Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Rasa Penasaran Aris


__ADS_3

Hari itu Gina yang sudah mulai bosan berada di rumah ingin berjalan-jalan di luar. Dia ingin melepaskan rasa jenuhnya yang sudah lebih dari sebulan tidak keluar-keluar. Gina sibuk dengan aktifitas di rumah barunya. Dia sibuk mendesain ulang sebuah ruangan yang akan dijadikan kamar belajarnya.. Hari itu Gina sangat ingin mengunjungi mall, dia akan membeli beberapa buku yang diperlukannya untuk semester besok.


Gina kemudian menuju warddrobe nya yang luas. Gina mengambil sebuah celana levis dan baju kaus dengan merk yang sama berwarna putih. Melengkapi penampilan casualnya hari itu Gina memakai sepatu adidas keluaran terbaru. Walaupun berpenampilan sederhana tapi Gina tetap saja cantik. Gina turun ke lobby rumahnya. Dia berencana memakai mobil sport baru pemberian ayah.


Gina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang tidak padat itu, karena masih jam kerja para pekerja kantora dan juga belum jam pulang sekolah. Gina di dalam mobil menyanyikan lagu Kala Cinta Menggoda salah satu lagu yang dicover ulang oleh band yang terkenal di negara I. Tak lama berkendara Gina sampai di mall yang ditujunya.


Gina memasuki mall itu dengan langkah yang ringan. Dia langsung menuju toko buku yang cukup terkenal. Gina yang memang menyukai dunia membaca sibuk memilih buku-buku yang diperlukannya. Tak terasa sudah tiga jam Gina berada di toko buku. Gina yang sudah puas mendapatkan semua buku yang diinginkannya berjalan menuju kasir untuk membayar semua buku itu. Selesai membayar, tiba-tiba perut Gina berbunyi. Gina tersenyum, karena sibuk berburu buku yang dibutuhkan dia sampai lupa kalau belum makan siang. Gina langsung menuju foodcourt di mall itu.


Gina memilih beberapa makanan yang memang sangat dia sukai yaitu mie goreng jawa lengkap dengan beberapa gorengan dan untuk minuman Gina memilih minim es teler. Gina menikmati makan siang yang merangkap makan sore itu. Gina asik makan sendiri, sampai-sampai Gina tidak sadar ada seorang pria dari jauh memperhatikannya.


"Benarkah itu Gina?" kata Bram dalam hati. Tapi Bram yang tidak pernah melihat Gina dari dekat hanya bisa berasumsi saja.


"Tapi nggak mungkinkan Gina di sini. Sedangkan kegiatan kampus masih akan dibuka dua minggu lagi. Ah biarkan saja, lagi pula nggak mungkin itu Gina." kata Bram, kemudian melanjutlan memakan makanan yang sudah dipilihnya.


Gina yang sudah selesai makan langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Gina berjalan ke kasir dengan melewati meja Bram. Saat Gina melewati meja Bram, Gina menoleh ke arah kanan, sehingga muka Gina tidak terlihat oleh Bram. Gina sampai di kasir langsung membayar semua yang sudah dimakannya tadi. Bram yang masih penasaran langsung mengikuti Gina. Bram sudah meninggalkan uang di atas meja makan tadi, jadi dia langsung saja mengikuti langkah kaki Gina. Gina kemudian pergi keparkiran, dia masuk kedalam sebuah mobil mewah. Bram yang melihat Gina masuk kedalam mobil mewah langsung mengambil kesimpulan bahwasanya perempuan tadi bukanlah Gina melainkan orang yang mirip dengannya. Bram yakin Gina tidak mungkin mempunyai mobil mahal itu.


