Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pertanyaan Nana, Curhat Gina


__ADS_3

Setelah pesta pertunangan yang mewah dan spektakuler itu, Aris dan Bram harus berangkat menuju negara F. Mereka sudah ditunggu Dion di sana. Aris berangkat diantar oleh Gina. Gina terus memeluk tubuh Aris. Gina memiliki perasaan yang kurang nyaman untuk melepas Aris pergi. Tidak biasanya Gina seperti ini, ini adalah kali pertama Aris pergi semenjak mereka menjalin hubungan setahun yang lalu.


Aris dan Bram langsung menuju privat jet yang telah menunggu mereka di runway. Gina terus melihat Aris sampai Aris hilang dikeramaian bandara. Gina kemudian pergi ke kantor Nana. Gina sudah berjanji dengan Nana bahwa dia akan masuk kantor saat ujian tesisnya telah selesai.


Gina melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa saja. Gina tidak ingin cepat sampai di kantor Nana. Gina ingin menikmati sisa hari menjadi pengangguran karena sebentar lagi Gina akan mulai menjadi karyawan kantor. Setelah dua jam berkendara, Gina sampai di kantor Nana. Gina langsung menuju ruangan Nana yang terletak di lantai paling atas.


"Assalamualaikum Nana" kata Gina sambil membuka pintu kaca ruangan Nana.


"Waalikumsalam. Masuk sayang. Gimana apa Arisnya udah berangkat?"


"Udah Nana. Makanya Gina udah sampe sini."


"Pake adegan termehek mehek pulak?"


"Nggak lah Na. Ngapain coba. Nana aku berada di devisi mana? Jangan bilang harus menggantikan Nana."


"Nggak sayang, kamu gantiin Nana, Uda Afdhal mau dikemanain?"


"Pecat aja. Hahahahahaha" Gina tertawa mendengar apa yang dikatakannya sendiri.


"Beneran mau mimpin perusahaan Gin. Kalau iya uda bersukur banget. Uda bisa mimpin perusahaan uda yang baru." kata Afdhal dengan muka penuh keceriaan.


"Ngimpi lah uda dulu. Baru Gina mau"


"Sudah Afdhal, Gina. Kamu di devisi perencanaan Gin. Sesuai dengan minat dan bakat kamu. Sini Nana antar kebagian itu."


"Tapi Na, apa mereka tau kalau aku anak Nana?"


"Ya taulah sayang. Kamu nggak nengok apa, di dekat resepsionis ada fhoto keluarga kita."


"Apa? Ide gila siapa itu Na?" tanya Gina heran siapa yang memberi ide seperti itu.


"Siapa lagi kalau bukan Ayah kamu sayang. Ayah protektif kamu itu. Semua kantor kita pasti ada fhoto itu. Termasuk semua hotel dan restoran." kata Nana.


"Hahahahaha, ayah ayah"


Gina sampai dibagian devisi perencanaan.


"Siang pak Danu. Perkenalkan ini Gina, pegawai baru yang akan ikut di devisi ini mulai sekarang. Saya minta Pak Danu tetap memperlakukan Gina sama dengan pegawai lainnya." kata Nana dengan tegas.


"Baiklah Nyonya akan saya ingat pesan Nyonya."


Gina mulai bekerja hari itu. Walaupun baru perkenalan saja, Gina memperhatikan pola kerja karyawan di devisi yang selalu berdiskusi tentang suatu desaign yang akan mereka buat. Sekali sekali Gina menambahkan apa yang dirasanya perlu. Tak terasa hari sudah sore, Gina kemudian bersiap siap untuk pulang ke rumah. Gina memeriksa ponselnya yang tadi di simpan di dalam tas. Tidak ada satupun notifikasi pesan yang masuk dari Aris.


"Udah sampe mana kamu sayang" kata Gina dalam hatinya.


Gina yang sudah tidak tahan langsung saja mengirim pesan kepada Aris.


✉️ Gina


Hon, udah sampe mana Hon? Kok nggak ada kabar?


Aris yang sedang serius mendengarkan laporan dari Bram menoleh sesaat ke ponselnya yang menyala karena ada pesan masuk.


✉️ Aris

__ADS_1


Lagi meeting dengan Bram sayang.


Gina kemudian memasukkan kembali ponselnya. Dia bersukur Aris tidak apa apa. Gina melajukan mobilnya menuju rumah utama keluarga Wijaya. Gina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan biasa saja. Gina sedang tidak ingin cepat sampai di rumah. Tiba-tiba saja di dalam perjalanan Gina teringat mie ayam lezat itu. Gina langsung saja memutar arah mobilnya menuju penjual mie ayam.


"Wah Non sendirian. Mas gantengnya mana Non?" kata penjual Mie ayam yang memang sudah kenal dekat dengan Gina dan Aris.


"Lagi keluar negeri Mang. Aku pesan seperti biasa satu ya mang."


"Siap Non"


Gina kemudian menuju meja yang biasa ditempatinya dengan Aris. Baru setengah hari Aris pergi, Gina sudah gamang. Gina tidak tau seperti apa hari hari yang akan dilaluinya selama Aris berada di negeri orang.


"Tak lama kemudian pesanan Gina pun datang. Gina melahapnya dengan sangat nikmat. Tiba - tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Gina.


✉️ Aris


Sedang ngapain sayang?


✉️ Gina


Sedang makan mie ayam sayang. Tapi rasanya berbeda dengan minggu kemaren


✉️ Aris


Kamu pindah tempat makan sayang?


✉️ Gina


Berbeda karena nggak bisa menatap kamu sayang. Selezat apapun rasa makanan kalau nggak natap kamu maka rasanya menjadi tidak lezat sayang.


