Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pemeriksaan Arga


__ADS_3

"Aris, Mami mau bicara sama kamu. Duduk." ucap Mami yang langsung mendatangi Aris ke kantornya setelah Mami tau kalau Aris tidak dalam keadaan sibuk. Mami bener bener ingin mengeluarkan Arga dari kehidupan Aris. Kalau masalah hubungan rumah tangga antara Aris dan Gina, Mami setuju dan tidak ingin merusak hubungan itu.


Aris yang tidak menyangka akan kedatangan Mami mendadak menjadi heran kenapa Maminya bisa datang dengan wajah panik itu. Wajah seperti menyimpan masalah yang harus disampaikan.


"Bawa duduk dulu Mi." jawab Aris sambil membawa sebotol air mineral untuk Mami.


Aris menuangkan air yang dibawanya tadi ke dalam gelas.


"Minum dulu Mi." ujar Aris sambil memberikan air tersebut kepada Mami.


Mami meminum air yang diberikan oleh Aris. Mami pura pura menenangkan dirinya. Akting Mami harus sempurna di depan Aris. Melihat Mami yang mulai tenang, barulah Aris akan membuka percakapan dengan Mami.


"Ada apa Mi?" tanya Aris dengan perlahan kepada Mami setelah melihat Mami kembali tenang.


"Sebelumnya Mami minta maaf sama kamu, kalau nanti Mami salah bercerita." ujar Mami sambil menunduk.


Aris memegang tangan Mami. Bram yang biasanya main masuk saja ke dalam ruangan Aris. Menjadi kaget saat dia melihat Mami yang menundukkan kepalanya. Bram kemudian membuka kembali pintu ruangan Aris bermaksud ingin kembali ke ruangannya.


"Bram, kamu duduk di sini saja." perintah Mami kepada Bram yang tidak membiarkan Bram meninggalkan ruangan. Mami juga ada maksud agar Bram duduk, biar Bram bisa meyakinkan Aris.


Bram akhirnya memilih untuk duduk kembali di sofa. Dia tidak tau ada permasalahan apa antara Mami dan Aris. Sepengetahuan Bram, mereka berdua baik baik saja.


"Kalau Mami udah tenang, silahkan Mami ceritakan" kata Aris kembali meminta kepada Mami untuk melnlanjutkan cerita Mami yang tertunda tadi.


"Aris, Bram, Mami mau bertanya kepada kalian berdua. Apakah menurut kalian perkembangan Arga sesuai dengan anak seusianya?" tanya Mami sambil menatap satu persatu anak anaknya.


"Maksud Mami? Aris kurang paham Mi." jawab Aris yang memang kurang paham dengan pertanyaan Mami.


"Maksud Mami begini Ris. Anak seusia Arga seharusnya sudah bisa berbicara. Sudah bisa bermain, makan dan ganti baju sendiri. Sedangkan Arga?" Mami menjelaskan pertanyaannya tadi kepada Aris.


"Oh sekarang Bram paham Mi. Maksud Mami, Arga telat dari anak seusianya kan ya?" Bram mulai bisa mengambil kesimpulan dari pernyataan Mami tadi.


Mami mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bram barusan.


"Mami, Aris sudah tau Arga memiliki keterlambatan dari anak seusianya. Gina sudah menceritakan semuanya kepada Aris. Tapi itu bukan suatu hal yang harus dicemaskan Mami. Karena perkembangan setiap anak itu berbeda Mami." jawab Aris menjelaskan kepada Mami.


"Tapi Aris, kamu jangan hanya sibuk di kantor saja, lalu percaya dengan istri kamu itu. Kamu harus lihat sendiri perkembangan anak kamu." teriak Mami yang mulai emosi.


Mami merasa gagal telah mempengaruhi Aris. Sekarang dia harus pakai akting meneteskan air mata di depan Aris.


