
Gina yang selesai memasak untuk makan malam keluarganya melangkahkan kakinya menuju kamar mereka di lantai dua. Gina akan membersihkan badannya terlebih dahulu. Acara makan malam akan dilakukan setelah sholat maghrib berjamaan. Kebiasaan dua keluarga ini sama, kalau keluarga lengkap maka mereka akan sholat berjamaah di musholla rumah.
Selesai mandi Gina sudah menyiapkan baju koko dan kain sarung untuk dipakai Aris sholat maghrib nanti. Gina kemudian beranjak untuk memanggil Aris ke ruang kerjanya.
Tok tok tok, bunyi pintu ruang kerja di ketuk dari luar, Aris kemudian melihat cctv siapa yang berani mengetuk pintu itu saat dia sedang bekerja. Ternyata yang mengetuk pintu adalah istri tersayangnya, wajah Aris yang tadinya sudah kesal mendadak menjadi tersenyum. Bram yang heran langsung melihat layar monitor.
"Hm pantesan, bucinnya depan pintu." ucap Bram, sambil langsung membukakan pintu untuj Gina supaya bisa masuk kedalam ruang kerja.
"Masuk Gin." ucap Bram sambil membuka pintu ruang kerja.
Gina kemudian masuk dan langsung menuju meja kerja Aris.
"Sayang waktunya mandi, sebentar lagi mghrib loh." ucap Gina sambil duduk dipangkuan Aris.
Bram yang melihat hal langka itu langsung memalingkan mukanya. Dia merasa terbebani dengan status jomblonya ini.
"Nasib jomblo akut" ucap Bram sambil langsung keluar menuju kamarnya.
"Hahahahahahahaha" Aris dan Gina menertawakan Bram yang pergi dengan wajah kesal itu.
"Yuk sayang, kita mandi" ucap Aris sambil tiba tiba menggendong Gina.
"Sayang aku bisa jalan sayang."
"Aku juga bisa gendong." ucap Aris dengan bangganya.
Gina pasrah saja dengan apa yang dilakukan Aris. Gina mengalungkan tangannya ke leher Aris. Dia juga menyurukkan mukanya di dada bidang Aris. Gina tidak ingin kemesraannya dilihat oleh seluruh maid di rumah utama. Mereka berdua sampai di kamarnya
"Kamu udah mandi sayang?" ucap Aris yang melihat Gina langsung duduk di sofa.
"Sudah sayang. Siap mandi aku langsung manggil kamu ke ruang kerja. Kamu mandi sana, air sudah aku siapkan dari tadi."
Aris kemudian pergi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Gina dia menyalakan televisi di kamar untuk melihat lihat siaran yang bagus. Ternyata sudah sekian kali tukar yang disaksikan oleh Aris, tidak satupun siaran televisi yang memikat hati Gina.
"Mau nonton apa sayang, dari tadi hanya di tukar terus." ucap Aris sambil mengeringkan rambutnya.
Gina kemudian berjalan ke arah Aris. Dia mengambil handuk yang diseka Aris ke kepalanya. Gina kemudian mebgajak Aris untuk duduk di depan cermin riasnya. Gina mengambil haidrayer dari dalam salah satu laci meja rias. Dia kemudian mengeringkan rambut Aris.
Aris yang melihat rambutnya setengah kering langsung memakai baju koko dan celana yang sudah disiapkan Gina. Aris juga labgsung memakai sarung dan kopiahnya. Aris terlihat sangat tampan. Gina pandai memadupadankan warna agar telihat serasi. Setelah merasa penampilannya sudah oke, Aris dan Gina turun menuju mushalla.
__ADS_1
"Gin, loe nggak sholat?" tanya Bram yang melihat Gina duduk di taman dekat mushalla.
"Nggak kak. Lagi plat merah."
"Sejak?"
Gina terdiam dia tidak tau akan menjawab apa kepada Bram.
"Hahahahaha, Aris aris, kasian banget loe" kata Bram sambil langsung masuk ke dalam musholla.
Bram yang baru datang langsung diminta papi untuk azand. Bram langsung saja mengumandangkan azand dengan suara merdunya. Gina langsung melongo tidak percaya suara Bram bisa seindah dan semerdu itu. Sholat kali ini papi yang akan menjadi imamnya. Mereka semua menjalankan sholat dengan sangat khusuk. Gina setia menunggu di taman dekat mushalla.
Sayang, ayuk." kata Mami kepada Gina.
Gina kemudian melihat ke sekelilingnya, dia tidak melihat Aris keluar dari mushalla.
"Sayang, mereka akan keluar saat kita sudah siap menghidangkan makan malamnya." ucap mami yang tau siapa yang dicari Gina.
"Ooo gitu Mi. Ya udah mari kita bersiap Mi" ucap Gina sambil menggandeng tangan Mami menuju ruang makan.
Gina dan Mami dibantu dengan dua orang maid sibuk menata makanan di atas meja makan. Tak berapa lama semua sudah terhidang dengan sangat rapi. Seorang maid di minta mami untuk memanggil papi dan yang lainnya di mushalla.
"Jadi aku siapa ngambilin?" ucap Bram yang melihat piringnya tidak ada yang bersedia mengisikan nasi.
