
Saat mereka sedang serius menunggu cerita dari Papi. Sebuah pesan masuk ke ponsel Ghina.
'Sayang pulang, aku sakit perut dari tadi' bunyi pesan chat yang dibaca oleh Ghina.
"Pi, kita cerita di rumah aja. Aris sakit perut mereka sedang dalam perjalanan ke rumah utama." ujar Ghina sambil membereskan semua barang barangnya.
Argha dan Frenya serta Papi hanya bisa menepuk jidat mereka.
"Bun cuma sakit perut doang Bun." ujar Argha yang sungguh heran melihat kepanikan Bundanya.
"Argha, kamu belum melihat Daddy mu sakit Gha." ujar Ghina yang langsung berlari keluar dari ruangan meeting. Semua orang juga ikut berlari saat melihat Ghina berlari.
"Stef, kemudikan mobil Nyonya." perintah Alex.
Stefen menyambar kunci mobil yang di pegang Ghina.
"Maaf Nyonya, saya yang akan mengemudikan mobil." ujar Stefen.
Ghina masuk ke dalam kursi penumpang. Stefen melajukan mobilnya dalam kecepatan penuh. Dua mobil mewah mengiringi dari belakang.
Saat baru saja sampai depan teras rumah utama, Ghina langsung keluar dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. Dia membuka pintu kamar dan melihat Aris sudah meringkuk menahan rasa sakit di perutnya.
"Sayang" ujar Ghina membawa Aris ke dalam pelukannya.
"Sakit sayang" jawab Aris sambil memeluk Ghina.
Ghina mengusap keringat yang membasahi kepala dan wajah Aris. Papi dan yang lainnya baru sekali ini melihat Aris menahan sakit seperti ini.
"Nya telpon Daniel suruh pulang." ujar Ghina meminta Frenya menghubungi Daniel.
Frenya langsung menjalankan perintah Bundanya. Argha yang tadi mengatakan Bundanya lebay saat melihat Daddy yang menahan sakit langsung naik ke atas ranjang.
"Daddy" panggil Argha.
Aris menatap Argha.
"Peluk Daddy nak" ujar Aris dengan suara parau menahan sakit.
Argha lalu memeluk Daddynya. Dia menyesal tadi telah mengatakan kepada Bundanya kata kata yang ternyata salah besar itu. Argha menatap Ghina, Ghina mengangguk.
Tidak butuh waktu lama, Daniel dan Rani sudah berada di rumah. Mereka berdua langsung menuju kamar Ghina.
"Daddy kenapa Bun?" tanya Daniel.
"Tadi kata Daddy perutnya sakit lagi Niel." ujar Ghina menjawab pertanyaan dari Daniel.
Daniel berjalan mendekati Aris.
"Dad, aku periksa bentar ya." kata Daniel meminta izin kepada Aris.
Aris mengangguk tapi tangannya tidak melepaskan genggaman tangan Ghina. Daniel mulai memeriksa Aris.
"Apakah ini sakit Dad?"
Aris mengangguk saat bagian yang sakit itu di tekan oleh Daniel. Aris meringis menahan rasa sakitnya.
"Uda ngapain di tekan. Jelas itu sakit." ujar Argha memprotes apa yang dilakukan Daniel kepada dirinya.
"Argha, diam. Biarkan Niel bekerja dengan kemampuannya." sela Ghina yang tidak ingin Argha marah marah kepada Daniel.
Daniel kambali melanjutkan pemeriksaannya. Setelah yakin dengan diagnosanya. Daniel menatap Rani. Rani mengangguk menyetujui apa arti tatapan Daniel. Rani setuju karena dari tadi Rani sudah mengamati semua pemeriksaan terhadap Aris.
"Bun, Daddy harus kita operasi cepat." kata Daniel.
"Operasi?" sela Papi yang mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel.
"Iya Tuk. Usus buntu Daddy sepertinya sudah membusuk. Makanya Daddy menjadi seperti ini. Saran aku, lebih baik Daddy kita bawa kerumah sakit harapan kita. Aku perlu memastikan semuanya dengan peralatan yang ada di rumah sakit." lanjut Daniel menjelaskan.
