
Siang hari pada hari berikutnya setelah membeli cincin pernikahan, Gina sudah menunggu Aris diruangan Afdhal. Gina sudah menunggu selama lebih kurang satu jam. Gina yang juga sudah lapar terpaksa hanya memakan beberapa cemilan yang ada diruangan Afdhal. Gina memainkan ponselnya menghilangkan rasa kesal dihatinya. Afdhal memerhatikan Gina yang terus saja melihat ponselnya. Gina sangat terlihat sedang kesal dan menyimpan amarahnya.
"Kirim pesan aja Gin. Bilangin kalau kamu udah nunggu dari tadi di sini." Afdhal memberi usul kepada Gina.
"Udah Uda dari tadi, jangankan untuk di balas di baca aja ogah"
"Sibuk kali Gin. Aris kan harus menyelesaikan semua urusannya sebelum dia menikah dengan kamu" kata Afdhal menyemangati Gina.
"Bisa jadi Uda. Gina numpang nunggu di sini ya." kata Gina sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Kamu udah makan belum?"
"Emang Uda nengok Gina makan selama di sini?" Jawab Gina dengan ketusnya kepada Afdhal.
"Belum" jawab Afdhal tanpa dosa.
"Noh tau. Masih juga tanyak. Kalau mau makan siang lebihkan Gina ya Uda. Gina lapar banget." kata Gina sambil memegang perutnya.
Afdhal kemudian menelpon Budi untuk membeli makan siang ke luar. Setelah menunggu Budi selama satu jam akhirnya makan siangpun datang.
Afdhal membuka makan siang yang dibeli Budi dan meletakkannya di depan Gina. Gina yang melihat nasi padang dengan lauk rendang membuat air liurnya menitik. Gina langsung saja ke wastefel untuk mencuci tangannya. Gina melupakan Aris sejenak.
"Wow mantap. Kamu masih ingat kesukaan gue Bud?" kata Gina menatap ke mantan asistennya itu
"Ingatlah selama loe kuliah ngekos kan gue yang belikan makanan loe" kata Budi dengan santainya ke Gina.
Budi dan Gina tidak pernah memakai status antara Nona muda dengan asistennya. Mereka sudah seperti sahabat. Mereka bertiga makan siang dengan lahapnya. Tak terasa wakti istirahat siang pun selesai.
"Masih jadi pergi atau tidak Gin? Kalau mau bjar uda yang antar ke butiknya."
"Nggak usah uda, aku kembali kerja ajalah. Capek dan udah malez aja." kata Gina beranjak dari kursi tempat duduknya yang sudah didudukinya selama tiga jam.
Gina kemudian kembali ke ruangannya. Gina sudah capek menunggu Aris. Gina kembali dengan langkah gontai. Gina kemudian kembali duduk di kursi kerjanya. Gina kembali menghidupkan komputernya untuk bekerja.
Gina melihat kalau dia harus mengerjakan salah satu desain sebuah wahana bermain air. Kerjasama dengan perusahaan Jaya Grub. Gina kemudian membaca keinginan dari pihak Jaya Grub.
__ADS_1
"Oh mereka ingin membuat dreamland dengan tema tokoh kartun." kata Gina dengan perlahan.
Gina kemudian mengambil sebuah kertas. Gina mengidentifikasi tokoh tokoh kartun yang bisa mewakili wahana wahana permainan yang akan dibuat di sana. Gina kembali serius dengan pekerjaannya. Gina melupakan rasa kesalnya kepada Aris. Gina menumpahkan semua kekesalannya kedalam pekerjaannya. Tak terasa jam pulang sudah datang, Gina tidak menghiraukan bunyi jam tersebut. Gina masih serius dengan pekerjaannya kali ini. Gina terus saja menggambar setiap wahana itu. Tak terasa hari sudah malam. Gina baru sadar kalau ruangannya sudah tidak ada orang. Gina kemudian turun kebawah untuk pulang. Ternyata pintu keluar sudah dikunci oleh ob. Gina mengambil ponselnya dan ternyata kesialan sedang berpihak kepada Gina, ponsel Gina kehabisan batrai. Gina terduduk di kursi lobby.
Sedangkan di rumah utama wijaya, Ayah dan Nana sedang makan malam. Lalu Afdhal yang habis meeting dari luar datang dan langsung duduk di meja makan. Mereka bertiga menyantap makan malam dengan nikmat. Afdhal merasakan ada sesuatu yang kurang di meja makan. Afdhal tidak melihat adanya Gina di sana.
"Nana, Ghina mana Na?"
"Lho bukannya Gina pergi dengan Aris?" Nana langsung menjadi cemas.
