Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pesta


__ADS_3

Acara yang ditunggu tunggu oleh semua orang akhirnya tiba juga. Pesta pernikahan anak bungsu dari keluarga Soepomo yaitu Bram Soepomo dan Sari yang akan dihelat dengan begitu mewahnya akan dilaksanakan. Semua kemewahan sudah terlihat jelas dari jalan utama untuk masuk ke perumahan Soepomo grub. Dimana kiri dan kanan jalan sudah banyak papan bunga selamat yang dikirimkan oleh kolega bisnis dari keluarga yang merajai bisnis di negara I. Baik dari Tuan Soepomo, Besan, anak dan menantu, mereka semua merajai dunis bisnis.


Masuk ke dalam tempat acara terlihat tenda putih yang begitu besar sudah terpasang. Belum lagi bunga bunga yang melingkar tepat di atas karpet merah tempat para tamu undangan berjalan masuk ke dalam tenda acara. sampai di dalam tenda para tamu undangan akan disajikan dengan pelaminan dan dekorasi yang sangat luar biasa indah dan mewahnya. Ini merupakan sebuah pesta pernikahan yang tidak akan terlupakan oleh siapapun.


"Sayang, dasi aku mana?" teriak Aris dari dalam ruanh ganti pakaian.


"Ada di dekat meja rias aku sayang." balas Ghina juga dengan berteriak dari arah ranjang.


Aris melihat berkeliling. Tetapi dia sama sekali tidak menemukan dasi yang akan dipakainya.


"Sayang, nggak ada dasinya." ujar Aris sambil menuju Ghina yang sedang memakai pakaiannya.


Ghina hanya bisa menggeleng gelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu. Dia benar benar nggak habis pikir dengan tingkah suaminya yang nggak bisa mandiri mencari barang untuk dipakainya sendiri.


Ghina berjalan masuk ke dalam ruang ganti. Dia langsung bisa melihat dasi yang ternyata jatuh fan tepat berada di bawah hanger jas milik Aris. Ghina memungut dasi tersebut.


"Ini apa namanya?" tanya Ghina sambil mengangkat tinggi tinggi dasi ke depan wajah Aris.


"Dasi" jawab Aris tanpa ragu menjawab pertanyaan Ghina.


"Terus?" tanya Ghina lagi.


"Terus pasangin." jawab Aris sambil memeluk pinggang Ghina dengan erat.


"Hem mulai kebiasaan." ujar Ghina sambil tersenyum.


"Hahahahaha. Kapan lagi kan ya Bun dipasangin dasinya." ujar Aris sambil menatap Ghina dengan penuh arti.


Ghina kemudian memakian dasi Aris. Dia memasang sangat lambat.


"Kok lambat kali sayang?" tanya Aris sambil menatap menggoda Ghina.


"Gimana nggak akan lambat, kamu gangguin aku terus sayang. Tangan kamu kemana mana ini. Tangan nggak bisa diam." ujar Ghina memukul tangan Aris yang ngelayap kemana mana dari tadi, hal ini membuat konsentrasi Ghina buyar.


"Hahahaha. Tangan aku yang salah sayang. Bukan aku." ujar Aris membela dirinya.


"Alasan." ujar Ghina yang kembali berusaha memasangkan dasi Aris.

__ADS_1


"Selesai." ujar Ghina.


"Makasi sayang. Cup." Aris mengecup bibir Ghina sekilas.


"Sana bantuin Argha. Aku yakin dia belum siap. Kamu sama taulah kan ya anak kamu itu gimana." ujar Ghina sambil menatap Aris meminta dia untuk menuju kamar Argha.


Aris keluar dari kamar menuju kamar anaknya. Sedangkan Ghina merias dirinya terlebih dahulu. Sebenarnya Soepomo mengundang penata rias, tetapi Aris lebih suka melihat istrinya natural tidak seperti memakai topeng. Makanya Ghina merias srndiri wajahnya.


Selesai dengan segala keribeten dalam merias wajah, Ghina kemudian memakai sepatunya. Dia menenteng sebuah cluth keluaran terbaru dari salah satu brand fashion terkenal. Ghina sekali lagi menatap cermin yang ada di kamarnya. Dia memastikan tampilannya sudah oke dan tidak akan membuat malu suaminya. Setelah di rasa oke, Ghina kemudian turun ke lantai satu rumah. Acara pernikahan Bram dan Sari akan berlangsung pukul sembilan pagi. Jam mewah yang melingkar di pergelangan tangan Ghina baru menunjukkan angka tujuh.


Saat Ghina membuka pintu kamarnya, bertepatan dengan Frenya yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Bunda cantik sekali." ujar Frenya sambil berjalan memutar mengelilingi Ghina.


