Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
BRAM


__ADS_3

Bram yang kamarnya pas berhadapan dengan kamar Gina dan Sari, melihat dua orang wanita yang dirasanya kenal itu sedang berbicara di balkon kamar mereka. Bram langsung saja masuk ke dalam kamar untuk mengambil teropong yang memang sudah dipersiapkannya di dalam tas ransel. Bram membawa teropong itu kembali ke balkon. Dia mengarahkan penglihatannya ke balkon hotel depan kamarnya. Bram memperhatikan dengan saksama, betapa terkejutnya Bram saat seorang wanita yabg dirinduinya berbalik melihat ke arah kamarnya.


"Sayang. Aku kangen" kata Bram saat melihat Sari.


"Gin, coba loe lihat gunung itu. Dia besar dan kokoh. Tetapi saat dia marah dia mengeluarkan semua isi perutnya. Selesai dia marah dia akan diam lagi. Aku berharap kamu seperti itu. Puaskanlah marah mu dulu, setelah itu kembalilah menjadi Gina yang kami kenal selama ini." kata Sari kepada Gina yang duduk di kursi balkon.


Gina kemudian berdiri dan memandang gunung yang terlihat terletak di belakang hotel tempat mereka nginap kemaren. Bram yang melihat wajah Gina langsung kaget. Ternyata Sari sekarang berada dengan Gina. Berarti Afdhal memang tidak menipu dirinya kemaren. Saat Afdhal ngomong Sari sedang dengan Gina di luar kota.


"Betapa bodohnya aku yang tidak percaya dengan Afdhal" kata Bram sambil melihat kedua wanita yang disayanginya. Satu sebagai kekasih, sedangkan satu lagi sebagai kakak ipar. Bram terus saja memperhatikan kedua wanita itu memakai teropong. Bram memandang mereka selama satu jam.


"Gue masuk dulu Sar. Loe kalai di sini terua jadi santapan nyamuk baru tau" kata Gina yang langsung masuk ke dalam kamar.


"Hahahahahaha. iya iya. Gue masuk juga" Sari kemudian melambaikan tangannya ke arah Bram. Sari tau Bram memperhatikannya. Sari memiliki indra yang kuat saat orang memerhatikannya dari jauh.


"Sayang, sayang. Kamu kira aku nggak tau kamu merhatiin kami. Kami udah tau keberadaan loe. Pastinya loe akan memerhatikan kami. Nikmati aja isyarat dari aku tadi" kata Sari sambil geleng geleng kepala dengan apa yang barusan dilakukannya.


Bram yang mendapat lambaian tangan dari Sari langsung terkejut. Dia tidak menyangka Sari akan melambaikan tangan. Lambaian yang mengisyaratkan kemari aja kalau mau memastikan.


"Tu anak tau diperhatiin, atau gimana ya???? Kenapa dia melambaikan tangan dengan artian kemari aja kalau ingin membuktikan. Jadi pusing gue." kata Bram yang kaget dia diberikan lambaian tangan oleh Sari.


"Ah palingan dia sedang ngusir nyamuk. Mana mungkin dia tau gue di hotel ini" lanjut Bram menghibur dirinya sendiri dengan kemungkinan yang ada. Bram masih tidak yakin kalau Sari tau keberadaannya. Padahal Bram hanya berusaha menipu dirinya sendiri. Dia yakin kalau Sari tau dia berada di hotel itu. Dengan kemampuan Gina dan Sari tidak akan mungkin mereka berdua tidak tau pergerakan Aris dan dirinya.


Bram kemudian masuk kembali ke kamarnya. Dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Bram mandi dengan begitu tergesa gesa, dia harus ke hotel depan untuk melihat langsung Gina dan Sari. Tapi Bram harus menghindar dari Aris. Bram tidak ingin Aris ikut. Dia ingin memberikan gambaran keadaan kepada Gina terlebih dahulu.


Bram keluar dari kamarnya bertepatan dengan Aris yang juga keluar dari kamarnya. Aris sudah berpakaian rapi, memakai jeans dan baju kaos. Sedangkan Bram hanya memakai levis bawah lutut dan baju kaos biasa saja.


"Mau kemana Ris?" tanya Bram yang melihat Aris dengan pakaian andalannya saat akan pergi jalan jalan santai.


"Mau cari Gina. Loe istirahat aja kalau capek. Gue pergi dulu ya" kata Aris sambil langsung memencet lift untuk turun ke lobby hotel.


"Woi. Sama. Gue juga mau cari makan dekat dekat hotel." kata Bram yang tidak ingin ditinggal Aris.

