Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Mami versus Argha


__ADS_3

Argha menatap pintu apartemen yang tadi Aris dan Papi masuk. Argha benar benar pengen mendengar apa yang dikatakan nenek lampir itu kepada Atuk dan Daddy.


Bram sangat tau keinginan Argha. Tetapi Bram tidak bisa berbuat apa apa. Dia sangat sulit mengambil keputusan untuk sekarang ini.


Papi, Argha pengen masuk ke sana!" ujar Argha kepada Bram.


"Jangan ya, kita belum boleh masuk. Nanti saat sudah diminta masuk baru kita masuk." ujar Bram kepada Argha.


"Argha harus sabar ya. Jangan tergesa gesa seperti ini. Kita dalam menghadapi suatu masalah harus dengan kepala dingin. Argha pahamkan dengan apa yang Papi katakan?" kata Bram memberikan nasehat kepada Argha.


"Argha paham Papi. Argha akan bersabar. Tapi kita cerita cerita berdua ya Pi. Argha malas di sini sendirian" tutur Argha mengajak Bram untuk bercerita dengan dirinya.


"Oke" jawab Bram sambil memberikan kode dengan tangannya kepada Argha.


"Jadi selama kamu di negara U, apa kegiatan kamu Gha?" tanya Bram kepada Argha.


Argha kemudian menceritakan apa kegiatannya selama di sini di negara U. Argha dan Bram kemudian asik mengobrol dengan seru. Mereka sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitar.


"Papi, Papi beneran pengen nikah dengan Tante Sari?" Argha mulai kepo dengan hubungan Bram dan Sari.


"Menurut Argha, apakah Papi Bram cocok dengan Tante Sari.?"


"Cocok. Makanya Argha minta Papi cepat cepat untuk melamar Tante Sari. Papi nggak takut nanti Tante Sari di sambar orang lain? Sakitnya di tikung itu pedih Papi." ujar Argha memberikan penakut kepada Bram.


"Hahahaaha. Kamu jangan menakut nakuti Papi Gha." jawab Bram yang mulai cemas dengan ucapan Argha.


"Pi, siapa yang nakut nakutin coba. Papi makanya main sosial media, di sana banyak yang mengatakan kalau sekarang zaman tikung menikung. Papi mau kena tikung?" lanjut Argha semakin semangat menakut nakuti Bram.


"Kamu mau Papi cepat cepat ngelamar tante Sari?" tanya Bram.


"Emang berani?" tantang Argha.


"Kamu nantang Papi Gha?" sambar Bram.


"Papi, emeng berani?" tawar Argha.


"Apa taruhannya?" tanya Bram yang semangat mendengar Argha menantang dirinya.


"Papi mau apa?" tanya Argha kembali menantang Bram.

__ADS_1


"Atm limited kamu untuk Papi selama sebulan." tawar Bram memberikan pilihan taruhannya.


"Setuju Papi, tapi acara lamarannya dalam lima belas hari ini. kalau lewat berarti batal." ujar Argha.


"Oke. Papi setuju." jawab Bram.


"Tapi tunggu bentar Pi. Kalau Papi gagal maka atm Api untuk Argha selama sebulan." ujar Argha.


"Oke setuju" mereka kemudian tos.


Kembali ke ruangan apartemen.


"Apa buktinya saya selalu mengintimidasi Argha selama ini?" ujar Mami kembali menantang Papi dan Aris.


"Masih kurang bukti video itu?" tanya balik Aris.


"Anda mau bukti yang otentik dan tidak bisa dibantahkan lagi? Anda sanggup melihat buktinya, Anda yakin tidak akan pingsan nantinya?" tanya Aris meyakinkan Mami.


"Yakin Saya tidak akan pingsan saat melihat bukti itu." jawab Mami dengan menatap tajam bergantian suami dan anaknya itu.


Aris keluar dari apartemen. Dia akan memanggil Argha yang sedang bercerita dengan Bram.


"Argha sayang, ada orang yang mau bercerita dengan Argha. Apa Argha mau menemuinya?" tanya Aris sambil berjongkok agar sama tinggi dengan anaknya itu.


"Papi Bram ikut?" tanya Argha.


Bram melihat ke Aris. Aris mengangguk menyetujui Bram untuk ikut masuk ke dalam apartemen.


