Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri Part + 10


__ADS_3

"Sayang, kamu nggak jadi telpon Steven untuk bertanya siapa yang datang?" ujar Aries mengingatkan Ghina untuk menghubungi Steven pilot yang membawa pesawat dari negara E ke negara I penerbangan hari ini.


"Belum sayang. Bentar lagi aku telpon ya, ini masih baca dokumen dokumen rumah sakit" kata Ghina sambil menatap ke arah Aries sebentar.


Ghina memang sedang sangat sibuk sekali membaca dokumen dokumen rumah sakit. Bagi Ghina itu adalah pekerjaan yang paling disukainya. Apalagi dengan membaca semua dokumen rumah sakit, Ghina menjadi paham keadaan rumah sakit miliknya itu.


"Oke" jawab Aries dengan memelas saat mendengar komentar yang diberikan oleh Ghina tadi.


Ghina yang tahu ekspresi dari Aries hanya bisa geleng geleng kepala saja. Ghina kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia memang harus menghubungi Steven sekarang sebelum Aries semakin mengerikan mengamuknya.


"Ini aku telpon sayang. Jangan ngamuk ngamuk" ujar Ghina berjalan ke arah Aries dan memilih untuk duduk di dekat Aries.


Aries memberikan dua jempolnya ke Ghina. Aries tahu kalau Ghina pasti akan melakukan apa yang diinginkan oleh dirinya karena Aries hafal bagaimana sikap seorang Ghina. Ghina akan selalu mengikuti keinginan Aries, asalkan itu masih keinginan yang dalam batas kewajaran.


Ghina menunggu panggilannya terhubung dengan Steven. Ghina menatap lama layar ponselnya itu. Steven sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Ghina.


"Kemana ni orang, kenapa panggilan nggak diangkatnya? Apa Steven tidur? " ujar Ghina melihat panggilan telpon itu sudah terputus tanpa ada jawaban dari Steven.


"Gimana sayang?" ujar Aries.


"Belum diangkat" jawab Ghina.


"Coba lagi sayang, mana tahu panggilan kedua diangkatnya" ujar Aries meminta Ghina kembali untuk menghubungi Steven.


Ghina kembali menghubungi nomor ponsel Steven berharap Steven mengangkat panggilan kedua dari dirinya.


"tetap sama sayang" ujar Ghina memberitahukan kepada Daniel kalau panggilan telponnya tidak diangkat oleh Steven.


"Tidur kali sayang" ujar Aries.


"Mana ada dia tidur sayang. Nggak akan mungkin itu" ujar Aries yang tahu bagaimana Steven, pilot yang sudah lama bekerja dengan mereka dan juga sangat diandalkan kehebatannya dalam menerbangkan pesawat.


"Siapa dari tadi menghubungi ponsel kamu Steven?" ujar Daniel yang dari tadi melihat ponsel Steven berdering tetapi tidak diangkat oleh Steven.


"Maaf Tuan Muda, ini adalah panggilan dari Nyonya besar" jawab Steven.


"Kenapa tidak kamu angkat Stev?" kali ini bukan Daniel yang bertanya tetapi Rina.


"Saya sudah bisa memprediksi apa yang akan ditanyakan oleh nyonya besar, Nona muda. Tetapi saya masih tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang akan diajukan oleh nyonya besar kepada saya" kata Steven menjelaskan kepada Rina dan Daniel.


Steven memainkan garpunya, dia memang tidak tahu apa yang akan dijawabnya saat nyonya besar menanyakan siapa yang akan diantarkan oleh Steven ke negara I.

__ADS_1


"Kamu jawab saja Steven kalau kamu mengantarkan barang barang perusahaan" ujar Daniel yang tidak memiliki niat untuk mengabarkan kepulangannya ke keluarga besar.


"Jadi, kamu tidak memberitahukan kepada keluarga kita kalau kita berdua akan pulang hari ini sayang?" tanya Rina yang cukup kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel kepada Steven.


"Sama sekali tidak sayang. Aku belum mengatakan kepada Daddy dan Nana kalau kita akan balik hari ini" jawab Daniel.


"Tapi ke Sari aku sudah memberi kabar." lanjut Daniel.


"Pasti kamu mengatakan kepada sari untuk tidak mengatakan kepulangan kamu kepada Daddy dan Nana" tebak Rina.


"Bener" jawab Daniel sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu memanglah sayang. Aku kira kamu sudah memberitahukan ke mansion kalau kita akan pulang" ujar Rina dan tersenyum jahil ke arah suami tercintanya itu.


"Biarkan mereka kaget saat kita berdiri berdua di depan pintu mansion" lanjut Daniel yang sudah bisa membayangkan bagaimana kagetnya Daddy dan Nananya saat dirinya berada di depan pintu mansion besar itu besok.


Ponsel Steven kembali berdering tetapi kali ini bukanlah panggilan telpon seperti tadi, hanya sebuah pesan chat yang masuk. Steven mengambil ponsel miliknya.


