
Frans yang telah mendapat perintah untuk mendaftarkan perceraian antara Tuan Soepomo dan Nyonya Soepomo, pagi pagi itu berangkat menuju pengadilan agama untuk mengambil surat surat pemberkasan perceraian.
Setelah mengurus semua surat keperluan perceraian antara Tuan dan Nyonya besarnya, Frans pergi menuju perusahaan Jaya Grub. Dia akan memberikan berkas berkas yang harus ditandatangani oleh Tuan dan Nyonya Soepomo.
"Udah kaya dan sukses ada ada aja masalah yang bisa bikin rumah tangga menjadi karam." ujar Frans.
"Ternyata kekayaan tidak menjamin hati seseorang menjadi tenteam. Ada ada saja yang akan mereka perbuat." lanjut Frans bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tok tok tok. Budi sekretaris Tuan Soepomo mengetuk pintu ruangan CEOnya.
"Masuk" ujar Papi dari dalam.
"Permisi Tuan, ada Tuan Frans ingin bertemu." ujar Budi.
Tuan Soepomo mengangguk mempersilahkan Frans untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Duduk Frans." ujar Tuan Soepomo.
Frans duduk di sofa seberang posisi Tuan Soepomo duduk.
"Gimana Frans, apa kamu sudah mendaftarkan gugatan permohonan cerai saya?" tanya Papi.
"Sudah Tuan besar. Ini semua dokumen yang harus Tuan dan Nyonya tanda tangani." ujar Frans sambil memberikan dokumen dokumen yang harus ditandatangani oleh Papi dan Mami.
Papi membaca semua surat itu dengan sangat teliti. Papi tidak mau ada sesuatu yang membuat posisi keluarganya terancam.
Setelah yakin dengan semua bunyi surat tersebut, barulah Papi menandatangani setiap lembaran surat gugatan perceraian tersebut.
"Siapa yang akan mengantarkan surat ini kepada Nyonya Tuan?" tanya Frans yang ingat Nyonya Soepomo juga harus menandatangani surat tersebut.
"Saya dan Hendri yang akan datang ke sana Frans. Kalau kamu atau yang lainnya dia tidak akan menandatangani surat tersebut. Saya sangat yakin dia akan merobek surat ini." lanjut Papi.
"Baiklah Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus ke Soepomo Grub menemui Tuan Aris dan Tuan Bram." ujar Frans undur diri.
"Sama sama Frans. Nanti Hendri akan menghubungi kamu tentang surat ini."
Frans kemudian berjalan keluar dari ruangan kerja Tuan Soepomo. Saat menunggu luft Frans bertemu dengan Paman Hendri yang baru saja memakai lift.
"Frans?" ujar Paman Hendri yang terlihat sedikit kaget saat bertemu dengan Frans.
"Asisten Hendri." jawab Fran.
Mereka kemudian berjabat tangan.
"Apakah pemanggilan saya ke sini terkait dengan surat surat yang baru kamu antarkan Frans?" tanya Asisten Hendri sambil menatap Frans.
"Benar Asisten Hendri. Tapi biarlah Tuan Besar yang menyampaikan isinya kepada Anda." ujar Frans
__ADS_1
"Saya permisi dulu Asisten Hendri."
Frans kemudian masuk ke dalam lift khusus itu.
"Bertemu dengan Asisten Hendri lebih menyeramkan dari pada bertemu Tuan Besar." ujar Frans bergumam sendiri.
Tok tok tok.
"Masuk" jawab Tuan Soepomi dari dalam.
Asisten Hendri kemudian masuk ke dalam ruangan Tuan Besarnya itu
"Hendri duduk." perintah Tuan Soepomo
Asisten Hendri duduk di kursi dimaba dia biasa duduk.
Tuan Soepomo memberikan dokumen yang baru saja diantarkan oleh Frans.
Asisten Hendri mengambil dokumen tersebit dan membacanya dengan sangat teliti. Dia memiliki sifat yang sama dengan Tuan Soepomo dalam membaca dokumen dokumen penting. Makanya perusahaan Jaya dan Soepomo bisa berkembang seperti itu. Mereka berdua meminimalisir kesalahan dalam dokumen kerjasama.
"Jadi Tuan dan Nyonya benar mau bercerai?" tanya Asisten Hendri dengan nada tidak percaya.