__ADS_1


"Yuk. Nanti loe gue turunin di gerbang hotel"


"Nggak perlu gue jalan aja. Loe hati hati cari Gina. Jangan sampe malam kali" Bram mengingatkan Aris. Bram tidak ingin sesuatu terjadi kepada Aris.


"Sip. Jam sepuluh gue pulang" jawab Aris.


"Hati hati jangan ngebut" kata Bram kepada Aris yang sudah berjalan ke arah parkiran mobilnya.


Aris mengacungkan jempol kepada Bram. Bram menunggu Aris pergi terlebih dahulu. Setelah itu barulah Bram menuju hotel tempat Gina dan Sari menginap. Dia hanya ingin memastikan saja kalau dua wanita cantik yang dia lihat di teropong tadi adalah benar Gina dan Sari.


Bram menuju resepsionis, untuk menanyakan dimana letak kafe restoran tersebut. Setelah resepsionis menjelaskan dimana letak kafe Bram langsung saja menuju kafe hotel. Dia sangat yakin kalau Gina dan Sari akan berada di kafe tersebut. Bram bisa yakin karena Gina dalam posisi sedang hamil muda, jadi Gina memerlukan asupan makanan yang lebih untuk dirinya dan calon bayi Gina dan Aris.


Bram melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe. Betapa terkejutnya Bram saat melihat Gina dan Sari sedang duduk santai sambil menikmati makan malam mereka.


"Gue ke sana atau nggak ya?" tanya Bram dalam hatinya. Bram berpikir sejenak dengan semua keputusan yang akan diambilnya. Keputusan yang sama beratnya.


"Ah gue hadapin ajalah. Gue ke sana aja." akhirnya Bram mengambil keputusan yang tepat. Dia melangkahkan kakinya menuju dua wanita yang sama sama berarti dalam hidupnya.


"Apa?" kata Sari dengan wajah yang juga mulai pycat pasi.


"Hantu Gin?" lanjut Sari yang juga tidak mendengar jawaban dari Gina.


"Gin, loe jangan nakutin gue Gin. Tu hantu megang pundak gue Gin" kata Sari yang sudah sangat ketakutan. Sari sudah mulai meneteskan air matanya karena takut.


"Gin. Loe jangan bikin gue panik Gin. Apa makhluk yang megang pundak gue. Gue takut noleh ke belakang Gina. Nanti hantu." kata Sari masih dengan suara bergetar.


Gina yang sudah bisa mengendalikan dirinya baru menjawab rasa penasaran Sari.


"Kalau hantu bagaimana?" tanya Gina sambil menatap Sari.


"Kalau hantu gue siap siap kabur" kata Sari yang masih juga takut untuk menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Kalau pria tampan seperti idola kamu bagaimana?" tanya Gina.


"Udah jangan main tebak tebakan. Gue udah nahan pipis karena takut ini" jawab Sari yang mulai kesal karena Gina tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Jawab dulu. Kalau pria tampan bagaimana?" tanya Gina kembali.


"Kalau pria tampan gue akan biasa aja" jawab Sari masih dengan suara gemetar.


"Nggak mau meluk gitu?" tanya Gina kembaki.


"Nggak. Kalau Bram baru gue peluk, gue cium" kata Sari dengan yakin.


"Kenapa?" tanya Gina.


"Karena gue kangen dia. Gue udah boongin dia. Gue nggak ngasih kabar ke dia. Gue bersalah sama dia" Sari memuntahkan isi perutnya karena rasa takut dengan hantu.


"Jadi loe nyalahin gue?"


"Bukan. Gue akan selalu milih sahabat gue daripada kekasih gue. Tapi gue juga butuh Bram. Makanya gue minta loe balik. Gue pengen ketemu Bram" kata Sari yang mulai terisak. Rasa rindunya kepada Bram mengalahkan rasa takutnya kepada hantu.


"Hahahahaha. Loe puas kan kak. Gue tau loe ke sini mau bertanya ke gue. Tapi gue janji akan jawab semuanya nanti. Loe lepasin dulu kangen kangenan loe berdua. Gue tunggu di kamar aja ya" kata Gina sambil berdiri dari kursinya.


"Maksud loe?" tanya Sari kepada Gina.


"Yup yang loe sangka hantu tadi, tuh makhluknya" kata Gina sambil menunjuk Bram yang berada di belakang Sari.


Sari langsung memutar badannya. Dia ingin melihat wajah yang sudah sangat dirinduinya itu. Wajah yang selalu membangkitkan semangatnya. Wajah yang selalu tersenyum kepada dirinya.


...****************...


KITA LANJUT SIANG YA KAKAK.

__ADS_1


MAAF KARENA LAMA NGGAK UP NYA


__ADS_2