
Papi diminta oleh Bayu untuk menjadi saksi nikahnya. Sedangkan Ayah Wijaya diminta oleh Mira untuk menjadi saksi nikah dari pihak Mira.
Acara ijab kabul pun dimulai. Bayu mengucapkan kalimat sakti itu hanya dalam sekali pengucapan. Semua saksi mengucapkan kata sah dengan kerasnya. Sekeras Bayu menjawab ucapan dari Ayah Mira.
"Sayang, kak Bayu aja sekali. Waktu kamu kenapa bisa dua kali sayang.?" tanya Gina kepada Aris.
"Gugup sayang." ucap Aris kepada Gina.
"Oh Aku kira kenapa." balas Gina sambil tersenyum.
"Yang besok pas kita kamu akan berapa kali pengulangan?" tanya Sari kepada Bram.
"Cami Cami, jangan ngayal dulu lah. Papi mana kuat ngajak Cami ke pelaminan." ujar Daniel yang sudah mulai niat membulkynya muncul.
"Sembarang aja nggak ada niat. Adalah tapi." kata Bram yang belum menyelesaikan ucapannya.
"Menunggu waktu dan tanggal yang tepat." lanjut Daniel.
Bram langsung memasang wajah kesalnya. Dia tidak menyangka sekarang Daniel sudah bisa membully dirinya.
Acara inti dari ijab qobul telah selasai. Sekarang semua tamu diminta untuk menikmati hidangan yang ada. Acara resepsi akan dimulai nanti malam sekitar jam tujuh malam.
"Sayang yuk makan." ajak Gina kepada Aris.
"Tunggu di sini aja, biar aku yang pergi ngambilin makanannya." ucap Aris.
Gina mengangguk, Aris menuju meja yang di atasnya terhidang berbagai makanab. Aris, Bram dan Daniel mengambil makanan. Khusus Aris dan Bram mereka mengambil dua porsi.
"Niel nggak dua porsi juga?" ujar Bram kepada Daniel.
"Nggak aku bukan pelayan seperti Papi. Belum juga jadi istri udah nyuruh ngambilin makanan. Kalau udah jadi istri, disuruh nyuci baju selanjutnya." ujar Daniel yang memulai membully Bram.
"Udah ah. Bullyannya nanti aja di kursi. Orang rame itu mau ngambil makanan." kata Aris sambil melirik orang orang yang sudah antri.
Bram dan Daniel menghentikan untuk sementara waktu pembicaraan mereka yang nggak berbobot itu.
Saat mereka kembali kemeja mereka tedi. Terlihat di sana sudah ada Afdhal dan Anggel .
"Wow tambah lagi Papi yang cemen duduk. Jangan dekatan dengan Papi Bram. Nanti tambah susah untuk melanjutkan kehubungan yang lebih tinggi. Alias menyusul Daddy dan Papi Bayu." ucap Daniel dengan gamblangnya.
Afdhal terkejut dengan Daniel. Biasanya Daniel yang menjadi pusat cemehean. Tetapi sekarang bertukar, Daniel yang menjadi tukang bullynya.
__ADS_1
"Gin anak kamu mandi dimana tadi?" tanya Afdhal kepada Gina
"Dia belajar dari pengalaman uda. Mana mau dia terus aja yang merasai. Sekali sekali uda dengan kakak juga dong yang merasai oleh Daniel. Jadi nikmati aja. Terus Niel, ibun dukung kamu." ujar Gina sambil memberi dukungan kepada Daniel.
"Hajar Neil. Daddy dukung kamu." kata Aris mendukung Daniel.
Mereka semua kemudian mengobrol receh. Ntah apa yang mereka obrolkan. Tetapi sepertinya obrolan mereka hanya berisi obrolan tidak penting.
"Tuan Muda, maaf. Nyonya besar meminta Tuan muda untuk berfhoto di pelaminan." ujar salah seorang dari kru event organizer.
Aris dan yang lainnya langsung berdiri dari duduk mereka. Mereka akan melakukan fhoto bersama dengan sepasang pengantin baru itu.
Fhotografer mengarahkan gaya. Pertama mereka berfhoto dengan tiga keluarga besar. Semua laki laki berdiri di belakang. Perempuan di depan. Setelah itu posisi bergantian. Perempuan dibelakang yang laki laki duduk di depan. Setelah itu giliran berforo dengan masing masing keluarga.
"Daniel sana gak usah ikut berfhoto." kata Bram kepada Daniel.
"Kenapa?" tanya Daniel dengan heran.
"Nggak bisa nengok tuh mata. Daddy dengan Bunda, Papi Bayu dengan Mami Mira, Papi Afdhal dengan Cami Anggel. Aku dengan Cami Sari. Kamunya dengan siapa?" kata Bram mengejek Daniel.
Daniel yang tau posisinya kalah langsung menghindar. Dia duduk kembali kemeja tempat mereka duduk. Aris dan Gina hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan Afdhal, Bram dan Daniel yang saling mengejek pada kesempatan yang tepat.
