
"Atuk, Argha bobok sama Atuk lagi ya." Argha memeluk lengan Atuknya.
"Kamu masih penasaran dengan lanjutan ceritanya?" ujar Papi berbisik di telinga Argha.
Argha mengangguk menyetujui ucapan Papi. Dia memang sedang sangat penasaran dengan semua cerita tentang kehidupan Daddynya. Apalagi dengan temuan yang sedang diselidiki oleh anggota Ghina.
"Gha, malam ini bobok dengan Atuk lagi?" tanya Ghina sambil menatap curiga ke arah anaknya itu.
"Iya Bun. Boleh kan ya?"
"Kok nanyak Bunda. Tanya Atuk lah, yang kamu ganggu kan Atuk bukan Bunda." jawab Ghina sambil melirik ke arah Atuk.
"Atuk, Argha bolehkan ya tidur sama Atuk lagi." ujar Argha sambil mengedipkan matanya kepada Atuk.
"Bolehla. Cucu Atuk masak nggak boleh." jawab Papi.
"Boleh kan Bun. Bunda sih meragukan Argha. Argha ni cucu kesayangan loh Bun." jawab Argha mengedipkan matanya ke Gina.
"Yayayayayaya cucu kesayangan." Ghina mencemooh Argha.
Mereka kembali menonton televisi. Sedangkan para lelaki sibuk membicarakan bisnis mereka.
"Argha ayuk tidur." ajak Papi membawa Argha untuk beristirahat.
"Oke Atuk sayang. Argha sudah siap." ujar Argha.
"Gha" panggil Ghina.
"Bunda tenang aja. Argha tau kok gimana caranya." jawab Argha sambil mengedipkan matanya ke arah Ghina.
"Dasar kamu Gha." ujar Ghina yang heran melihat sikap anaknya itu.
"Hahahahaha" Argha tertawa sambil membuntuti Atuknya dari belakang.
Kakek dan Cucu itu membaringkan badan mereka di atas ranjang besar itu.
"Kamu kenapa sangat ingin tau cerita tentang Nenek?" tanya Papi kepada Argha.
"Pengen tau aja. Sepertinya Atuk sengaja menyimpan semuanya dari Daddy." ujar Argha sambil menatap Atuknya.
__ADS_1
Papi tersenyum mendengar tuduhan Argha kepada dirinya.
'Analisa anak ini benar benar mangagumkan' ujar Papi di dalam hatinya.
"Gha sampai mana cerita kemaren ya?" tanya Papi yang berusaha mengalihkan perhatian dan pertanyaan Argha yang lumayan membuat Papi terkejut
Argha berusaha mengingat sampai mana mereka bercerita kemaren. Argha membolak balik semua memori otaknya.
"Atuk maren sampai cerita kecelakaan itu Tuk." ujar Argha yang mengingat kembali cerita mereka semalam.
"Oh oke. Kita mulai dari situ aja ya Gha." ujar Atuk.
Argha mengangguk setuju.
"Jadi waktu kecelakaan itu. Atuk memegang Daddy kamu. Sedangkan Nenek kamu dia hanya sendirian saat jatuh ke dalam jurang itu. Atuk terus saja memeluk Daddy kamu. Daddy kamu saat itu ntah pingsan ntah tidur yang jelas dia sama sekali tidak menangis. Atuk saat itu sangat takut akan kehilangan Daddy kamu. Daddy kamu adalah harta berharga bagi kami berdua. Daddy kamu wujud cinta suci kami Gha. Ibarat kata, biarlah Atuk kehilangan semuanya dari pada harus kehilangan Daddy dan juga Nenek kamu." ujar Papi memulai ceritanya.
"Saat itu Atuk fokus dengan tarikan nafas Daddy kamu. Atuk terus melihat dada Daddy kamu. Alhamdulillah Daddy kamu masih terus bersama Atuk. Atuk sangat bahagia sekali. Saat itu fikiran Atuk tertuju hanya ke Daddy kamu. Nenek kamu masih Atuk pikirkan tapi pada saat itu Atuk sama sekali tidak bisa mencari dirinya." lanjut Papi dengan nada menyesal.
Papi sangat menyesali dirinya yang tidak bisa langsung mencari istri tercintanya saat kejadian itu. Papi saat itu dihadapkan kepada dua pilihan yang rumit. Harus terus menjaga anaknya atau mencari istrinya. Akhirnya Papi memutuskan menjaga terus anaknya, karena dia sangat tau istrinya pasti menginginkan anaknya selamat dsri musibah yang menimpa mereka.
"Kalau Atuk pergi dari tempat itu maka Asisten Hendri dan yang lain tidak akan bisa menemukan kami lagi. Alat yang Atuk pakai saat itu lupa Atuk cas. Sedangkan yang dikalung Daddy kamu sudah terlepas saat kami berdua loncat dari mobil." Papi kembali melanjutkan ceritanya.