"Ma....Ma...Mami hanya mau yabg terbaik untuk keluarga kita Ris. Apa Mami salah?" tanya Mami sambil menghapus air matanya.


Aris yang semula sudah tau maksud Mami, kembali terenyuh dengan sikap Mami barusahan.


"Mami, maafkan Aris Mi. Aris tau maksud Mami baik. Aris akan mengurangi kesibukan Aris di kantor. Aris akan selalu mengikuti kegiatan Arga." jawab Aris yang menginginkan Mami tidak marah atau berbeda pendapat lagi dengan dirinya.


"Sayang bukan maksud Mami mengadu domba antara kamu dengan Gina. Tetapi sepertinya Gina menyimpan sesuatu dari kamu sayang." ujar Mami kembali berusaha menghangatkan suasana antara Aris dan Gina.


"Maksud Mami?" Aris mulai terpancing umpan Mami.


"Kamu perhatikan sendiri. Mami nggak mau kamu tau dari Mami." jawab Mami.


"Mami pulang dulu Ris. Mami mau masak makan malam." ujar Mami yang tujuan utamanya telah tercapai yaitu membuat Aris penasaran dengan semua tingkah laku Arga dan Gina.


Sepeninggal Mami, Aris termenung lama. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa. Bram hanya bisa mengamati Aris. Dia pasti akan bertanya kepada Gina. Selama ini Gina tidak pernah menutupi sesuatupun dari Bram. Aris terlihat sangat menanggung beban berat. Dia begitu tidak bergairahnya. Bram sampai tidak tau harus berbuat apa. Aris sama sekali tidak ada bercerita tentang masalahnya.


"Ris, apa aku harus mencari tau tentang semua ini?" tanya Bram ingin memecah kebuntuan di kepala Aris.


"Aku nggak tau Bram. Apakah aku harus percaya dengan cerita Mami atau dengan cerita Gina?" jawab Aris sambil memijit kepalanya yang tiba tiba pusing itu. Ntah siapa yang harus dipercayainya membuat Aris ragu.


"Kamu tau Bram semenjak kejadian pengusiran Daniel dari rumah utama, Gina jauh berubah kepada gue." ucap Aris yang mulai bercerita kepada Bram.


"Tau nggak loe Bram, waktu kejadian pengusiran Daniel itu gue sempat menampar Gina. Sesuatu yang nggak pernah gue lakuin ke Gina." Aris melanjutkan ceritanya.


Bram yang mendengar Aris tega menampar Gina hanya bisa menatap Aris dengan tatapan tidak percayanya.


"Kamu menampar Gina, Ris?" tanya Bram tidak percaya dengan semuanya.


Aris mengangguk mengiyakan ceritanya.


"Kok bisa Ris?" tanya balik Bram.


"Gue nggak tau Bram. Reflek gue menampar Gina karena Gina membela Daniel. Padahal sudah terbukti kalau Daniel yang mengambil perhiasan Mami. Gue sangat menyesal telah melakikan itu kepada Gina " ujar Aris sambil menatap langit langit ruangan kerjanya yang mendadak rasa mau runtuh menimpa Aris.


"Terus hubungan loe dengan Gina semenjak tragedi penamparan itu bagaimana?" Bram mulai kepo dengan kehidupan Aris. Sesuatu yang bary diketahuinya.


"Dia hanya menjawab kalau gue bertanya. Dia tidak sehangat dulu lagi Bram. Sepertinya dia kembali terluka oleh tamparan itu. Gue nyesel Bram telah menamparnya, tapi saat itu gue beneran emosi, gue nggak bisa mengontrol emosi gue. Gue beneran khilaf." tutur Aris kepada asisten sekaligus sahabat dan adiknya itu yang selalu setia kepada Aris.


"Apa loe sudah berbicara baik baik dengan Gina?" tanya Bram.


