Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pertemuan Dua Keluarga Jilid 2


__ADS_3

"Hati hati di rumah ya Gin. Kalau ada apa apa cepat hubungi Mami." kata Mami saat memeluk Gina sebelum mereka pergi.


"Tenang aja Mi. Udah sana Mami berangkat. Orang udah pada nungguin itu." kata Gina menunjuk Papi dan yang lainnya yang sudah berada di dalam mobil.


Mami berjalan ke arah mobil. Hari ini Papi, Mami dan Bayu serta Daniel berangkat menuju kota Padang. Mereka akan menemui keluarga Mira di sana. Mira sudah terlebih dahulu berangkat. Mami sebenarnya tidak ingin jauh dari Gina, tapi karena Bayu juga adalah anaknya maka mau tidak mau Mami harus berangkat. Rencananya keluarga besar Soepomo akan langsung terbang kembali ke ibu kota saat acara telah selesai.


Mereka akan menempuh penerbangan selama satu setengah jam. Mereka tidak perlu ke kampung halaman Mira, karena keluarga Mira telah memindahkan pertemuan ke Padang ke rumah adik ayah Mira. Makanya mereka bisa langsung pulang kembali ke ibu kota saat pertemuan telah selesai.


"Om Bayu biasa aja kenapa. Itu tengok keringat om Bayu sebesar besar jagung loh om." kata Daniel mengejek Bayu.


"Daniel jangan ejek om kamu. Dia panik itu ntah mau ntah ndak orang tua Mira menerima dia." kata Papi dari depan Daniel.


"Pasti mau lah. Mana ada orang nolak anak Mami. Ya kan Bay?" kata Mami membela Bayu.


"Bener itu Mi. Mereka akan rugi banyak kalau menolak kita kita Mi." jawab Bayu yang senang karena ada Mami yang membela dirinya.


Tak terasa pesawat sudah mendarat dengan mulus. Para kru pesawat sudah menunggu keluarga Soepomo di pintu keluar pesawat.


"Terimakasi Leo, pendaratan yang sangat mulus. Kalian silahkan beristirahat di hotel milik kita. Nanti saat akan pulang Hendri akan menghubungi kamu." kata Papi kepada Leo pilot pesawat milik Soepomo Grub.


"Sip Tuan Besar, kami rapikan pesawat dulu baru setelah itu ke hotel." jawab Leo mewakili empat orang kru hari ini.


Papi dan keluarga yang lainnya naik ke atas mobil yang telah disediakan oleh perusahaan Bayu yang berada di daerah Padang. Bayu sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna.


"Kita ke hotel dulu Bay. Mami mau siap siap. Nggak mungkin kita ke rumah Mira dengan keadaan seperti ini. Batal juga nanti kamu diterima orang tuanya." kata Mami yang merasa penampilannya belum oke punya.


"Iya Mi, kita ke hotel dulu. Pertemuan dengan keluarga Mira dimulai pukul dua nanti Mi." jawab Bayu.


"Masih ada tiga jam lagi. Cukup lah itu untuk sekalian tidur sebentar." kata Papi.


"Mana ada Pi. Papi udah hafal apa yang mau Papi katakan kepada keluarga Mira?"


"Mami, Mami ini bukan kali pertama Papi menemui keluarga calon besa. Ini udah yang ke dua kalinya Mami." jawab Papi mengingatkan Mami.


Mereka semua sampai di hotel milik keluarga Soepomo. Sebuah hotel mewah bintang lima yang berdiri tepat di tepi pantai. Hotel yang pemandangannya begitu mempesona, hotel yang memiliki pantai pribadi yang tidak bisa orang lain masuk kecuali yang menginap di hotel itu.


Semua jajaran manager hotel telah menunggu Tuan Besar Soepomo dan rombongan di lobby mewah hotel.


"Selamat datang Tuan besar." kata direktur di hotel itu.


"Terimakasih." jawab Papi.


Mereka kemudian masuk ke dalam lift yang langsung mengantarkan mereka ke panthouse di hotel itu. Papi sengaja hanya memakai satu panthouse karena mereka tidak akan lama di situ. Mereka hanya membutuhkan dua kamar saja untuk beristirahat.


Mereka kemudian makan siang di hotel dan beristirahat sejenak. Tepat jam setengah satu semua anggota keluarga sholat berjamaah yang kali ini diimami oleh Daniel.


"Bayu ini pakaian kamu." kata Mami memberikan pakaian untuk Bayu pakai.


"Daniel ini untuk kamu, sedangkan ini untuk Hendri." lanjut Mami memberikan pakaian kepada masing masing orang.


"Papi mana Mi?" tanya Papi yang nggak dapat jatah pakaian dari Mami.


