Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Permulaan Perang


__ADS_3

"Sayang, kita belum cari mobil untuk Daniel. Udah tiga hari ini dia pergi ke rumah sakit selalu memakai mobil aku kalau nggak mobil yang ada di garasi." kata Gina sambil memasangkan dasi Aris.


"Kamu ajak aja dia nanti ke showroom mobil. Suruh dia milih maunya yang mana. Talutnya nanti kalau kita yang milih nggak sesuai dengan selera dia sayang." jawab Aris sambil memainkan tali daster Gina.


"Sayang hentikan. Dari pada kamu berakhir di ranjang. Kamu ada meeting pagi ini kan." kata Gina kepada Aris.


"Ow itu pasti suatu kegiatan nikmat yang akan aku sukai sayang." jawab Aris dengan tatapan menggoda kepada Gina.


"Mana ada." jawab Gina dengan ketus.


Gina tidak ingin mandi lagi, cukup dia harus keramas sebelum subuh. Sekarang nggak lagi.


"Ayuk turun." ajak Gina kepada Aris.


"Nggak. Kamu ganti baju dulu. Mana ada orang makan pakai baju tidur gini." kata Aris sambil menarik baju yang dipakai Gina melalui kepalanya.


Gina berdiri mematung, Aris pergi mengambilkan dress Gina yang layak untuk dipakai makan pagi. Gina tertawa melihat tingkah Aris itu.


"Sayang sayang." kata Gina.


"Apaan?" tanya Aris.


"Nggak ada apaan. Ayuk ke bawah, ini udah rapi." jawab Gina.


Mereka berdua bergandengan tangan menuju ruang makan.


"Dad" panggil Daniel yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Hay Boy. Gagah kali. Ada acara apa di rumah sakit?" tanya Aris yang penasaran melihat putranya sangat keren pagi ini.


"Nggak ada. Biasa aja. Daddy yang nggak merhatiin aku ke rumah sakit. Aku selalu bergaya seperti ini." jawab Daniel mengalihkan pembicaraan.


"Ya lah. Kamu nanti pergi dengan Bunda ya. Daddy sudah memberikan hak dan wewenang kepada Bunda." kata Aris sambil memukul pundak anaknya.


"Bun?" tanya Daniel penasaran.


"Nanti juga tau. Pokoknya jam makan siang kamu pulang, Bunda tunggu di rumah." perintah Gina kepada Daniel.


"Oke deh." jawab Daniel dengan lesu.


Daniel sudah tau Bundanya akan mengajak kemana. Hal ini sudah pernah di bahas Gina dengan Daniel. Daniel menolak untuk dibelikan mobil baru. Dia lebih suka memakai mobil yang ada di rumah utama.


"Jangan lesu. Anggap aja itu hadiah kelulusan kamu dari kami berdua." kata Aris sambil menatap tajam Daniel.


Daniel yang ditatap seperti itu hanya bisa pasrah saja. Dia tidak mungkin menolak permintaan ataupun perintah dari Aris.


Mereke semua sarapan dalam diam. Setelah selesai sarapan, Papi berangkat ke kantor dengan Mami, Aris dan Bram sedangkan Daniel berangkat sendirian.


"Hati hati sayang." kata Gina kepada Aris.


"Selalu. Nanti pergi dengan Daniel harus hati hati. Pulangnya ke perusahaan ya. Nanti pulang sama aku ke rumah." kata Aris memberikan perintah kepada Gina.


"Sip. Aku akan ke kantor nanti." jawab Gina.


Bram kemudian melajukan mobilnya. Diikuti Daniel dari belakang. Gina kembali masuk ke dalam rumah, dia akan membuat puding coklat untuk di bawa ke kantor Aris.


Selesai memasak puding coklat Gina membersihkan badannya. Dia akan menunggu kedatangan Daniel. Sambil menunggu Daniel, Gina ising menghubungi Alex.


[[ Lex, bagaimana apa sudah ada yang bisa di kirim ke perusahaan Zain?]] tanya Gina kepada Alex.


[[ Sudah Nona. Sebentar lagi kami akan mengirimkannya kepada perusahaan Zain. Satu anggotanya sudah sekarat.]] jawab Alex.