Afdhal kemudian menceritakan kejadian tadi siang. Nana dan Ayah sangat cemas sekarang. Ayah kemudian mengambil ponselnya. Ayah mebghubungi Aris.
"Assalamualikum nak Aris. Maaf ayah mengganggu istirahat nak Aris."
"Tidak Ayah, tidak mengganggu Aris baru sampai rumah dari perjalanan luar kota." kata Aris sambil melepaskan dasinya.
"Nak Aris ke luar kota dengan Gina?"
"Tidak Ayah, Aris berangkat dengan Bram. Kenapa Ayah bertanya seperti itu? Apa Gina belum sampai di rumah?" Aris mulai cemas. Aris sadar dia bersalah karena tidak menepati janjinya ke Gina. Tapi perjalanan tadi harus dilakukan oleh Aris karena masalah perusahaan di luar kota sudah urgent.
"Benar nak Aris. Gina belum pulang sampai sekarang." kata Ayah dengan nada panik.
Afdhal yang mendengar percakapan Ayah dengan Aris merasa yakin kalau Gina masih di kantor. Afdhal kemudian kembali ke kantor, Afdhal memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Afdhal takut terjadi sesuatu dengan Gina. Afdhal sampai di kantor dalam waktu tiga puluh menit saja.
Satpam yang melihat direkturnya kembali ke kantor langsung berlari ke arah Afdhal. "Selamat malam Tuan. Ada apa kembali malam malam Tuan?" kata satpam.
"Kamu yang mengunci semua ruangan kantor?" kata Afdhal sambil berjalan menuju kantor.
"Kamu ambil kunci kantor. Gina terkurung di dalam" kata Afdhal dengan nada panik.
Satpam berlari masuk ruangannya kembali untuk mengambil kunci kantor. Setelah itu satpam membuka pintu kaca. Dan terlihatlah Gina yang sudah terbaring di lantai kantor.
Afdhal yang melihat langsung mengangkat Gina dan berlari membawa Gina ke mobil.
"Kamu bisa nyetir?"
__ADS_1
"Bisa Tuan. Sekarang juga antarkan kami ke rumah sakit sentosa."
Satpam melajukan mobil dengan kecepatan sangat kencang. Satpam tidak mau terjadi sesuatu terhadap nona muda wijaya. Dalam waktu tidak.sampai tiga puluh menit, mereka sudah samlai di depan IGD rumah sakit Sentosa.
Suster yang melihat ada mobil yang terparkir sembarangan langsung mendorong brangkar. Afdhal membaringkan Gina di atas brangkar. Dokter IGD kemudian memerikasa Gina. Afdhal langsung menghubungi orang tuanya mengabarkan kalau Gina sedang di rumah sakit sentosa.
Dokter selesai memeriksa Gina. Afdhal langsung menemui dokter.
"Kenapa dengan adik saya dok?"
"Afdhal ini elo?" kata dokter wanita cantik itu kepada Afdhal.
"Anggel ini elo?"
"Yup ini gue. Jadi yang tadi gue periksa itu Gina?"
Afdhal mengangguk. "Bagaimana dengan Gina njel?"
"Gina tidak apa apa Dal. Gina cuma dehidrasi. Sepertinya dia tidak makan dan bekerja keras hari ini, serta ditambah dengan emosinya yang tidak stabil" kata Anggel.
Afdhal yang mendengar apa yang dikatakan Anggel langsung teringat dengan semua kejadian hari ini. Afdhal menyesal telah meninggalkan Gina di kantor.
Gina kemudian dipindahkan keruang rawat inap. Afdhal tetap ditemani oleh Anggel, mereka berdua bercengkrama di sofa ruang inap itu. Tak lama kemudian Ayah dan Nana datang. Nana membuka dengan kasar pintu ruang inap Gina.
"Uda, adiak dek apo uda?" kata Nana dengan bahasa minangnya.
"Nana, Gina hanya kelelahan, besok udah boleh pulang kembali" kata Afdhal.
Nana kemudian melihat seorang dokter yang Nana sangat ingat wajah itu.
"Anggel?" kata Nana.
" Wah, Nana ingat dengan ku? Kejutan Nana. Afdhal saja tidak ingat denganku tadi" kata Anggel sambil memeluk Nana dan mencium tangan Ayah.
"Kenapa dengan Gina, njel?" Ayah bertanya kepada Anggel.
__ADS_1
"Kelelahan Ayah. Besok juga udah bisa pulang" Jawab Anggel.
Setelah ayah dan nana datang, Anggel permisi untuk kembali ke IGD. Anggel adalah dokter jaga IGD untuk malam ini.