Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bujukan Argha


__ADS_3

Mobil dikemudikan Jero dengan kecepatan sedang, mereka menuju rumah utama.


"Gambarnya udah ada Gha?" tanya Ghina yang teringat akan tugas mozaik milik Argha.


"Udah Bunda dalam tas sekolah." jawab Argha.


"Hem oke." ujar Ghina.


Tidak berapa lama di perjalanan dua mobil hitam tersebut memasuki halaman rumah utama. Mereka semua turun dari atas mobil. Argha melihat mobil milik Frenya sudah ada di parkiran.


"Yes Uni udah pulang." ujar Argha.


Frenya yang juga baru sampai dari kantor, menikmati istirahatnya sambil duduk di sofa teras depan rumah. Dia menikmati teh sore yang dibuatkan Bik Imah dan sekotak kecil pudih susu.


"Uni cantik sayang Argha." ujar Argha menyapa Frenya dengan riangnya.


"Hay Adik Uni yang paling tampan sedunia. Pasti ada maunya kan ya, makanya menyapa uni dengan begitu lebaynya." jawab Frenya membalas kelebayan Argha.


"Hahahahaha." Argha tertawa.


"Mana ada. Itu ucapan tulus dari hati Argha, Uni." kata Argha yang takut maksud dan tujuannya diketahui oleh Frenya.


"Ya lah." jawab Frenya yang sudah tau Argha pasti memiliki maksud yang terpendam.


"Argha kenapa belum dikasih juga hadiah untuk Uni?" tanya Ghina kepada Argha.


Argha masih terlihat memegang paperbag yang berisi tas untuk hadiah Frenya.


"Uni, ini ada hadiah dari Argha, tapi uangnya milik Daddy. Uni terima ya Uni. Argha kan nggak pernah ngasih uni hadiah." ujar Argha sambil tersenyum melihat ke arah Frenya.


"Hadiah?" tanya Frenya yang makin mulai curiga dengan maksud dan tujuan Argha.


"Iya tas." jawab Argha.


"Uni nggak tau tas kayak apa?" tanya Argha lagi.


Saat mereka sedang bercerita ringan. Daniel dan Rani datang dari rumah sakit.


"Ada apa Bun?" tanya Daniel.


"Ada yang lagi melakukan lobby tingkat tinggi." ujar Ghina menjawab pertanyaan Daniel.


"Oh. Seru kayaknya ini." jawab Daniel.


"Duduk sayang. Kita lihat lobby ini berhasil atau tidak." bisik Daniel di telingan Rani.


Rani mengangguk, dia juga penasaran apakah Argha berhasil membujuk Frenya dengan cepat atau berakhir dengan ancaman.


"Argha sekarang ngomong aja ada apa?" tanya Frenya yang sudah tau Argha pasti meminta tolong mengerjakan tugas sekolahnya yang sama sekali tidak menantang menurut Argha.


"Hahahahaha. Frenya keren." ujar Argha sambil memberikan dua jempolnya untuk Frenya.


"Ada apa?" tanya Frenya sekali lagi.


"Argha minta tolong sama Frenya, tapi terima dulu hadiahnya." ujar Argha setengah memaksa dengan meletakan hadiah tas tersebut ke tangan Frenya.


Frenya sama sekali tidak menyentuh paperbag tersebut.


"Frenya, Bunda Uni nggak mau terima paper bag dari Argha." ujar Argha dengan nada suara yang sudah mengandung air mata.


"Nah usahalah. Kok ngadu ke Bunda." ujar Ghina yang menolak menolong anak bontotnya itu.


"Uni, jadi sebenarnya gini. Argha ada tugas bikin mozaik dari kacang kacangan. Uni tau sendirikan ya kalau Argha nggak pinter bikin mozaik. Jadi, Argha minta bantuan ke uni untuk membantu Argha." Argha akhirnya memilih untuk menjelaskan apa maksud dan tujuannya.

__ADS_1


"Jadi tas ini sogokan untuk membuat mozaik?" tanya Frenya memastikan apakah dia yang membuat atau dia hanya sekedar membantu saja.


"No Uni No. Uni membantu Argha. Jadi sistem kerjanya gini." ujar Argha mulai serius.


"Uni tukang pasang lem serta menempel yang bagian tepi tepinya. Nanti Argha yang bagian dalamnya." kata Argha yang menjelaskan pekerjaan Frenya sampai dimana


"Jadi uni bagian pingginya saja?" tanya Frenya meyakinkan apa yang dikatakan oleh Argha.