"Udah. Malam itu juga gue berencana meminta maaf kepada Gina. Tapi Gina mengunci kamar Arga dari dalam. Gue udah memanggil manggilnya, tetapi dia tidak mau membuka pintu, jangankan buka pintu menjawab panggilan gue saja dia tidak mau." lanjut Aris menceritakan nasibnya kepada Bram.


"Sekarang?" tanya Bram balik.


"Sekarang gue udah minta maaf. Gina hanya mengangguk saja, dia tidak mengatakan iya aku memaafkan kamu, tidak sama sekali. Aku melihat kekecewaan dari matanya." kata Aris dengan penuh keputusasaan.


"Apa loe sudah berusaha membujuknya?"


"Membujuk maksud loe?" Aris mulai penasaran dengan pertanyaan Bram.

__ADS_1


"Haduh Aris, loe belikan kek dia perhiasan, tas, atau sepatu mahal." ujar Bram memberikan ide yang sudah tau akan gagal itu.


"Aduh Bram, loe kayak nggak tau Gina aja. Mana mau dia memakai barang barang seperti itu. Dia tidak seperti cewek kebanyakan yang diberi hadial mahal langsung luluh, dia Gina Bram. G...I....N...A" kata Aris dengan menekankan setiap huruf menyebut nama Gina.


Bram berpikir sesaat. Mendadak dia mendapat ide yang dia sangat yakin kalau Gina pasti akan mau melakukannya.


"Gimana kalau loe mengajak Gina dan Arga ke taman bermain?" ujar Bram kemudian.


"Ide mantap. Besok gue akan ke taman bermain dengan mereka berdua. Ide loe cemerlang, gue memang sudah lama tidak ke taman bermain dengan Gina dan Arga. Terakhir kapan ke sana gue sudah lupa." jawab Aris mengingat kapan dia terakhir kali ke taman bermain.


Bram yang melihat Aris kembali bersemangat melanjutkan cerita tentang kerjasama dengan beberapa perusahaan baru. Kerjasama yang pertama kali baru akan mereka lakukan.


.


.


.


.


Gina yang hari ini sudah ada janji dengan Anggel dan Rani sudah bersiap siap, begitu juga dengan Arga. Mereka berdua harus pergi sebelum nenek lampir itu pulang ke rumah yang akan membuat mereka kesulitan nantinya untuk pergi. Gina sudah muak mendengar semua sikap Mami kepada dirinya. Telinga Giba bener bener udah tidak sanggup lagi mendengar kata kata makian dari Mami. Ingin rasanya Gina membalas, tapi Gina masih ingat ibu mertua sama dengan ibu kandung seperti pesan Ayah kepada Giba saat Gina mengutarakan ingin menikah dengan Aris.


"Ma, na?" tanya Arga yang sudah mulai bisa merangkai kata kata walau itu belum terlalu jelas.


"Kita mau ke tempat kak Anggel dan kak Rani. Arga mau kan sayang?" tanya Gina sambil menggendong putra kesayangannya itu.


"Ga, au Ma" jawab Arga sambil tersenyum bahagia, Arga membayangkan akan bermain dengan dua kakak cantik.


Gina kemudian meletakan Arga di kursi sebelah supir, Gina memasangkan seltbelt Arga. Setelah yakin Arga aman barulah Gina duduk di kursi kemudi.


"Siap sayang?" tanya Gina sambil menatap Arga.


"Iap" ujar Arga.


"Kita berdoa dulu"


Gina meminpin doa. Arga mengangkat kedua tangannya. Arga fokus dalam berdoa. Sesuatu kegiatan yang paling sangat disenangi Arga.


"Aamiin" ujar Gina menutup doa.


"Miin" jawab Arga sambil mengusapkan kedua tangannya ke muka.


Gina melajukan mobilnya menuju tempat praktek Anggel yang baru. Tempat yang disiapkan oleh Afdhal. Tempat praktek yang seperti rumah sakit mini, di sana terdapat dokter dokter terbaik di bidangnya.


