
Ghina sampai di perusahaan Jaya Grub. Dia sudah menyampaikan berita yang didapatnya dari Juan tadi kepada Papi. Papi dan Asisten Hendri siap menunggu kedatangan wanita yang sudah berani beraninya mengatakan diri sebagai Erlin Soepomo. Papi dan Asisten Hendri mengumpulkan semua bukti untuk menyeret wanita tersebut ke penjara.
"Berani sekali mereka datang ke tempat saya. Mari kita lihat apakah mereka bisa membuktikan kalau dia adalah istri pertama saya." kata Papi dengan geram.
"Hen, apa semua bukti sudah kamu ambil dari rumah utama?" tanya Papi kepada Asisten Hendri yang baru pulang dari rumah utama untuk mengambil semua bukti bukti yang disimpan oleh Papi di ruang tersembunyi rumah utama.
"Sudah Tuan. Saya sudah mengambil semua bukti itu. Saya ingin melihat bagaimana malunya dia saat melihat semua bukti milik kita." kata Asisten Hendri dengan oenuh emosi.
"Atuk Hendri, kalau Argha ya penasarannya dengan orang yang menyutuh dia berbuat seperti itu. Pasti ada orang di belakangnya. Kalau tidak mana berani dia berbuat seperti itu. Argha yakin kalau dia hanya diperalat oleh seseorang." kata Argha yang sudah menganalisa semua kejadia.
"Saya setuju dengan Argha, Hen. Kita harus tau siapa dalang di belakang semua ini." ujar Papi dengan geramnya
.........................................................................................
"Atuk, Argha ikut ke perusahaan ya." ujar Argha kepada Atuknya saat mereka sarapan.
"Loh tumben Gha mintak ke Jaya nggak ke Soepomo." kata Aris yang kaget anak bontotnya minta untuk ke Jaya bukan ke Soepomo.
"Argha lagi pengen sama Atuk. Bunda ikut Argha ya Bun." Argha mengajak Ghina untuk ikut ke perusahaan Jaya.
"Nah pake bawa Bunda segala. Bunda ke Soepomo." kata Aris memprovokasi Argha.
"Nggak. Bunda ke Jaya sama Argha. Daddy mau Argha ngambek?" Argha mengeluarkan jurus andalannya.
"Nah itu terus. Capek Daddy Gha." kata Aris yang mendapat ancaman paling menakutkan dari Argha.
Mereka akhirnya selesai sarapan dengan adanya bumbu keributan antara Aris dan Argha. Ghina akhirnya ikut dengan Argha keperusahaan Jaya.
"Gha kenapa harus dari pagi keti ke perusahaan Atuk, kenapa nggak siangan aja?" tanya Ghina saat mereka berdua sudah di dalam mobil dan mengiringi mobil Papi yang berjalan paling depan.
"Kita nggak tau kapan dia datang kan Bun. Makanya kita datang dari pagi aja." jawab Argha yang memang tidak mau ketinggalan moment yang berarti itu.
Ghina kemudian fokus menatap jalanan. Tiba tiba ponsel milik Ghina berdering nyaring. Dia memang sudah menyambungkan telpon selulurnya dengan tape mobil.
Ghina melihat nama Juan tertera di layar tape mobil. Ghina mengangkat panggilan itu. Argha yang semula fokus ke jalanan, mengubah fokus pendengarannya ke panggilan telpon itu.
"Hallo Juan ada berita apa?" tanya Ghina langsung ke topik masalah.
__ADS_1
"Selamat pagi Nyonya. Nyonya terlihat sangat tidak sabaran sekali." jawab Juan sengaja mengulur ngulur waktu.
"Juan, saya sedang tidak mengulur waktu. Ada apa juan???" tanya Ghina lagi.
"Hahahahahaha. Maafkan saya Nyonya" kata Juan.
"Juan. Sekarang" kata Ghina lagi.
"Info untuk Nyonya, bahwasanya Erlin Kw sudah akan berangkat menuju perusahaan Jaya grub. Saya melihat dia sedang duduk menunggu taksi online dengan Nenek lampir." kata Juan lagi.
"Wow Nenek lampir lagi. Kita harus bisa menargetkan nenek lampir itu lagi Juan. Kamu harus awasi nenek lampir itu." perintah Ghina selanjutnya.
