
"Aeis jawab pertanyaan Papi, Aris. Siapa perempuan itu? Ada apa hubungannya dengan kamu dan Gina" teriak Papi.
Tiba tiba ponsel Bram kembali berderinf.
"Tuan Bram ini gawat. Saham kita makin tidak stabil tuan" kata manager keuangan
"Saya akan usahakan dari sini" kata Bram.
"Pi, manager keuangan memberitahukan kalau saham kita semakin anjlok Pi" nada suara Bram sangat panik dia tidak habis pikir hanya gara gara Vina mereka harus kehilangan perusahaan besar itu dalam hitungan menit saja.
"Biarkan Bram. Anak ini yang menyebabkan kita brangkrut. Terserah dia mau nya apa. Kepongahan sebagai manusia sudah dituainya sendiri hasilnya. Papi sudah angkat tangan Bram" kata Papi.
Mami menangis sejadi jadinya. Mami tidak menyangka anaknya akan berbuat sekejam ini kepada istrinya sendiri. Gina tidak bisa disalahkan, yang salah adalah Aris.
"Aris, Papi sudah memperingatkan kamu jauh jauh hari. Papi masih ingat memperingatkan kalian berdua sebelum pindah ke Jaya Grub. Sekarang semua berada di tangan kamu. Papi sudah angkat tangan. Mulai malam ini Papi dan Mami akan kembali ke negara J. Kami kecewa punya anak seperti kamu." kata Papi dengan nada benar benar kecewa atas tindakan Aris.
"Satu lagi Aris. Papi tidak tau masalah kamu apa dengan Gina, tapi imbasnya kepada keluarga kita. Papi sangat kecewa dengan kamu. Kamu sudah membuat wanita yang sangat saya cintai menangis" kata Papi.
Plak, subuah tamparan mendarat di pipi Aris, Mami yang sudah tidak bisa menahan emosinya menampar anak kesayangannya di depan semua orang yang berada di ruang tamu itu.
"Kamu masih tidak mau mengaku kenapa semua ini bisa terjadi. Kamu masih mau menyalahkan istri kamu?" teriak Mami.
"Aris Soepomo. Saya tidak pernah mengajarkan anda untuk munafik. Tidak pernah mengajarkan anda untuk lari dari tanggung jawab anda." lanjut mami masih dengan berteriak dengan histeris.
Mami benar benar tidak menyangka, anaknya yang sangat dia banggakan itu bisa berbuat jauh seperti ini.
"Aris. Saya perintahkan kamu untuk mengakui semua perbuatan mu. Ingat Aris, asap tidak akan ada kalau tidak ada api" kata Mami dengan nada tinggi.
Aris masih tertegun. Dia tidak tau apa yang akan dikatakannya kepada kedua orang tuanya dan sahabat sahabatnya. Aris menatap Gina. Gina kembali menatap tajam Aris. Gina sama sekali tidak takut dengan Aris.
"Baiklah. Aku akan mengakui semuanya kepada kedua orang tuaku." kata Aris kepada Gina.
"Oke. Aku pastikan semua akan kembali normal setelah kamu membicarakan semuanya." kata Gina kepada Aris
"Serta katakan kepada kami semua apa saja yang sudah kamu perbuat dengan selingkuhan kamu itu" kata Gina sambil berbisik di telinga Aris.
Aris menatap geram kepada Gina. Bukan masalah mengakui siapa Vina. Tetapi mengakui apa yang telah mereka perbuat berdua.
"Aris waktu kamu tinggal sebentar. Atau perusahaan Soepomo akan beralih nama menjadi perusahaan GW." Kata Gina memperingatkan Aris tentang waktu yang sebentar lagi akan hilang itu.
"Baiklah. Papi, Mami Aris minta maaf karena telah mengecewakan kepercayaan yang mami dan papi berikan kepadaku. Aku telah mengkhianati istri ku Mi. Aku mengkhianatinya dengan sekretarisku di perusahaan Soepomo yang bernama Vina, perempuan yang tadi mami dan papi lihat videonya." kata Aris.