Setelah lelah berfhoto. Mereka semua kembali duduk ke meja tempat mereka makan tadi. Begitu juga dengan sepasang pengantin baru. Mereka juga ikut duduk di meja sahabat sahabat yang sekarang sudah menjadi keluarga.
"Nah mulai." ucap Daniel sambil cemberut.
"Makanya jadi cowok jangan cerewet. Jadi takutkan perempuan." ujar Bayu yang jarang sekali membully dan mengejek Daniel.
"Siapa bilang dia cerewet. Kak Bayu nggak tau aja." kata Sari keceplosan.
Daniel langsung memberikan Sari tatapan tajam nan mematikan. Gina melihat semuanya dengan jelas.
"Ada apa Sar? Takut loe sama Daniel?" kata Gina menatap Danirl tajam.
Daniel langsung menunduk. Kalau sudah Gina yang berbicara maka dia nggak akan berani berbuat apa apa.
"Jadi semua orang di rumah sakit taunya dokter Daniel adalah dokter paling coll serumah sakit. Sudahlah tampan, pinter ditambah coll." kata Sari sengaja memuji muji Daniel terlebih dahulu. Sari akan membalaskan semua ejekan Daniel.
"Nah jadi hari itu, kejadiannya ada seorang dokter kecantikan yang luar biasa cantik. Dokter itu menjadi primadona di rumah sakit. Banyak dokter bujangan yang mengejar ngejar dia." lanjut Sari.
" Hari itu dokter cantik itu sepertinya sudah tau Daniel akan pulang pagi sehabis dinas malam. Nah tu dokter pura pura menabrak Daniel. Bener bener gaya lama banget." ujar Sari.
__ADS_1
"Terus lanjutannya?" ujar Gina yang nggak sabaran. Gina sangat tau bagaimana Daniel.
"Terus pas dokter itu jatuh, Daniel tau nggak apa reaksinya?" tanya Sari.
"Nggak" jawab mereka kompak.
Sari berdiri dari duduknya. Dia mempergakan bagaimana cara Daniel saat dokter itu jatuh. Sari berjalan saja dengan collnya.
"Loh dia nggak ngomong apa apa?" tanya Mira dengan herannya.
"Nggak, ni bocah jalan aja dengan collnya. Gue yang lihat kejadian langsung ngakak di tempat. Mana tu dokter beneran sakit lagi jatuhnya." lanjut Sari
"Enggak satupun dia ngeluarin kata kata dari mulutnya. Jangankan ucapan melirik aja tu bocah kagak." ujar Sari melanjutkan ceritanya.
"Kalau gue ni jadi tu dokter udah malu banget. Mana orang rame lagi di situ." kata Sari sambil duduk kembali ke kursinya.
"Tu dokter kebanyakan nonton drama. Makanya dia pake pura pura nabrak. Salah sendiri." ujar Daniel.
"Emang dia nggak cantik?" tanya Gina.
"Mana aku tau Ibun. Aku nggak nengok mukanya juga." jawab Daniel.
"Jangan katakan kalau loe nggak suka perempuan Niel." kata Afdhal yang dari tadi udah susah menahan tawanya. Kalau Sari bercerita di rumah pasti Afdhal udah guling guling karena puasnya mendengar cerita Sari.
"Aku nggak mau cari perempuan. Biar Ibun aja yang carikan. Aku tau kalau Ibun yang carikan itu adalah yang terbaik untuk aku." ucap Daniel sambil melihat Bundanya.
"Sayang, Ibun sama Daddy nggak akan mencarikan. Kamu cari sendiri nanti baik buruknya baru kami yang menilai. Kami yakin kamu tau dengan kebutuhan kamu." ucap Gina sambil menatap Daniel.
Berhubung acara resepsi pernikahan masih agak lama. Gina memilih untuk beristirahat di panthouse milik keluarga Soepomo di lantai atas hotel itu. Panthoese yang didalamnya ada empat kamar besar. Semuanya naik ke panthouse begitu juga dengan sepasang suami istri.
"Kalian mau kemana?" ujar Aris kepada Bayu dan Mira yang juga ikut masuk ke dalam panthouse.
"Istirahatlah Ris." ucap Bayu.
"Kamar loe yang ono." tunjuk Aris kepada Bayu.
"Kurtunya ini" lanjut Aris sambil memberikan kartu kamar kepada Bayu.
Bayu dan Mira masuk ke kamar yang ditunjuk Aris. Ternyata itu adalah kamar pengantin mereka. Bayu langsung menatap Mira dengan penuh keinginan. Mira juga sama. Akhirnya wik wik terjadi juga di siang hari. Bayu bermain dengan sangat halus. Dia tidak menibggalkan jejak apapun di tubuh istrinya. Bayu tidak ingin Mira diolok olok nantinya oleh saudara saudara mereka.
...----------------...
__ADS_1
BONUS PART UNTUK HARI INI KAKAK.
TERIMAKASIH BANYAK SUDAH MAU SINGGAH DI NOVEL KU INI.