Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pertemuan Singkat


__ADS_3

Pagi harinya Arga sudah bersiap siap akan pergi ke sekolah. Dia sudah memakai pakaian terbaiknya. Sangat terlihat aura dingin memenuhi aura dari pancaran matanya.


"Wow kamu keren banget." ujar Frenya saat melihat Arga yang sudah duduk rapi di meja makan.


"Mau sekolah harus terlihat tamoan agar banyak yang suka. Emang Frenya cantik cantik tapi nggak ada yang suka." ujar Arga sambil tersenyum miring ke arah Stepen.


"Skak mat" ujar Daniel sambil tersenyum mengejek Frenya.


"Yayayayaya" ujar Frenya.


"Sudah makan. Frenya nanti kamu temanin Rani memilih gaun pernikahan dan desain untuk hotel. Kita akan adakan acara di Rizt Hotel GA." ujar Gina kepada Frenya.


"Siap Bun. Aku akan buat pesta itu menjadi pesta yang selalu di kenang oleh Daniel dan Rani." jawab Frenya dengan semangat.


Mereka semua selesai menikmati sarapan. Gina dan Frenya berangkat menuju perusahaan. Sesangkan Daniel dan Rani menuju rumah sakit. Mereka ada operasi hari ini yang harus dilakukan pagi hari.


Arga sesuai dengan niatnya tadi dia akan menuju hotel tempat Daddy dan Papinya menginap. Arga akan melakukan rencananya hari ini juga. Arga naik ke atas mobil. Dia di supiri oleh Stefen hari ini.


"Jadi ke hotel Ga?" tanya Stefen.


"Jadilah kita akan mulai hari ini." ujar Arga.


"Siap." jawab Stefen.


Stefen melajukan mobilnya menuju hotel. Stefen terlibat khusus dalam misi Arga, semua itu atas permintaan Arga kepada Gina. Sekalian Arga juga ada misi tertentu untuk Stefen dan Frenya.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh Arga dan Stefen sampai juga di hotel. Merrka berdua langsung masuk ke dalam hotel. Arga menemui resepsionis yang kemaren dihubunginya.


"Daddy di kamar mana?" tanya Arga.


"Kamar VIP Tuan." jawab resepsionis.


Arga ditemani oleh Stefen akan menuju kamar VIP tempat Aris dan Bram menginap. Mereka menaiki.lift khusus petinggi hotel.


Sampai di depan kamar Aris. Stefen mengetuk pintu kamar. Bram yang sedang duduk santai membuka pintu tersebut. Betapa kagetnya Bram saat melihat siapa yang datang dan berdiri di depan pintu sekarang ini. Bram benar benar terpaku dengan apa yang dilihatnya. Arga yang melihat Bram acuh saja hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya. Orang yang namanya dilihat Bram di lukisan sekarang berada di depannya.


"Papi, kalau bengong terus aku pulang lagi ke mansion." ujar Arga dengan dingin dan membalikan badannya membelakangi pintu.


"Op sabar. Papi sangat kaget melihat kamu." ujar Bram sambil menggendong Arga.


"No Papi. Arga udah besar. Turun." ujar Arga menolak untuk digendong.


Aris yang mendengar suara anak kecil di ruang tamu kamar hotel, keluar dari kamarnya. Dia melihat Bram menurunkan seorang anak laki laki dari gendongannya.


"Hay Bram anak siapa itu? Kamu dimarahi Sari nanti." ujar Aris sambil bercanda.


"Anak tetangga salah kamar" jawab Bram.


Arga membesarkan matanya. Dia sangat tidak suka dikatakan sebagai anak tetangga. Bram mengedipkan sebelah matanya kepada Arga sebagai permohonan maaf.

__ADS_1


"Aris sini, loe mau kenalan nggak sama anak tetangga?"


"Gue nggak ada urusan dengan anak tetangga. Gue ke sini mau cari anak gue." ujar Aris yang langsung menuju meja untuk sarapan.


"Beneran nggak mau kenalan, gue suruh pulang jangan nyesel ya." ujar Bram.


"Nggak bakalan nyesel." ujar Aris.


Arga tersenyum miring dengan kekeras kepalaan Daddynya. Bagaimana Arga nggak akan jadi anak yang keras dan dingin, Bunda dan Daddynya mempunyai hal itu di dalam diri mereka masing masing, sehingga Arga menjadi paket komplit.


"Daddy" panggil Arga.


