
✉️ Papi
Aris, saat mami sampai di rumah sakit. Kamu Papi tunggu di kantor utama Soepomo.
✉️ Aris
Ada apa Pi? Nggak mungkin Aris ninggalin Gina, Pi.
✉️ Papi
Ada Mamk, dan juga Nana. Jadi tidak ada alasan. Kamu harus menemui papi.
✉️ Aris
Baiklah Pi. Aris akan izin dengan Gina.
Gina yang merasakan sedikit pusing di kepalanya langsung membuka mata cantiknya saat cahaya matahari mengenai matanya. Gina melihat dia tidak berada di kamarnya. Melainkan di kamar yang lain. Gina melihat tangannya yang dipasang infus. Dia juga melihat Ayah, dan Nana yang duduk di sofa. Sedangkan Aris duduk di kursi sebelah kasur tempat Gina berbaring.
Gina menggerakkan tangannya yang dipegang Aris. Aris yang sedang tidur tidur ayam, terbangun karena gerakan dari tangan Gina.
"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Aris.
"Udah sayang. Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada di rumah sakit?" tanya Gina kepada Aris.
"Kamu kemaren jatuh dari tangga sayang. Makanya kamu di bawa ke rumah sakit. Kenapa kamu nggak hati hati sayang. Jangan bikin aku cemas seperti ini lagi ya" kata Aris langsung memeluk tubuh Gina dan mencium muka Gina. Tak terasa air mata Aris jatuh ke muka Gina.
"Sayang jangan nangis. Aku nggak apa apa sayang" kata Gina. Gina kemudian mengelus pipi Aris dengan punggung tangannya.
"Sayang, ntah apa yang terjadi dengan kamu. Sehingga kamu tega menduakan aku sayang" kata Gina dalam hatinya.
Nana dan Ayah yang melihat Gina sudah bangun langsung mendekat ke kasur Gina. Aris menekan tombol panggilan untuk dokter.
Tak menunggu lama dokter yang menangani Gina masuk ke dalam kamar Gina.
"Permisi Nyonya muda, kami akan memeriksa keadaan Nyonya." kata dokter.
Dokter kemudian memeriksa keadaan Gina. Aris sebenarnya marah dengan dokter yang mengarahkan stetoskopnya ke dada Gina. Tapi Gina lebih dulu memegang tangan Aris. Aris kembali manahan marahnya.
"Baiklah Nyonya Muda. Kondisi anda sangat bagus. Besok siang Anda sudah kami izinkan untuk pulang. Luka di kepala Anda akan kering selama tujuh hari ke depan. Kami sarankan untuk Nyonya Muda mengganti perbannya setiap hari. Kalau Nyonya Muda tidak berani, maka silahkan datang kemari" kata dokter yang memeriksa Gina.
"Kalian yang harus datang ke rumah. Bukan istri saya yang akan datang kemari. Paham" kata Aris akhirnya mengeluarkan emosi yang sudah ditahan dari tadi.
"Baik Tuan Muda. Kami akan setiap hari datang untuk mengganti perban Nyonya Muda" kata dokter.
"Baiklah permisi Nyonya Muda, selamat beristirahat dan jangan terlalu banyak pikiran" lanjut dokter.
Dokter dan perawat langsung keluar dari kamar yang penuh dengan aura intimidasi itu.
"Dokter unting cepat kita keluar dari sana. Kalau tidak bisa mati bediri saya dok" kata Suster.
"Sama suster. Makanya saya memilih kata kata yang harus saya keluarkan. Saya takut salah sampai. Tau sendirilah Tuan Muda seperti apa" kata dokter.
"Ehm" kata Mami yang mendengar dokter dan suster itu sedang membicarakan Aris.
__ADS_1
"Maaf Nyonya besar" kata dokter.
"Tidak apa apa. Asal jangan terdengar oleh Aris aja dokter" kata Mami sambil tersenyum.
"Makasih Nyonya Besar" kata dokter.
Dokter dan suster kembali jalan setelah Mami terlebih dahulu berjalan menuju kamar Gina. Mami membuka lintu kamar.
"Mami" kata Gina.
"Sayang, kamu udah sadar nak. Syukurlah kamuntidak apa apa sayang" kata Mami sambil lewat tanpa menyapa Aris.
Aris dan Gina merasa heran dengan sikap Mami. Tidak biasanya Mami mengacuhkan Aris seperti ini.
"Gina tidak apa apa Mi. Papi mana Mi?" kata Gina yang tidak melihat Papi.
"Papi ke kantor Soepomo sayang. Katanya ada yang mau diselesaikan. Mami tak tau apa masalahnya" kata Mami.
Mami kemudian meletakkan sarapan yang dibawanya di atas meja yang ada di kamar itu. Nana membantu Mami membuka semua sarapan.
"Sayang, kamu sarapan dengan keluarga sana. Aku bisa di sini sendirian" kata Gina
"Kamu sama Mami sayang. Biar dia makan dengan Nana dan Ayah" kata Mami dengan muka masam melihat Aris.
Gina yang sadar Mami ada masalah dengan Aris. Akan mengorek informasi saat mereka sedang berdua nanti. Nana dan Ayah selesai sarapan, begitu juga dengan Aris.
