Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Awal Menuju Kebaikan


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Gina dan Aris untuk melakukan terapi secara berpasangan. Gina sudah membuat janji dengan Anggel. Mereka akan melakukan terapi setelah sholat maghrib. Anggel sengaja mengosongkan semua jadwal terapinya dengan pasien lain setelah waktu maghrib. Gina yang masih di kantor sedang menunggu waktu untuk pulang. Gina sudah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini.


"Gin" panggil Manager yang beru keluar dari ruangan Afdhal.


"Ya pak" jawab Gina yang langsung berdiri dari duduk kursinya.


"Kamu di panggil Tuan Afdhal keruangannya" kata Manager.


"Oh baiklah. Terimakasih Pak" jawab Gina.


Gina mengambil tas kerjanya dan juga ponselnya. Gina langsung menuju ruangan Afdhal. Ntah kenapa Afdhal meminta dirinya menemui Afdhal ke ruangannya.


Tok...tok...tok....tok....


"Masuk" balas Afdhal dari dalam ruangannya.


Gina membuka pintu ruangan Afdhal. Betapa terkejutnya Gina di situ sudah ada Nana dan Ayah.


"Nana" panggil Gina.


Gina berlari memeluk Nana dan juga Ayahnya. Gina meneteskan air matanya. Dia sangat kangen dengan keluarganya ini. Tapi karena kesibukan mereka masing masing makanya mereka susah untuk bertemu.


"Nana, ajak Gina duduk dulu." kata Afdhal yang sama sekali tidak beranjak dari sofa yang didudukinya.


Nana dan Gina kemudian duduk di sofa ruangan Afdhal.


"Nana, tumben ke kantor" tanya Gina yang memang penasaran kenapa Nana dan Ayah bisa datang ke kantor hari ini.


"Kangen kamu sayang. Susah cari waktu bertemu. Pas tadi Ayah tadi nggak ada meeting makanya Nana langsung ajak ke sini" kata Nana menjelaskan.


"Oh jadi gitu." Gina mengangguk angguk seperti orang paham.


"Sayang, gimana terapi kamu dengan Anggel?" Ayah memilih langsung bertanya dari pada menahan nahan rasa penasarannya.


"Sudah banyak kemajuan Ayah. Rencana hari ini akan terapi berpasangan. Ayah, Nana dan Uda doakan terbaik untuk Gina ya. Doakan Gina bisa menyelesaikan terapi Gina ini" kata Gina menatap keluarganya.


"Sayang tanpa kamu mintapun doa kami sudah selalu bersama mu" jawab Nana sambil memeluk Gina.


"Jadi apa saja kemajuannya Gin?" tanya Afdhal yang memang sangat penasaran.


"Sekarang udah tidak takut lagi melihat mata Aris. Sudah mulai memasak kembali, membuatkan teh saat Aeis oulang kerja." jawab Gina.


"Wow itu perkembangan yang sangat bagus sayang. Kamu harus semangat untuk terapi berpasangannya"

__ADS_1


"Oh ya untuk pergi berdua saja apa kamu sudah bisa? Mengingat nanti kalian berdua akan melakukan terapi berpasangan." tanya Afdhal.


"Untuk semobil berdua aja belum Uda. Nanti rencananya akan minta antar kak Bram ke tempat praktek Anggel"


"Sayang, kalau bisa kamu harus mau berdua saja pergi dengan Aris. Biar kamu kembali dekar dengan dia" Nana berujar dengan nada cemas.


"Iya Nana. Tujuan terapi berpasangan agar aku tidak takut dan tidak khawatir lagi saat berdua dengan Aris" Gina menjelaskan kepada Nana.


"Sayang, kamu harus yakin dan harus berusaha sekuat tenaga kamu untuk kembali sehat. Kami semua mendukung kamu selalu sayang" kata Nana sambil mengenggam tangan Gina.


"Nana, Gina yakin Gina bisa kembali normal. Gina harus kembali, tidak untuk Gina tetapi untuk bayi dalam kandungan Gina" kata Gina sambil mengelus perutnya.


Saat mereka sedanf bercerita tentang beberapa hal yang harus mereka diskusikan. Ponsel Gina berdering, ternyata yang menghubungi adalah Bram.


"Hallo kak Bram"


"Sayang, ini aku. Kamu sudah di rumah?" tanya Aris yang masih belum berani menghubungi Gina memakai ponselnya.


Aris masih takut Gina tidak mengangkat telponnya


"Belum. Masih di kantor ada Nana dan Ayah. Kita ke tempat Anggel jam tujuh" jawab Gina.


