
"Hahahahaha. Tapi baguslah Gin. Papi jadi tau siapa kamu sebenarnya." jawab Papi dengan nada serius dan ekspresi datarnya.
Ghina dan kedua anaknya menunduk mendengar ucapan Papi yang ada benarnya juga.
"Sekarang Papi mau nanyak apa ke sini?" lanjut Ghina yang sebenarnya masih marah dengan pengawal yang tidak bertanya siapa sebenarnya yang akan dicari oleh Papi.
Tapi setelah dipikir sesaat oleh Ghina, untung saja pengawal tadi memanggil dirinya, jadi dia tidak perlu lagi mencari moment yang tepat untuk memberitahukan semuanya kepada Papi lagi.
"Begini Gin." ujar Papi sambil menatap ke arah Ghina dan kedua anaknya.
'Mereka bertiga benar benar berjiwa pemimpin dan mafia. Semua terlihat dari wajah dan gaya santai mereka.' ujar Papi dengan memelankan suara.
"Pi, Papi" panggil Ghina lagi.
"Eh maaf Gin, Papi sempat termenung tadi." jawab Papi sambil kembali memfokuskan dirinya kepada permasalahan yang ada.
"Nggak apa apa Pi, kami bertiga maklum dengan rasa syok yang Papi rasakan." ujar Ghina dengan memberikan senyumnya kepada Papi.
"Ghin, Papi mau nanyak sesuatu ke kamu. Apa boleh?" tanya Papi lagi.
Ghina mengangguk. Dia sudah sangat yakin ada berjuta juta pertanyaan di otak mertuanya saat ini.
"Apakah Aris tau tentang semua ini?" tanya Papi.
"Nggak Pi." jawab Ghina dengan jujur.
Papi mengangguk dan tersenyum karena Ghina menjawab sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran Papi.
"Apakah Sari dan Mira juga ikut dalam kelompok ini?" pertanyaan Papi selanjutnya.
"Ya Pi. Sari dan Mira memiliki peran mereka masing masing dalam grub ini." jawab Ghina kembali.
"Apakah Bram dan Bayu tau?" pertanyaan berikutnya.
"Ya kak Bram dan kak Bayu sudah tau. Malahan mereka sering ke sini untuk berlatih tembak dan memanah." jawab Ghina dengan sejujur jujurnya.
"Jadi kenapa ke Aris tidak kamu ceritakan semua ini. Kenapa ke Bram dan Bayu, kamu ceritakan?" tanya Papi kembali.
__ADS_1
Ghina sudah membayangkan pertanyaan itu yang akan ditanyakan oleh Papi. Makanya Ghina sudah menyiapkan semua jawaban yang sejujur jujurnya untuk dikatakan kepada Papi.
"Jadi ceritanya dimulai saat Ghina pergi dari rumah saat kehamilan Argha Pi. Semua bermulai dari sana." ujar Ghina.
Ghina menceritakan semuanya kepada Papi tanpa ada mengurangi atau menambah setiap ceritanya. Ghina menceritakan sejujur jujurnya kepada Papi. Papi dan yang lainnya mendengarkan setiap cerita yang mengalir lancar dari mulut Ghina. Cerita yang sama sekali semua adalah kebenaran dan bukan rekayasa.
"Jadi karena hal itu kamu tidak mau menceritakan semuanya kepada Aris?" tanya Papi kembali meyakinkan dirinya.
"Yup Pi. Kelompok ini bukanlah kelompok mafia murni. Kami akan selalu membeking dari belakang kelompok black jack." jawab Ghina meyakinkan Papi.
"Ghin, Papi udah nggak tau lagi harus gimana ngomong sama kamu. Tapi satu hal Papi sangat luar biasa bersyukur mempunyai menantu sekaligus anak seperti kamu." ujar Papi.
Papi berjalan ke arah Argha dan Frenya. Papi spontan memeluk ke dua cucunya itu.
"Atuk juga sangat bangga punya cucu seperti kalian berdua." ujar Papi sambil memeluk kedua cucunya.
"Makasi Atuk. Kami juga sayang Atuk" balas Frenya.
Asisten Hendri tersenyum bahagia melihat Tuan Besarnya memiliki keluarga yang luar biasa bahagia. Walaupun sekarang ada masalah yang membuat akhir akhir ini Tuan besarnya uring uringan.