[[ Bagus. Apa kamu sudah memberikan tanda kita kepada mereka? ]] lanjut Gina bertanya.


[[ Sudah Nona. Sebentar lagi setelah mereka menerima anggota mereka dalam keadaan seperti itu. Maka Tuan Muda Daniel akan menjalankan aksi berikutnya.]] lanjut Alex kepada Gina.


[[ Daniel?? Maksud kamu Alex?]] tanya Gina yang penasaran Alex menyebut nama Daniel.


[[ Tuan Muda Daniek akan mengeksekusi perusahaan itu Nona. Nona lebih baik bertanya langsung kepada Tuan Muda. Saya juga kurang paham Nona.]] kata Alex membeberkan apa yang harus diketahui oleh Gina.


[[ Baiklah Alex, Saya akan langsung bertanya dengan Daniel. Saya penasaran anak itu bisa apa dengan web dan sebagainya. ]] kata Gina.


[[ Baik Nona. Saya akan mengirimkan paket berharga ini dulu.]]


Gina memutuskan sambungan telponnya dengan Alex. Dia sungguh sangat penasaran dengan Daniel. Apa yang akan dilakukan oleh Daniel nantinya. Gina sudah tidak sabar menunggu Daniel pulang. Gina menunggu Daniel di kursi teras. Dia sudah mengemas puding coklat ke dalam boksnya.


Mobil Daniel terlihat memasuki gerbang rumah utama. Gina yang sudah menunggu mulai tidak sabar menunggu Daniel turun dari mobil. Daniel yang melihat Gina mondar mandir seperti ada sesuatu itu langsung memarkirkan mobilnya dan langsung turun.


"Bun, ada apa?" tanya Daniel langsung kepada Gina.


"Kami mau bermain dengan web atau dengan perusahaan Zain?" tanya Gina langsung pada intinya.


"Oh itu. Dengan web dan data perusahaannya Bun. Aku akan bombardir semuanya dengan cara aku. Bunda tenang aja ya. Masalah Zain serahkan ke aku." kata Daniel dengan mantap.


"Baiklah" jawab Gina pasrah dengan anak nya itu. Gina juga penasaran dengan kemampuan Daniel dalam bidang hecker.


"Ayuk berangkat. Nanti Daddy kamu marah kenama akunnya belum juga berkurang." lata Gina.


"Ini di bawa Bun?" tanya Daniel melihat kotak puding yang ada di atas meja.


"Hampir lupa. Iyalah di bawa untuk Daddy." jawab Gina.


Daniel membawa kotak puding itu. Dia meletakan kotak puding di kursi belakang. Sedangkan dia dan Gina duduk di depan.


"Kemana Bun?" tanya Daniel yang nggak tau mereka akan kemana.


"Ke showroom milik atuk aja. Jalan Y." kata Gina kepada Daniel.


Daniel membuka aplikasi penunjuk arah di mobilnya. Dia masih belum hafal jalanan di ibu kota ini.


"Jadi belum hafal?" tanya Gina.


"Belum lah Bun. Jalan jalan aja belum sempat." jawab Daniel.


Mereka akhirnya sampai di showroom tempat mereka berencana membeli mobil untuk Daniel. Showroom mobil mewah yang selama ini dihindari oleh Daniel.


"Silahkan masuk Nyonya" kata salah seorang pramuniaga showroom.


"Niel pilih mana yang kamu suka." kata Gina kepada Daniel.


Daniel terlihat melihat lihat beberapa mobil. Daniel tidak tau mobil yang mana yang akan dipilihnya. Gina melihat Daniel yang nggak tau mobil mana yang mau dibelinya langsung memanggil salah satu pramuniaga.

__ADS_1


"Mbak sini Mbak. Mana mobil sport keluaran terbaru?" tanya Gina kepada pramuniaga


"Mobil sport terbaru adalah yang sebelah sana Nyonya. Itu adalah mobil keluaran terbaru." kata pramuniaga kepada Gina.


"Niel sebelah sini Niel. Nggak ada yang disitu." kata Gina memanggil Daniel.


Daniel menuju tempat Gina. Gina berdirindi sebelah sebuah mobil yang sangat bagus.