Gina melajukan mobil dengan kecepatan biasa saja. Gina sangat senang melihat Arga yang antusias dengan semua benda yang di lihat nya.


"Ma, A" ujar Arga sambil memegang pipinya saat mengucapkan huruf A.


"Ntu, A" ujar Arga kembali sambil menunjuk huruf A di plat nomor mobil yang berada di depan mereka.


"Wow, Arga pintar." ujar Gina sambil bertepuk tangan.


Arga yang melihat Gina bangga dengan dirinya semakin semangat. Dia berniat untuk menunjukkan kemampuannya kepada Gina. Arga ingin membuat Gina bangga kepada dirinya.


"E" kata Arga kembali saat melihat huruf E.


"Pintar lagi. Nanti Bunda akan ceritakan kepada kak Rani dan kak Anggel, kalau anak Bunda ni sudah pintar. Bunda bangga punya Arga, Arga pintar dan tampan." ujar Gina memuji Arga serta sambil mencubit pipi Arga.


"Hahahahahahahahaha" Arga tertawa dengan senang karena dia berhasil membuat Gina bangga kepada dirinya.


Tak terasa air mata Gina menetes di pipinya. Anaknya yang didiagnosa autis sudah menunjukkan perkembangan yang sangat berarti. Gina sangat senang mendengar setiap kata atau huruf yang diucapkan Arga. Walaupun kata kata yang diucapkan Arga belum jelas tetapi bagi Gina itu adalah sebuah kemajuan yang membanggakan.


"Ya Allah perjuangan Daniel, Frenya sudah mulai terlihat. Terimakasih ya Allah atas semua bantuan dan kesembuhan serta perkembangan yang diberikan kepada Arga. Aamiin" ucap Gina menutup doanya.


"Miin" jawab Arga sambil kembali mengusap mukanya dengan tangan. Arga sangat senang di minta untuk berdoa, walaupun dia hanya akan membaca miin saja.


Tak terasa mereka sudah sampai di tempat praktek Anggel. Mobil Gina bersamaan parkir dengan mobil dokter Rani. Arga yang melihat dokter Rani sudah turun, berusaha melepas seltbeltnya sendiri. Gina yang tau anaknya sudah tidak sabaran, membantu melepas seltbelt Arga.


Gina langsung gerak cepat, dia tidak ingin Arga tau cara membuka pintu mobil dari dalam, Gina membukakan pintu itu dari luar. Arga langsung berlari menuju dokter Rani yang sudah menunggu Arga di samping pintu mobilnya.


Arga kemudian menyalami dokter Rani dan mencium tangan dokter Rani. Arga menggandeng tangan dokter Rani dan mengacuhkan Gina.


Saat mereka mau masuk ke dalam tempat praktek, Gina mendengar klason mobil berbunyi. Gina memberhentikan langkahnya begitu juga dengan Arga yang langsung membalekan badannya melihat siapa yang turun dari mobil.


Seorang pria tampan dengan memakai jas kantoran dan sepatu penttofel mengkilap turun dari mobil mewah, mobil yang belum pernah di lihat oleh Gina. Gina yang penasaran berdiri di samping Arga dan Rani untuk melihat siapa yang turun.


Ternyata.


"Uda?" kata Gina tidak percaya dengan siapa yang turun dari mobil mewah itu.


"Om" ujar Arga yang langsung mengajak Rani untuk pergi dari sana.


"Kamu kira aku siapa?" tanya Afdhal yang melihat raut kekecewaan dari wajah adik cantiknya itu.


"Artis" jawab Gina ngasal.


"Hahahahahaha"


Afdhal kemudian menyambar badan Arga. Arga pertama menolak tidak ingin digendong oleh Afdhal.

__ADS_1


"Hay bocah gembul, apa kamu tau dimana ruangan tante Anggel?" tanya Afdhal sambil menatap ke arah Arga.


Arga menggeleng dengan lemah, dia tau dia kalah melawan Afdhal kali ini.


