Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kembali Mulai Mesra


__ADS_3

Tok tok tok


Bunyi pintu kamar ruang rawat Gina yang diketuk dari luar. Bram yang telah bangun beranjak membukakan pintu. Ternyata di depan pintu berdiri Sari dan Mira yang baru selesai mandi dan sudah berganti pakaian kantor.


Bram melihat Sari membawa paper bag yang sepertinya berisi pakaian kantor untuk pria, semua itu terlihat dari merk paper bag yang dibawa oleh Sari.


"Masuk. Sayang apa itu?" kata Bram kepada Sari.


"Ini pakaian kantor untuk kamu sayang. Pake aja sekarang sayang." jawab Sari sambil memberikan paper bag yang dibawanya kepada Bram.


"Oh, makasi sayang." jawab Bram sambil berlalu menuju kamar mandi.


Bram tidak mungkin ikut libur ke kantor. Aris sudah libur dan Papi pasti juga akan libur. Bram harus kerja ekstra sendirian.


Semua anggota keluarga yang menemani Gina sudah bangun dan sudah membersihkan diri. Tadi setelah Sari dan Mira datang, maid dari rumah utama Soepomo dan maid keluarga Wijaya juga datang membawakan pakaian ganti untuk Tuan dan Nyonya mereka.


Dokter Ranti yang karena Gina di rawat di rumah sakit harus datang pagi pagi sekali guna memeriksa kondisi Gina. Dokter Ranti tidak mau membuat kecewa dua keluarga yang cukup terpandang di kota ini.


"Nyonya Muda, maaf saya akan memeriksa Nyonya dan kehamilan Nyonya." kata dokter Ranti.


Para pria di ruangan itu selain Aris langsung beranjak ke luar ruangan. Mereka tidak mungkin melihat Gina diperiksa oleh dokter. Nana membantu Gina membuka pakaiannya di tentang perut Gina. Dokter Ranti memeriksa dan tersenyum senang.


"Wah kandungan Nyonya sudah kembali stabil. Tapi tetap Nyonya harus di sini dahulu. Minimal sepuluh hari untuk melihat perkembangan kehamilan Nyonya. Takutnya nanto Nyonya pulang kemudian lelah dan terlalu berpikir, Nyonya akan merasakan kram perut lagi." dokter Ranti menjelaskan kepada Gina.


"Baiklah dokter, kami mengikuti saran dokter. Saya mau yang terbaik buat istri saya dokter." jawab Aris yang menyetujui usulan dokter Ranti.


"Nyonya muda harus makan dengan banyak Nyonya. Saya lihat sarapan Nyonya masih utuh." kata dokter Ranti yang melihat sarapan milik Gina masih untuh dan belum tersentuh.


Gina kemudian mengangguk. Gina masih belum bisa makan dengan lahap karena selera makannya yang sempat hilang.


"Nyonya kalau Nyonya tidak makan, maka Nyonya di sini akan lama sekali. Bisa jadi sampai hari melahirkan Nyonya." lanjut dokter Ranti memberikan gambaran kalau Gina tidak memakan semua menu makanan yang disediakan rumah sakit.


"Nyonya boleh makan sedikit sedikit tidak sampai habis dalam sekali makan. Terpenting semua menunya harus habis Nyonya." lanjut dokter Ranti.


"Baiklah dokter saya akan pastikan semua makanan yang disediakan rumah sakit akan saya makan." jawab Gina sambil tersenyum.


Gina akan memaksakan makanan itu untuk berpindah ke dalam perutnya demi blip sibuah hatinya. Gina juga nggak mau berada di rumah sakit ini lama lama. Gina sangat benci suasana rumah sakit.

__ADS_1


"Sayang, kamu nggak kantor?" tanya Gina kepada Aris yang dilihatnya masih berpakaian santai.


"Mana mungkin sayang. Kamu ada ada aja." jawab Aris.


"Kamu terbaring gini gara gara aku, aku ke kantor gitu?? Nggak segitunya kali sayang." jawab Aris selanjutnya.


Gina tersenyum bahagia mendengar ucapan Aris.


"Makasi sayang. Aku boleh minta sesuatu sayang?" tanya Gina kepada Aris.


"Apapun itu." jawab Aris.