__ADS_1
Plak sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aris.
"Mami" kata Gina yang mulai tidak terima Aris ditampar berkali kali oleh Mami.
"Maafkan Mami Gina. Tapi ini benar benar sudah diluar dugaan Mami" kata Mami menatap Gina.
"Lanjutkan Aris" kata papi.
"Ternyata Vina hanya memanfaatkan aku saja Pi. Vina adalah anak Tuan Handoko. Mereka ingin menguasai harta kita saja Pi. Aris merasa sangat malu sekali Pi. Aris sudah bersalah." kata Aris sambil menitikkan air matanya.
"Sayang maafkan aku sayang. Aku sudah menyakiti perasaan mu" kata Aris berlutut di kaki Gina.
Gina sontak mundur. Badannya tidak menerima di sentuh oleh Aris. Aris terkejut Gina menjauh darinya. Aris berusaha menggapai Gina. Tetapi Gina terus saja mundur. Semua orang yang berada di ruang tamu itu, miria melihat Aris. Seorang pengusaha muda yang terkenal sukses dan berbahaya di dunia bisnis. Sekarang harus memohon mohon untuk meminta maaf kepada istrinya.
"Stop Aris" Gina memperingatkan Aris agar tidak memegang dirinya.
"Gina maafkan aku Gina. Tolong maafkan aku sayang. Aku khilaf sayang. Aku benar benar khilaf sayangku" kata Aris yang terus berusaha menggapai Gina.
"Aris stop. Kamu dengar aku kan. Stop aku bilang" teriak Gina murka karena Aris masih berusaha menyentuh dirinya.
"Menjauh dari aku Aris. Menjauh" lanjut Gina.
"Aku tidak sudi kamu pegang dengan tangan kotor kamu. Tangan yang sudah menjamah tubuh wanita lain. Aku tau kamu tidak sampai berhubungan badan. Tapi tangan itu sudah kemana mana di tubuh wanita sialan itu. Aku tidak sudi Aris" teriak Gina.
"Kamu mengatakan kepada kak Bram, aku wanita mandiri wanita yang tidak butuh laki laki. Kamu salah Aris, salah besar. Aku butuh kamu sangat butuh Aris. Tapi apa kamu pernah ada, saat aku butuhkan. Jawabannya adalah tidak. Kamu terlalu sibuk dengan bisnis kamu. Kamu kira dengan memberi aku perhiasan mahal, tas mahal, pakaian mahal, sepatu mahal lantas aku harus menerima saja saat aku butuh kamu tapi kamu tidak bisa. Tidak Aris jawabannya adalah tidak." teriak Gina.
"Tau kamu Aris. Saat semua orang bertanya kepadaku. Hay Gina, kemana bulan madu. Pasti keliling duniakan, suami kamu kaya raya Gina. Nggak mungkin hanya ke dua negara saja. Tau kamu apa jawabanku ha, aku menjawab suamiku tidak memberikan kabar apa apa tentang bulan madu, tapi dia pasti akan memberikan kejutan yang sangat indah tentang rencana bulan madu kami" kata Gina yang mulai meneteskan air matanya.
"Tau kamu Aris, aku juga bisa menjadi wanita tidak mandiri seperti wanita jalang itu. Tapi bukan tipe aku Aris. Aku walaupun bekerja ada pernah menelantarkan kamu? Menelantarkan keluarga ini? Dalam letih aku pulang bekerja aku tetap menyiapkan makan malam. Dalam kantuk yang masih mendera aku masih menyempatkan menyiapkan sarapan. Semua itu karena apa? Karena aku tidak mau kalau kamu menjadi marah kepada ku. Aku tidak mau mengecewakan kamu." Gina menghapus air matanya dengan kasar.
"Aris aku mengerjakan semua itu dengan ikhlas. Aku yang kamu izinkan untuk kembali bekerja sangat sangat berterimakasih. Tapi aku sadar aku istri, makanya aku selalu membagi waktu ku untuk tetap menjalankan status sebagai istri dan menantu" kata Gina.