"Punya Papi di kamar. Ngapain juga Mami bawa ke sini." jawab Mami kepada Papi.


Mereka semua bersiap siap, Mami menyiapkan jas yang elegan berwarna coklat tua. Semua yang memakai terlihat makin tampan. Papi yang berumur saja tidak terlihat sudah berumur. Sedangkan Mami memakai kebaya dengan warna yang senada dengan jas Papi.


"Mi kapan nyiapinnya ini?" tanya Bayu yang heran dengan Mami.


"Serahkan ke Mami. Mami paling suka mengurus hal hal ini." jawab Mami sambil tersenyum bahagia.


Mereka semua berangkat menuju kediaman paman Mira yang hanya membutuhkan perjalanan tiga puluh menit dari hotel milik keluarga Soepomo.


Perjalanan menjadi sangat cepat dirasakan oleh Bayu. Dia semakin deg degan. Bunyi jantungnya rasa rasa terdengar oleh Daniel dan Paman Hendri yang berdiri di samping Bayu.


"Om Bayu nyantai aja. Om hari ini nggak akan ngomong apapun. Papi yang akan ngomong ke keluarga tante Mira." kata Daniel kepada Bayu.


"Kamu belum coba gimana rasanya tentulah iya Niel. Makanya bisa ngomong kayak gitu." jawab Bayu yang berusaha mengendalikan debaran jantungnya.


Keluarga besar Mira telah menunggu kedatangan keluarga besar Soepomo di depan pagar rumah. Terlihat sebuah tenda besar sudah terpasang di jalan utama.


"Silahkan masuk Tuan." kata juru bicara keluarga Mira.


"Terimakasih" jawab Papi yang kali ini tidak menggunakan Paman Hendri sebagai juru bicara.


Kedua keluarga telah duduk di tempatnya masing masing. Mira terlihat sangat cantik dan juga gugup, sama dengan yang dialami oleh Bayu.

__ADS_1


"Sebelumnya terimakasih kami ucapkan kepada keluarga Mira yang telah menerima kami hari ini. Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk membicarakan tentang keinginan anak kami untuk memperistri anak dari Bapak dan Ibu yang bernama Mira." kata Papi.


"Tapi acara hari ini bukanlah acara pertunangan atau meminang kata orang minang. Kami ingin memperkenalkan anak kami ini yang sangat sangat mencintai anak bapak dan ibu." lanjut Papi.


"Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak dan Ibu yang sudah mau jauh jauh datang dari ibu kota untuk melakukan perkenalan dengan keluarga kami di sini." jawab Ayah Mira.


"Kami sungguh sangat bahagia Bapak dan Ibu datang kemari. Kami juga sudah mendengarkan semuanya dari anak kami." ucap Ayah Mira.


"Bayu silahkan perkenalkan diri kamu kepada keluarga besar Mira." kata Papi.


Papi dan Mami sebenarnya sangat terkejut karena tidak adanya pemandu acara. Makanya Papi berinisiatif untuk melakukan perkenalan diri saja tadi.


"Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih banyak kepada keluarga besar Mira sudah mengizinkan saya untuk datang ke sini, walaupun dengan mendadak. Sebenarnya sudah lama saya untuk datang ke sini. Tetapi bukan karena apa apanya cuma saya dan Mira memastikan terlebih dahulu kesiapan kami berdua." papar Bayu.


"Perkenalkan nama saya adalah Bayu Atmaja, saya anak dari almarhumah Bima Atmaja dan Ami Atmaja. Kedua orang tua kandung saya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Saya dibesarkan oleh Papi dan Mami, mereka berdua sudah saya anggap menjadi orang tua saya. Saya tidak bisa menjanjikan apa apa kepada keluarga Mira, tetapi hanya satu yang bisa keluarga Mira pegang dari perkataan saya. Saya akan dan selalu membahagiakan Mira dalam keadaan apapun, baik suka maupun duka. Saya tidak akan membiarkan air mata Mira jatuh karena perbuatan saya." lanjut Bayu.


Kedua orang tua Mira serta Mami dan Papi mengusap air mata mereka. Mereka tidak menyangka Bayu akan mampu mengucapkan hal hal seperti itu. Tibalah giliran Mira untuk memperkenalkan dirinya kepada keluarga besar Bayu.


"Sebelumnya Mira mengucapkan terimakasih banyak kepada keluarga besar Bang Bayu yang sudah mau datang jauh jauh ke mari. Perkenalkan saya Mira Putri Kartika sangat senang dan bahagia sekali bisa menjadi teman, sahabat sekaligus kekasih dari Bayu Atmaja. Mira sangat yakin Bang Bayu tidak akan pernah mengizinkan air mata Mira untuk jatuh. Mira juga meyakinkan akan menjaga Bang Bayu dengan semua kemampuan Mira." jawab Mira.


