Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Operasi Gina


__ADS_3

Pagi hari jadwal operasi Gina pun tiba. Gina sudah memakai baju untuk operasinya. Tapi Gina terlihat tidak bersemangat. Hal ini menjadi perhatian okeh Afdhal.


"Gin, kenapa?" tanya Afdhal.


"Nggak kenapa kenapa uda."


"Jangan bohong. Kamu lagi nungguin Aris?"


Gina pun mengangguk.


"Apa kak Aris marah lagi sama Gina ya uda? Kok dia nggak datang?"


"Sepertinya dia sibuk kerja Gin, makanya dia tidak bisa datang. Jadi nggak usah dipikirkannya. Selesai kerjanya pasti dia akan datang."


"Tapi Gina mau dia ada saat Gina dioperasi Uda."


"Tapi Gin. Sebelumnya uda minta maaf, tapi kamu bukan siapa siapa Aris sayang. Gimana bisa kita memaksa dia untuk hadir."


"Iya juga ya uda. Baiklah Gina udah siap."


Suster yang mendengar Gina udah siap, langsung memindahkan Gina ke brangkar yang akan membawanya menuju ruang operasi di lantai tiga rumah sakit. Nana terus saja memegang tangan Gina. Nana tidak mau melepaskan sedikitpun tangan Gina. Ayah dan Afdhal berjalan di belakang brangkar rumah sakit.


Afdhal yang tidak ingin membuat Gina kecewa langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon Bram.


"Hallo, Tuan Bram. Maafkan saya menelpon anda pagi pagu sekali. Saya cuma mau bertanya apakah Tuan Aris sibuk hari ini?"


"Aris tidak ada agenda Tuan Afdhal, sekarang dia sedang menuju rumah sakit, atau mungkin sudah sampai. Dia tadi telat bangun, makanya telat sampai rumah sakitnya."


"Oooo, begitu baiklah. Terimakasih tuan Bram atas informasinya."


Aris kemudian menuju Gina. "Gin, Aris sudah jalan ke sini, dia telat bangun. Jadi jangan mikir macem-macem lagi ya." kata Afdhal. Gina pun mengangguk.


Setelah sampai di depan pintu ruangan operasi, Ayah, Nana dan Afdhak tidak boleh masuk. Mereka hanya bisa menunggu di depan pintu ruangan operasi. Suster kemudian mendorong brangkar rumah sakit. Sebelum pintu ruangan tertutup rapat, terdengarlah teriakan seorang pria dengan kerasnya.


"Tunggu"


Ayah, Nana dan Afdhal melihat ke sumber suara. Ternyata yang berteriak dengan sangat keras adalah Aris. Dia berlari dengan kencang menuju pintu ruangan operasi.


"Gin semangat ya. maaf kakak telat. Tadi telat bangun"


"Oke kak. Gina akan sehat kembali seperti semuka. Makasi sudah mau datang."

__ADS_1


"Sama-sama."


Brangkar rumah sakit kembali di dorong oleh suster. Ayah, Nana, Afdhal dan Aris duduk di kursi tempat keluarga menunggu pasien. Setiap dokter, suster maupun karyawan rumah sakit yang melihat Aris selalu menundukkan kepalanya. Aris hanya santai saja tanpa membalas sapa mereka.


"Tuan maafkan saya karena telat. Semalam saya telat tidur, makanya telat bangun."


"Nggak apa-apa Ris. Kami tau bagaimana sibuknya. Apalagi sekarang mengurus dua perusahaan besar." jawab Ayah.


"Terimakasih Tuan atas pengertiannya."


Aris kemudian duduk didekat Afdhal.


"Maaf telat. Semalam ada pekerjaan yang nggak bisa ditunda."


"Nggak masalah. Tapi tadi Gina memang mencari Anda. Dia sampai tidak mau operasi kalau tidak ada Anda. Sepertinya adik saya sudah bucin dengan Anda. Tetapi dia tidak mau mengakuinya." kata Afdhal.


Aris kemudian meresapi apa yang dikatakan oleh Afdhal. Kalau memang Gina sudah mencintainya berarti cinta itu sudah tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Aris harus mendapatkan kepastiannya secara cepat. Aris tidak mau menunggu lama-lama lagi. Dia harus gerak cepat.


Tak terasa sudah satu setengah jam operasi dilakukan, tetapi lampu ruangan operasi belum berubah warna menjadi warna hijau. Ayah, Nana, Afdhal dan Aris kembali menjadi risau mereka takut terjadi sesuatu dengan Gina di dalam sana. Aris berkata dalam hatinya "kalau terjadi sesuatu kepada Gina, mereka yang melakukan operasi akan menerima hukumannya."