✉️ Aris


✉️ Gina


Jangan sayang. Aku nggak apa apa. Masak Dilan aja yang bisa menanggung rindu. Gina juga bisa.


✉️ Aris


Udah dulu ya sayang. Aku mau terbang lagi. Hati hati di sana sayang.


Gina memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Dia melanjutkan menyantap mie ayamnya yang tinggal sedikit lagi. Saat tinggal sesendok ponsel Gina kembali berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Assalamualaikum Na."


"Waalaikumsalam sayang. Kamu dimana sayang?" kata Nana terdengar cemas.


"Aku di warung mie ayam Na. Ini mau pulang lagi. Nana mau dibungkusin mie ayam?"


"Maulah sayang. Kebetulan Ayah dan Uda tidak makan di rumah. Tapi kamu lebihkan bibik ya sayang."


"Oke Nana. Sejam lagi aku sampe rumah."


"Mang, bungkus sepuluh pisah kuah ya mang."


Mamang mie ayam membuatkan pesanan Gina yaitu sepuluh bungkus mie ayam. Gina memainkan ponselnya sambil menunggu pesanannya siap.

__ADS_1


"Non ini pesanannya"


Gina membayar seluruh mie ayam, setelah itu Gina mengemudikan mobilnya menuju rumah utama. Tak lama berkendara Gina sampai di rumah utama. Gina langsung masuk kedalam rumah, ternyata Nana sudah menunggu di meja makan.


"Mana Gin. Nana udah laper."


Gina kemudian menyerahkan mie ayam khusus untuk Nana.


"Bik, sini bentar ya" panggil Nana keseorang bibik yang terlihat sedang mengambilkan minum untuk Nana.


"Ada apa Non?" kata bibik sambil meletakkan air minum Nana.


"Ini ada mie ayam sepuluh bungkus, tolong bagi bagi ya bik" Gina menyerahkan mie ayam yang dibelinya tadi.


"Terimakasih banyak Non."


"Na, Aris jadi pergi kenegara F?"


"Is bukannya tadi pagi Nana udah nanyak Nana."


"Lupa sayang. Pantesan kamu jadi galau begini yak?"


"Mana ada. Nana makan aja gih, jangan intrograsi Gina gitu. Kayak nggak pernah pacaran aja Nana." Gina manyun.


"Gin, ini kalau ya. Kalau seandainya Aris pulang dari negara F langsung mengajak kamu nikah, apa kamu mau?"


Gina terlihat berpikir, Gina mencerna apa yang dikatakan oleh Nana. Tapi apakah Gina siap untuk sebuah hubungan dalam ikatan pernikahan? Gina masih meragu. Tapi kalau hanya sekedar pacaran saja, Aris sudah berumur, Gina takut Aris bosan dan mencari wanita lain sebagai penggantinya.


"Gina? Nana tidak minta jawabanmu sekarang sayang. Tapi yang perlu Gina ingat, Aris sudah berumur, dia pasti menginginkan suatu pernikahan dan keturunan. Begitu juga dengan keluarga Soepomo, mereka tentu menginginkan keturunan untuk pewaris mereka."


"Nana, menurut Nana apakah kak Aris benar benar mencintai Gina? Gina takut kalau hanya cinta sesaat."


"Sayang yang namanya cinta hanya bisa kamu rasakan. Kalau dari segi Nana, Nana hanya bisa melihat, kalau hanya dari segi melihat jawabannya ya, Aris sangat mencintaimu." jawab Nana dengan pasti.


"Sekarang Nana kembalikan pertanyaan itu kepada kamu. Apakah menurut kamu, Aris mencintaimu dengan setulus hatinya atau hanya sesaat?" Nana menatap tajam Gina. Nana akan mencari kebohongan dimata Gina.


"Kalau yang Gina rasakan, ya Kak Aris mencintai Gina."


"Apa yang kamu takutkan sayang?"


"Gina takut, setelah menikah Kak Aris berubah kepada Gina" Gina menundukkan kepalanya, Gina tidak berani menatap Nana.


"Sayang yang namanya pernikahan, harus dipupuk terus rasa cintanya. Jangan dibiarkan, ibarat tanaman harus disiram, harus dipupuk, harus dirawat. Jangan udah ditanam terus dibiarkan, maka dia akan mati. Begitu juga dengan pernikahan, rawat dia dengan baik, maka yakinlah kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya"


"Baiklah Nana, Gina sudah tau jawabannya dan Gina sudah yakin. Kalau kak Aris mengajak Gina menikah saat dia pulang dari negara F, maka Gina akan menerimanya"


"Serius sayang, tidak ada paksaan?"


"Serius Nana."


"Alhamdulillah sayang. Pernikahan itu adalah ladang pahala terluas sayang. Apapun yang kamu kerjakan untuk suami dengan ikhlas maka ganjarannya untuk kamu adalah pahala "


Gina yang mendengar ucapan Nana tersenyum bahagia. Gina bersyukur memiliki seorang Nana yang mengerti akan kebutuhan seorang anak gadis. Nana yang saat saat tertentu bisa dijadikan sebagai sahabat untuk berbagi cerita. Nana yang suatu saat bisa menjadi psikiater dadakan.


Itulah Nana yang berusaha selalu ada untuk kedua anak yang disayanginya. Orang yang tidak mengenal Nana akan mengatakan Nyonya Wijaya itu sombong, dingin dan angkuh. Tapi kalau mereka melihat keseharian Nana, maka mereka akan mengatakan Nana adalah ibu terbaik yang diharapkan seluruh anak yang terlahir di dunia.

__ADS_1


__ADS_2