Semua orang orang yang ada dalam acara itu menatap kagum kepada Bayu dan Mira. Mereka benar benar sepasang kekasih yang saling melengkapi.


"Ayah Mira, kami ada satu permintaan yang sangat terpaksa harus kami katakan kepada Ayah Mira." kata Papi yang segan memanggil nama kepada Ayah Mira.


"Iya Papi Bayu. Ada hal apa itu?" jawab Ayah Mira yang ketularan Papi.


"Begini, kami mohon kepada keluarga besar Mira untuk kita melakukan acara pertunangan sekaligus lamaran di ibu kota saja. Sebenarnya sangat berat kami untuk mengatakan hal ini. Tapi karena satu hal di sana yang tidak bisa kami tinggalkan lama. Anak menantu kami yang pertama sedang mengandung dan akan segera melahirkan. Kebetulan menantu kami adalah sahabat baik Mira." kata Papi menjelaskan kepada Ayah Mira.


"Papi Bayu, kami semua sudah mendapatjan cerita itu. Kami sangat setuju untuk mengadakan pertunangan dan lamaran di ibu kota. Walaupun bukan Papi Bayu yang mengajukan hal ini, kami pasti akan mengajukannya. Nah sekarang yang perlu kita bahas kembali kapan lamaran dan pertunangan itu akan kita lakukan?" tanya Ayah Mira kepada keluarga Soepomo.


"Kapan Bayu kapan Mira?" tanya Papi keada Bayu dan Mira.


"Terimakasih Ayah, sebelum kami mengajukan hal ini kepada keluarga kami masing masing, kami sudah mendiskusikan kapan tanggal acara lamaran dan pertunangan. Waktu itu kami bersepakat akan mengadakan acara lamaran seminggu dari sekarang. Apakah Papi dan Ayah setuju?" kata Bayu kepada Papi dan Ayah.


Papi menatap Mami. Mami menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Ayah melihat ke Ibu Mira, ibu juga mengangguk tanda menyetujuinya.


"Dari keluarga Mira setuju dengan jadwal itu. Bagaimana dengan keluarga Bayu?" tanya Ayah.


"Kami juga setuju Ayah Mira. Kita akan mengadakan di ibu kota sesuai dengan jadwal yang disepakati oleh Bayu dan Mira. Semua ***** bengek acara akan dihandel oleh istri saya dan juga Mira." kata Papi.


"Setuju itu." jawab Papi.


Mereka kemudian menuju sepra yang sudah terbentang di sebuah ruangan yang lepas dan lapang. Semua orang duduk bersila untuk makan. Papi dan Mami yang sudah jarang makan dengan cara begini menjadi mengingat momen momen mereka sebelum pindah ke ibu kota.


"Wow jariang." kata Papi yang melihat jengkol pakai bawang mentah dan disiram minya tanak.


"Jarang menemukan makanan seperti ini di ibu kota Pi?" tanya Ayah Mira.


"Nggak jarang lagi. Tapi kalau menantu saya yang masak maka akan bertemu makanan seperti ini." jawab Papi.


Mereka makan siang dengan santai tapi tetap tidak berbicara. Mira sudah menjelaskan kebiasaan keluarga Soepomo kepada keluarganya. Selesai makan siang Papi pamit kepada keluarga Mira.


"Ayah Mira karena maksud dan tujuan kami sudah sampai, maka dengan berat dan senang hati, kami pamit untuk pulang ke ibu kota terlebih dahulu. Untuk keberangkatan keluarga Mira ke ibu kota kami akan mengirimkan pesawat untuk menjemput. Saya berharap keluarga Mira tidak menolaknya." kata Papi.


"Hahaha, kalau udah ada kata tidak boleh menolak maka kami tidak akan menolak." jawab Ayah Mira.


Keluarga besar Soepomo meninggalkan rumah keluarga Mira. Mereka akan menukar pakaian dengan pakaian santai terlebih dahulu setelah itu mereka akan langsung terbang kembali ke ibu kota.


Tiba tiba ponsel Daniel berdering. Terlihat di situ nama Daddy tercantum.


[[Hallo Dad, ada apa?]] tanya Daniel kepada Daady Aris.


[[ Masih di Padang kan Niel?]]


[[ Masih Dad. Ada apa? ]] tanya Daniel yang penasaran dengan telpon Daddynya.


[[ Kasih ponsel kamu ke Atuk]] perintah Aris.


"Atuk, Dad mau ngomong" kata Daniel sambil memberikan ponselnya kepada Papi.


"Hallo Ris ada apa? Gina baik baik saja kan?" tanya Papi.


"Gina baik Pi. Tapi Gina minta dibawakan bingkuang sama markisa." kata Aris kepada Papi.