"Yupi." jawab Argha yang terpaksa harus mengatakan hal itu. Argha sudah bisa membaca kalau Frenya akan menolak keinginannya.


"Hem baiklah. Siap makan malam kita kerjakan. Kacang kacangannya udah ada?" Frenya teringat dengan semua bahan yang dibutuhkan.


"Udah di dapur. Ambil punya Bik Imah aja. Seperti biasa aja." jawab Argha sambil tersenyum bahagia dengan ide yang ada di otaknya saat ini.


"Oke." Frenya setuju dengan ide Argha.


"Nggak asik lobbynya. Argha udah tau mau kalah. Makanya ngomong kayak tadi." ujar Daniel yang tau adik bontotnya ini sengaja mengeluarkan ide seperti tadi.


"Hahahahaha." jawab Argha.


"Udah sekarang bersih bersih, siap itu kita makan malam. Nanti Bunda dengan Daddy mau ke rumah sakit sebentar ya. Frenya kamu jaga Argha, pastikan tugasnya selesai." kata Ghina mengatakan rencana dia dan Aris nanti malam.


"Oke Bun." jawab Frenya.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka akan membersihkan diri terlebih dahulu dan selanjutnya akan makan malam bersama.


"Bik Imah, makan malam udah kan ya?" tanya Ghina kepada kepala pelayan yang dikhususkan untuk memasak makanan bagi anggota keluarga


"Sudah siap Nyonya." jawab Bik Imah.


Setelah memastikan semua makanan sudah siap. Ghina barulah ke kamar. Dia menyiapkan pakaian santai untuk Aris.


Saat suara panggilan melaksanakan kewajiban berkumandang dengan indahnya dari mushalla rumah utama. Semua penghuni rumah utama bergerak menuju mushalla. Mereka semua meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakukan bagi yang wajib melakukan kewajiban. Hari ini bertindak sebagai imam adalah Aris. Aris melakukannya dengan sangat baik.


Setelah selesai melaksanakan kewajiban, mereka semua menuju ruang makan. Mereka makan dalam diam. Selesai makan Aris dan Ghina langsung berangkat menuju rumah sakit. Sedangkan Frenya dan Argha akan membuat tugas mozaik.


"Tuan muda tidak pergi Nyonya?" tanya Bimo kepada Ghina.


"Kenapa? Kamu mau ngomong seperti Jero ngomong ke Argha?" tanya Ghina sambil memasang wajah tersenyumnya.


"Hahahahaha. Ketahuan." ujar Jero.


"Besok aja kamu antar dia. Tapi saya ragu dia masih bisa seperti kemaren." jawab Ghina.


"Yah." ujar Bimo dengan wajah kecewa.


"Saya yang ngasih." ujar Aris sambil menepuk pundak Jero.


"Nggak asik kalau Tuan yang ngasih. Maunya Tuan Muda." jawab Bimo dengan nada kecewa.


Aris memandang Ghina. Ghina mengangguk tau dengan perintah yang diberikan Aris.


"Sayang, apa menurut kamu Sari akan lama koma?" tanya Ghina sambil meraih tangan Aris kedalan genggaman tangannya.


"Kenapa nanyak itu sayang?" Aris kembali bertanya.


"Sayang jangan jawab pertanyaan dengan kembali bertanya. Kamu aneh." ujar Ghina sedikit kesal.


"Hahahahahahaha. Jangan marah marah nanti kamu cepat tua." ujar Aris dengan sedikit bersenandung seperti irama lagu yang dinyanyikan sepasang kekasih itu.


"Mulai dah tu ngerayunya." ujar Ghina sambil menatap Aris dengan tatapan penuh cinta.


Dua orang di depan hanya bisa menatap lurus saja keluar kaca mobil. Mereka sama sekali tidak bisa berkomentar saat melihat sepasang suami istri yang mesra di belakang mereka. Dalam hatinya dua orang asisten tersebut berharap Tuan dan Nyonya mereka selalu seperti ini ke depannya.

__ADS_1


Tak lama mengemudi, Jero membelokkan mobilnya memasuki perkarangan rumah sskit Harapan Kita. Setelah memarkir mobil di tempat parkir khusus pemilik rumah sakit, keempat orang turun dari dalam mobil.


Aris dan Ghina berjalan di depan. Sedangkan Jero dan Bimo mengikuti dari belakang. Mereka mengawasi pergerakan orang orang di sekeliling Aris dan Gina.


"Bram, gimana Sari?" tanya Aris sambil duduk di sofa sebelah Bram.