"Baiklah Niel, lakukan semua yang terbaik menurut kamu. Kita harus mengusahan Daddy sehat sebelum lamaran Papi Bram." ujae Ghina yang teringat dua hari lagi adalah acara terpenting dalam hidup Bram.
"Baik Bun. Aku akan melakukan yang terbaik buat Daddy." jawab Daniel.
Rani menghubungi manager yang masih ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Hallo dokter. Persiapkan ruangan operasi Tuan Aris akan melakukan operasi di sana. Saya minta hadirkan semua dokter terbaik. Kalau mereka tidak datang, langsung kirimkan surat pemecatan dari rumah sakit." ujar Rani.
"Baik Nyona" jawab manager dari seberang.
Stefen yang tau situasi darurat itu menghubungi Jero untuk membawa helicopter ke rumah utama Soepomo. Heli telah stanbay di halaman belakang rumah.
Ghina dan Daniel naik ke atas helicopter bersama dengan Aris. Sedangkan yang lainnya ke rumah sakit memakai satu mobil keluarga yang besar. Stefen duduk di kursi kemudi, sedangkan di sebelahnya adalah Frenya yang terus melakukan komunikasi dengan Alex untuk mencari jalan yang tidak ada kemacetan.
Semua orang terlihat sangat sibuk karena Aris yang mendadak harus dilakukan tindakan operasi.
"Atuk, emang Atuk nggak tau kalau Daddy sakit usus buntu?" tanya Argha yang sebenarnya mengalihkan kepanikannya dengan cara bertanya kepada Atuk.
"Nggak Gha. Atuk juga baru tau sekarang. Sepertinya Bunda kamu sudah tau. Mungkin mereka berdua tidak ingin kita cemas karena penyakit Daddy." jawab Papi yang memang tidak pernah tau akan penyakit Aris.
"Semoga Daddy nggak kenapa kenapa." ujar Argha yang melanjutkan berdoa di dalam hatinya.
"Aamiin" jawab semua orang yang berada di dalam mobil dengan serentak.
Mereka semua telah sampai di gerbang rumah sakit. Stefen memarkir mobil mereka di tempat parkuran khusus pemilik rumah sakit.
"Daddy di ruangan khusus untuk Bunda Gha." ujar Frenya yang baru saja menerima pesan dari Daniel.
Mereka semua berlari ke sana. Rani yang dalam kondisi hamil muda untung saja memiliki anak yang kuat, jadi dia sama sekali tidak perlu diistimewakan.
"Gimana Daddy, Bun?" tanya Argha yang melihat Daddynya sedang tidur.
"Daddy siap disuntik obat tidur oleh Niel." jawab Ghina yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari wajah suaminya yang sedang tertidur itu.
Argha yang tau Bundanya tidak bisa diganggu berjalan menuju anggota keluarganya yang sedang duduk di sofa ruang rawat Aris.
Tiba tiba. Brak, pintu kamar terbuka dengan keras. Bram masuk dengan nafas yang masih tersengal sengal.
"Habis lari larian Bram?" tanya Papi.
Bram sama sekali tidak menggubris perkataan Papi. Dia langsung saja menuju seorang laki laki yang sudah menjadi kakak kandungnya itu. Dia melihat wajah Aris yang pucat sedang tertidur.
"Dia kenapa Ghin?" tanya Bram kepada Ghina.
"Usus buntunya sudah akut Kak. Makanya jadi seperti ini." jawab Ghina.
Ghina tidak menjawab pertanyaan Bram. Dia kembali fokus dengan Aris. Tangan Ghina tidak henti hentinya mengusap bagian perut Aris yang sakit. Padahal hal yang dilakukan oleh Ghina itu hanya akan berakhir sia sia saja. Rasa sakit itu akan tetap kembali datang sampai sumber sakitnya diangkat dari badan Aris.
Bram berjalam menuju keluarganya. Dia duduk tepat di sebelah Daniel.
"Kapan operasinya Niel?" Bram menanyakan hal yang sama kepada Daniel.
"Malam nanti Pi. Kita harus cepat. Aku takutnya kalau besok pagi, Daddy akan merasakan sakit yang luar biasa." jawab Daniel yang telah melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Aris.
