Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kado dari Aris


__ADS_3

Pagi hari di kamar rumahnya, Gina terbangun dari tidur panjangnya. Dia melihat Aris masih tertidur sambil memeluk dirinya. Gina tau Aris kurang tidur dari semalam. Hal ini disebabkan karena Gina yang mulai merasakan susah tidur. Akibatnya Aris berusaha untuk selalu menemani Gina.


"Aku mencintaimu sayang. Aku sangat bersyukur bisa menikah dengan pria sebaik dan setampan dirimu. Masalah kekayaan itu adalah bonus yang diberikan tuhan kepadaku." ucap Gina sambil membelas pipi Aris. Gina memberikan kecupan singkat dibibir Aris yang sedikit terbuka.


Gina terus memandangi Aris. Ia takut bergerak karena sedikit saja Gina bergerak maka Aris akan terbangun dari tidurnya. Aris tipe pria yang tidurnya sangat gampang terganggu.


"Sayang jangan pandangi aku seperti itu, nanti kamu makin jatuh cinta sama aku." ucap Aris kepada Gina. Aris berkata masih dalam keadaan matanya yang terpejam.


"Mana ada aku mandang kamu. Geer nya Tuan Muda Soepomo." jawab Gina yang malu ketahuan oleh Aris, dia sedang memandangi Aris.


"Ye pake nggak ngaku segala. Akui aja sayang. Kamu kagumkan punya suami seperti aku ini." ucap Aris kepada Gina.


"Sayang sayang, aku sepertinya nanti harus bertanya ke Mami." kata Gina sambil menatap langit langit kamar mereka.


"Mau tanya apa?" kata Aris sambil menatap Gina.


"Mau tanya kenapa bisa melahirkan seorang anak yang kepedean seperti dirimu." lanjut Gina dengan lempengnya.


"Palingan jawab Mami. Memang anak Mami itu ganteng dan paket komplit Gina." kata Bram menjawab dengan cara seperti apa gaya berbicara Mami.


Mereka kemudian terdiam sesaat. Setelah terdiam mereka serentak melihat ke masing masing pasangan.


"Apa?" tanya Aris.


"Mandi sana. Aku pengen jalan jalan. Oh ya sayang aku baru ingat, kita belum memberikan hadiah dari kita untuk Bayu dan Mira. Kita kasih sekarang yuk sayang. Aku udah kuat lagi." kata Gina sambil duduk dari tidurnya.


"Sip. Kita mandi bareng yuk. Aku gosok punggung kamu itu, biar dakinya ilang." kata Aris sambil menatap Gina.


"Janji ya hanya menggosok punggung nggak ada yang lain."


"Emang pernah aku Aris Soepomo melanggar apa yang aku katakan?" kata Aris menatap Gina dengan dalam.


"Pernah tapi dulu." jawab Gina sambil menyengir kuda.


"Itu namanya khilaf."


"Ya lah yang khilaf. Udah ayuk mandi nggak selesai selesai nanti memperdebatkan hal khilaf itu." kata Gina sambil melepas piyama tidurnya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Aris juga mengikuti yang dilakukan Gina. Dia membuka bajunya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Aris menepati apa yang dikatakannya. Dia memandikan Gina sampai bersih. Aris tidak menggerayangi tubuh istrinya. Aria tau Gina sedang kelelahan. Makanya dia tidak mau menganggu Gina. Aris akan bersabar untuk hal itu. Bagi Aria sekarang yang terpenting adalah Istri dan Anaknya sehat.


Mereka selesai mandi dan langsung berpakaiab santai. Hari ini mereka akan mengajak Bayu dan Mira ke tempat hadiah perkawinan dari Aris dan Gina.


Aris dan Gina yang kamar mereka sudah pindah ke lantai bawah langsung keluar menuju meja makan. Mereka akan sarapan dengan anggota keluarga yang lainnya. Semua anggota keluarga sudah duduk di kursi masing masing. Gina sangat senang karena salah satu sahabatnya sudah bisa sarapan dengan dirinya.


"Loh kalian udah rapi, mau kemana?" kata Mami yang penasaran melihat Aris dan Gina sudah berpakaian rapi.