Atuk kembali duduk ke sofa samping Asisten Hendri.
"Sepertinya masalah serius Pi sampai sampai Papi tidak bisa menyelesaikannya sendirian." lanjut Ghina kembali.
"Benar Ghin." jawab Papi.
"Nona bagaimana kalau kita membicarakan hal ini di ruang meeting saja?" ujar Alex.
Alex tidak mungkin membahas masalah utama keluarga Soepomo di seputar pendengaran anak buah mereka. Sepatuh patuhnya anak buah pasti di dalam hati mereka memiliki keinginan untuk menjatuhkan ketuanya.
"Pi, kita ke dalam ruangan aja ya Pi. Kita bahas di sana saja semuanya." ujar Ghina yang paham dengan maksud Alex.
Ghina bukan tidak percaya dengan semua anak buah mereka yang ada. Tetapi ini adalah masalah keluarga besarnya, jadi lebih baik semakin sedikit yang tau ceritanya akan semakin aman.
"Silahkan masuk Pi, asisten Hendri" ujar Ghina mempersilahkan Papi dan asisten Hendri untuk masuk ke dalam ruangan meeting.
Mereka semua kembali duduk di kursi masing masing.
__ADS_1
"Pi silahkan." ujar Ghina mempersilahkan Papi untuk menceritakan masalahnya.
Aura kepemimpinan Ghina langsung saja keluar dan memenuhi udara ruangan. Papi sangat merasakan hal itu.
"Sebelumnya Papi mengucapkan ucapan terimakasih kepada kamu dan yang lainnya karena sudah mau menerima kedatangan Papi dan Paman Hendri ke sini." ujar Papi sambil menatap mereka semua satu persatu.
Mereka yang ditatap oleh Papi menganggukkan kepalanya.
"Tujuan kami berdua ke sini sebenarnya untuk meminta bantuan Ghin. Papi sudah selama seminggu ini di teror oleh nomor yang tak di kenal." ujar Paman Hendri memulai cerita.
"Di teror nomor nggak di kenal?" tanya Ghina lagi. Sejak kapan Tuan Soepomo ada yang berani menerornya.
"Masalah apa Paman?" tanya Ghina lagi.
"Papi menerima video seperti ini." ujar Paman Hendri sambil memberikan video kepada Ghina.
"Bun putar aja Bun." Argha memberikan saran kepada Ghina untuk memutar dengan memakai tampilan layar besar.
Alex mengambil ponsel yang diserahkan oleh Paman Hendri. Alex memasangkan sebuah perangkat ke ponsel Paman Hendri.
Mereka semua menatap ke layar itu. Sebuah video seorang wanita yang sudah berumur sibuk bekerja di sebuah rumah.
Ghina sebelumnya sudah mengkode rekan rekannya untuk tidak berkomentar apapun terhadap rekaman video yang akan di putar nanti.
Mereka terus mengamati semua video yang di putar. Mereka sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Mereka semua seperti tidak tau dengan kejadian ini.
Akhirnya setelah memutar tujuh video rekaman yang dikirim oleh seseorang itu kepada Papi selesai sudah.
"Jadi Pi. Apakah Papi punya masalah dengan orang akhir akhir ini?" tanya Ghina sebelum menanyakan siapa wanita yang di dalam video itu.
Seingat Papi dan Paman Hendri, mereka tidak pernah membuat masalah dengan siapapun akhir akhir ini.
"Nggak Ghin kecuali dengan nenek lampir itu." ujar Papi menjawab pertanyaan Ghina.
"Atau ada lawan bisnis Papi yang merasa dirugikan oleh Papi selama jni?" tanya Ghina lagi sambil membantu Papi mengingat ngingat hal lain.
"Tidak ada Gin. Papi yakin akan hal itu." jawab Papi lagi.
__ADS_1
"Berarti ada orang yang dengan sengaja mengganggu kehidupan Papi. Kalau Ghina boleh tau siapa sebenarnya wanita dalam video itu Pi?" tanya Gina yang memang penasaran dengan jawaban Papi.
Semua orang yang berada di dalam itu menantikan jawaban dari Papi. Apakah Papi akan jujur atau malahan sebaliknya.