang memaki maki Arga.


"Dasar anak tidak tau diri. Masih sukur saya belum mengusir kalian dari rumah ini. Tu buktinya uda kalian yang kalian banggakan itu sudah saya pergi dari sini karena saya. Mana ada Bunda kamu berani melawan saya." ujar Mami yang keceplosan ternyata Mamilah yang mengakibatkan Daniel pergi dari rumah.


Gina mendekat ke arah Mami.


"Apa benar anda yang sudah mengusir dan memfitnah anak saya Nyonya?" ujar Gina yang tidak percaya dengan semua yang didengarnya.


"Oh tentu saja. Ulah sayalah yang membuat Aris mengusir anak kesayangannya itu. Sebentar lagi kalian berdua yang akan diusir oleh Aris dari rumah ini." ucap Mami dengan nada tingginya.


Gina menggendong Arga. Dia berusaha menenangkan tangis anaknya itu.


"Saya tidak meyangka anda sebusuk itu Nyonya." kata Gina sambil mengambil kunci mobil miliknya.


"Hay, jangan pernah kamu pakai semua fasilitas mobil di rumah ini. Kalau kamu mau pergi dengan anak sialan itu silahkan. Tapi jangan pakai mobil kami." lanjut Mami dengan nada tidak bersahabat.


"Sayang mari kita beli apel di supermarket. Kamu boleh mengambil semua buah yang kamu inginkan." ujar Gina sambil tersenyum kepada Arga.


Arga mengusap muka Gina. Arga tau kesedihan Gina akibat dirinya. Hanya saja Arga tidak bisa mengatakannya.


Flasback.


Hari itu suasana rumah bener bener gaduh, Mami kehilangan sekotak periasan permata yang baru di belinya dengan harga fantastis. Semua rumah sudah di geledah, yang namanya perhiasan Mami tidak juga ditemukan.


"Papi tidak mungkin pencuri masuk rumah kita Pi. Lagian kenapa hanya satu kotak perhiasan yang dicurinya, kenapa tidak banyak." lanjut Mami.


Mami sengaja menghidupkan api di dalam kekacauan yang sedang terjadi.


"Atau Mami salah tarok kali Mi." ujar Aris yang juga sudah lelah mencari.


"Aris tidak mungkin Mami salah simpan. Hanya satu kamar yang belum kita geledah yaitu kamar Daniel." ucap Mami.


"Baiklah mari ke kamar saya. Saya tidak takut karena bukan saya yang mrngambilnya." ujar Daniel.


Semua orang menuju kamar Daniel.


"Hendri, Bram periksa semua lemari dan yang lainnya. Jangan terlupakan satu tempatpun." ujar Mami memerintahkan Hendri dan Bram.


Mereka mulai menggeledah kamar Daniel. Ternyata.....


"Maaf Nyonya besar apakah ini perhiasan Nyonya?" kata paman Hendri.


Mami melihat perhiasan itu.


"Alhamdulillah perhiasanku kembali lagi." ujar Mami dengan gembira.


"Tapi Dad, Bun, Atuk bukan aku yang mengambil barang itu. Sumpah, aku tidak tau kenapa perhiasan Nenek bisa berada di kamar ku." ujar Daniel dengan berani.


"Hay kau. Sekali maling tetap maling. Mana ada maling yang mengaku. Dasar anak pungut tidak tau diri." ujar Mami memaki Daniel


Gina hanya bisa terdiam. Dia tidak menyangka akan seperti ini permainan Mami dalam mengusir anak anaknya. Gina menatap Daniel dengan pandangan kasihan.


Plak plak. Bunyi tamparan yang mendarat di pipi Daniel. Gina terkejut melihat Daniel yang ditampar oleh Aris.


Gina maju ingin membela anaknya itu. Tapi dengan isyarat matanya Daniel melarang Gina untuk melawan keluarga Gina sendiri.

__ADS_1


"Saya sungguh tidak percaya kamu bisa berbuat serendah ini Daniel. Kurang apalagi kami ke kamu. Aku memberikan namaku dan nama keluarga di namamu. Tapi kamu berbuat seperti ini." ujar Aris dengan sangat murka.


"Dad, aku bisa jelaskan." ujar Daniel yang berusaha memegang kaki Aris.


"Cukup Daniel. Sekarang juga kemasi seluruh barang kamu dan pergi dari rumah saya. Saya tidak punya cucu pencuri seperti kamu. Ntah apa yang kamu buat di luaran sana yang akan membuat malu kami." ujar Papi dengan sangat marah dan murka.


Mami tersenyum bahagia dan melihat ke arah Gina. Semua orang keluar menyisakan Daniel yang mengemasi barang barangnya. Gina masih terpaku berdiri ditempatnya dari tadi.


"Niel" ujar Gina berjalan ke arah Daniel.


"Bunda, aku tidak mencuri Bunda. Bunda percaya sama aku kan Bunda." kata Daniel dengan air mata yang mulai berlinang.


Gina memeluk anaknya.


"Sayang Bunda percaya dengan kamu. Kalau bisa kamu bawa Frenya sekalian ya. Bunda tidak ingin Frenya juga menerima fitnah seperti kamu." ujar Gina menatap Daniel.


Daniel mengangguk tanda setuju akan membawa Frenya pergi juga dari rumah besar itu.


