Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kegalauan Aris


__ADS_3

Mereka semua telah selesai sarapan. Papi sudah menenteng bekal bubur yang akan diberikannya kepada asisten Hendri. Sedangkan Bram dan Sari, serta Mira dan Bayu akan berangkat bersama menuju markas. Rencananya Aris, Ghina, Frenya dan Argha juga akan berangkat ke markas.


Tetapi sesuatu terjadi saat mereka akan berangkat. Aris mendadak mengajak Ghina kembali ke kamar mereka.


"Sayang kita ke kamar sebentar ya. Ada yang ketinggalan." ujar Aris mengajak Ghina kembali ke kamar mereka.


Ghina menatap punggung suaminya itu saat Aris berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua. Aris berjalan dengan gontai. Aris terlihat sedikit memiliki beban pikiran. Semua itu terlihat nyata dari gaya berjalan Aris yang gontai tidak seperti biasanya.


"Ada apa lagi ini??" ujar Ghina di dalam hatinya. Tetapi Ghina sudah memutuskan keputusan yang paling tepat untuk saat ini.


Ghina mengangguk dan menyetujui ajakan Aris. Dia harus mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu. Dia harus meringankan beban yang ada di dalam pikiran suaminya. Ghina tidak boleh egois untuk saat ini.


"Argha, Argha pergi dengan Uni Frenya dulu ya. Nanti Bunda akan menyusul." kata Ghina kepada anak bungsunya itu.


"Oke Bunda. Sepertinya Daddy memang butuh bantuan Bunda." ujar Argha yang paham dengan kondisi Ayahnya. Argha juga melihat bagaimana beratnya langkah kaki Daddynya tadi saat menuju kamar.


"Uni jaga Argha. Jangan sampai Argha terlalu mengeluarkan emosinya." Ghina berpesan kepada Frenya agar bisa menjaga Argha.


"Bisa Bun. Bunda percayakan aja sama Frenya. Frenya akan jaga Argha. Bunda harus bantu Daddy." ujar Frenya yang tidak ingin Bundanya memiliki beban pikiran tambahan lagi. Lagian Frenya tau Argha sudah dewasa dibandingkan umurnya, jadi Argha juga sudah tau mana yang baik dan buruk untuk dirinya.


Ghina menyusul suaminya ke kamar setelah memastikan Argha sudah berangkat dengan Frenya. Sebelum menuju kamar mereka Frenya mengambil dua gelas air putih hangat dengan irisan lemon di dalamnya. Setelah mengambil dua gelas air, Ghina kemudian berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua rumah utama. Ghina membuka pintu kamar mereka. Ghina melihat Aris duduk di sofa dengan menselonjorkan kakinya seperti seseorang yang memiliki beban berat di pundaknya yang harus di pikul.


Ghina kemudian duduk di sebelah Aris. Dia menggenggam tangan suaminya itu, Ghina berharap dengan dia menggenggam tangan Aris, suaminya itu bisa lebih tenang. Ghina menatap lekat wajah suaminya, dari wajah Aris tergambar jelas beban yang harus ditanggung Aris.


"Ada apa sayang?" tanya Ghina kepada Aris. Sambil terus menatap suaminya.


Aris masih terdiam, dia tidak tau harus memulai dari mana ceritanya itu. Aris cukup lama terdiam. Ghina dengan sabar menunggu Aris mau bercerita. Ghina sama sekali tidak mendesak Aris. Dia juga ikut terdiam. Tapi tangan Ghina tidak pernah lepas dari menggenggam tangan Aris.


"Sayang" panggil Aris.


Ghina kembali menatap Aris.


"Cerita aja sayang. Keluarkan aja semuanya. Aku siap mendengarkan semua cerita kamu." ujar Ghina.


"Boleh peluk?" tanya Aris yang terlihat sangat membutuhkan Ghina saat ini.


"Boleh sinilah." ujar Ghina.


Ghina kemudian memeluk Aris. Ghina mengusap usap punggung suaminya. Ghina terus berusaha menenangkan Aris. Aris mulai merasakan kenyamanan di hatinya.


