
Matahari sudah menyapa bumi dengan kemilau warnanya. Membersihkan tetes embun yang tertinggal serta mengusir bulan hang menemani bumi tadi malam.
Kesibukan sudah terlihat di rumah bergaya tradisional modern itu dari sebelum ayam berkokok. Semua penghuni rumah sudah terlihat melakukan aktivitasnya, Tuan Wijaya dan Afdhal sedang berolahraga, Nana sedang memasak sarapan dan para maid ada yang sedang membantu Nana memasak, ada yang membersihkan rumah, ada yang sedang mencuci baju dan membersihkan taman. Semua orang melakukan aktivitas. Hanya satu yang tidak melakukan aktifitas seperti biasanya yaitu anak bungsu keluarga Wijaya siapa lagi kalau bukan Gina. Gina masih berada di alam mimpinya di bawah selimut tebalnya.
Saat sarapan sudah siap Nana meminta seorang maid untuk menghidangkan sarapan di atas meja makan, sedangkan Nana pergi membersihkan diri untuk bersiap siap berangkat ke kantor. Sedangkan Ayah dan Afdhal sudah membersihkan diri sehabis olahraga. Ayah dan Afdhal sudah berada di meja makan. Nana selesai bersiap juga sudah berada di meja makan. Afdhal yang tidak melihat Gina langsung heran.
"Na, Gina mana?" tanya Afdhal yang melihat kursi di yang biasa ditempati Gina masih kosong.
"Dari pagi Nana tidak lihat. Bentar Nana suruh mbak Yum nengok Gina ke atas." jawab Nana.
Nana kemudian memanggil seorang maid senior yang dari dulu menemani Gina. Seorang maid bernama mabk Yum datang menemui Nana.
"Ya Bu." kata Mbak Yum.
"Coba tengok Gina ke kamar mbak, dari tadi pagi saya tidak melihat Gina." kata Nana.
"Baik Bu." Mbak Yum langsung menuju kamar Gina dengan tergesa gesa.
Nana sudah terlihat cemas, Nana dari semalam sudah melihat muka Gina yang capek seperti akan demam.
"Tenang Na. Semoga Gina tidak demam." Ayah menyemangati Nana, Nana yang mendengar mengangguk dan berusaha membuat hatinya tenang.
Tak beberapa lama, Mbak Yum berjalan tergesa gesa ke arah meja makan. Semua yang berada di meja makan saat melihat Mbak Yum datang tergesa gesa langsung menghentikan aktifitas sarapan mereka.
"Ada apa mbak?" kata Afdhal.
"Anu Tuan Muda. Nona Muda demamnya tinggi, sampe menggigau." kata Mbak Yum.
Sontak saat mendengar apa yang dikatakan Mbak Yum, Ayah, Nana dan Afdhal berlari menuju kamar Gina.
"Afdhal kamu siapkan mobil. Kamu yang nyetir, Ayah akan bawa Gina turun ke bawah." teriak ayah saat melihat Afdhal berlari menuju kamar Gina.
Afdhal yang mendengar perintah Ayah langsung berbalik arah menuju garasi. Dia akan mengambil mobil keluarga untuk membawa Gina ke rumah sakit. Afdhal takut hal buruk akan terjadi kepada adik semata wayangnya. Gina sebelumnya pernah sakit dan sekali sakit akan langsung parah. Afdhal takut akan hal itu. Tak terasa air mata Afdhal menetes ke pipinya. Afdhal cepat cepat menghapus agar tidak ada orang yang melihatnya menangis.
Afdhal langsung memarkir mobilnya di depan pintu rumah utama. Ayah yang sudah melihat mobil parkur depan rumah langsung membawa Gina dengan cepat untuk masuk kedalam mobil. Nana duduk di depan sedangkan ayah di belakang sambil menjadikan pahanya untuk bantal Gina. Para asisten ayah, nana dan Afdhal menaiki mobil lain menuju kantor. Mereka masing masing akan mengurus pekerjaan hari ini. Mereka tanpa diperintah sudah tau kalau para bos tidak akan masuk kantor.
__ADS_1
Afdhal melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hal ini didukung dengan sepinya jalan saat hari masih pagi. Hanya dalam waktu lima belas menit Afdhal sudah sampai di salah satu rumah sakit terbesar dan ternama di ibu kota. Afdhal turun dan berteriak keras memanggil suster.
"Suster tolong adik saya" teriak Afdhal.
Suster yang mendengar teriakan Afdhal dan melihat mobil parkir sembarangan langsung mengambil brangkar rumah sakit untuk tempat membaringkan Gina. Gina yang sudah dibaringkan langsung di dorong menuju igd untuk mendapatkan tindakan pertama. Ayah, Nana dan Afdhal yang melihat Gina sudah tidak sadar hanya mampu termenung. Nana yang biasanya tegar dalam menghadapi apapun persoalan saat menghadapi Gina yang sakit terlihat sangat tidak berdaya Nana daritadi bertopang berdiri kebadan Ayah. Ayah juga sama dia terlihat sangat rapuh, berbeda dengan saat di dunia kerja. Afdhal sebenarnya juga merasakan hal yang sama, tapi kalau dia juga rapuh siapa yang akan menguatkan kedua orang tuanya, makanya Afdhal selalu bersikap tegar dan kuat. Afdhal akan mengeluarkan isi hatinya saat ia sedang sendirian.