"Bunda jaga diri ya. Bunda tidak boleh melepas Arga dari penglihatan Bunda. Aku pamit Bunda." jawab Daniel yang menarik dua koper barang barangnya.


Daniel dan Gina turun menuju lantai satu rumah mereka. Daniel melewati keluarganya, dia sama sekali tidak berkeinginan untuk pamit, hatinya sangat sakit dituduh mencuri.


"Hay, kau sudah yakin tidak ada membawa barang dari rumah sini?" tanya Mami kepada Daniel.


"Maaf Nyonya yang terhormat. Saya hanya membawa barang brang yang saya beli sendiri dan dibelikan Bunda. Saya tidak serakah Nyonya besar. Saya tau batasan saya." ujar Daniel menahan emosinya.


"Alah sekali pencuri ya tetap." jawab Mami sambil mengibaskan tangan kirinya.


"Kalau Anda tidak percaya silahkan diperiksa." ujar Daniel sambil memberikan dua kopernya kepada Mami.


Mami benar benar akan memeriksa koper Daniel.


"Cukup Mami. Biarkan dia pergi." ujar Papi yang tau Daniel tidak mungkin mencuri. Papi tadi hanya tersulut emosinya akibat pancingan Mami.


Daniel menyalami Gina.


"Bunda aku pamit. Hati hati di sini Bunda." ujar Daniel dengan mengeraskan suaranya.


Daniel berlalu dari rumah. Gina kemudian langsung menuju kamarnya. Dia sungguh kecewa dengan keluarga terpandang ini yang tidak mau mendengar penjelasan Daniel.


Aris menyusul Gina ke kamarnya. Dia tidak ingin isttinya itu salah paham dengan keluarganya.


"Sayang" ujar Aris.


"Sudahlah uda tidak perlu di bahas lagi. Aku sudah tau semuanya." ujar Gina sambil berlalu ke kamar mandi.


Aris menunggu Gina selesai mandi. Dia harus berbicara dengan Gina.


"Kamu marah dengan Mami?"


"Nggak kenapa aku harus marah. Mami berhak mengusir Daniel." jawab Gina.


"Kamu bisa lihat sendirikan perhiasan Mami berada di kamsr Daniel. Kamu masih mau menyangkal kalau anak itu bukan pencurinya?" teriak Aris.


"Cukup jangan pake teriak. Aku tau siapa anak yang aku besarkan. Jadi tolong cukup sampai di sini jangan di bahas lagi." ujar Gina dengan meninggikan suaranya.


Plak. Satu tamparan mendarat di pipi Gina. Gina menatap Aris dengan tatapan tidak percaya.


"Ingat Aris, satu tamparan akan kamu bayar dengan satu penderitaan." ucap Gina yang berlalu keluar dari kamar. Gina menuju kamar Arga. Dia akan beristirahat di kamar Arga. Gina mengunci kamar itu.


"Sayang peluk Bunda" ucap Gina kepada Arga.


Arga memeluk Gina. Gina menangis dalam pelukan anak bungsunya itu.


Aris yang tidak percaya mampu menampar Gina menatap lama tangan yang sudah menampar istrinya itu. Tangan yang dengan gampangnya melayang ke pipi istrinya. Aris bener bener menyesal tidak bisa mengontrol emosinya.


Aris keluar dari kamar, dia menuju kamar Arga. Berulang kali Aris memanggil nama Gina, tapi Gina sama sekali tidak mau membuka pintu kamar Arga. Gina menulikan telinganya dari panggilan Aris. Hatinya terluka akibat ulah Aris.


Flas On


Gina yang selesai menemani Arga membeli buah langsung menuju kamar Arga. Dia tidak memperdulikan tatapan tajam dari Mami.


"Dikira sudah kabur. Ternyata kembali lagi." ujar Mami.


Gina sama sekali tidak menanggapi perkataan Mamj. Dia tetap saja berjalan menuju kamarnya. Gina mengambil laptop miliknya dan membawa Arga ke kamar Arga.


Gina memberikan Arga potongan apel yang di belinya. Gina kemudian mereras cctv. Gina ingin mencari buktu untuk memulihkan nama baik Daniel kembali.


Gina memundurkan semua rekaman cctv. Dia mengamati satu persatu rekaman cctv yang ada. Akhirnya Gina mendapatkan buktinya.


Mamu terlihat keluar dari kamarnya membawa kotak perhiasan yang hilang dan ditemukan di kamar Daniel. Kemudian Mami membuka kamar Daniel. Saat di kamar tidak terekam cctv. Setelah selesai meletakan perhiasan di kamar Daniel, Mami keluar sambil tersenyum bahagia.


Gina benar benar tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Gina memindahkan hasil rekaman cctv kr dalam flasdisnya. Gina juga memindahkan rekaman dimana Arga dimaki maki Mami. Mami tidak tau kalau semua cctv sudah diperbaiki oleh Gina. Mami menyangka cctv masih rusak.

__ADS_1


"Mami mami, aku bener bener tidak habis pikir, Mami bermain kotor seperti ini. Aku akan buktikan kepada semua orang kalau anak ku tidak bersalah. Mami tunggu saja tanggal mainnya." kata Gina sambil tersenyum menakutkan.


__ADS_2