"Oh Tuhan tolonglah hambamu ini" ujar Steven sesaat setelah selesai membaca pesan chat yang ada di ponsel miliknya itu.


Daniel dan Rina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Steven, menatap ke Stevan bersamaan.


Steven memberikan ponsel miliknya kepada Daniel. Daniel membaca pesan chat tersebut dengan hati hati.


"Haha haha haha. Nana memang tidak berubah" ujar Daniel memberikan tanggapan terhadap pesan chat yang dibacanya.


"Masih sama seperti yang dulu ternyata" ujar Daniel selanjutnya.


Rina melihat ke arah suaminya itu. Daniel sibuk ngedumel sendirian. Rina sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Rina memilih untuk menyenggol tangan Daniel. Daniel menatap ke arah Rina.


"Ada apa?" tanya Rina yang sudah sangat penasaran dengan apa yang ditertawakan oleh Daniel.


"Kamu baca sendiri sayang" ujar Daniel memberikan ponsel milik Steven kepada Rina.


Rina membaca pesan itu.


"Jawab aja Steven seperti yang kamu katakan tadi. Nana tidak akan berhenti meneror kamu sampai kamu memberitahukan kepada dirinya apa yang amu dia tanya itu" ujar Rina.


"Siap Nona muda. Saya akan menerima panggilan dari Nyonya besar nanti" ujar Steven.

__ADS_1


Tepat setelah menjawab perintah yang diberikan oleh Rina kepada dirinya. Ponsel milik Steven bergetar kembali.


"Yap Nyonya besar akan panjang umur" ujar Steven yang sudah mengetahui siapa yang menghubungi ponsel miliknya itu.


"Pasang speaker Stev" ujar Daniel yang penasaran dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Ghina kepada dirinya.


"Selamat sore Nyonya besar" ujar Steven menyapa Ghina supaya tidak langsung emosi kepada dirinya.


"Tidak ada basa basi Steven. Siapa yang kamu bawa dari negara I?" ujar Ghina yang langsung saja ke titik pertanyaan pertama sekalinya.


"Oh maaf Nyonya besar, saya terbang ke negara I tidak izin ke Nyonya besar atau Tuan Muda Juan. Tetapi penerbangan ini sangat penting dan harus saya lakukan" ujar Steven berusaha mendramatisir alasan yang akan diberikan kepada Ghina.


Dalam otaknya Steven sudah bisa memprediksi kalau alasan penjemputan barang barang untuk perusahaan tidak akan mungkin. Sehingga dia sudah memiliki alasan lain di dalam kepalanya.


"Ada apa Stev? Apa Daniel dan Rina tidak dalam kondisi baik baik saja, sehingga mereka meminta kamu menjemput ke negara E?" ujar Ghina mencoba menebak alasan dari Steven.


"Bukan Nyonya, tetapi ini adalah urusan saya pribadi Nyonya besar. Jadi, tolong maafkan saya memakai pesawat karena urusan pribadi" ujar Steven.


"Ada apa dengan keluarga kamu Stev?" kali ini nada suara Ghina sudah tenang. Aries juga sudah tenang, mereka berdua tadi sempat mencemaskan Daniel dan Rina.


"Ibu saya sempat sakit Nyonya. Berhubung saya juga akan terbang ke negara E untuk urusan perusahaan, sehingga saya mempercepat urusan itu dan langsung melihat ibu saya" ujar Steven.


"Oke Stev tidak masalah. Semoga ibu kamu cepat sembuh" ujar Ghina.


Ghina kemudian menutup sambungan telpon itu. Mereka berdua sekarang sudah kembali lega karena ternyata Steven ada urusan perusahaan sekaligus urusan keluarga.


"Kamu berbohong Steven" ujar Daniel.


"Sama sekali tidak Tuan Muda. Saya memang datang untuk urusan perusahaan dan sudah selesai. Saya juga datang untuk melihat Ibu saya, dan juga sudah selesai. Hanya satu yang saya bohong Tuan Muda, tetapi itu juga atas permintaan Tuan Muda" jawab Steven.


"Atau Tuan Muda ingin saya jujur ke Nyonya dan Tuan besar? Saya bisa menghubungi mereka kembali" ujar Steven.


"Hem tidak Stev" jawab Daniel.


Pramugari datang menghampiri mereka bertiga yang sedang asik mengobrol. Penerbangan ke negara I sudah akan dilakukan, pesawat juga sudah dalam kondisi siap untuk penerbangan tujuh jam ke depan.


"Siap untuk pulang sayang?" tanya Daniel kepada Rina.


"Siap sayang. Aku juga kangen rumah" ujar Rina.


Pesawat kemudian terbang menuju negara I, Steven menjadi co pilot untuk penerbangan kedua ini. Daniel dan Rina sudah duduk di posisi mereka masing masing. Mereka sudah duduk dengan tenang. Kali ini mereka tidak tidur sama sekali karena Daniel dan Rina sudah

__ADS_1


__ADS_2