Lima belas menit kemudian, akhirnya lampu kamar operasi berubah menjadi warna hijau. Terlihat seorang dokter keluar dari pintu ruangan operasi. Ayah dan yang lainnya langsung berdiri, dan berjalan menuju dokter tersebut.


"Dokter bagaimana dengan keadaan putri saya?" tanya Ayah.


"Baiklah dokter, terimakasih karena sudah menyembuhkan anak saya." kata Nana.


"Maaf Nyonya yang menyembuhkan adalah yang di atas. Saya hanya perantara saja. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan" kata dokter.


Dokter kemudian mau melangkahkan kakinya. Terdengar Aris menahan langkahnya.


"Tunggu. Kamu sekarang saya minta menemui direktur rumah sakit. Ada yang akan dibahas olehnya bersama kamu." kata Aris.


Dokter tersebut mengangguk dan langsung masuj ke dalam lift menuju lantai lima ke ruangan direktur. Aris kemudian menelpin direktur rumah sakit untuk mengangkat dokter tersebut menjadi salah seorang wakil direktur.


Dokter yang mebgoperasi Gina tadinakhirnya sampai juga di ruangan direktur.


"Tok tok tok


"Masuk" kata direktur.


"Maaf Tuan. Tadi kata Tuan Aris, Anda memanggil saya. Apakah saya membuat kesalahan Tuan?"

__ADS_1


"Oh itu, tidak, Anda tidak membuat kesalahan. Malahan kebalikannya. Orang yang Anda selamatkan tadi adalah wanita terpenting nomor dua dalam hiduo Tuan Aris. Makanya Anda di minta untuk menemui saya."


"Untuk apa Tuan?"


"Anda mulai hari ini diangkat menjadi wakil direktur rumah sakit yang sudah lebih dari dua tahun kosong. Jadi saya ucapkan selamat. Acarany akan diadakan seminggu kedepan." Direktur langsung memajukan tangannya, dokter tersebut lalu menajabat tangan direktur.


Dokter tersebut langsung keluar. "Orang kaya mah bebas"


Sedangkan Ayah, Nana, Afdhal dan Aris langsung menuju ruang rawat Gina. Mereka akan menunggu Gina di sana. Tapi saat mereka belum sampai ruangan Gina ponsel Aris berbunyi, Aris mengambil ponsel didalam saku celananya. Disana tertera nama Bram yang menghubunginya.


"Assalamualaikum Aris"


"Waaluikumsalam Bram. Ada apa Bram?"


"Ris, ada seseorang yang ingin bertemu dengan loe. Katanya dia akan mengajukan kerjasama yang besar kepada perusahaan Jaya Grub. Tapi syaratnya dia harus bertemu dengan presiden direktur dan tidak mau diwakilkan."


"Perusahaan mana Bram?"


"Perusahaan Adiatma"


"Oke katakan kepada perusahaan itu. Gue akan bertemu dengan presdirnya juga tidak diwakilkan. Gue akan ke kantor sekarang. Suruh mereka datang pukul tiga sore ini."


"Oke Ris."


Aris kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Bram.


"Tuan, Nyonya, saya minta maaf tidak bisa menemui Gina saat dia baru sadar. Saya ada meeting yang memang harus saya yang menghadiri tidak bisa diwakilkan oleh Bram. Jadi saya mohon undur diri dulu."


"Baiklah Tuan Aris. Kami sangat paham dengan kesibukan Tuan. Terimakasih juga sudah mau datang untuk menunggui Gina yang sedang diiperasi." jawab Ayah.


"Sama sama Tuan Wijaya. Kalau begitu saya pamit."


Aris kemudian berjalan keluar dari ruangan Gina. Saat sampai di pintu Igd, langkah Aris diberhentikan oleh dokter yang sudah mengoperasi Gina tadi.


"Maaf Tuan Aris, saya menghalangi jalan Tuan. Tapi saya mau bertanya tentang"


"Tentang Anda menjadi wakil direktur di rumah sakit ibi? Saya percaya dan yakin dengan Anda makanya Anda yang saya pilih. Kita akan melakukan acaranya dalam minggu depan."


"Terimakasuh Tuan atas kepercayaan Anda kepada Saya. Saya berjanji akan selalu amanah dengan segala tugas saya."


"Saya pegang janji Anda. Saya permisi dahulu, ada pekerjaan yang menunggu saya di kantor."

__ADS_1


Aris kemudian melanjutkan langkahnya. Dia langsung masuk ke mobil yang sudah menunggunya di lobby. Aris hari ini sengaja memakai sopir. Aris sangat lelah hari ini. Mobil melaju menuju kantor Jaya Grub. Aris sangat penasaran dengan siapa dia akan bertemu.


__ADS_2