"Makanya di gendong biar tau. Kalau tidak maka kamu akan nyasar, nanto diculik oleh penculik yang suka makan anak anak." ujar Afdhal yang merasa menang telah mengelabui Arga. Kalau tidak dengan cara itu, maka Arga nggak akan mau digendong oleh Afdhal.


Sepanjang jalan Afdhal memberitahukan setiap ruangan yang ditunjuk oleh Arga. Afdhal tidak merasa lelah menggendong apalagi sambil mengatakan nama nama benda yang ditunjuk oleh Arga. Afdhal menikmati setiap moment itu dengan senyuman.


Tak terasa mereka berdua telah sampai di depan pintu ruangan Anggel. Afdhal mengetuk pintu ruangan. Anggel yang mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar langsung membuka pintu itu. Betapa kagetnya Anggel melihat Arga yang mau digendong oleh Afdhal.


"Kok?" tanya Anggel yang tidak menyangka itu bisa terjadi.


"Ditipu. Cup" Afdhal mencium pipi Anggel.


Setelah dicium Afdhal, Anggel menunggu Rani dan Gina di depan pintu.


Arga kemudian menangis dengan keras membuat Afdhal panik. Dia tidak tau kenapa Arga menangis.


"Kamu apain sayang?" tanya Anggel kepada Afdhal.


"Nangis sendiri" jawab Afdhal. Sambil berusaha mendiamkan Arga. Arga semakin keras teriakannya karena apa yang dimaunya masih belum juga di dapatkan.


Anggel yang kasihan melihat Arga terus menangis langsung berniat untuk menggendong bocah yang sedang mengamuk di dalam gendongan om nya. Tiba tiba saja tanpa di duga oleh Anggel dan Afdhal


Cup


Cup


Cup


"Hahahahahahaha" Arga tertawa senang karena berhasil mencium pipi Anggel. Sesuatu yang membuatnya menangis tadi.


"Dasar akal bulus. Mulai nampak karakternya, main sosor pacar kawan saja." ujar Afdhal sambil menggelitiki Arga.


"Mpun Om" ujar Arga.


Kata kata yang dikeluarkan Arga semakin membuat Afdhal menggelitikinya. Kelakuan Afdhal dibiarkan oleh Anggel. Dia ingin melihat apakah Arga emosi terhadap Afdhal.


Ternyata apa yang dilihat Anggel sangat diluar dugaan. Arga betul betul marah kepada Afdhal. Dia memukul Afdhal membabi buta. Anggel sampai susah untuk kembali menstabilkan emosi Arga. Setelah berjuang selama lima belas menit Arga kembali tenang. Gina dan Rani yang menunggu di kursi tunggu baru masuk saat Afdhal keluar sambil tersenyum.


"Kenapa uda?" tanya Gina penasaran.


"Dia bener bener kuat Gin. Aku habis dipukulinya." ujar Afdhal sambil duduk di kursi tunggu berdua dengan Gina. Dokter Rani sudah masuk ke dalam ruangan Anggel. Mereka akan melakukan pemeriksaan panjang terhadap Arga.


"Berapa lama Arga di dalam Gin?" tanya Afdhal.


"Biasanya tiga jam. Ntah sekarang karena ada kak Anggel juga." jawab Gina yang fokus melihat ke arah ruangan Anggel.


"Udah jangan ditatap, nggak akan terdengar juga kali. Jauh"


"Hahahahaha bener juga ya uda. Mana ada denger jauh gitu." jawab Gina yang tertawa kerena tingkah absurd tidak jelasnya itu.


"Oh ya Gin, gimana dengan Mami?" tanya Afdhal yang teringat dengan sikap Mami kepada Gina yang jauh berubah.


"Tetap sama Uda. Tetapi aku nggak ambil pusing lagi Uda. Aku hanya fokus kepada anak aku saja. Aku akan membiarkan hal yang lainnya. Terserah mereka mau ngapain. Aku udah nggak peduli lagi." jawab Gina sambil melihat fhoto Arga di ponselnya.


