Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Rencana Papi


__ADS_3

Tok tok tok.


"Permisi Tuan besar ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan besar." ujar Bik Imah memberitahukan kepada Papi kalau ada tamu yang datang.


Papi yang mendengar ada yang memanggil dirinya berjalan membuka pintu kamar.


"Ada apa Bik Imah?" tanya Papi.


"Ada Tuan Frans di ruang tamu Tuan." ujar bik Imah memberitahukan kepada Papi siapa yang datang..


"Baiklah Bik. Suruh Frans nunggu saya. Bik Imah tolong buatkan minum untuk saya dan Tuan Frans." ujar Papi memberikan instruksi tambahan kepada Bik Imah.


Bik Imah kembali menuju dapur, dia membuat air minum untuk Frans dan Papi.


Papi yang sudah selesai bersiap siap keluar dari kamar. Dia pergi menuju ruang tamu untuk bertemu dengan Frans, pengacara yang selalu ada untuk keluarga Soepomo.


"Ada apa Frans?" tanya Papi.


"Ini Tuan, dokumen yang Tuan minta tentang harta harta Tuan." ucap Frans sambil memberikan dokumen dokumen itu kepada Papi.


Papi membaca semua dokumen yang diberikan oleh Frans.


"Fran kita ke ruang kerja. Saya ada yang perlu dibicarakan dengan kamu." ucap Papi mengajak Frans masuk ke dalam ruang kerja.


Mereka berdua berjalan ke dalam ruangan kerja milik Papi.


Papi berjalan menuju brangkas nya. Dia mengambil sebuah surat dr dalam brangkas yang terletak di balik sebuah lukisan.


Papi berjalan kembali menuju meja kerjanya. Frans sudah duduk dengan tenang frans tidak tau apa yang akan dibicarakan oleh Papi dengan dirinya.


"Frans, ini adalah surat wasiat yang dulu kita buat. Saya ingin mengubah isinya." ujar Papi sambil memberikan surat wasiat miliknya kepada Frans.


"Tuan besar mau mengubah redaksinya atau apanya?" tanya Frans.


"Saya mau merubah semua isinya. Tidak hanya redaksinya saja." ujar Papi.


"Oh baiklah Tuan. Berarti kita mengubah semuanya." ujar Frans.


Frans kemudian mengeluarkan laptopnya. Dia mulai mengetik surat wasiat milik Papi tersebut.


"Tuan tinggal isinya." ujar Frans.

__ADS_1


"Saya memberikan semua harta saya kepada ketiga cucu saya. Lima puluh persen dari total kekayaan untuk Argha Aris Wijaya Soepomo, dua puluh lima persen untuk Daniel Aris Soepomo, serta dua puluh lima persen lagi untuk Frenya Aris Soepomo." ujar Papi menyebutkan isi surat wasiatnya tentang pembagian harta warisan.


"Maaf Tuan, bolehkan saya bertanya?" ujar Frans.


Tuan Soepomo mengangguk.


"Maaf sebelumnya Tuan. Apakah Tuan lupa memasukkan nama Nyonya Besar, Tuan Muda Aris dan Tuan Muda Bram?" tanya Frans.


"Tidak lupa Frans. Aris dan Bram, mereka sudah punya usaha sendiri sendiri. Sedangkan untuk Nyonya besar setelah selesai ini akan kita bahas kelanjutannya." jawab Papi.


"Baiklah Tuan Besar, saya paham." jawab Frans.


Frans mengetik surat wasiat milik Tuan Andra Soepomo. Setelah selama empat puluh lima menit mengetik surat wasiat itu. Akhirnya surat tersebut selesai juga.


"Selesai Tuan." ujar Frans.


Frans memberikan laptopnya kepada Tuan Soepomo. Tuan Soepomo membaca dengan detail setiap isi surat. Dia tidak melewatkan satu katapun untuk dibacanya.


Frans yang paham dengan ketelitian, kecermatan dan kehati hatian Tuan Besar Soepomo membiarkan saja Tuannya itu membaca dengan super teliti surat wasiat yang baru diketiknya itu.


"Print empat lembar Frans. Nanti saat saya telah tiada kamu tinggal membagikan ke masing masing nama yang di dalam ini satu lembar surat wasiat ini." ujar Papi.


"Baik Tuan besar." jawab Frans


"Ini Tuan." ujar Frans.