Aris kemudian mengurai pelukannya dengan Ghina. Dia membuka jas kerjanya dan meletakkan di sandaran kursi. Ghina melihat semua itu dalam diamnya. Ghina tau dia tidak akan mungkin bisa ke markas untuk membalaskan sakit hatinya atas semua penghinaan yang telah diterima dirinya dan Argha.


Aris yang telah membuka jasnya memilih untuk meletakkan kepalanya di paha istrinya. Aris memijit kepalanya yang terasa sangat berat itu.


"Sini aku tolong." ujar Ghina sambil memijit kepala suaminya.


Aris yang sudah merasa baikan mengambil tangan Ghina dan menggenggamnya dengan kuat.


"Apa udah baikan sayang?" tanya Ghina sambil menatap wajah suaminya.


Aris mengangguk. Dia memutar kepalanya menghadap perut Ghina. Aris menghirup aroma tubuh istrinya yang biasanya selalu membuat dia menjadi tenang.


"Sayang" panggil Aris kembali.


"Apa?" jawab Ghina.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Aris kembali.


Ghina heran dengan pertanyaan Aris. Dia merasa ada sebuah keganjilan dari pertanyaan Aris.


"Kenapa kamu nanyak kayak ghitu sayang? Apa kamu tidak bisa merasakan rasa cintaku kepada kamu? Apa kamu mulai meragui diriku?" tanya Ghina kembali sambil mengusap usap kepala suaminya.


"Tidak seperti itu sayang." ujar Aris yang ternyata sudah salah bertanya. Dia menyesal sudah menanyakan hal itu kepada Ghina.


"Sayang ada apa sebenarnya??? Ceritalah sayang, biar beban di hati kamu terangkat. Kita kan sudah janji akan saling berbagi. Jadi ada apa sayang?" tanya Ghina yang sudah meminggirkan pertanyaan Aris sebelumnya.


Aris memeluk Ghina dengan sangat kuat. Ghina terkejut melihat reaksi suaminya itu. Aris terlihat benar benar dalam keadaan rapuh saat ini.


"Hay, ada apa???? Jangan buat aku menjadi cemas." ujar Ghina yang benar benar cemas melihat Aris dengan mendadak memeluk dirinya dengan kuat.


Aris kembali terdiam lama. Ghina dibuat pusing oleh reaksi Aris yang seperti ini. Ghina yang tidak bisa berbuat apa apa, juga hanya bisa terdiam saja. Dia hanya berharap suaminya ini bisa cepat berbagi dengan dirinya. Ghina menunggu reaksi Aris dengan penuh kesabaran.


"Sayang" panggil Aris lagi.


"Sayang jujur ya. Dari tadi sayang sayang mulu tapi nggak juga ngomong ngomong" ujar Ghina yang sedikit kesal dengan Aris yang terus aja manggil manggil tapi nggak jadi jadi ngomong.


"Hahahaha. Jangan cemberut sayang" ujar Aris yang tertawa tetapi tawanya tidak sampai ke mata Aris.


"Jangan ketawa kalau nggak sampai tawa kamu ke mata sayangku cintaku suamiku" ujar Ghina sambil menjewer telinga Aris.


"Hehehehe. Sayang" panggil Aris lagi.


"Nah kan mulai lagi. Capek ah sayang dipanggil terus." ujar Ghina yang pura pura merajuk.


"Jangan merajuk kalau nggak mampu" ujar Aris gantian menyindir Ghina.


"Hahahahahaha" Ghina tertawa mendengar jawaban suaminya itu.


"Balas kamu ya sayang." ujar Ghina lagi.

__ADS_1


Ghina tersenyum melihat suaminya sudah kembali lagi. Suaminya sudah mau kembali bercanda dengan dirinya.


"Sayang, aku mau cerita. Aku udah mendingan. Kayaknya memang dengan bercerita semua beban ini akan pergi dari kepalaku." ujar Aris.


Aris kemudian kembali menelentangkan badannya. Dia tetap menggunakan paha istrinya sebagai bantal untuk kepalanya.


"Sayang, aku tau kamu pasti tau semua cerita tentang keluargaku. Tapi aku nggak habis pikir, kenapa kamu merahasiakan dari aku sayang?" ujar Aris menatap mata Ghina.