"Gina, Ayah dengan Nana pulang ke rumah dulu ya. Nanti siang kami kemari lagi. Kamu tinggal dengan Mami dan Aris ya nak" kata Ayah.
"Iya ayah nggak apa apa. Ayah sama Nana istirahat aja di rumah dulu. Malam ke sini juga tidak apa apa" kata Gina.
"Tenang Nana, ada Mami. Percayakan aja Gina sama Mami" kata Mami.
Ayah dan Nana kemudian keluar untuk pulang menuju rumah mereka. Mereka berdua akan beristirahat sebelum nanti malam menunggui Gina lagi.
"Sayang, aku juga permisi ke kantor ya. Tadi Papi pesan kalau aku harus ke kantor. Ada yang mau dibicarakan"
"Iya sayang. Nggak apa apa. Aku sama mami aja di sini. Kamu hati hati ya sayang." kata Gina.
Aris kemudian mencium pipi dan bibir Gina sekilas. Gina juga melakukan hal yang sama kepada Aris. Mami yang melihat tidak menyangka kalau ke romantisan ini bersikap semu saja. Bukanlah kenyataan. Aris kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan. Dia harus menemui Papi di kantor utama Soepomo. Aris tidak tau ada permasalahan apa di perusahaan. Setau Aris perusahaan aman aman saja selama ini.
"Mami, Gina mau tanya sesuatu boleh Mi?"
"Boleh sayang. Gina mau tanya apa sama Mami?"
"Kenapa Mami berubah dengan uda Aris, Mi?"
"Sayang. Kamu masih tanya kenapa Mami berubah sayang. Kamu manusia atau malaikat sayang" kata Mami yang mulai meneteskan air matanya.
"Maksud Mami?" tanya Gina yang tidak paham apa yang membuat Mami menangis dan mencuekin Aris.
"Sayang, Papi dan Mami sudah tau semuanya sayang. Mami heran kenapa kamu masih bersikap mesra dan baik kepada Aris. Mami saja yang mendengar ceritanya separo aja udah sangat kesal sayang. Makanya mami tanya kamu manusia atau malaikat" kata Mami.
"Mami, Gina manusia biasa Mami. Jujur kalau Mami tanya apakah Gina sakit hati, ya Gina sakit hati Mami. Apakah Gina marah, ya Gina luar biasa marah" kata Gina.
__ADS_1
"Tapi Mi. Gina tidak ada bukti tangkap tangan Mi. Gina punya semua buktinya. Tapi Gina mau melihat langsung Mi." kata Gina.
"Tapi sayang. Apa kamu kuat menahan ini semua?"
"Mami, Gina kuat Mi. Gina ingin membuat Aris sadar dengan cara Gina. Gina tidak mau keluarga besar ikut campur Mi. Tolong katakan kepada Papi, Mi" kata Gina dengan tabahnya.
Mami kemudian mengambil ponselnya. Mami melakukan Video Call dengan Papi.
"Ya Mi. Kamu udah di tempat Gina?"
"Udah Pi. Itu menantu kita. Kata Gina dia mau bicara serius dengan Papi"
"Ada apa sayang?" kata Papi yang melihat Gina biasa saja. Seperti tidak ada masalah atau kejadian buruk yang menimpa dirinya.
"Papi, Gina tau Papi udah tau cerita semuanya. Tapi Gina mohon Pi. Biarkan Gina yang menyelesaikan masalah ini sendirian. Gina mohon Papi dan Mami serta kak Bram pura pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan Aris di luar sana. Gina mohon Pi" kata Gina dengan menatap tajam Papi.
"Kamu yakin sayang. Kami tidak usah ikut serta?"
"Yakin Pi. Kalau Gina sudah tidak mampu lagi, Gina janji akan minta tolong Papi dan ayah. Untuk saat ini Gina masih bisa menghendlenya sendiri Pi" kata Gina dengan penuh keyakinan.
"Baiklah nakm Kali ini permintaan kamu papi kabulkan. Tapi kalau kamu butu papi kamu harus ngomong. Paham Gina"
"Paham Papi. Makasi Papi" kata Gina dengan senyum tulusnya.
"Mana Mami sayang?"
"Mi. Papi" kata Gina sambil memberikan ponsel Mami.
Mami mengambil ponsel dari Gina. Mami berjalan keluar kamar Gina, karena di kode Papi
"Ada apa Pi?"
"Menurut Mami bagaimana?"
"Biarkan saja Pi, Gina menyelesaikan permasalahnnya. Kita percayakan saja ke Gina Pi" kata Mami.
"Baiklah Mi. Papi setuju dengan Mami. Semoga Gina bisa menyelesaikan dengan cara baik Mi"
"Iya Pi."
"Balik ke Gina Mi. Kasian dia sendirian." kata Papi.
"Papi jangan amrah sama Aris"
"Nggak tenang aja. Kalau nggak di minta Gina tadi. udah papi pecat tu *****" kata Papi
"Papi udah ketemu tu perempuan?"
"Udah Mi. Jauh dari Gina. Ntah apa yang dilihat anak bego kita itu Mi. Heran Papi"
"Hahahahaha. Karena murah kali Pi. Kalau menantu kita kan mahal"
"Anak kita suka barang murah ternyata Mi. Bikin malu aja" kata Papi.
__ADS_1
Papi memutuskan panggilannya saat Aris mengetuk pintu ruangannya.