"Ini aja ya" kata Gina kepada Daniel.


"Oke Bun." jawab Daniel yang sangat yakin dan percaya dengan mobil pilihan Gina.


Daniel sangat yakin kalau mobil pilihan Gina adalah mobil terbaru dan terbagus serta teraman di kelasnya.


"Mbak saya mau yang ini tapi warna putih. Kapan datangnya ya?" tanya Daniel kepada pramuniaga.


Manager yang baru datang dari luar, saat Nyonya pemilik showroom ada di kantornya langsung menuju Gina dan Daniel.


"Maaf Nyonya saya tadi dari luar." kata Manager sambil menatap tajam Daniel.


"Oh tidak apa apa. Anak saya Daniel di suruh daddynya tuan Aris untuk memilih salah satu mobil di sini. Tadi Daniel sudah memilih bugatti itu dengan warna putih. Kapan bisa ready?" tanya Gina kepada manager yang menatap Daniel dengan tatapan curiga.


"Kami usahan dalam dua hari ready Nyonya." kata manager.


"Oke. Kamu antar langsung ke rumah. Saya tidak terima telat." kata Gina sambil mengancam manager yang sudah berani tidak sopan itu.


"Maafkan saya Nyonya." kata manager yang sudah mulai takut.


"Bukan urusan saya." jawab Gina dengan ketus.


"Sayang ayo kita pulang. Kita harus ke kantor Daddy." kata Gina kepada Daniel.


"Kamu siap siap saja, karena sudah berani berpikiran buruk tentang saya dan anak saya." kata Gina sambil menatap dingin ke arah manager.


"Maafkan saya Nyonya, Tuan Muda." kata manager.


Gina dan Daniel hanya berlalu saja. Mereka tidak mendengarkan permintaan maaf manager tersebut. Manager terus mengejar Gina dan Daniel. Gina dan Daniel masuk kedalam mobil yang diparkir tepat di depan pintu masuk showroom.


"Kita ke kantor Daddy." kata Gina kepada Daniel.


"Siap Nyonya. Hahahaha." Daniel tertawa sendiri mendengar apa yang dikatakanya.


Daniel melajukan mobilnya menuju kantor Aris. Mereka sudah janjian untuk makan siang bersama.


"Bun, udah beli menu makan siangnya bun?"


"Daddy yang beli. Kita datang hanya untuk makan saja. Nggak usah mikirin apa yang akan kita makan." kata Gina sambil tersenyum kepada Daniel.


"Oh" jawab Daniel.


Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Daniel sudah masuk ke parkiran kantor Jaya Grub. Daniel memarkir mobilnya di bastman kantor tepat di sebelah mobil Aris.


"Bun naik lift ini aja bun. Kenapa harus ke depan?" protes Daniel kepada Gina.


"Pengen mamerin kamu ke semua karyawan kantor. Betapa gantengnya anak Bunda." jawab Gina hanya asal jawab saja.


Gina tidak mungkon menceritakan tentang perselingkuhan Aris kepada Daniel. Bisa bisa Daniel tidak mau lagi menganggap kalau Aris adalah ayahnya.


Wajah tampan serta dingin dan berjalan dengan sombongnya, Daniel sukses mencuri perhatian semua karyawan kantor. Mereka memandang Daniel dengan penuh keinginan, sampai sampai saliva yang menetes tidak mereka hitaukan.


"Niel, kamu bener bener menjadi pusat perhatian." kata Gina kepada Daniel.


"Akan bertambah lagi pria tampan yang digilai para karyawan di sini. Kemaren Daddy dan Papi, sekarang di tambah dengan kamu." kata Gina sambil menyenggol bahu Daniel.


"Apaan sih Bun. Males ngurus perempuan Bun. Ribet." jawab Daniel dengan dinginnya.


"Ye ribet." kata Gina menggoda Daniel.


"Bun jangan mulai" jawab Daniel yang sangat tidak suka digoda Gina.


"Hahahahahaha. Jangan marah dong." kata Gina kepada Daniel.


Mereka berdua masuk ke dalam lift khusus karyawan. Gina dan Daniel menuju lantai ruangan Aris berada.