"Suapin aku sarapan itu sayang." pinta Gina kepada Aris.


Aris kemudian mengambil sarapan di atas meja di samping ranjang Gina. Aris dengan perlahan menyuapi Gina untuk menikmati sarapannya. Tidak terasa semua sarapan itu berpindah ke dalam perut Gina. Aris tersenyum senang melihat Gina yang makan dengan lahap.


"Alhamdulillah habis sayang. Kamu memang yang terbaik." kata Aris kepada Gina.


"Papi, Mami, Ayah, Nana istirahat ke rumah aja dulu. Gina biar dijagain sama Uda Aris aja siang ini ya. Mami dan Nana butuh istirahat, nanti siapa yang jagain Gina kalau Mami dan Nana juga ikutan sakit." kata Gina yang tidak ingin keluarganya kurang istirahat karena menungguinya di rumah sakit.


Mami yang paham dengan kode dari Gina, langsung membawa Nana untuk pulang ke rumah.


Semua anggota keluarga beranjak untuk meninggalkan rumah sakit. Sekarang yang tinggal adalah Aris dan Gina.


"Sayang istirahat ya. Aku baca email bentar." kata Aris sambil menarik kursi ke samping ranjang milik Gina.


"Sayang di atas kasur aja sayang. Sebelah aku aja. Aku ingin meluk perut kamu." lanjut Gina.


"Sempit sayang. Nanti kamu susah." tolak Aris yang takut Gina menjadi sempit dan terganggu karena dia juga naik ke atas kasur.


"Nggak sayang, malahan aku senang kamu di sebelah aku." jawab Gina.


"Ayolah sayang. Aku mohon." kata Gina membujuk Aris.


"Sayang." jawab Aris yang masih enggan untuk berada di atas kasur bersama Gina.


" Sayang, aku mohon." lanjut Gina sambil menatap Aris dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Aris yang sudah tidak tahan ditatap seperti itu, akhirnya mengalah juga. Aris naik ke atas kasur Gina. Dia memilih untuk menemani Gina di atas kasur.


"Boleh sambil kerjakan sayang?" tanya Aris sambil menatap Gina.


"Boleh sayang. Untuk mu apa yang nggak sayang." jawab Gina sambil memeluk pinggang Aris.


Aris mengerjakan pekerjaan yang bisa di hendelnya dari jauh. Aris tidak ingin Bram merasa terbebani gara gara dia yang menjaga Gina.


Aris serius dengan pekerjaannya. Gina yang memeluk dirinya tidaj terasa sudah jatuh tertidur.


Aris selesai mengerjakan pekerjaannya tepat pukul satu siang. Dia melihat Gina masih meringkuk sambil memeluk dirinya. Perut Gina yang besar membuat Gina susah untuk menyatukan tangannya saat memeluk Aris.


"Sayang kamu sangat manis saat tertidur." kata Aris.


"Jadi kalau bangun nggak manis sayang? Jahat kamu sayang." kata Gina sambil mencubit pinggang Aris.


"Jadi pura pura tidur sayang?"


"Nggak. Baru bangun saat ada yang ngomong aku manis kalau lagi tidur." jawab Gina sambil memonyongkan bibirnya.


Tiba tiba ntah dari keberanian mananya. Aris mengecub bibir Gina. Gina menerima kecupan itu dengan senang hati. Aris menunggu reaksi Gina.


"Sayang kamu udah nggak mual lagi sayang." kata Aris sambil mencoba mengusap perit Gina.


"Bener sayang. Aku nggak mual lagi." jawab Gina sambil tersenyum bahagia.


" Sayang cepat sembuh ya." kata Aris yabg sudah mengingat dan menginginkan sesuatu yang sangat luar biasa diinginkannya.


Uwek uwek.


Gina pura pura muntah.


"Nggak usah pake pura pura sayang." kata Aris kepada Gina.


"Hahahahaha." Gina tertawa karena kepura puraannya diketahui Aris.


" Kita coba perlahan ya sayang. Mana tau nanti mual lagi." kata Gina sambil mengusap lengan Aris.

__ADS_1


Saat mereka mulai saling meraba, tiba tiba pintu kamar ruang rawat Gina terbuka lebar.


__ADS_2