"Masih belum sadar Ris. Tapi tadi ada sedikit yang membuat bahagia. Jari jarinya sudah bergerak walau sedikit" ujar Bram memberitahukan perihal kemajuan Sari.


"Serius kak tadi jari Sari bergerak?" tanya Ghina yang mendengar semua percakapan antara Aris dan Bram.


"Yup bener. Tapi hanya sebentar." kata Bram meyakinkan Ghina perihal ucapannya.


"Wah kalau gitu bagus Kak. Apa kata dokter?" tanya Ghina yang sangat kepo dengan kemajuan kesehatan Sari.


"Tadi dokter cuma ngomong kalau seperti ini perubahannya dan dalam waktu cepat, maka Sari akan cepat bangun." jawab Bram.


"Kamu harus bisa bercerita terus dengan Sari Bram. Urusan perusahaan serahkan kepada asisten Hendri aja dulu. Kamu jangan mikir perusahaan." kata Aris dengan penuh semangat dan keyakinan Sari akan sehat kembali.


"Makasi Ris. Gue akan berusaha mengembalikan Sari seperti semula. Gue juga ingin membangun rumah tangga seperti kalian berdua. Tolong bantu gue dengan doa ya." ujar Bram dengan nada suara yang sudah kembali semangat.


"Selalu Bram. Kami selalu berdoa untuk kesembuhan Sari." jawab Aris.


Ghina kembali duduk ke dekat Sari. Dia duduk di kursi sebelah kepala Sari.


"Sar, bangun yuk. Kamu nggak kangen dengan gue dan Mira. Kami kangen sama loe. Kami ingin belanja dan main bareng loe lagi. Loe nggak pengen bikin hal gila lagi dengan kami?" ujar Ghina di telinga Sari.


"Loe ingat nggak waktu itu, loe ntah Mira yang ngomong, gue lupa. Kita kalau menikah dengan ketiga pria yang bersahabat itu, maka kita akan pergi bulan madu tiga pasang. Nah sekarang semuanya udah terwujud. Kapan kita akan pergi bulan madu bertiga. Ayolah kawan bangun." lanjut Ghina.


Sari sama sekali tidak memberikan reaksi apapun kepada Ghina. Hal ini membuat Ghina sedikit frustasi. Tapi Ghina harus kuat dan harus yakin kalau Sari akan kembali sehat seperti semula.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan. Ghina terus mengajak Sari mengobrol. Sedangkan Aris mengobrol dengan Bram. Mereka membahas berbagai hal. Tapi yang paling utama adalah masalah kesehatan Sari.


Sedangkan di rumah utama. Frenya dan Argha sedang mengerjakan tugas mozaik milik Argha.


"Nya, mana ada kayak gini." kata Argha protes.


"Tapi kacang kacangan. Ini kan kacang." kata Frenya dengan ngeyelnya.


"Kacang sih kacang, tapi nggak sebesar ini juga kali Nya." ujar Argha dengan nada sedikit kesal.


"Frenya mau bantu atau nggak?" ujar Argha dengan kesal.


Argha kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia berniat mau menghubungi Bunda.


"Lah mau ngadu dia." ujar Frenya.


"Frenya yang mulai kan." ujar Argha.


"Iya iya, Frenya bikin serius sekarang. Nggak becanda lagi." ujar Frenya.


Frenya dan Argha bekerja dengan serius. Melihat hari yang sudah mulai malam. Tepat pukul sepuluh malam, semua tugas Argha telah selesai dikerjakan mereka berdua.


"Oke sekarang waktunya tidur." ujar Frenya.


"Bunda?" tanya Argha.


"Lah Bunda kan di rumah sakit. Jangan bilang pengen tidur sama Bunda." kata Frenya yang tau maksud Argha bertanya Ghina.


"Nggak lah. Mana ada udah besar kali" jawab Argha dengan pongahnya.


"Yelah yang udah besar tapi masih serasa anak kecil." kata Frenya sedikit bernada membully Argha.


"Hem." jawab Argha.

__ADS_1


Kakak dan Adik itu kemudian menuju kamar mereka masing masing. Mereka memilih beristirahat duluan dari pada menunggu Bunda dan Daddy.


Aris dan Ghina yang juga sudah selesai berkunjung menemui Sari, juga memilih untuk pulang ke rumah. Mereka sebenarnya ingin tidur di sana, tetapi keadaan tidak memungkinkan, sehingga mereka berdua mau tidak mau harus pulang.


__ADS_2