"Tapi apa? Semuanya sia sia saja. Aku malah kamu selingkuhi Aris. Dengan alasan aku wanita mandiri yang tidak butuh suami." lanjut Gina.
Mami yang mendengar alasan Aris hanya itu langsung melangkah kepada Aris.
"Aris, mami mu ini juga wanita karier. Aku juga bekerja di kantor dan tetap menjalankan kewajiban ku sebagai istri. Aku juga melihat Gina melakukan itu semua. Harusnya kamu bersyukur Aris, kamu mendapatkan istri seperti Gina bukan seperti jalang yang kamu berikan perhatian itu. Jalang yang hanya menginginkan harta kamu saja. Jalang yang tidak tau diri" kata Mami menekankan setiap kata katanya.
"Mami, sudah Mami. Aris sudah memilih. Dan aku juga sudah memilih" kata Gina.
Gina kemudian duduk kembali di dekat laptopnya. Dia mengembalikan harga saham perusahaan soepomo kembali menjadi normal.
__ADS_1
"Papi, Kak Bram perusahaan sudah normal kembali" kata Gina.
Gina kemudian mematikan laptopnya.
"Pengawal ini" kata Gina memberikan laptopnya kembali.
Gina kemudian naik ke lantau atas menuju kamarnya. Gina memasukkan semua barang barangnya ke dalam satu koper. kecil. Gina hanya membawa barang yang dibelinya dengan uang miliknya sendiri. Setelah selesai Gina langsung turun ke lantai bawah.
Semua orang terkejut melihat Gina membawa kopernya.
"Sayang, kamu mau kemana sayang?" tanya Mami.
"Gina mau pergi Mi. Gina sudah tidak snaggup untuk tinggal di sini lagi" kata Gina.
"Mami, ini ada sebuah kado yang seharusnya aku berikan kepada suami ku. Tetapi sekarang suami ku sudah tiada Mami. Jadi aku akan berikan kepada Mami" kata Gina memberikan sebuah amplop putih.
"Tapi tolong mami buka setelah aku pergi dari sini Mi. Tolong pegang janji mami" lanjut Gina.
Mami menggenggam surat yang diberikan oleh Gina kepada Mami. Mami tidak mau menambah luka dihati Gina.
"Aris, aku hanya membawa barang barang yang aku beli dengan uang milik ku. Semua barang yang kamu berikan masih ada di kamar, tidak satupun aku bawa. Semua fasilitas yang kamu berikan kepadaku sudah aku letakkan di atas nakas." kata Gina sambil menatap Aris.
"Maafkan aku karena sudah tidak baik menjadi istri selama ini " kata Gina selanjutnya.
Gina menyeret kopernya, dia harus pergi dari rumah ini dan demi kebaikan seseorang.
"Gina jangan tinggalkan aku sayang. Jangan sayang. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu sayang" teriak Aris dengan deraian air mata.
"Bangun Aris. Sudah tidak ada gunanya kamu meratapi kepergian Gina. Kamu sudah memilih jalan kamu sendiri. Sekarang terima resikonya Aris" kata Papi.
"Tapi Pi. Dia istriku Pi" kata Aris sambil terduduk di lantai.
Sari, Mira dan Bayu yang melihat Aris begitu lemah tidak menyangka seorang CEO bisa seperti itu.
"Mi kami permisi dulu Mi" kata Sari.
"Mami titip Gina ya nak. Mami tau dia tidak akan pulang ke rumah utama Wijaya" kata Mami sambil memeluk Sari dan Mira.
"Aman mami. Kami akan berusaha membujuk Gina untuk pulang kemari Mami. Tapi untuk sementara waktu biarkan Gina tenang dulu Mami. Gina terlihat tegar, sebenarnya dia sudah rapuh dan patah mami" kata Mira.
"Iya sayang. Mami tau betapa sakitnya penderitaan yang ditanggung Gina selama ini" jawab Mami.
__ADS_1
Bayu, Sari dan Mira langsung pulang menuju apartemen mereka berdua. Sedangkan Bayu selesai mengantarkan Sari dan Mira balik kembali kerumah utama Soepomo.