"Kami akan mengikuti mereka nanti Nyonya. Kalau mereka akan sampai perusahaan kami akan menghubungi"
"Baik"
Ghina memutuskan panggilan telponnya dengan Juan.
"Nggak sabaran kali mereka Bun. Pagi hari udah mau bertamu aja mereka." ujar Argha.
"Pagi Tuan Besar, Tuan Muda, Nyonya Muda." sapa Asisten Hendri.
"Pagi Atuk Hendri yang terlihat sangat tampan tapi sedingin kulkas." jawab Argha dengan memberikan senyumnya.
"Sama sama Tuan Muda yang sedingin kutup kepada orang lain." balas Asisten Hendri.
"Oke lah yang sama sama es." balas Argha yang memang juga dingin kepada semua orabg.
Mereka berempat berjalan masuk ke dalam perusahaan. Di Jaya Grub tidak ada lift yang dari bestman langsung menuju ruangan direktur. Mereka semua harus masuk lewat pintu depan perusahaan.
Mereka berempat menjadi pusat perhatian semua karyawan dan karyawati yang baru datang. Argha dan Ghina memakai kokarde dengan nama tamu.
"Atuk, besok kalau Argha kesini lagi, Argha nggak mau pakai nametag tamu lagi. Tapi harus nama Argha." Argha memprotes kepada Atuknya tentang namanya itu.
Mereka akhirnya sampai di ruangan Papi. Argha langsung duduk di sofa sambil memainkan ponsel miliknya. Ghina memilih untuk mengontrol perusahaannya yang berada di Negara U melalui sambungan video.
Saat Ghina sedang asik bekerja sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya, mengatakan kalau Erlin Kw sudah masuk ke parkiran perusahaan.
__ADS_1
"Pi, dia sampai" ujar Ghina kepada Papi.
Papi dan Asisten Hendri duduk di tempat duduk mereka masing masing. Mereka tidak mau akting yang akan terjadi menjadi hampa karena Papi dan Asisten Hendri tidak melakukan drama mereka berdua.
Tepat jam sepuluh pagi, telpon Budi sang sekretaris berdering nyaring. Budi mengangkat panggilan itu.
"Selamat pagi dengan perusahaan Jaya Grub." sapa Budi dengan ramah. Dia sudah tau siapa yang menghubunginya.
"Sekretaris Budi, ini ada tamu yang mau bertemu dengan Direktur. Apakah bisa saya suruh naik ke atas?" tanya resepsionis mengikuti protokol untuk menemui direktur.
"Siapa namanya?" kata sekretaris Budi.
"Nyonya Erlin Tuan." jawab resepsionis.
"Oke silahkan antarkan ke atas. Saya akan menunggu di meja saya." kata Budi yang sudah menerima pesan dari Asisten Hendri untuk mempersilahkan kalau ada wanita yang bernama Erlin untuk bertemu dengan direktur.
Sekretaris Budi masuk ke dalam ruangan direktur yang di dalam ruangan sudah ada Asisten Hendri.
"Tuan, Nyonya Erlin sudah dalam perjalanan ke atas diantar oleh resepsionis." kata Sekretaris memberitahukan akan kedatangan Erlin.
"Baiklah saya akan tunggu dia di sini." jawab Papi.
Sekretaris kembali keluar ruangan Papi, dia menunggu tamu di depan pintu ruangan. Pintu lift terbuka lebar. Terlihat dua orang wanita berjalan keluar dari lift.
"Tuan Sekretaris ini Nyonya Erlin." kata resepsionis.
"Terimakasih, Anda boleh kembali ke tempat." ujar Sekretaris.
Sekretaris mengamati wanita tersebut dia mengamati dari atas sampai ke bawah wanita itu.
'Hem mana mungkin dia istro pertama tuan besar. Nampak kali memaksanya' kata Sekretaris dalam hatinya.
Erlin Kw menatap dengan penuh kekaguman pada interior perusahaan. Semua itu menjadi perhatian sekretaris.
"Nyonya mari masuk" ujar sekretaris.
Sekretaris membuka pintu ruangan. Semua orang yang di dalam sudah menunggu Erlin Kw dengan hati membara. Mereka ingin sekali melihat bagaimana cerita yang dibawa oleh Erlin Kw dari luar.
__ADS_1