Tok tok tok. Bunyi pintu ruangan yang di ketuk dari luar. Bram yang berada di sofa sedang bermain game berjalan membukakan pintu. Dia sudah tau siapa yang akan datang.


"Masuk buk bos." kata Bram kepada Gina.


"Kakak banyak gaya." balas Gina kepada Bram.


Bram tersenyum mendengar ucapan Gina. Dia sangat suka mengganggu Gina selama Gina menjadi ibu ibu hamil.


Gina dan Daniel duduk di sofa. Aris yang mendengar keributan kecil antara Gina dan Bram hanya bisa pasrah saja. Kalau tidak Bram yang menggoda Gina maka sebaliknya Gina yang menggoda Bram.


"Gimana udah dapat mobil barunya?" tanya Aris kepada Daniel.


Gina pergi menyiapkan semua makanan ke dalam beberapa piring. Dan memotong motong puding coklat.


"Udah Daddy, terimakasih banyak" jawab Daniel.


"Pasti yang milih Bunda kamu kan ya?" selidik Bram. Bram tidak yakin Daniel mau memilih mobil yang di sukainya.


"Yup Papi. Aku nggak tau mau mobil yang seperti apa, makanya Bunda yang milih dan sesuai dengan selera dan kebutuhan aku." jawab Daniel.


"Sayang manager show room kamu itu berkompeten nggak sih?" tanya Gina kepada Aris.


"Emang kenapa sayang?" tanya balik Aris yang penasaran dengan pertanyaan Gina kepada dirinya.


"Iya. Jadi kan gini ya. Aku tadi ke show room dengan Daniel. Masak dia natap tajam ke aku dan Daniel. Kalau ke semua pelanggan seperti itu, maka siap siap aja tu show room bentar lagi gulung tikar." kata Gina menjelaskan apa yang terjadi di show room.


"Bram." kata Aris kepada Bram dengan nada yang dimengerti oleh Bram.


"Sip. Nanti gue urus." jawab Bram.


"Ayuk makan dulu sayang. Aku udah laper. Apalagi melihat semua makanan kampung ini wow semakin membuat cacing dalam perut aku berdemo sayang." ujar Gina yang mengajak semuanya untuk makan siang.


Mereka kemudian makan siang. Bram dan Daniel terlibat percakapan penting yang hanya mereka berdua yang tau apa yang dibicarakan. Sedangkan Aris dan Gina mereka makan dengan santai tanpa ada obrolan.


"Pindah ke sofa lagi." kata Aris kepada anggota keluarganya.


Mereka kemudian kembali duduk di sofa. Aris dan Gina duduk di sofa yang sama. Sedangkan Daniel dan Bram duduk di masing masing sofa yang kosong.

__ADS_1


"Jadi mobil apa yang kamu beli Niel?" tanya Aris yang lupa menanyakan seri mobil yang di beli anaknya.


"Bugatti Dad. Warna putih. Tapi masih kosong." jawab Daniel.


"Dalam dua hari udah datang itu. Kamu tenang saja." kata Aris kepada Daniel.


"Sayang gimana dengan perusahaan Zain?" tanya Gina yang tiba tiba teringat ucapan Alex.


"Oh mereka menolak semua bukti yang kami serahkan sayang. Ntah bagaimana lagi bisa membuktikan kalau mereka perusahaan culas." jawab Aris yang mendapat anggukan dari Bram.


Tiba tiba ponsel milik Daniel berdering. Daniel melihat siapa nama yang memanggilnya di layar ponsel. Pada layar ponsel tertera nama Alex yang menghubunginya. Gina melihat kepada Daniel. Daniel mengangguk. Gina memberi isyarat agar Daniel menerima telpon di luar.


"Daddy, aku nerima telpon bentar ya." kata Daniel yang selalu meminta permisi untuk melakukan sesuatu hal.


"Silahkan Niel." jawab Aris.


Daniel berjalan keluar, dia pergi mengangkat sambungan telpon dirinya dengan Alex.


[[ Hallo Alex. Ada apa? ]] tanya Daniel kepada Alex.


[[ Begini Tuan Muda. ]] jawab Alex.


[[ No Tuan Muda Alex. Panggi aja gue Daniel. Bunda tidak ada di dekat gue, jangan terlalu formal ]] kata Daniel yang tidak suka dirinya di panggil tuan muda oleh siapapun.