"Hendri, sekarang saya balik bertanya kepada kamu. Seandainya kamu di posisi saya, dengan begitu banyak kejahatan yang dibuat oleh istri kamu, apakah kamu masih bisa mrmberikannya pintu maaf??" tanya Tuan Soepomo.
Asisten Hendri terlihat berpikir keras. Asisten Hendri sangat tau rasanya di bohongi berkali kali oleh seseorang yang selalu berada di dekat kita.
"Saya paham dengan kondisi Anda Tuan. Saya setuju dengan keputusan Anda. Sekarang langkah apa lagi yang harus kita lakukan Tuan?" tanya Asisten Hendri.
"Setelah makan siang, kita akan menemui dia untuk meminta tanda tangannya. Kalau menyuruh Frans, saya cemas surat tersebut akan di robek. Jadi biar kita berdua yang ke sana nanti." lanjut Tuan Soepomo.
"Baik Tuan." jawab Asisten Hendri.
""Hendri, bagaimana dengan proses serah terima Soepomo dengan Aris tadi?"
"Semua berjalan lancar Tuan Besar. Semua berkas berkas kerja sama sudah saya berikan kepada Tuan Aris." jawab Hendri.
"Apakah kamu bertemu dengan Argha?"
Asisten Hendri mengangguk tanda memang dia bertemu dengan Argha.
"Menurut kamu bagaimana dia Hendri?" tanya Tuan Soepomo.
"Maksud Anda Tuan?" tanya Hendri.
"Maksud saya, apakah dia layak dan bisa menjadi pimpinan Soepomo dan Jaya Grub kedepannya?" tanya Tuan Soepomo kepada Hendri.
"Menurut analisa saya, dan tatapan Tuan Muda, dia layak memimpin perusahaan ini Tuan Besar." jawab Hendri.
__ADS_1
"Baiklah Hendri berarti saya tidak salah menilai." ujar Tuan Soepomo.
"Sekarang kita lanjutkan dulu pekerjaan yang tertunda. Setelah makan siang baru kita ambil tindakan yang tadi." ujar Tuan Soepomo.
Tuan Soepomo dan Asisten Hendri kembali ke ruangan masing masing. Mereka akan memulai pekerjaan hari ini, sebelum nanti siang bertemu dengan Nyonua besar.
...........................................................................
Setelah berkutat dengan dokumen dokumeb perusahaan, jam makan siang akhirnya datang juga.
Asisten Hendri menuju ruangan Tuan Soepomo.
"Kita akan makan dimana Tuan?" tanya Hendri.
"Restoran Bayu saja Hendri. Saya lagi ingin makan ikan cakalang di sana." jawab Tuan Soepomo.
Asisten Hendri tidak lupa membawa dokumen perceraian antara Tuan dan Nyonya Soepomo.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil untuk menuju restoran Bayu. Mereka akan makan siang di sana dan setelah itu barulah mereka ke rumah tempat Nyonya Soepomo berada.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai juga di restoran Bayu. Asisten Hendri langsung memesan dua porsi menu ikan cakalang.
Bayu yang saat itu sedang berada di restoran melihat dari ruangannya mobil Papi masujnke parkiran langsung menemui Papi angkatnya itu.
"Papi" ujar Bayu sambil mencium tangan Papi.
"Paman Hendri." ujar Bayu menundukkan kepalanya sedikit ke Hendri.
"Kamu di sini Bay? Mira mana?" tanya Papi.
"Mira di rumah sakit Harapan Kita Pi." ucap Bayu.
"Kenapa Bay? Sakit? Atau Alexa yang sakit?" tanya Papi memburu Bayu.
"Nggak Pi. Banyak yang kita tidak tau tentang Gina, Mira dan Sari Pi." ucap Bayu.
"Maksud kamu Bay?" tanya Papi penasaran.
Asisten Hendri juga menatap Bayu dengan tatapan penuh tanya.
"Biar mereka bertiga yang menjelaskan ke kita Pi." jawab Bayu.
Pesanan Papi akhirnya datang juga. Mereka bertiga kemudian makan siang dengan sangat lahapnya.
"Bay, kami jalan dulu. Papi ada urusan dengan Mami." ucap Papi sambil berdiri dari duduknya.
Tuan Soepomo dan Asisten Hendri berjalan keluar restoran. Mereka akan pergi menemui Mami membicarakan urusan yang tadi.
__ADS_1