"Kamu kapan pulang dari daerah C, Bram?" tanya Papi yang tau kalau Bram sedang memastikan proyek yang di daerah C itu telah selesai dan sudah siap untuk diserahkan kepada pemiliknya.
"Tadi Pi. Aku mendapat telpon dari Budi kalau Aris pulang dalam keadaan sakit. Makanya setelah memastikan semuanya sesuai dengan permintaan pemilik, aku menyerahkan acara serah terima kepada direktur cabang perusahaan di sana. Aku ingin memastikan keadaan Aris langsung." jawab Bram yang memang sangat tidak bisa mendengar Aris tertimpa masalah. Apalagi ini sakit, sangat pantas sekali Bram menjadi panik.
*******************************************
Malam menjelang satu jam mau operasi, Aris bangun dari tidurnya. Dia mulai merasakan sakit kembali.
"Sayang" ujar Aris memanggil nama Ghina.
Ghina yang tertidur itu langsung membuka matanya saat mendengar panggilan sayang yang selalu digunakan oleh Aris untuk memanggil dirinya.
"Apa sayang? Sakit lagi?" tanya Ghina dengan raut wajah yang dipenuhi rasa khawatir.
Aris sangat bisa membaca dengan jelas raut wajah itu. Raut wajah yang sama setiap kali Aris sakit.
"Nggak kok udah agak mendingan." ujar Aris yang berusahan menutupi rasa sakitnya. Dia tidak mau Ghina semakin cemas akan kesehatannya.
Daniel dan beberapa orang dokter masuk ke dalam ruangan rawat Aris.
"Bun, maaf, apa Bunda bisa geser sedikit? Kami akan memeriksa Daddy dan membawa Daddy ke ruangan operasi." ujar Daniel meminta izin kepada Ghina.
Ghina bergeser sedikit kebelakang. Dia masih bisa melihat wajah Aris. Aris begitu juga dia tetap memandang wajah cantik istrinya yang sedang cemas itu.
Daniel dan dokter yang membantunya memeriksa keadaan Aris. Mereka memastikan kondisi Aris siap untuk dilakukan tindakan.
__ADS_1
"Oke Dad, apa Daddy siap untuk kami lakukan tindakan?" tanya Daniel memantikan kesiapan pasiennya.
"Siap Niel. Lakukan yang terbaik. Daddy nggak mau bikin wajah cantik itu menjadi wajah cemas lagi." ujar Aris yang masih sempat sempatnya menggoda istrinya yang dari tadi susah untuk tersenyum bahagia.
"Oke Dad. Kita akan buang wajah cemas itu menjadi wajah yang biasa kita lihat. Aku juga udah jenuh melihat raut wajah itu." jawab Daniel sama sama menggoda Bundanya.
Untung aja Argha dalam keadaan tidur. Kalau tidak hem ketiga laki laki itu akan membully Ghina dengan ucapan ucapan absurd mereka.
Aris kemudian di dorong memakai brangkar rumah sakit menuju ruangan operasi yang terletak di lantao dasar rumah sakit. Ghina, Papi, dan Bram serta Stefen mengikuti Daniel. Sedangkan Rani dan Frenya diminta untuk menjaga Argha.
"Sayang, doakan aku kembali sehat ya." ujar Aris menggenggam tangan Ghina.
"Sayang, kamu selalu berada dalam doa doa ku." jawab Ghina kembali.
Brangkar Aris kemudian di dorong masuk ke dalam ruangan operasi. Semua orang yang mengiringinya tadi menunggu di depan ruangan operasi.
Ghina duduk sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Papi duduk bersandar dan melipat tangannya, terlihat Papi sedang berpikir keras. Sedangkan Bram dari tadi tidak melepaskan pandangannya dari lampu kamar operasi yang masih belum berubah warna itu.
Setelah menunggu selama satu setengah jam. Daniel keluar dari dalam ruangan operasi. Semua yang menunggu di depan ruangan langsung mengerubungi Daniel.
"Gimana Niel?" tanya Papi
Daniel memandang satu persatu wajah wajah orang yang disayanginya. Dia memasang wajah memelasnya.
"Niel, jangan buat Bunda takut." ujar Ghina sambil menatap tajam ke arah Daniel.
Daniel yang mendapat tatapan tajam Bundanya, memilih mengakhiri drama yang dibuat.