[[ Baiklah Daniel. Gue mau ngabarin sama loe kalau tahanan mau gue kirimkan ke perusahaan Zain. Tolong loe amankan dulu web empat perusahaan. Kalau perlu loe minta tolong Sari dan Mira juga Bunda loe.]] kata Alex kepada Daniel.


[[ Bentar. Jangan loe kirim dulu. Kalau semua sudah ready baru loe kirimkan, gue akan memberi isyarat kepada loe kapan waktu eksekusinya. ]] Daniel memberikan perintah kepada Alex.


[[ Sip. Gue nunggu perintah dari loe. ]] jawab Alex.


[[ Aman ]] Daniel memutuskan panggilan telponnya dengan Alex.


Dia langsung menghubungi Sari dan Mira. Mereka akan langsung sambung tiga saja agar waktu berjalan dengan cepat. Jadi tidak ada yang terbuang sia sia.


[[ Hallo Nona Sari dan Nona Mira ]] kata Daniel kepada kedua calon tantenya itu.


[[ Ada apa Daniel? Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting.]] kata Mira kepada Daniel.


[[ Yup memang sangat penting. Aku minta kepada Nona berdua untuk mengamankan data base perusahaan Tuan Bayu dan Tuan Wijaya. Sebentar lagi tahanan akan dikirimkan Alex kepada Perusahaan Zain.]] kata Daniel kepada Sari dan Mira.


[[ Kalau masalah data base perusahaan, semuanya sudah terlindungi dengan aman Daniel. Tapi kami tetap akan memantau kalau kalau ada serangan yang bisa menjebolnya.]] kata Sari menjelaskan kepada Daniel.


[[ Baiklah. Sebentar lagi aku akan pulang dengan Bunda ke rumah. Kami akan mengendalikan kondisi dari rumah utama. Nona berdua selalu siaga oke. Takutnya nanti salah satu perusahaan bisa mereka susupi.]]


[[ oke Daniel. Tolong katakan kepada Gina jangan terlalu berpikir keras.]] kata Mira yang cemas dengan kondisi Gina kalau ikut memantau Web atau menerobos web perusahaan Zain.


[[ Nona tenang saja. Kali ini aku yang bekerja. Bukan Bunda.]] jawab Daniel dengan nada dinginnya.


Mereka kemudian memutuskan sambungan telponnya. Daniel masuk kedalam ruangan Aris kembali.


"Bun, kita pulang yuk. Aku ada kerjaan di rumah sedikit." ajak Daniel kepada Gina.


Gina yang sudah tau dengan kondisinya mengode Bram agar membawa Aris keluar.


"Ris kita harus melihat taman kota itu. Apakah pekerjaan mereka bisa selesai satu bulan lagi." kata Bram mengajak Aris untuk pergi menuju taman kota.


"Niel kamu harus mengantarkan Bunda dengan selamat." perintah Aris kepada Daniel.


"Aman Dad. Daniel pastikan bunda akan sehat sampai rumah." kata Daniel.


" Niel, temanin Bunda ke toko buah dulu ya Nak. Bunda sedang pengen buah jeruk bali." ujar Gina kepada Daniel.


"Sip Bun. Kita akan cari jeruk besar itu." jawab Daniel yang tau bundanya hanya akal akalan saja.


Mereka berempat keluar dari ruangan Aris. Mereka menuju tujuannya masing masing. Aris dan Bram akan ke proyek taman. Sedangkan Gina dan Daniel akan ke rumah.


"Niel, kita ke markas aja. Bunda akan memperlihatkan sesuatu kepada kamu." kata Gina dengan semangat.


"Oke Bun. Aku penasaran dengan benda itu." jawab Daniel.


Daniel yakin itu adalah suatu benda yang membuat dirinya akan sangat tertarik. Bunda selalu memberikan Daniel sesuatu yang menantang dirinya.


Daniel mengarahkan mobilnya ke markas mereka. Daniel melajukan mobil dengan kecepatan yang masih bisa di toleransi oleh Gina dan kandungannya. Mereka sampai dalam waktu tiga puluh menit. Alex yang melihat mobil milik keluarga Soepomo masuk ke dalam markas langsung keluar menuju pekarangan.