"Gin ini kita berandai andai ya." ujar Afdhal sambil menatap Gina.


Gina mengangguk tanda setuju dengan apa yang mau dikatakan oleh Afdhal. Hitung hitung guna mengambil sikap saat semua yang diandaikan itu terjadi nantinya.


"Seandainya apa uda?" tanya Gina sambil menatap ke arah Afdhal.


"Seandainya Aris tau dan sikapnya sama dengan Mami bagaimana?? Itu adalah lemungkinan terburuk, kita harus mengkaji sesuatu itu sampai kemungkinan terburuknya Gin. Agar kita tidak merasa nyaman dengan semua kemungkinan yang normal normal saja." kata Afdhal memaparkan apa kemungkinan terburuk yang terjadi nantinya.


"Andai itu yang terjadi Uda, Aris tidak menerima keberadaan Arga yang seperti ini maka aku akan membawa Arga pergi dari kehidupan Aris. Terserah Aris mau ngapain lagi. Aku tidak akan melarang atau mengganggu hidupnya." ujar Gina menjawab dengan pasti apa yang dikhawatirkan oleh Afdhal.


"Uda, aku bisa kok hidup dan membesarkan Arga dengan tangan aku sendiri. Toh selama ini aku juga sendirian. Aku nggak akan memberatkan orang lain dalam masalah Arga." lanjut Gina sambil menatap Afdhal.


"Satu lagi Uda. Saat Aris tidak menerima Arga, aku yakinkan aku tidak akan ke rumah Wijaya. " lanjut Gina mengutarakan semua isi hatinya.


"Kenapa Gin?" tanya Afdhal yang kaget dengan pernyataan Gina.


"Uda, coba uda fikir. Dengan keadaan ibu kandung yang sudah membenci aku, ditambah lagi dengan niat ingin mencoret aku dari daftar ahli waris. Apakah aku masih bisa pulang ke rumah itu?" tanya Gina kepada Afdhal


"Maka jawabannya hanya satu Uda. Tidak akan bisa. Biarlah aku pergi dengan Arga kemanapun aku mau. Aku akan membesarkan Arga dengan usaha dan keringat aku sendiri." kata Gina dengan pasti. Tidak ada peluang dari Afdhal untuk meruntuhkan keteguhan hati adik perempuannya ini.


"Uda kita bahas yang lain aja ya. Capek aku bahas masalah ini." ujar Gina yang memilih untuk berhenti membicarakan hal yang sama. Gina ingin melupakan sejenak masalahnya itu.


Mereka berdua kemudian membahas tentang masalah perusahaan. Gina memberikan beberapa ide kepada Afdhal tentang apa apa yang harus dikembangkan Afdhal pada perusahaanya itu. Perusahaan yang sebentar lagi akan menjadi milik Afdhal sepenuhnya.


Setelah berbincang selama tiga jam, pintu ruangan Anggel terbuka. Gina dan Afdhal masuk ke dalam ruangan.


"Gimana kak?" tanya Gina yang penasaran dengan hasil pemeriksaan Arga yang dilakukan oleh Anggel.


Anggel langsung memeluk Gina. Dia menangis sambil memeluk Gina. Afdhal semakin heran dengan tingkah calon istrinya itu. Sedangkan dokter Rani yang melihat Anggel menangis memeluk Gina akhirnya luluh juga. Dia ikut menangis sambil memeluk Arga.


"Kak Anggel, apakah sesuatu yang buruk terjadi kepada anakku?" tanya Gina yang penasaran dengan semua keadaan ini.


Anggel masih tetap diam. Dia mengusap air matanya yang tidak mau berhenti itu.

__ADS_1


"Anggel" panggil Afdhal


Anggel berusaha keras untuk tidak meledakan tangisnya lagi.


__ADS_2