"Alhamdulillah berhasil Bun. Sekarang Daddy sedang dibersihkan. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan observasi. Setelah satu jam di sana dan Daddy dalam kondisi stabil, maka akan dipindahkan ke ruang rawat tadi. Bunda dan yang lain silahkan kembali ke ruangan rawat." ujar Daniel meminta semua anggota keluarganya kembali ke ruang rawat Aris.
Mereka sama sekali tidak bisa mendekat ke ruangan steril. Ghina yang semula menolak keinginan Daniel, mendadak menjadi mengalah karena tatapan Papi. Mereka semua kembali keruangan rawat.
"Istirahat dulu Ghin. Nanti kalau Aris sampai sini, aku akan bangunkan kamu." ujar Bram yang melihat kondisi Ghina yang sudah lelah.
"Nggak usah aja kak. Aku masih kuat. Nanti kalau aku udah nggak kuat, aku akan istirahat." jawab Ghina sambil duduk di kursi sebelah ranjang Aris.
Setelah menunggu selama satu jam, Aris tidak juga kembali keruang rawarnya. Ghina meraih ponselnya dan menghubungi Daniel.
"Niel, udah lebih dari sejam. Mana Daddy kamu" ujar Ghina berseru keras.
"Iya Bun. Sebentar lagi Daddy akan diantar ke kamar." ujar Daniel.
Ghina memutuskan panggilannya. Papi menggeleng tidak percaya. Padahal tadi Papilah yang memunta Daniel untuk tidak mengantarkan Aris ke kamar supaya Ghina bisa beristirahat. Ternyata Ghina tetap menunggu kedatangan Aris.
Aris sudah sadar dan sudah bisa duduk di kursi roda. Perutnya yang sakit sudah tidak terasa lagi. Daniel mendorong kursi roda menuju kamar rawatnya.
"Bunda masih bangun Niel?" tanya Aris.
"Iya Dad. Padahal tadi Atuk meminta supaya aku tidak mengantarkan Daddy ke kamar supaya Bunda bisa istirahat. Eeeee kiranya Bubda nelpon marah marah." jawab Daniel sambil bersungut sungut karena kena omel Bundanya.
"Hahahahaha. Mana bisa Bunda kamu tidur enak sedangkan Daddy sedang sakit. Atuk kamu kayak nggak tau aja Niel." ujar Aris lagi.
Mereka berdua telah sampai di depan pintu kamar rawat Aris. Ghina yang merasakan hal itu langsung menuju pintu kamar. Dia membuka pintu kamar rawat Aris. Aris yang juga merasakan Ghina akan membuka pintu kamar untuknya langsung berdiri dari kursi roda.
Saat Ghina membuka pintu kamar, Aris langsung membawa Ghina kedalam pelukannya. Ghina menangis dalam pelukan Aris. Dia meluapkan semua rasa sedih, cemas dan takutnya seharian ini. Aris membiarkan saja Ghina menangis. Dia sama sekali tidak berusaha mendiamkan Ghina. Setelah puas menangis dan perasaannya udah kembali plong, Ghina menghapus air matanya.
"Udah lapang sayang?" tanya Aris lagi.
Ghina mengangguk. Mereka masuk ke dalam kamar. Aris tidur di ranjang sedangkan Ghina duduk di kursi samping ranjang Aris.
"Papi dan yang lain mana sayang?" tanya Aris yang tidak melihat keberadaan keluarganya yang lain.
"Mereka di kamar sebelah." jawab Ghina.
"Ooo. Kita tidur yuk kamu tidur di sini aja." jawab Aris meminta Ghina untuk tidur di atas ranjangnya.
"Jangan sayang. Besok Daniel masuk, pasti dia marah." jawab Ghina yang menolak ajakan Aris.
"Mana bisa dia marah sama kita sayang."
Ghina terlihat berpikir keras. Dia tau, Aris akan nyaman tertidur saat memeluk dirinya.
"Oke" jawab Ghina yang sudah mengambil keputusan.
__ADS_1
Ghina naik ke atas kasur. Aris tersenyum senang. Istrinya itu sangat tau kebiasaannya. Akhirnya sepasang suami istri itu tertidur. Mereka berdua benar benar lelah seharian