"Apa apaan sih Nya. Kamu juga kelihatan sangat cantik Frenya Aris Soepomo." ujar Ghina sambil memegang kedua pipi anaknya itu.


"Masih cantikan bunda kali bun" ujar Frenya.


"Sama cantik. Tapi cantikan istriku." ujar Daniel yang ternyata juga baru keluar dari dalam kamarnya.


Bunda dan ketiga anaknya itu kemudian berjalan menuju lantai satu rumah. Mereka akan menuju meja makan. Tempat semua orang sudah berkumpul untuk sarapan sebelum acara pernikahan Bram.


"Sayang, kamu tampan sekali." ujar Ghina saat melihat Argha yang sudah memakai jasnya dengan rapi.


"Anak siapa dulu. Tu iya tampan dia." ujar Argha dengan sombong.


"Mulai sombongnya." jawab Ghina sambil memalingkan wajahnya.


Mereka kemudian duduk di kursi masing masing. Mereka sarapan terlebih dahulu sebelum acara akbar yang sudah ditunggu tunggu.


"Kak Bram gimana udah hafal belum?" tanya Ghina kepada Bram yang terlihat sangat tampan dan percaya diri.


Hal ini berbeda dengan Aris. Sewaktu Aris akan menikahi Ghina, Aris terlihat sangat grogi dan kurang percaya diri. Sedangkan Bram sebaliknya.


"Udah Ghin. Aku udah yakin dengan semuanya. Tinggal tolong bantu doa ya supaya bisa lancar." ujar Bram.


"Kalau itu aman Papi. Kami semua mendoakan yang terbaik untuk Papi." ujar Frenya menjawab sambil mengangkat dua jempol tangannya ke depan wajah Bram.

__ADS_1


"Hahahhahahaha memang lebay ya." ujar Aris.


Papi melihat jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh tiga puluh.


"Ayuk jalan. Kamu naik mobil atau jalan kaki sama kami?" tanya Papi kepada Bram.


"Jalan kaki aja Pi. Bareng bareng." ujar Bram sambil menatap Papi.


"Oke sip." jawab Papi.


Semua keluarga Soepomo ditambah dengan beberapa pengawal keluarga Soepomo dan pengawal Ghina berjalan beriringan menuju tempat pernikahan.


Bram terlihat berjalan dengan santai. Dia sama sekali tidak terlihat terbebani dengan ijab kabul yang akan dibacanya nanti. Dia benar benar terlihat menikmati semua proses yang ada.


"Papi Bram yakin kali nampaknya. Kalau Daddy waktu mau menikah dengan Bunda apa juga seyakin ini Bunda?" tanya Argha kepada Bunda dan Daddynya yang berjalan bersisian.


"Hahahahahaha. Mana ada Gha. Daddy kamu seperti orang takut aja hari itu. Dia bener bener grogi habis. Keringat sebesar jagung. Apalagi saat mau menjabat tangan Atuk Wijaya wah lebih ngeri keringatnya." ujar Bram meledek Aris.


Argha menatap Aris. Aris tersenyum saja mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, karena semuanya adalah kebenaran.


"Hahahaha. Pantesan Daddy sempat ke kiri ternyata pas nikah belum yakin. Ck ck ck ck ternyata." ujar Argha.


"Itu namanya ujian, kamu karena belum dapat ujian aja. Coba kalau udah akan coba juga rasanya gimana." ujar Aris.


"Tapi yang jelas semenjak itu Daddy nggak bisa lupain sedetikpun istri cantik Daddy ini." ujar Aris dengan bangga.


"Yelah yang punya istri cantik." ujar Argha.


Tak terasa karena obrolan ringan itu, mereka semua sudah sampai di tenda tempat acara pernikahan Bram dan Sari. Bayu serta Mira dan yang lain sudah berdiri di lorong mau masuk tenda yang dihias berbagai macam bunga. Semua pengawal sudah berada di tempat mereka masing masing.


"Gimana Bro? Siap? Atau mau kayak kakak loe ini waktu nikahin adek gue. Sampe harus diulang dan keringatnya kayak orang mandi?" tanya Bayu sambil melirik adik iparnya.


"Hahahahaha. Tentu tidak Bro. Gue udah siap. Siap semuanya. Jadi aman aja. Mantan karyawan loe akan gue nikahin dalam satu kali ijab kabul." ujar Bram sambil tersenyum simpul.


"Keren. Coba kalau gagal, air untuk mandi loe udah kami siapin." ujar Bayu sambil tersenyum mengejek Aris yang hari itu hampir saja akan dimandikan.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam tenda tempat acara akan dilangsungkan. Rombongan keluarga Sari masih belum datang.

__ADS_1


__ADS_2