Kantor Utama Soepomo


Bram melajukan mobilnya kembali ke kantor utama Soepomo Grub. Bram melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Bram sudah tidak sabar ingin bertemu cepat dengan Aris dan membahas apakah yang dilihatnya tadi memang Gina atau bukan. Bram memarkirkan mobilnya sembarangan, kemudian dia melempar kunci mobil ke satoam kantor. Satpam langsung menangkap kunci itu dan memarkirkan mobil Bram di samping mobil CEO. Bram langsung masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Bram memencet angka dua puluh. Saat pintu lift terbuka, Bram langsung menyelonong masuk keruangan Aris tanpa mengetuk pintu dulu. Aris yang sedang duduk kaget melihat Bram yang terburu-buru itu.


"Loe kenapa? Dikejar setan?" kata Aris yang baru sekali ini melihat Bram menjadi tidak sabaran.


"Ada berita penting." Bram langsung duduk di depan Aris.


"Katakan." Aris mulai kepo.


"Tadi gue selesai meeting dengan perusahaan TJ, melanjutkan makan di mall. Ha pas gue makan itu, gue melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengan Gina. Tapi gue ragu, perkuliahan belum mulai, kenapa Gina sudah berada di sini." kata Bram menceritakan apa yang dilihatnua tadi di mall.


"Terus loe nggak moto cewek itu?"


"Nggak sempat. Jauh."


"Terus kenapa loe nggak yakin kalau itu Gina?" Aris penasaran dengan analisa dan kesimpulan Bram.


"Karena gue lihat dia naik mobil sport mewah warna merah." kata Bram.


"Terus kenapa loe jadi ragu?"


"Bagaimana tidak ragu. Nggak mungkinkan mahasiswa dari daerah bisa membeli mobil mewah itu." Bram menjelaskan analisanya. Aris yang mendengarkan pun setuju dengan analisa Bram.


"Udahlah Bram. Kalau dia memang jodoh gue, kami akan bertemu. Kalau nggak berarti ya dia bukan jodoh gue." kata Aris dengan lesu.


"Jadi, maksudnya loe bener-bener mencintai Gina?" Bram berkata dengan nada yang tidak.percaya. Aris seorang CEO muda tampan yang terkenal dingin itu bisa mencintai seorang wanita yang sampai saat ini belum jelas siapa wanita itu sebenarnya.


"Loe kalau memang cinta ya kejar. Cari tau. Jangan pasrah. Disamber orang baru tau loe." Bram memanas manasi Aris. Aris terdiam mengingat apa yang dikatakan Bram tadi. Bram yang tau Aris sedang memikirkan ucapannya tadi menambah memanasi Aris.


"Loe kira ditikung itu enak mbing. Wah loe akan tau rasanya ditikung saat cinta-cintanya. Tapi gimana mau cinta-cintanya, sedangkan jadian aja belum ya Ris." Bram tersenyum mengejek Aris.


"Besok gue akan meminta anak buah di Padang untuk mencari Gina kembali. Di sini juga akan gue suruh cari. Gue nggak mau ditikung." kata Aris semangat kembali untuk mencari Gina. Bram yang sudah kembali melihat Aris semangat, Brampun akan ikut mencari Gina.


Gina


Gina yang baru sampai di rumah sudah di sambut Nana di taman rumah itu. Nana sedang menyiram koleksi bunga yang sedang naik daun itu. Saking naik daunnya bunga itu dijual bukan berdasarkan pot tetapo berdasarkan helai daun. Koleksi Nana sangat lengkap. Waktu itu Nana pernah bercerita, Nana lebih baik kehilangan mobil kesayangannya dari pada kehilangan satu saja tanamannya.


"Darimana Gin?" kata Nana ketika melihat Gina yang baru saja turun dari mobilnya.


"Dari mall Na. Membeli beberapa buku yang Gina butuhkan untuk semester besok." Jawab Gina sambil mengeluarkan semua yang baru dibelinya. Gina kemudian memberikan kantong belanjaannya kepada pelayan yang sudah berdiri tepat di sebelahnya.


"Mbak tolong tarok di kamar aku aja ya. Nanti setelah makan malam baru aku susun." Perintah Gina kepada pelayan.