"Sayang aku nggak ada maksud untuk merahasiakan semuanya dari kamu. Aku sebenarnya mau menceritakan kepada kamu. Tapi saat itu kamu dan aku luar biasa sibuknya. Jangankan untuk bercerita untuk bercinta aja kita nggak sempat. Padahal aku pengen." jawab Ghina sambil menatap jahil ke arah suaminya.


"Ye" jawab Aris sambil menjawil hidung istrinya itu.


"Sayang, aku serius." lanjut Aris meminta keseriusan istrinya itu.


Ghina mengangguk. " Oke kita akan berbicara dengan serius." jawab Ghina.


"Sayang, aku minta saat aku menceritakan semuanya, kamu jangan marah sama aku dan Argha ya. Kami sangat mencintai kamu dan tau kamu sedang banyak kerjaan makanya kami tidak menceritakan semuanya." ujar Ghina meminta Aris untuk tidak marah kepada dirinya dan Argha.


"Sayang, aku tidak akan marah dengan kalian berdua. Aku tau kalian berdua memiliki niat baik. Aku mencintai kalian berdua, kalian berdua berbuat seperti itu karena paham dan sayang dengan aku. Aku sangat bersukur memiliki kamu dan Argha." ujar Aris sambil membalas tatapan Ghina.


Ghina kemudian menceritakan semuanya kepada Aris. Tak satupun yang ditutupi oleh Ghina. Ghina juga menceritakan permasalahan ada ruangan khusus di kamar Papi yang ditemukan oleh Argha.


"Ada kamar lain? Maksudnya?" tanya Aris penasaran.


"Iya sayang, di dalam kamar Papi ada lagi satu kamar yang berisi semua fhoto dan keneng kenangan Mami Erlin." ujar Ghina lagi sambil membelai wajah suaminya.


"Berarti selama ini aku udah di tipu Papi ya sayang?" tanya Aris lagi.


"Sayang, kamu bukan ditipu sayang, Papi hanya tidak ingin kamu merasa punya ibu tiri. Papi tidak pernah bermaksud buruk kepada kamu sayang." ujar Ghina berusaha kembali membuat Aris percaya dengan Papi.


"Aku percaya Papi tidak memiliki niat buruk kepada aku. Tapi kenapa Papi menutupinya sayang. Itu yang jadi pertanyaan terbesar bagi diriku sekarang." ujar Aris kembali.


"Sayang bagaimana kalau kita ke kantor Papi sekarang supaya kamu bisa kembali tenang. Satu hal yang bisa aku yakinkan kepada kamu bahwasanya kami semua sangat sayang kepada kamu. Makanya kami berbuat seperti itu." ujar Ghina kembali meyakinkan Aris.


"Aku tidak meragukan kasih sayang semua keluarga kepada aku sayang. Aku percaya dan yakin akan hal itu. Tapi aku butuh pencerahan dari Papi." ujar Aris kembali.


"Oke. Mari ke kantor Papi sekarang." ajak Ghina.


Aris memakai kembali jas kantornya. Dia menggandeng tanhan Ghina. Mereka berdua akan menuju perusahaan Papi untuk mendapatkan cerita sebenarnya tentang semua kejadian ini


Aris dan Ghina masuk ke dalam mobil. Aris melajukan mobilnya menuju perusahaan Papi. Sepanjang jalan Aris selalu menggenggam tangan Ghina.


"Sayang, kamu tidak ke markas hari ini tidak apa apa kan sayang?" tanya Aris kepada Ghina yang teringat kalau Ghina harus ke markas sekarang.


"Tidak apa apa sayang. Besok juga bisa ke sana. Sekarang yang terpenting kamu dan Papi tidak ada kesalahpahaman lagi. Sehingga pikiran kamu menjadi tenang." ujar Ghina yang paham dengan kondisi Aris.


"Makasi sayang, kamu sudah paham dengan keadaan diriku." kata Aris sambil mencium tangan Ghina.


"Nyonya muda benar benar membuat Tuan muda berubah. Dahulu setiap menyapa Tuan muda kita hanya mendapat hadiah wajah dinginnya. Sekarang Tuan muda sudah tersenyum dan senyumnya manis sekali" ujar salah seorang karyawan.