Argha terus saja menyimak apa yang diceritakan oleh Papi. Argha sama sekali tidak ada menyela apa yang diceritakan oleh Papi.
"Pas subuh hari kalau nggak salah Gha. Atuk Hendri berhasil menemukan kami berdua. Atuk meminta seorang rekan setim Atuk Hendri untuk membawa Daddy kamu ke rumah sakit. Sedangkan Atuk dan Atuk Hendri sera beberapa pengawal blac jack bergerak mencari Nenek kamu." ujar Papi mengingat saat saat terpahit dalam hidupnya itu.
"Kami terus menyusuri jurang itu. Sampai pada akhirnya kami menemukan mobil yang Atuk bawa. Kami semua melihat Nenek kamu terjepit di dalam mobil dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan." ujar Papi sambil mengusap matanya yang tanpa disadari oleh Papi telah meneteskan air mata.
"Kami berusaha keras mengeluarkan Nenek dari dalam mobil. Akhirnya setelah memakan waktu yang lama dengan peralatan seadanya Nenek bisa dikeluarkan dari dalam mobil." lanjut Papi menceritakan kejadian di jurang itu.
"Atuk apa nenek saat itu ditemukan masih hidup?" tanya Argha menatap dengan rasa ingin tahunya.
Papi menangkap sesuatu yang disembunyikan oleh Argha.
"Apa kamu tau sesuatu?" tanya Papi penasaran.
"Atuk cerita dulu. Argha janji Argha juga akan cerita apa yang Argha ketahui." ujar Argha meyakinkan Atuknya.
Papi hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya. Papi tidak menyangka dia akan kalah melawan makhluk kecil ajaib itu. Sedangkan Argha hanya tertawa kecil melihat tingkah Atuknya.
__ADS_1
"Jadi saat nenek ditemukan Nenek sudah tidak dalam keadaan bernyawa lagi. Atuk udah pasrah sejak dari menemukan Nenek yang terjepit mobil. Atuk sudah tidak memiliki harapan lagi. Makanya Atuk pasrah saja waktu sampai di rumah sakit dan dokter menyatakan kalau Nenek sudah meninggal sejak malam." ujar Papi.
"Apakah Atuk sudah melakukan autopsi terhadap Nenek?" tanya Argha dengan antusiasnya.
"Sudah Gha. Atuk sudah melakukan autopsi. Malahan Atuk melakukan tes DNA dan hasilnya benar itu adalah Nenek." ujar Papi.
Argha mengamati ekspresi Atuknya. Argha tau Atuknya menyimpan sesuatu dalam pikirannya.
"Atuk berpikir tentang apa?" tanya Argha.
Papi menatap cucunya itu.
"Apakah kalau Atuk cerita kepada Argha, Argha akan bisa membantu Atuk?" tanya Papi menatap Argha dengan harapan Argha akan mengangguk.
"Tergantung Atuk." jawab Argha sambil tersenyum smirk ke arah Atuknya.
"Hentikan senyuman menakutkan itu Argha. Atuk bukan musuh mu." ujar Papi sambil mulai menggelitik Argha.
"Hahahahahaha" Argha sudah tidak tahan lagi karena di gelitiki oleh Atuknya.
"Selagi kamu belum minta ampun Atuk tidak akan melepaskan gelitikannya Argha." ujar Papi sambil terus menggelitiki Argha.
"Terus aja Atuk" ujar Argha yang nggak mau sama sekali minta ampun.
Argha memiliki gengsi yang cukup tinggi untuk minta maaf dan minta ampun.
Akhirnya Papi capek sendiri menggelitiki Argha. Argha tetap pada pendiriannya yang sama sekali tidak mau untuk meminta ampun.
"Kamu benar benar berpendirian Gha." ujar Atuk yang lelah menggelitiki Argha.
"Atuk. Argha akan memimpin beberapa perusahaan besar, jadi Argha harus memiliki pendirian." ujar Argha kepada Atuk.
Argha sebenarnya sudah ingin menertawai Atuk yang terlihat sangat lelah itu. Tetapi Argha masih menghargai Atuknya dengan sangat tinggi, makanya Argha tidak mau menertawakan Atuknya itu.
"Siapa yang ngajarin kamu bersikap seperti itu?"
"Bunda Tuk. Bunda mengajarkan semuanya kepada Argha. Makanya kadang Argha berpikir pola pikir Argha tidak sama dengan usia Argha. Tapi Argha terima itu, karena Argha memang harus seperti itu." jawab Argha.
Mereka berdua kembali terdiam
__ADS_1
"Atuk besok aja ya lanjut ceritanya. Argha ngantuk berat." jawab Argha.
Papi mengangguk setuju dengan Argha. Mereka berdua mulai masuk ke alam mimpinya.