Gina kemudian berjalan ke arah Nana. Gina kemudian mengambil slang untuk menyemprot beberapa bunga perdu yang tumbuh di taman rumah. Sebenarnya tukang kebun ada. Tapi khusus daerah yang satu ini adalah daerah kekuasaan Nana. Jadi Nanalah yang setiap hari merawatnya disela-sela kesibukan kantor. Setelah semua selesai dikerjakan, Nana mengajak Gina untuk beristirahat di gazebo rumah.


"Gin, kamu dak takut apa kalau bertemu dengan Aris diluaran?"


"Nggak lah Na. Ngapain juga takut. Kalau dia memang berniat jahat, pasti dia udah mengirim pembunuh bayaran." jawab Gina ngasal.


"Ngomong ngasal aja Gin." Nana kesal dengan jawaban Gina.

__ADS_1


"Na. Pada dasarnya kak Aris itu baik, sangat baik malahan. Cuma Gina tidak nyamannya karena dia sudah pacaran dengan senior Gina di kos dan di kampus."


"Kalau seandainya Aris jomblo. Apa kamu mau?" Nana mulai menggoda anak perempuannya itu.


"Mau maksud Nana? Menjadikan kak Aria kekasih?" Gina menatap tajam ke mata Nana.


"Yup."


"Waduah Nana, Gina nggak kuasa untuk berpikiran jauh begitum Kalau terhempas sakitnya hatiku Nana" balas Gina dengan lebaynya.


"Lebay binti alay kamu Gin." Nana makin kesal.


"Hahahahahaa. Nana pun yang mulai ada-ada aja yang ditanyain." Gina langsung memeluk Nana.


"Gin, Nana serius. Kalau seandainya Aris jomblo dan dia juga mencintai kamu, apa kamu mau?"


"Nana, Gina nggak bisa jawab ya. Karena sampai saat ini Gina nggak ada rasa dengan Aris. Ntah kalau besok, besoknya lagi. Gina nggak tau. Biarkan ajalah Na." Gina berdiri dan berjalan keluar dari gazebo. Gina sangat tidak nyaman dengan pertanyaan Nana.


Gina kemudian menuju kamarnya, yang semula rencananya mau menyusun semua buku itu setelah makan malam, Gina mendadak.mengubah niatnya. Dia akan menyusun buku itu sekarang. Gina hari ini tidak ada niat untuk membantu Nana di dapur. Jadi dia lebih memilih untuk menyusun buku yang dibelinya di ruang belajar. Gina menyusun semua buku itu berdasarkan prioritas. Mana buku yang akan cepat diperlukan maka dia akan meletakkan di tempat yang mudah dijangkaunya. Tak terasa hari sudah akan maghrib. Gina kembali ke kamar dan membersihkan dirinya. Selesai membersihkan diri, Gina menuju musholla keluarga untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Selesai sholat Ayah mengajak keluarganya untuk makan malam.


"Gin sehari tadi masih di rumah nak?" kata Ayah membuka percakapan dimeja makan.


"Nggak Yah, Gina tadi siang ke mall sampe sore." jawab Gina.


"Terima kasih sayang." kata Ayah kepada Nana yang selesai mengambilkan makanan untuk Ayah. Afdhal dan Gina yang sudah biasa mendengarkan dan melihat kemesraan orang tua mereka santai saja menghadapinya.


"Jadi tadi kamu ke mall, dek?"


"Iya. Tadi pergi membeli buku-buku yang diperlukan untuk kuliah besok." jawab Gina sambil memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya.


"Apa Gina nggak takut ketemu Aris?" tanya Ayah.


"Ayah, Nana dan Uda. Gina nggak pernah takut bertemu kak Aris. Gina waktu di Padang yang pergi ke daerah S, bukan karena takut kepada Aris, bukan, bukan itu penyebabnya." kata Gina.


"Terus apaan?" Afdhal mulai kepo.


Ayah yang mendengar penjelasan Gina langsung berkata. "Kamu memang bener-bener anak Nana mu."