"Oh baiklah. Aku tunggu di rumah. Aku sudah perjalanan ke rumah" kata Aris memberitahukan Gina dia sudah di dalam perjalanan pulang.


"Nggak apa apa sayang. Hati hati pulang. Sampaikan salam ku kepada Ayah, Nana dan Uda Afdhal" kata Aris.


"Sip. Nanti disampaikan" jawab Gina.


Gina memutuskan panggilannya dengan Aris. Gina melihat jam di dinding ternyata sudah pukul enam sore. Gina tidak sadar hari sudah mau maghrib.


"Nana, Gina lulang dulu ya Na. Gina takut nggak terkejar sholat maghrib berjamaah di rumah utama" kata Gina sambil mengambil tas kerjanya.


"Kami juga mau pulang sayang. Sama aja ke bawahnya. Kamu masih antar jemput supir?" tanya Nana.


Keluarga besar Wijaya keluar dari ruang Afdhal, mereka menuju mobil masing masing yang sudah menunggu di lobby kantor.


"Nana, Gina pamit dulu ya" kata Gina sambil memeluk Nana, Ayah dan Afdhal bergantian.


"Hati hati sayang" kata Nana.


"Saya akan berhati hati membawa Nyonya Muda, Nyonya besar." jawab Juan.


"Terimakasih" kata Nana.

__ADS_1


Mobil Gina melaju meninggalkan kantor Bramantya Groub, mobil melaju menuju rumah utama Soepomo.


"Nana, sopir Gina tadi itu salah satu pengawal terhedap Aris." kata Afdhal memberikan informasi kepada Nana tentang siapa sebenarnya sopir Gina.


"Apa?" tanya Nana dan Ayah yang kaget mendengar informasi tentang siapa yang menjadi sopir Gina.


"Yup. Keenyataannya gitu" jawab Afdhal.


"Aman berarti. Ayuk pulang" perintah Ayah kepada keluarganya yang lain.


Afdhal langsung naik ke mobil Ayah. Sedangkan asisten Afdhal dan asisten Ayah, langsung masuk ke mobil Afdhal


Gina samlai di rumah setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Juan memilih jalan tikus agar cepat sampai di rumah.


Gina yang lelah labgsung menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Aris yang sedang duduk menunggu Gina di sofa langsung berdiri saat pintu kamar terbuka dari luar.


"Sayang air panas udah aku siapin. Kamu cepat mandi ya jangan lama lama. Baju kamu udah aku pilihin tuh aku letakkan di kasur. Aku ke bawah dulu ya. Minum teh hangat kamu dulu." kata Aris sambil memberikan teh hangat yang telah dibuatnya untuk Gina.


"Tarok di meja aja" kata Gina yang nggak mau menyentuh tangan Aris.


Aris meletakkan cangkir teh di atas meja. Setelah itu Aris ke luar menuju mushalla. Sedangkan Gina secepat kilat mandi. Dia tidak mau kandungannya kenapa kenapa karena mandi maghrib maghrib. Gina langsung sholat di kamar. Dia sudah terlambat untuk sholat berjamaah. Selesai sholat Gina langsung memakai baju yang telah dipilihkan oleh Aris. Setelah memakai dress yang dipilih Aris, Gina memoles mukanya dengan bedak tipis dan liptin berwarna pink. Muka Gina terlihat sangat cantik dengan riasan sederhana itu.


Setelah selesai bersiap Gina menunggu Aris yang pulang dari Mushalla. Gina sudah menyiapkan pakaian Aris yang senada dengan warna pakaiannya.


Aris yang baru pulang dari Mushalla langsung menuju kamarnya.


"Sayang, udah siap?" tanya Aris yang melihat Gina sudah siap.


"Uda. Tukar baju sana. Baju udah aku siapan di ruang ganti" kata Gina


Aris masuk ke dalam ruang ganti, Dia menukar pakaiannya dengan yang disiapkan oleh Gina.


"Selesai. Ayuk sayang"


Sepasang suami istri yang sedang menjalani terapi itu turun ke lantai bawah. Papi dan Mami yang sudah tau Gina dan Aris akan melakukan terapi berpasangan tidak memulai makan malam. Mereka akan makan setelah Aris dan Gina pergi. Bram yang kebagian jadi supir juga sudah siap dan siap untuk mengantar pasangan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


MAAF AKU TELAT UP KAKAK.


ADA KERJAAN YANG SEDIKIT MENYITA WAKTU KAKAK.


JADI MAAFKAN AKU YA KAK.

__ADS_1


__ADS_2