"Hahahaha. Markisa? Oke akan kami belikan." kata Papi.

__ADS_1


Papi memutuskan panggilan dengan Aris.


"Pak kita cari penjual Bingkuang dan Markisa. Gina minta itu." kata Papi memerintahkan kepada sopir.


Sopir lalu mengarahkan mobilnya ke arah penjual Markisa yang berada di pinggiran kota.


"Itu Tuan penjual Markisa dan Bingkuang." kata Sopir kepada Papi.


Papi dan Hendri turun dari mobil. Papi membeli Markisa, Bengkuang, Pokat dan labu yang banyak. Saking banyaknya buah yang dibeli Papi, Paman Hendri sampai harus memesan taksi online yang besar untuk semua barang ini ke bandara. Daniel yang melihat belanjaan Papi hanya bisa geleng geleng kepala.


"Gitu Niel kalau cucu pertama meminta sesuatu. Itu masih dalam perut aja udah kayak gitu, apalagi kalau udah lahir. Nggak kabayang gilanya kayak apa." kata Bayu kepada Daniel yang juga geleng geleng kepala melihat belanjaan Papi.


"Atuk itu semua gimana cara ngabisinnya?" tanya Daniel kepada Papi saat Papi udah duduk kembali di mobil.


"Kamu belum lihat Bunda kamu saat menginginkan sesuatu?" tanya Papi.


Daniel menggelengkan kepalanya.


"Nah kamu lihat nanti ya" jawab Papi.


Mereka semua kembali ke hotel. Mereka membersihkan diri dan menukar pakaian dengan pakaian santai. Mereka tidak mau ribet selama diperjalanan. Semua buah dan bagasi sudah masuk ke dalam perut pesawat.


Mereka semua sudah berada di dalam pesawat. Mami yang letih menuju kamar yang ada di pesawat. Mami memilih untuk tidur selama perjalanan pulang. Mami bener bener lelah. Sedangkan Papi dan yang lainnya berdiskusi tentang bisnis selama di perjalanan pulang.


Tak terasa perjalanan menuju ibu kota selesai sudah. Semua barang sudah naik ke atas mobil. Begitu juga dengan keluarga Soepomo. Mereka akan langsung menuju rumah utama. Mereka yakin Gina sudah menunggu pesanannya.


Ternyata memang betul, Gina dan Aris sudah duduk di kursi teras rumah. Keluarga Soepomo sampai kembali di rumah pukul tujuh malam.


"Mami ada belikan pesanan Gina?" tanya Gina kepada Mami.


"Ada. Tu." kata Mami menunjuk mobil yang membawa buah buahan yang dipesan Gina.


"Banyaknya." kata Gina dengan heran.


"Papi siapa lagi."


Para pengawal menunrunkan keranjang keranjang buah itu. Gina yang sudah tidak sabar mengambil serenteng buah Markisa dari dalam keranjang. Gina membawa markisa itu ke meja makan. Mereka memang sengaja menunggu keluarga besarnya untuk makan malam bersama.


"Kalau udah lapar makan duluan aja kalian. Kami bersih bersih badan dulu." kata Papi.


"Sama aja Pi. Kami tungguin aja." jawab Aris.


Gina dan Bram sudah sibuk memakan buah markisa.


"Kak ambil sendiri saja sana. Jangana punya aku dimakan." kata Gina kepada Bram.


Bram kemudian menuju dapur. Dia mengambil sekeranjang besar Markisa. Bram meletakan Markida itu di depan Gina.


"Gin ni ganti markisa yang kakak makan tadi." kata Bram.


"Kak gimana bisa ya ngabisinnya. Banyak banget itu Papi belinya." kata Gina kepada Bram.


"Nggak tau juga Gin. Sekarang makan aja dulu."


"Sayang nggak mau?" tanya Gina kepada Aris yang dsri tadi hanya melihat Gina dan Bram makan Markisa.


"Nggak. Nengoknya aja geli. Apalagi makannya." jawab Aris.


Setelah menunggu selama setengah jam. Mereka semua makan malam. Selesai makan malam Papi menceritakan semua keputusan pertemuan kepada Aris, Gina dan Bram.


"Yes. Aku yang milih bajunya." kata Gina dengan senangnya.


Salah satu sahabatnya akan menikah.


"Selamat Bay. Loe laku juga." kata Bram.


"Nyusul."


"Loe kan pake tunangan neh. Gue akan langsung kawin." jawab Bram.


Mami menimpuk kepala Bram dengan bantal.


"Nikah dulu baru kawin. Awas aja kamu Bram." kata Mami mengancam Bram.


"Maaf Mi." jawab Bram yang tidak tau kalau ada Mami di situ. Mami menganggao serius apa yang dikatakan oleh Bram.

__ADS_1


__ADS_2