Aris, Bram dan Argha masuk ke dalam apartemen. Mereka bertiga berjalan dengan angkuhnya masuk ke dalam apartemen Mami. Mami yang sedang duduk melihat ada seorang anak laki laki masuk kedalam apartemennya.


"Anak siapa itu Ris?" tanya Mami kepada Aris.


"Tanya sendiri aja." ujar Aris.


Mami berjalan mendekati Argha. Argha yang tidak suka dengan Mami melangkah mundur.


"Stop di tempat Anda Nyonya. Saya tidak suka bertemu dengan Anda." ucap Argha.


Mami berhenti di tempatnya. Mami menatap anak kecil itu. Mami mengingat wajah anak tersebut, wajah yang sangat mirip dengan Aris.

__ADS_1


"Kamu Argha?" tanya Mami dengan nada tidak yakin kalau anak laki laki gagah ini adalah cucunya Argha.


"Ya aku adalah Argha." jawab Argha dengan dingin.


"Tidak mungkin. Argha anak Aris bukan anak sempurna seperti kamu. Kamu pasti bohong." teriak Mami dengan kesal.


"Hahahahahahaha. Nyonya nyonya tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna Nyonya. Nyonya kira Nyonya sempurna?" tanya Argha memberi pertanyaan yang menohok kepada Mami.


Mami menatap Argha dengan tatapan tidak percaya.


"Saya masih tidak percaya kalau kamu adalah Argha." teriak Mami.


"Hahahahahahaha. Kamu mau bukti apa Nyonya. Saya bisa membuktikan semuanya kepada kamu." jawab Argha


"Atuk, wanita ini yang membuat Arga dan Bunda pergi dari rumah. Dia yang mengusir kami berdua dari rumah." ujar Argha sambil menunjuk Mami dengan tangan kirinya.


"Bohong kamu." teriak Mami.


"Bohong kamu katakan" balas Argha dengan nada tinggi.


"Kamu mengakatan kepada kami saat itu kalau keluarga Soepomo malu memiliki cucu seperti saya." ujar Arga dengan menatap tajam Mami.


"Kamu juga yang mengatakan kalau kamu akan mencarikan Daddy istri yang baru yang bisa memberikan kamu keturunan yang akan membuat keluarga Soepomo menjadi bangga." ujar Argha dengan emosinya.


"Kamu kecil kecil udah pintar bohong. Pasti Bunda kamu yang mengajarkan untuk berbohong." tuduh Mami dengan emosi.


"Stop jangan pernah bawa Bunda ku dalam masalah ini. Kamu tidak tau bagaimana perjuangan Bunda membesarkan aku dengan kasih sayangnya."


"Bunda yang selalu menenangkan aku saat kau mengata ngataiku dengan kata kata kasar."


"Bunda yang selalu membawa aku kedalam pelukannya saat kau merendahkan derajat dan harga diriku." teriak Argha yang murka karena Mami menjelek jelekan Bundanya.


"Aku pesankan sama kamu Nyonya. Jangan pernah kamu menjelek jelekan Bunda ku lagi." jawab Arga.


"Atuk, atuk kalau mau percaya dengan dia silahkan. Argha tidak akan menuntut apapun dari Soepomo Grub." ujar Arga.


"Hahahahaha. Kamu tidak mengharapkan harta???? Suatu hal yang tidak mungkin. Saya tidak percaya itu. Kamu ke sini pasti karena harta Soepomo yang melimpah belum lagi dengan harta Jaya Grub." ujar Mami dengan tatapan mengejek Argha.


"Maaf Nyonya, saya dan Bunda tidak minat dengan harta Nyonya yang hanya seujung kuku saya." ujar Argha membalas ucapan Mami.

__ADS_1


"Hahahahaha. ODGJ saja tidak akan percaya dengan ucapan kamu. Jadi kamu jangan harap saya akan percaya dengan kamu." jawab Mami.


Papi menatap Argha dengan tatapan tidak percaya. Dia tidak menyangka cucunya itu mampu mengeluarkan kata kata yang sangat pedas. Kata kata yang hanya bisa dikeluarkan oleh orang yang benar benar sakit hati dan marah dengan lawan bicaranua.


__ADS_2