Tuan Soepomo kemudian menandatangani keempat salinan surat wasiat itu. Setelah selesai menandatangani surat tersebut, Tuan Soepomo menyimpan surat tersebut di dalam brangkas yang hanya dirinya dan Frans yang tau password pembuka pintu brangkas.


Tuan Soepomo kembali duduk di kursi kerjanya.


"Frans sekarang saya minta kamu mengurus perceraian saya dengan Nyonya Besar." ujar Papi dengan nada dingin.


"Maksud Tuan?" tanya Frans yang separo tidak percaya dengan ucapan Papi.


"Saya mau kamu mengurus perceraian saya dengan Nyonya." kata Papi sekali lagi


Frans terbengong mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Papi.


"Apa perlu saya mengulang untuk ke tiga kalinya Frans?" tanya Papi.


"Maaf Tuan, tidak perlu. Tapi saya mau tau, apa alasan Tuan untuk menceraikan Nyonya?" tanya Frans

__ADS_1


"Nyonya sudah luar biasa tingkahnya Frans. Saya sudah tidak bisa lagi memaafkannya. Jadi saya mau kamu mengurus surat perceraian saya dengan dia." ujar Papi.


"Seandainya Nyonya menuntut harta gono gini bagaimana Tuan?"


"Tidak ada harta gono gini. Saya hanya akan memberikan dia satu rumah petak milik saya di daerah X." jawab Papi.


"Kalau Nyonya tidak mau tandatangab gimana Tuan?" tanya Frans yang mendadak menjadi ogeb.


"Frans frans kenapa kamu mendadak jadi seperti otak berkurang tujuh puluh lima persen. Kamu pengacara hebat Frans. Siapa yang nggak kenal kamu. Masak masalah seperti ini saja kamu masih bertanya kepada saya." ujar Papi sambil geleng geleng kepala.


Frans yang tau dia salah hanya bisa tersenyum saja. Ntah kenapa Frans mendadak menjadi ogeb nggak terkira. Padahal dia sudah tau apa yang harus dilakukannya.


"Tuan besok saya akan urus semuanya. Saya akan datang ke pengadilan agama untuk mendaftarkan gugatan cerai Tuan." Ujar Frans.


"Terimakasih Frans." jawab Papi.


Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan kerja Papi. Saat mereka keluar ternyata semua penghuni rumah sedang menuju mushalla rumah.


"Kita jemaah dulu Frans." ajak Papi kepada pengacara keluarga itu.


Frans mengangguk, salah satu yang menyebabkan Frans bersedia menjadi pengacara Soepomo Grub adalah kekuatan keagamaan keluarga ini luar biasa kuat. Itulah yang menjadi faktor utama Frans menerima pekerjaan ini dari Papi.


Mereka berdua menyusul yang lain ke Mushalla. Pak Paijo telah selesai khamad. Aris maju menjadi imam sholat maghrib hari ini.


Mereka semua sholat dengan khusuk. Setelah selesai sholat semua penghuni rumah kembali ke pekerjaan mereka masing masing. Sedangkan si empunya rumah masuk ke ruang makan untuk makan malam bersama.


"Kapan datang Tuan Frans?" tanya Aris kepada Frans.


"Dari tadi Ris. Ada beberapa surat yang harus diantarkan kepada Tuan Besar." jawab Frans.


Frans memang tidak akan membicarakan apapun tentang pembicaraan mereka tadi. Frans akan menutup rapat pembicaraan mereka tadi.


"Pak Agus, mana Ayam bakar Argha?" tanya Argha kepada kepala pelayan.


"Wah sepertinya bik Imah lupa menatanya di meja Tuan Muda. Sebentar saya ambilkan." ujar Pak Agus.


Pak Agus pergi ke dapur untuk mengambil ayam bakar pesanan Argha.


Argha sangat senang saat melihat menu ayam bakar yang sudah terhidang di atas meja. Argha mengambil ayam bakar miliknya. Dia langsung menyantap ayam bakar itu dengan sangat lahap.


"Enak Gha?" tanya Frans.

__ADS_1


"Enak paman. Argha sangat suka di negara U nggak ada ayam bakar seenak ini." ujar Argha sambil mengunyah ayam bakarnya.


Mereka kemudian melanjutkan makan malam. Selesai makan malam Frans berpamitan untuk pulang. Papi juga memilih untuk langsung beristirahat. Papi tadi tidak jadi beristirahat karena kedatangan Frans. Aris, Bram dan Argha juga memilih untuk beristirahat. Mereka juga sudah sangat letih.


__ADS_2