"Wow senyum Tuan muda membuat saya meleleh" ujar salah seorang karyawan.


Aris dan Ghina masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.


"Senyum Tuan muda manis." ujar Ghina mulai mengejek suaminya itu.


"Ternyata senyum tuan muda uwow" ujar Ghina kembali mengatakan apa yang dikatakan oleh para karyawan yang mereka dengar tadi.


"Ternyat pengaruh Nyonya muda begiti besar ke Tuan muda." ujar Aris membalas perkataan Ghina tadi.


"Iyalah, aku kan pengaruhnya luar biasa untuk dirimu sayanhmg. Dulu kamu seperti kulkas dingin. Kalau sekarang lumayanlah ya. Apalagi kalau di atas ranjang uwow." ujar Ghina kembali.


"Uwow ganasnya ya sayang." jawab Aris.


"Ganas banget, luar biasa ganas. Sampe pengen patah ne pinggang." jawab Ghina.


Ting, karena percakapan nggak bermanfaat itu mereka tidak sadar kalau sudah sampai di lantai tempat ruangan Papi.


"Sayang jangan pakai marah marah." ujar Ghina mengingatkan Aris.


"Nggak sayang, aku nggak akan pakai acara marah marah. Aku akan mendengar semua cerita dari Papi. Aku yakin Papi berbuat seperti itu demi kebaikan aku." ujar Aris dengan yakin.


Sekretaris Budi yang melihat kedatangan Aris dan Ghina yang mendadak tanpa pemberitahuan membuat sekretaris Budi kaget. Hal ini terlihat dari wajah sekretaris Budi.


"Tuan Muda, Nyonya muda" ujar sekretaris Budi menyapa Aris dan Ghina.


"Siang sekretaris Budi." jawab Ghina.


"Apa Papi ada di dalam?" tanya Ghina lagi.


"Ada. Silahkan masuk" ujar sekretaris Budi.


Sekretaris Budi membukakan pintu ruangan Papi. Papi yang kaget menatap sekretaris Budi.


"Maaf Tuan Besar, ada Tuan Muda dan Nyonya Muda." ujar sekretaris Budi menyampaikan siapa yang datang.


"Oh suruh masuk saja Budi." jawab Papi.


Papi dan asisten Hendri saling tatap. Mereka sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Aris kepada Papi. Asisten Hendri kembali membuka brangkas milik Papi. Dia mengambil kembali semua bukti bukti tentang Erlin Soepomo.

__ADS_1


Aris dan Ghina masuk ke dalam ruangan Papi. Mereka duduk di sofa yang ada. Papi yang melihat anak dan menantunya duduk di sofa juga pindah ke sofa.


"Tumben datang nggak ngasih tau?" tanya Papi kepada Aris dan Ghina.


"Ada yang memiliki sedikit beban di kepalanya Pi. Makanya jadi datang ke sini secara mendadak." ujar Ghina sambil menatap suaminya.


Papi paham dengan maksud Ghina.


"Oooo jadi ghitu Ghin. Ada yang masih ngeganjel di kepalanya" ujar Papi kembali sambil menatap Aris.


Aris menatap Papinya dengan tatapan bermakna tolong jelaskan kepada saya semuanya.


Asisten Hendri datang memberikan semua bukti bukti kepada Papi. Papi meletakan saja bukti bukti tersebut di atas meja ruangan Papi.


"Tuan besar sebelumnya saya minta maaf. Saya mau bertanya kepada Tuan muda, apakah Tuan muda tidak keberatan kalau saya masih berada di ruangan ini?" tanya asisten Hendri kepada Aris.


"Nggak apa apa paman. Aris malah senang paman berada di sini. Jadi informasinya semakin langkap. Aris sangat tau Paman selama ini, paman selalu berada di sisi Papi." ujar Aris menyetujui kehadiran asisten Hendri di antara mereka.


Papi menatap Aris. Aris menatap kembali Papi.


"Aris, Papi akan menceritakan semuanya kepada kamu sekarang." ujar Papi.


Semua yang berada di dalam ruangan Papi memilih untuk diam. Mereka semua akan mendengarkan cerita dari Papi tentang Erlin Soepomo.