"Nona Gina. Tuan Daniel." kata Alex menyapa kedua bosnya itu.


"Gimana Lex?" tanya Gina.


"Siap antar. Tetapi tadi kata Tuan Muda kita harus mengamankan web perusahaan Wijaya, Soepomo dan Bayu." jawab Alex.


"Perhitungan yang matang. Daniel, Jero kita ke ruangan Bunda." kata Gina kepada kedua pria yang sama sama gila IT itu.


Mereka berempat jalan menuju ruangan yang selama ini di rahasiakan oleh Gina. Sebuah ruangan dengan kamuflase dinding. Hanya orang orang tertentu yang tau dibaling dinding itu ternyata ada sebuah ruangan yang luar biasa isinya. Semua peralatan komputer canggih ada di sana.


Gina mengetuk dinding dengan tiga kali ketukan dan berdehem. Dinding langsung terbelah menjadi dua. Daniel, Alex dan Jero terkejut akan hal itu. Mereka tidak terhitung sudah berapa kali lewat depan dinding itu, tetapi mereka tidak curiga dan tidak menyangka kalau ada ruangan di balik dinding itu.


"Masuk." kata Gina kepada ketiga orang itu.


"Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat semua peralatan canggih yang ada di ruangan. Ada banyak layar komputer di sana. Menampilkan data data perusahaan Wijaya, Bramantya, Soepomo, Jaya dan Bayu. Semua terlihat stabil. Gina sudah memberikan perlindungan ekstra kepada semua data dan web perusahaan yang tidak bisa disusupi siapapun.


" Bunda dan Jero akan mengawasi pergerakan semua perusahaan. Ditambah dengan Sari dan Mira. Kita berempat akan mengawasinya. Sedangkan kamu Daniel, pakai pakai komputer yang itu silahkan bermain dengan perusahaan Zain. Terserah mau kamu apain. Terpenting mereka mengumumkan kebangkrutannya hari ini juga. Kalau perlu kirim semua bukti kejahatan ke polisi." kata Gina kepada Daniel.


"Alex antarkan atau kamu kirimkan boleh juga tahanan itu kepada perusahaan Zain." kata Gina memberikan perintah kepada Alex.


"Saya akan antarkan Nona. Kita akan mengantarkan dua orang tahanan kepada mereka. Setelah itu yang lainnya akan kita biarkan saja. Sepertinya sebentar lagi mereka juga akan lewat." kata Alex kepada Gina.


"Kamu tidak memberinya makan Lex?" tanya Gina kepada Alex.


"Beri Nona cuma setiap ada anggota kita yang bermasalah maka dia akan main pukul tahanan Nona." kata Alex.


"Bonus itu. Dari pada mereka main pukul pukulan sesama mereka." kata Gina kepada Alex.


"Saya jalan dulu Nona. Nanti saya infokan kalau sudaj sampai." Alex berkata sambil berlalu dari ruangan.


"Mari perang digital." kata Gina kepada Daniel dan Jero.


"Sesuatu yang udah lama saya tunggu ini Nona. Saya tidaj pernah mendapat kesembatan perang digital, selalu perang eksekusi. Kali ini akan saya buktikan kepada Nona bertiga kalau saya juga mampu dalam perang digital. Saya ingin kedepan Nona mempercayai saya unthk merusak situs orang yang berani melawan kita." jawab Jero kepada Gina.


"Bunda, aku udah lama ingin mencoba permainan ini. Tapi sayangnya aku nggak pernah dapat kesempatan. Kali ini aku akan membuktikan kepada Bunda kalau aku bisa menghabisi mereka. Aku tidak sabar untuk memulainya Bunda. Apakah boleh aku memulainya duluan Bunda?" tanya Daniel yang memang sudah sangat tidak sabar untuk memulai perang ini dengan Perusahaan Zain.


" Tidak ada yang boleh mulai dulu. Kita akan melihat mereka menyerang dari sisi mana. Apakah mereka menyerang Soepomo atau Jaya Grub. Setelah itu baru kita mainkan kartunya." jawab Gina.

__ADS_1


__ADS_2