"Mami yang ambilin. Nggak mungkin kan kakak iparmu yang ngambilin. Diganyang Aris baru tau rasa kamu" ucap Mami yang kemudian mengambilkan Bram nasi dan lauk.
"Mam kok beda ya rasa masakannya dengan yang biasa." ujar papi dengan mengunyah sangat pelan. Pai merasakan setiap bumbu dari masakan yang dia makan.
Bram yang penasaran dengan apa yabg dikatakan Papi langsung mengunyak makanannya. "Mami benar, kok beda dari yang biasanya." ucap Bram yang setuju dengan pendapat papi.
Mami kemudian mencoba makanannya dan rasanya memang sangat berbeda dari yang mereka makan. Mami kemudian menatap Gina. Gina yang ditatap Mami langsung meremas paha Aris. Gina takut rasa makanannya kali ini tidak enak.
Aris kemudian mencoba makanan yang diambilkan Gina, rasanya sangat enak sekali, memang berbeda dengan masakan mami atau maid di rumah. Aris hanya diam saja, Aris tidak mengatakan apapun kepada Gina. Aris mau membuat Gina penasaran dengan rasa masakannya sendiri.
"Mi, siapa yang masak mi?" ujar Papi.
"Papi, maaf kalau masakannya nggak enak. Itu bukan salah Mami atau maid. Tapi Gina yang masak papi. Maaf kalau tidak sesuai selera Papi, Mami dan Kak Bram. Gina janji Gina akan mengubah bumbunya seperti bumbu yang biasa dipakai mami" ucap Gina.
"Gin, ini masakan sempurna enaknya. Rasa masakan restoran bintang lima. Ini bukan kalah enak dari masakan Mami, tapi luar biasa enak dari masakan kepala koki rumah ini" kata Bram dengan nada bangganya.
__ADS_1
Gina kemudian menatap ke Aris. Aris menganggukkan kepalanya tanda menyetujui apa yang dikatakan oleh Bram.
"Benar Gina ini makanan sangat enak. Kalau begitu setiap kita makan malam Gina yang masak, jangan Mami lagi. Mulai hari ini Mami diistirahatkan dari segala perihal memasak makan malam dan sarapan. Kalau siang terserah Mami." kata Papi dengan lugasnya.
"Ooo jadi mentang mentang ada mantu jadi nggak suka masakan istri lagi. Kamu juga Bram, mentang mentang ada kakak ipar jadi nggak suka lagi dengan masakan Mami" ucap Mami pura pura kecewa.
"Mami nggak usah ecting." ucap papi yang udah tau mami akan membuat drama korea dengan judul mamai yang dilupakan.
"Gina berarti mulai besok kamu yang masak sarapan dan makan malam ya sayang" ucap Mami dengan muka cerah, mami jadi tidak perlu bangun terlalu pagi mulai besok.
"No Mam, Pap. Gina akan masak untuk makan malam. Sedangkan sarapan kalau Aris makan di rumah baru Gina masak. Tapi kalau Aris tidak sarapan di rumah maka Gina nggak boleh masak. Enak aja nyuruh nyuruh istri Aris." ucap Aris yang mulai protektif itu.
"Sayang, nggak apa apa. Walaupun kamu nggak sarapan di rumah, bekalnya kan bisa bawa kantor " ucap Gina sambil memamerkan senyuman terbaiknya. Aris yang mendapat senyuman langsung luluh hatinya.
"Baiklah tapi nggak boleh kecapekan" ucap Aris dengan nada yang tidak bisa di tawar lagi.
"Siap bos" ucap Gina.
Mereka kemudian langsung menikmati makan malam yang sempat tertunda itu. Mereka makan dalam diam, karena sudah kebiasaan keluarga Soepomo makan tidak ada yang berbicara.
Selesai mereka makan, mereja semua langsung masuk kamar masing masing karena sudah sangat lelah seharian beraktifitas. Untung saja papi yang punya ide masuk kamar kalau tidak bakalan ada acara duduk di ruang keluarga terlebih dahulu.
"Sayang besok kamu kantor?" kata Gina kepada Aris.
"Iya sayang kenapa?"
"Nggak ada nanyak aja." ucap Gina.
"Kamu mau kantir juga?"
"Emang boleh?"
"Boleh selagi belum isi. Tapi kalau udah ada Aris junior di sini maka kamu harus berhenti bekerja." ucap Aris. Aris sangat paham kalau Gina sangat suka mendesain makanya Aris tidak.melarang Gina untuk ke kantor.
"Makasi sayang. Muach. Sayangnya masih plat merah kalau ndak, udah di kasih hadiah kamu sayang" kata Gina menggoda Aris.
"Sayang" ucap Aris.
"Hahahahahaa"
__ADS_1
Mereka kemudian langsung tidur, karena besok akan berangkat untuk bekerja kembali. Memulai rutinitas seperti biasanya kembali. Gina memasang alarm pukul empat pagi. Dia akan memasak sarapan untuk keluarga barunya. Gina tidak ingin gara gara karier urusan rumah tangganya terbengkalai. Gina akan membagi waktunya dengan sangat cermat. Dia tidak ingin mengorbankan salah satunya.