"Aris, kami menikah sudah dua tahun lamanya tetapi kami masih belum juga diberi kepercayaan oleh Tuhan dengan hadirnya seorang anak di tengah tengah kami. Tepat pada usia dua tahun pernikahan kami, kamu hadir di tengah tengah kami. Kami luar biasa sangat bahagia karena kehadiran kamu. Tak terbayangkan betapa bahagianya kami saat itu." ujar Papi.


Papi mengusap air matanya yang berlinang itu. Papi membayangkan betapa bahagianya dirinya dan Erlin waktu mendapat kabar bahagia itu.


Papi kemudian memceritakan semuanya kepada Aris. Papi juga tidak ada menutupi apapun dari Aris. Akhirnya Papi selesai menceritakan semuanya kepada Aris.


"Apa ada yang mau kamu tanyakan nak?" tanya Papi kepada Aris.


"Pi kenapa Papi bisa menikahi wanita ular itu?" tanya Aris.


"Papi menikahi dia karena Papi menyangka dia benaran wanita yang baik. Wanita yang luar biasa. Ternyata malah sebaliknya." ujar Papi.


"Papi minta maaf Ris. Benar benar minta maaf karena keegoisan Papi kamu jadi seperti ini." ujar Papi sambil mengusap air matanya.


Aris berjalan ke arah Papi. Aris langsung memeluk Papi.


"Papi, Aris bangga menjadi anak Papi terlepas dari semua masalah yang ada." ujar Aris sambil memeluk Papi.


Tak terasa air mata Aris jatuh berlinang. Aris mengusap air mata tersebut.


"Aris sekarang hanya butuh Papi, Ghina dan tiga orang anak Aris. Aris nggak butuh Mami. Bagi Aris pusat dunia Aris adalah kalian semua." ujar Aris sambil tersenyum bahagia.


"Jadi apa kamu masih penasaran dengan ruangan tersembunyi itu?" tanya Papi kepada Aris.


Aris menggeleng.


"Nggak Pi." jawab Aris.


"Iya Pi" jawab Ghina.


"Ye dia yang semangat" ujar Aris mencemeeh Ghina.


"Iyalah semangat bagaimana tidak Argha aja udah tau." kata Ghina tanoa sadar.


"Argha tau?" tanya Papi lagi.


"Iya. Argha tau. Emang Papi nggak tau Argha tau ruangan itu?" tanya Ghina.


"Enggak." jawab Papi.


"Hahahahaha. Papi Papi. Argha sudah masuk ke sana dan sampai tidur di sana." ujar Ghina menjawab.


"Udah lama dia tau Ghin?" tanya Papi kembali.


"Udah sangat lama." jawab Ghina.


"Anak itu emang wow. Dia bener bener tak terduga." ujar Papi.


"Pi makan siang yuk. Laper." ajak Aris yang cacing cacing di perutnya udah berdendang.


"Lapar juga Ris?" tanya asisten Hendri.


"Lapar sekali" jawab Aris.


"Ye akhirnya dia merasakan kelaperan juga. Padahal tadi. Hua " ujar Ghina menggoda Aris.


"Hua gimana Ghin?" tanya Papi yang penasaran.


"Iya Pi. Masak mau ngomong aja dramanya panjang sekali. Heran Ghina sama suami Ghina ini" ujar Ghina.


"Hahahahahaha. Kamu baru tau ya Ghin, Aris ini lebay? Kami sudah lama tau. Jadi kamu luar biasa bersabar menghadapinya mulai hari ini ke atas. Papi hanya bisa mendoakan dirimu." ujar Papi ikut menggoda Aris.


"Hem mulai ya mulai. Bully terus." balas Aris sambil tersenyum.


"Udahlah udah, kita lanjut makan siang dulu. Laper banget ini." kata Papi yang tidak ingin ada keributan lagi.

__ADS_1


Mereka berempat pergi makan siang bersama ke kafe Bayu. Masalah antara Papi dan Aris sudah terselesaikan. Sekarang tinggal Aris dengan Mami. Karena menurut pengakuan Mami sendiri, Mamilah penyebab kematian Ibu kandung Aris. Makanya Aris akan membuat perhitungan dengan Mami


__ADS_2