"Keluarga pasien bernama Gina" kata dokter dari ruang perawatan.
Ayah, Nana dan Afdhal langsung berdiri, "Kami dok keluarganya, bagaimana keadaan anak perempuan kami dok." jawab Ayah.
"Kita berbicara di ruangan saya saja Tuan. Mari ikut saya." kata dokter.
Ayah dan Afdhal pergi mengikuti dokter, sedangkan Nana akan menemui Gina diruang rawat. Ayah dan Afdhal sepanjang perjalanan gelisah memikirkan apa yang akan dikatakan oleh dokter kepada mereka.
"Silahkan masuk Tuan." kata dokter.
Dokter kemudian duduk dikersu kerjanya sedangkan ayah dan Afdhal duduk di depan dokter. Mereka siap mendengarkan apapun hasil pemeriksaan dokter terhadap Gina.
"Begini Tuan. Pasien Gina."
"Baiklah. Setelah saya melakukan pemeriksaan terhadap Gina, saya menemukan sakit yang diderita Gina. Penyakit itu adalah sakit usus buntu kalau orang kita katakan. Sakit usus buntu Gina sudah sangat akut. Saya harus melakukan tindakan operasi sesegera mungkib." kata dokter menerangkan kepada Ayah dan Afdhal.
"Silahkan dokter lakukan yang terbaik untuk putri saya." kata Ayah.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Gina, Tuan. Tapi masalahnya disini Gina dalam posisi yang tidak siap untuk dilakukan tindakan operasi. Kita harus menunggu Gina siap."
"Maksud dokter?" Afdhal tidak paham.
"Begini tuan, Gina sepertinya sedang mengalami penurunan kepercayaan diri. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor dari keluarga atau dari orang yang dikenalnya. Penyebabnya bisa saat seseorang merasa sangat tidak kenal dengan Gina. Padahal Gina sangat yakin orang tersebut kenal dengan dia. Ada juga beberapa faktor lainnya. Jadi alangkah baiknya kalau keluarga bertanya kepada Gina. Kemudian kembalikan lagi kepercayaan dirinya." kata dokter.
Ayah dan Afdhal tidak menyangka Gina mengalami penurunan kepercayaan diri. Mereka menyangka selama ini Gina aman-aman saja.
"Baiklah dokter kami akan bertanya kepada Giba terlebih dahulu. Kami permisi dulu dokter." kata Ayah.
"Baiklah Tuan. Kalau bisa jangan lamaya Tuan. Maksimal dalam lima hari kedepan kita sudah melakukan operasi terhadap Gina. Saya takut terjadi hal yang diluar dugaan kita kalau kita memperlambat hari." kata Dokter kepada Ayah.
__ADS_1
"Terimakasih dokter kami akan mengusahakan secepatnya." jawab Ayah sambil menjabat tangan dokter.
Ayah dan Afdhal berjalan menuju ruang rawat Gina. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Dalam kepala mereka hanya ada satu pertanyaan "Apa yang membuat Gina menjadi rapuh begini."
Tak terasa mereka sudah sampai di pintu ruang rawat Gina. Afdhal membuka pintu kamar rawat itu. Di atas brangkar rumah sakit terlihat sesosok gadis tertidur dengan selang oksigen dihidungnya, slang impus yang tertancap ditangannya, muka yang pucat. Afdhal dan Ayah yang melihat Gina tidak berdaya semakin lemas saja. Nana yang melihat kedatangan mereka berdua langsung berdiri dan berjalan ke sofa yang ada di ruangan itu. Ayah dan Afdhal sudah duduk disana.
"Ayah apa kata dokter?" Nana sudah tidak sabar. Nana takut ada sesuatu yang terjadi kepada Gina.
"Gina sakit usus buntu Nana, dan harus dilakukan tindakan operasi secepatnya kalau tidak maka akan fatal akibatnya." jawab Ayah.
"Lakukan saja Ayah. Tanda tangan aja suratnya."
"Nana tidak segampang itu." jawab Afdhal.
"Maksud uda?" Nana terlihat heran.
"Gina sedang dalam posisi tidak siap untuk dioperasu. Kata dokter Gina dalam kondisi penurunan kepercayaan diri."
"Hah" Nana langsung terkejut mendengar apa yang dikatakan Afdhal.
"Afdhal kamu bercanda kan?"
"Nggak Nana, Afdhal berkata jujur." jawab Ayah.
"Tetapi apa yang menyebabkan Gina mengalami hal itu Ayah. Kita selama ini melihat Gina biasa biasa aja, atau ada sesuatu yang membuat Gina seperti ini?" kata Nana.
"Ayah beberapa hari ini Gina sering dengan Ayah. Coba Ayah ingat ingat ada nggak kejadian yang membuat Gina seperti ini." kata Nana.
Ayah, Nana dan Afdhal berusaha mengingat kejadian dua bulan kebelakang yang bisa membuat Gina menjadi seperti sekarang. Mereka berusaha mengingat momen moment yang akan berakibat seperti ini.
Tiba-tiba Ayah mengingat suatu kejadian di kota B. Ayah yakin hal inilah yang menjadi dasar penyebab Gina seperti sekarang. Ayah sangat yakin akan hal itu.
...----------------...
Apkah penyebabnya. Nantikan ya kakak seyengku. Di up selanjutnya
__ADS_1