Nana tersenyum mendengar apa yang dikatakan Ayah. Afdhal bersifat dan bersikap sama persis dengan Ayah. Sedangkan Gina lebih sangat mirip dengan Nana. Tapi kalau Gina sudah marah atau merasa terganggu maka dia merupakan gabungan komplit antara Ayah dan Nana. Afdhal lewat kalau Nana sudah marah.


Makan malam hari itu di rumah utama keluarga besar Wijaya berjalan dengan sangat ceria. Tidak ada satupun pembicaraan yang berarah negatif. Semuanya positif. Para pelayan yang melihat mendoakan agar keluarga majikan mereka akan selamanya seperti ini. Jangan ada yang menyakiti salah satu dari majikan mereka.


Aris dan Bram yang malam itu makan malam disebuah hotel, tidak sengaja bertemu dengan Mira, salah seorang teman Gina yang juga ditemui Aris di kota S.


"Mir." sapa Aris kepada Mira.


"Eee kak Aris, ada apa kak?"


"Nggak ada. Ni baru siap makan. Kamu ngapai. ke hotel malam-malam Mir?" Aris menatap curiga Mira.


Mira yang ditatap seperti itu merasa tersinggung. " Buang jauh-jauh pikiran kakak ya. Aku ini perempuan baik-baik. Aku ke hotel malam-malam karena siap mengantarkan ayah dan ibuku menginap disini. Sedangkan aku mau kembali ke kos." jawab Mira dengan nada kesalnya.


"Oh maaf Mir. Kakak sudah salah paham." Aris meminta maaf kepada Mira, dia mengakui kesalahannya yang sempat berpikiran negatif kepada Mira.


"Oh ya Mir. Apa Gina udah kembali ke kosan?" tanya Aris penuh harap.


" Wah, Kaka nggak dikasih tau kak Putri ya." kata Mira yang sengaja menggantung kalimatnya.


"Kakak nggak dengan Putri lagi Mir. Kami sudah putus." jawab Aris.


"Ooo. Pantesan kak Putri nggak ngasih tau" jawab Mira. "Udaj dulu ya kak. Aku mau ke kos. Taksi udah nunggu di depan." Mira melangkahkan kakinya menuju taksi.


Aris kemudian memanggil Mira.


"Mir. Kakak antar saja. Ada yang mau kakak tanyakan kepada kamu."


Mira terlihat berpikir sebentar, tapi saat menatao mata Aris yang penuh permohonan, Mira akhirnya setuju diantar Aris pulang. Bram kemudian menuju taksi yang akan menjamput Mira, Bram meberikan beberapa lembar pecahan seratus. Kemudian taksi itu pergi. Bram mengambil.mobil ketempat parkir. Mira dan Aris masuk kedalam mobil dengan posisi Aris di sebelah Bram, sedangkan Mira di kursi belakang.

__ADS_1


"Apa yang mau kakak tanyakan?" tanya Mira kepada Aris.


"Yang tadi Mir. Apa Gina udah kembali ke kosan. Kalian mulai kuliahkan dua minggu lagi."


"Ooooo. Gina udah nggak ngekos lagi kak. Kemaren aku bertemu dengan Gina saat Gina mengambil bajunya kekosan." jawab Mira.


"Kok bisa? Pindah kos atau bagaimana?" Aris makin penasaran.


"Nggak kak. Kata Gina, Ayahnya pindah kerja ke kantornya yang disini. Jadi semua keluarganya dibawa Ayah untuk tinggal di sini." jawab Mira.


"Emang ayah Gina kerja dimana?"


"Kata Gina, ayahnya adalah karyawan di sebuah perusahaan di kota Padang kak." Mira menjawab dengan sejujurnya.


"Ooo. Karyawan." Aris mulai semakin yakin kalau Gina menutupi sesuatu. Tidak mungkin seorang karyawan akan dipindahlam ke kantor pusat. Aris menatap Bram. Bram mengangguk.