"Mau jalan jalan sebentar Mi." jawab Gina sambil mengambilkan sarapan untuk Aris.


Mira yang melihat Mami dan Gina mengambilkan sarapan untuk Papi dan Aris juga melakukan hal yang sama untuk Bayu. Mira akan belajar dari semua yang dilakukan oleh Mami dan Gina.


"Ibun, aku?" tanya Daniel sambil mengangkat piringnya yang masih kosong. Belum ada tanda tanda sarapan di piring dokter tampan itu.


Gina mengambilkan sarapan untuk Daniel. Anak manjanya ini semakin manja semenjak di ejek oleh para Papinya.

__ADS_1


"Mi, noh nanti ngambek." kata Papi sambil melirik ke piring Bram yang juga kosong.


Mami mengambilkan sarapan untuk Bram. Setelah semua piring terisi mereka mulai sarapan dengan tenang. Hari ini Papi, Mami dan Bram akan ke perusahaan. Sedangkan Bayu dan Mira masih cuti.


Anggota keluarga yang lain sudah pergi ke tempat kerja masing masing. Tinggalah mereka berempat. Mereka lebih memilih duduk di kursi teras rumah, sambil mengobrol.


"Bay, loe ada acara keluar dengan Mira?"


"Nggak. Kenapa?" tanya balik Bayu yang penasaran kenapa Aris menanyakan kesibukannya.


"Ikut gue dengan Gina nanti ya." ujar Aris.


"Ke?"


"Ikut ajalah kak, nggak usah tanya ke nya." Gina yang menjawab pertanyaan Bayu dari atas ayunan.


"Oke lah kalau begitu." jawab Bayu kemudian yang tidak bisa bertanya lagi.


Setelah matahari mulai tinggi mereka memilih untuk masuk ke dalam rumah. Aris duduk di kursi mini bar. Sedangkan Gina sedang memasak puding buah kesukaan Aris.


"Sayang kita ke kamar yuk. Aku udah selesai sayang." ujar Gina kepada Aris.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Gina menaikan kakinya yang terlihat bengkak ke atas sofa. Aris yang melihat kaki istrinya membengkak langsung mengambil baby oil.


Aris duduk di ujung sofa. Dia mengangkat kaki Gina dan meletakan di pahanya.


"Mau ngapain sayang?" tanya Gina kepada Aris.


"Sini aku pijetin. Sepertinya kaki kamu bener bener bengkak sayang." ucap Aris.


"Sayang kenapa nangis?" tanya Gina.


"Kaki kamu seperti ini gara gara aku sayang." jawab Aris.


Gina duduk dari rebahannya, dia langsung memeluk suaminya yang sangat dicintainya itu.


"Aku ikhlas sayang. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu sayang" jawab Aris.


Aris melanjutkan memijat kaki Gina. Tidak terasa jam di kamar telah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Sayang udah jam sebelas. Kita telat satu jam dari janji dengan Bayu dan Mira." kata Aris sambil membangunkan Gina.


"Sayang, nanggung bentar lagi juga zuhur. Bilang aja sama mereka siap zhuhur sayang." alasan Gina kepada Aris. Padahal yang sebenarnya dia malas membuka matanya karena mengantuk.


"Bilang aja ngantuk. Tidur lagi aja, aku akan telpon Bayu mengatakan siap zhuhur aja nanggung." kata Aris sambil mengambil ponselnya.


Arias menghubungi Bayu mengabarkan kalau mereka akan berangkat sehabis zhuhur.


"Ada apa yang?" kata Mira kepada Bayu yang baru saja menerima telpon dari Aris.


"Kata Aris, kita pergi siap zhuhur. Jadi aku bisa dulu" jawab Bayu sambil menatap penuh arti kepada Mira.


"Ya ambil jatah lagi dia. Sayang aku capek ini." ujar Mira sambil pura pura kelelahan.

__ADS_1


"Menolak suami dosa loh sayang." ujar Bayu.


"Hahahaha. Mana ada bisa nolak. Aku juga suka." jawab Mira.