Aris terdiam sampai sampai sesendok nasi goreng batal masuk ke dalam mulutnya.


"Daddy" panggil Arga lagi.


Aris meletakan sendok makannya. "Bram jangan ngada ngada Bram. Loe gue tabok baru tau nanti." ujar Aris dengan kesal.


"Hahahahahaha" Bram tertawa ngakak melihat Aris yang kesal sendiri.


Arga semakin bersemangat memanggil nama Aris.


"Daddy" panggil Arga.


Aris kemudian berjalan ke arah Bram dan Arga. Betapa terkejutnya Aris yang melihat Arga berada di dekat Bram.


Saat Aris dan Arga melepas rindu dengan berpelukan. Ponsel milik Stefen berdering.


"Hallo Nona" ujar Stefen dari seberang telpon.


"Arga mana Stefen. Tadi gurunya nelpon mengatakan kalau Arga tidak sekolah. Apa dia cabut lagi?" tanya Gina.


"Iya Nona. Tuan muda sedang berada di hotel. Dia sedang inspeksi semua karyawan." ujar Stefen membohongi Gina.


"Oh baiklah. Bisa saya berbicara dengan Arga?"


"Bisa Nona. Bentar" jawab Stefen.


"Tuan Muda, Nona mau berbicara." ujar Stefen diberbisik di telinga Arga.


Arga mengambil ponsel Stefen, Arga berjalan keluar kamar, dia tidak ingin rencananya kali ini gagal lagi.


"Hallo Bun?" ujar Arga.


"Kamu dimana sayang, kenapa tidak sekolah?" tanya Gina dengan panik.


"Arga di hotel Bun. Tadi dapat laporan kalau ada masalah di hotel." ujar Arga.


"Terus apa kamu bisa menyelesaikannya?" tanya Gina dengan penasaran.

__ADS_1


"Itu mah kecil Bunda. Bunda nggak percaya sama kemampuan Arga?" tanya Arga balik.


"Percaya sayang" jawab Gina yang benar benar tau kemampuan anaknya itu.


"Sekarang kamu ke perusahaan Arga. Bunda ada perlu." perintah Gina.


"Oke Bun" jawab Arga.


Arga kembali ke dalam kamar Daddy nya.


"Dad, aku kembali sekolah dulu Dad. Besok aku ke sini lagi Dad. Daddy jangan coba coba cari keberadaan Arga dan Bunda. Sempat Daddy lakukan jangan harap Daddy akan bertemu dengan kami lagi." ancam Arga kepada Aris.


"Oke sip. Tapi kamu janji besok ke sini lagi." ujar Aris.


"Aman itu mah." jawab Arga.


"Stefen terimakasih jaga Arga" kata Aris kepada Stefen.


"Selalu Tuan besar." jawab Stefen.


"Daddy" ujar Arga.


"Hust" Stefen melarang Arga berbicara lebih jauh.


Akhirnya Arga dan Stefen kembali menuju perusahaan Gina. Ntah apa lagi yang di mau Bunda yang satu itu. Tidak lama berkendara, Stefen dan Arga sampai di perusahaan. Mereka berdua langsung menuju ruangan Gina.


"Ada apa Bun?" tanya Arga tidak sabaran.


"Arga, Bunda tau Arga pasti ingin ketemu dengan Daddy. Bagaimana kalau setelah Daniel dan Rani menikah, kita semua kembali ke negara I ?" tanya Gina.


"Setuju banget Arga Bun. Arga memang nggak suka tinggal di sini." ujar Arga bersorak.


Gina tersenyum penuh arti.


"Op, pasti ini gara gara perkataan Arga yang kemaren kan Bun?" tanya Arga menggoda Gina.


"Pertanyaan yang mana?" tanya balik Gina.


"Nggak usah pura pura amnesia Bun. Arga tau Bunda tau maksud Arga." ujar Arga kembali menggoda Gina.


"Arga mau pindah atau ndak?" tanya Gina dengan dingin.


"Nggak asik. Stefen ayok pulang. Capek ngomong sama emak emak yang sedang cemburuan ini." ujar Arga membawa Stefen untuk pulang ke mansion.


"Oke Tuan Muda, mari kita pulang." ujar Stefen.


Gina hanya bisa geleng geleng kepala dengan semua kalimat yang keluar dari mulut Arga.


"Arga Arga. Bener bener ajaib."

__ADS_1


__ADS_2