Karena sibuk mengobrol tak terasa mobil yang dikemudikan Bram sudah sampai di kosnya Mira. Mira kemudian langsung turun. Bram kembali.melajukan mobilnya menuju rumah utama Soepomo. Aris ada perlu dengan Papinya.


"Bram, apa mungkin seorang karyawan dipindahkan ke kantor pusat?"


"Mana ada Ria. Ngacok loe." jawab Bram.


"Ris. Gue menjadi yakin kalau perempuan yang gue lihat di mall tadi adalah Gina. Gue yakin Gina sengaja menyembunyikan siapa dia sebenarnya selama ini Ris." Analisa Bram atas semua kejadian.


"Menurut gue juga gitu Bram. Loe nanti telpon Bayu suruh dia ke sini." perintah Aris.


"Oke sip. Kita memang butuh anjing pelacak sekarang. hahahahhahaha" Bram tertawa sendiri.


"Dasar loe. Kawan sendiri loe bilang anjing."


"Gimana nggak. Semua kasus yang harus diendus sampai keujungnya akan selesai oleh dia. Sebutan apalagi coba yang pantas dan terbaik untuk kerja dia kalau bukan itu." Bram.membela diri.


bram membelokkan mobilnya memasuki gerbang utama kediaman keluarga soepomo. Rumah yang megah bak istana. Dilengkapi berbagai fasilitas modern dan terbaik di kelasnya. Sepanjang jalan dari lintu gerbang utama sampai ke depan pintu rumah dihiasi berbagai macam bunga dan pohon buah-buahan. Nyonya besar keluarga soepomo terkenal sebagai kolektor bunga dan buah. Makanya tidak heran banyak tanaman itu disepanjang taman rumah utama.


Aris langsung masuk kedalam rumah, saat seorang pelayan membukakan pintu.


"Papi ada mbok?"


"Papi dan Mami tadi sore berangkat ke Amerika Tuan Muda. Nenek Tuan Muda dilarikan ke rumah sakit." jelas Mbok.


"Kok Papi nggak nelponnya. Nggak biasanya." Aris mengeluarkan ponselnya. Ternyata ponsel berada dalam mode silent. Di ponselnya terdapat panggilan dari papi 5x, dari mami 5x dan dari asisten papi yang tak terhitung kali. Aris kemudian menelpon papinya. Deringan kedua baru diangkat papi.


"Pi maaf tadi Aris meeting makanya nggak terdengar panggilan papi." kata Aris menjelaskan.


"Nggak papa Ris. Papi tadi hanya mau mengatakan kalau papi dan mami berangkat ke Amerika. Nenek masuk rumah sakit."


"Iya Pi. Aris sudah tau. Aris sekarang di rumah utama Pi. Tadi mbok yang ngomong kalau Papi dan mami ke Amerika nengokin nenek."


"Kamu di rumah utama?" Papi berbicara dengan nada heran.


"Iya Pi. Sebenarnya Aris ada perlu sama papi. Tapi besok ajalah pas Papi pulang." kata Aris.


"Ada apa Ris. Jangan bikin papi harus memutar balek pesawat nak."


"Papi, Aris bolehlan meminjam anak buah papi yang pasukan senyap itu" kata Aris.


"Ada aoa kamu minta mereka?"


"Papi mau cepat punya mantu tidak. Jadi jangan banyak tanya. Aris butuh mereka pi."


Papi dan Mami langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan Aris.


"Wah kalau untuk itu jangankan pasukan senyap, pasukan ring satu papi pinjamin kamu." jawab papi.


"Serah papilah. Capek."


Aris langsung mematikan telpon nya. Papi dan Mami tertawa saja, karena papi sudah membuat Aris menjadi kesal. Aris dan Bram langsung masuk kekamar masing-masing. Mereka akan beristirahat, karena besok akan begitu banyak meeting yang harus dilalui.

__ADS_1


__ADS_2