Mereka akhirnya beradu di atas tempat tidur. Mereka menghabiskan sisa siang ini dengan bergelut manja. Sedangkan Aris dan Gina lebih memilih bercerita di balkon kamar mereka sambil melihat kebun bunga Mami yang sedang bermekaran.


Siang harinya, Aris dan Gina sudah selesai bersiap siap dan sudah menjalankan kewajibannya. Mereka kemudian menunggu sepasang pengantin baru itu turun dari kamar.


"Sayang mereka lama kali." kata Gina sambil terus menatap ke lantai dua rumah itu.


"Kayak nggak pernah nyoba aja." jawab Ari sambil mengusap perut Gina.


Blip yang diusap Daddynya mulai kembali bergerak gerak dengan kuat.


"Sayang udah jangan ganggu Blip. Capek aku nahan tendangan Blip." ujar Gina sambil menahan tangan Aris supaya tidak bergerak gerak lagi di atas perutnya.


Setelah sekitar lima belas menit mereka menunggu akhirnya pengantin baru itu turun juga.


"Akhirnya turun juga ne makhluk dua." kata Aris sambil melihat Bayu dan Mira yang turun dari kamar mereka.


"Maaf lama Gin." kata Mira sambil tersenyum.


"Gue tau apa yang loe berdua lakuin. Santai aja kali. Gue juga pernah nyobak." jawab Gina dengan santainya.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Aris. Bayu duduk di sebelah Aris. Gina dan Mira duduk di kursi penumpang.


Aris melajukan mobilnya meninggalkan gerbang rumah utama, setelah itu Aris belok kanan. Aris melajukan mobilnya lurus saja. Setelah menempuh jarak sekitar sepuluh menit dari rumah utama, Aris memberhentikan mobilnya tepat di sebuah rumah berpagar tinggi, serta berhalaman luas.


"Ayuk turun." ajak Aris kepada Bayu dan Mira.


Mereka kemudian turun dari mobil. Aris memasukkan paswors yang merupakan tanggal pernikahan Bayu dan Mira. Mereka berempat masuk ke dalam rumah tersebut.


Betapa terkejutnya Bayu dan Mira saat melihat semua keluarga mereka sudah ada di depan pintu rumah. Serta spanduk yang dipegang oleh Bram dan Daniel yang bertuliskan dengan huruf kapital SELAMAT DATANG DI RUMAH BARU.


"Ris, apa maksud semua ini?" kata Bayu kepada Aris.


"Ya ini adalah hadiah dari gue dan Gina untuk elo dan Mira. Jadi kita nggak tinggal berjauhan berdekatan saja." kata Aris kepada Bayu.


Mereka berempat melangkahkan kaki menuju rumah besar itu.


"Passwordnya adalah tanggal pernikahan loe. Sama dengan password pintu gerbang." Aris memberitahukan password untuk membuka pintu rumah.


Bayu dan Mira membuka rumah tersebut. Mereka berdua meneteskan air mata saat melihat rumah sudah terisi penuh dengan berbagai peralatan rumah tangga. Fhoto keluarga berukuran besar sudah terpajang dengan cantik di dinding rumah.


"Ayuk kita lihat lihat." kata Mami kepada Bayu dan Mira.


Mereka mulai mengelilingi rumah baru itu. Mereka melihat semuanya dengan saksama. Semua detail rumah itu dibuat dengan sangat cermat. Semua peralatan rumah ditata dengan sedemikian rupa.


"Ini hadiah dari gue dan Daniel." ujar Bram sambil memberikan sebuah kotak kepada Bayu dan Mira.


Mereka membuka kotak tersebut. Bayu kembali kaget, karena dia mendapatkan lagi sebuah mobil soprt keluaran terbaru.


"Mami, Papi ini semua berlebihan." ujar Bayu.


"Nggak ada yang berlebihan kalau untuk keluarga nak." ucap Mami.

__ADS_1


Mereka kemudian duduk sambil bersantai di gazebo belakang rumah Bayu dan Mira. Dari rumah mereka, mereka dapat langsung melihat rumah utama. Tapi tetap kalau mau ke rumah utama mereka harus naik mobil golf. Jaraknya lumayan jauh kalau untuk jalan kakai.


__ADS_2