
Matahari sudah kembali keperaduannya. Semua keluarga sudah berkumpul untuk makan malam di lounge hotel. Arga sudah duduk dengan Frenya. Dia malam ini akan tidur dengan Frenya dan Sari.
"Nya kita pergi raun dulu yuk. Ajak Stefen." ujae Arga yang tiba tiba ingin pergi raun mengelilingi ibu kota negara U.
"Emang mau kemana?" tanya Frenya
"Keliling keliling aja Nya. Capek di hotel terus aja malam." jawab Arga yang sebenarnya nggak tau tujuan mau kemana. Tapi dia sangat malas berada di dalam kamar saja semalaman.
"Oh oke. Kita ngomong sama Stefen."
Frenya mengajak Arga menemui Stefen. Frenya menceritakan keinginan Arga kepada Stefen. Stefen mengangguk setuju dengan apa yang diinginkan oleh Arga.
"Bunda, Arga pergi keluar dengan Frenya dan Stefen ya?"
"Kemana?" tanya Aris yang mendengar Arga meminta izin untuk keluar.
"Nggak kemana mana, cuma muter muter aja. Arga males cepat cepat masuk kamar." jawab Arga.
"Boleh ya Bun, Dad" bujuk Arga.
"Boleh, asalkan malam ini kamu tidur dikm kamar Frenya." ujar Aris kepada Arga.
Arga mengangguk. "Biarlah tidur di kamar Frenya dari pada kena mati lampu lagi." jawab Arga sambil mengejek kedua orang tuanya.
"Hahahahaha. Makasi sayang, kamu memang anak terbaik." ujar Aris sambil mengacak rambut Arga.
"Anak terbaik tapi bukan cucu terbaik." jawab Arga sambil berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
Aris yang sangat jelas mendengar apa yang barusaja dikatakan oleh Arga menatap ke arah Gina. Gina mengangkat kedua pundaknya.
"Tanya Arga saja sayang. Aku nggak mau ngomong atas bahas itu. Lebih baik Arga yang menceritakan kepada dirimu." ucap Gina sambil meremas tangan Aris.
Aris langsung saja berdiri hendak membicarakan hal serius tadi dengan Arga. Gina menahan Aris dengan meremas tangan Aris. Gina menggelengkan kepalanya
"Jangan sekarang, biar dia pergi dulu dengan Frenya dan Stefen. Besok kamu penuhi janji kamu mengajak dia bermain. Setelah itu kamu boleh bertanya apapun kepada Arga. Arga pasti akan menceritakan semuanya dan memberikan seluruh bukti." ucap Gina sambil menarik Aris untuk duduk kembali.
Setelah semua selesai makan malam, mereka kembali menuju kamar masing masing. Sedangkan Frenya, Stefen dan Arga tetap pergi jalan jalan malam menikmati keindahan ibu kota pada malam hari.
Aris membawa Gina masuk ke dalam kamar mereka. Gina yang tau keinginan Aris masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan seluruh badannya, dia tidak lupa menyemprotkan parfum kesukaan Aris ke beberapa titik sensitif favorit Aris memberikan tanda tanda cinta mereka.
Setelah merasa tubuhnya telah wangi, Gina memakai pakaian yang seksi. Dia sengaja memakai semua itu agar Aris langsung menyerangnya saat dia keluar dari kamar mandi.
"Sayang" panggil Gina sambil berdiri dengan gaya dan tatapan menggoda Aris.
__ADS_1
Aris yang melihat Gina seperti itu langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju arah istrinya yang sedang menggoda imannya itu.
Aris mengecup sekilah bibir Gina yang seksi. Saat Aris mau melepaskan kecupan singkatnya Gina menggigit kecil bibir Aris, setelahnya mereka melakukan permainan tanding bibir yang menguras tenaga, nafas dan juga kemampuan. Mereka berperang sangat lama, sampai tiga kali mengambil nafas.
Setelah puas bermain dengan bibir ranum Gina, Aris mulai memberikan kecupan kecupan ringan di leher putih jenjang milik istrinya itu. Dia juga tidak melupakan meninggalkan jejak jejak kepemilikan. Jejak jejak yang sudah lama hilang dari diri Gina.
Gina sangat menikmati permainan yang dimainkan oleh Aris. Gina sangat susah untuk berkonsentrasi sekarang ini.
Gina yang sudah benar benar menginginkan sesuatu mengisi pusat intinya, mengarahkan tangan Aris yang bebas kepada salah satu gundukan miliknya.
Aris yang paham dengan keinginan Gina mulai memainkan gundukan itu dengan begitu nsemangatnya. Aris terus saja bermain di sana. Aris tidak menghentikan kegiatannya untuk memainkan jari jari panjangnya di sana.
"Sayang" ujar Gina dengan tatapan yang sudah luar biasa menandakan kalau yang punya mata sedang dimabuk kepayang.
"Apa?" tanya Aris kepada Gina.
"Jadi Bayi." jawab Gina sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Aris lagi menggoda istrinya itu.
"Jadi Bayi sayang." jawab Gina kembali.
Aris menggendong tubuh istrinya itu menuju ranjang mereka. Aris membaringkan Gina di sana.
"Sayang" ujar Gina kembali setelah merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya yang hendak meledak keluar.
Aris paham dengan kode yang diberikan oleh Gina. Dia terus bermain di sana dan memberikan sensasi sensasi yang seperti tersentrum kecil kepada Gina.
Akibat ulang Aris yang pandai membuat Gina serasa kesentrum itu. Akhirnya berhasi membuat badan Gina bergetar dengan hebatnya. Aris yang melihat berniat menggoda Gina.
"Kenapa kayak kesentrum sayang?" ujar Aris sambil memainkan dua jarinya di sana.
"Keluar" jawab Gina sambil merem melek.
"Hahahahaha. Mau lebih atau sampai sini aja?" tanya Aris lagi.
"Lebih." jawab Gina sambil tersenyum.
Gina kemudian membalikan badan Aris. Dia duduk tepat di atas perut Aris.
"Wow" ujar Aris yang tidak membayangkan Gina mau seperti ini.
Gina mulai memberikan Aris kecupan kecupan yang sama dengan dirinya dapatkan tadi. Aris membiarkan saja istrinya itu bermain di sana. Sekali sekali Aris juga kembali menggoda Gina. Dia tidak ingin Gina merasa bermain sendirian.
__ADS_1
Tiba tiba saja Gina melakukan hal yang tidak pernah di lakukan dirinya kepada Aris. Hal itu membuat Aris menjadi sangat takjub. Aris sama sekali tidak bisa berbuat apa apa saat Gina melakukan hal itu. Aris hanya bisa merasakan sensasinya saja.
"Sayang, aku udah nggak bisa nahan. Aku nggak mau keluar di situ, tapi mau di sini." ucap Aris sambil menunjuk ke tempat paling favorit dirinya yang ada di bagian diri istrinya itu.
Gina kemudian sedikit mengangkat badannya. Dia memasukan bagian favorit dirinya ke dalam bagian favorit diri Aris. Gina mulai memainkan perannya dengan sangat baik. Aris membantu Gina dalam permainannya. Mereka bermain dengan sangat cantik. Kadang mereka bermain dengan sangat cepat dan keras, nanti akan mereka selingi dengan permainan lambat dan lembut.
Gina dan Aris sama sama tidak ingin menyelesaikan permainan itu dengan cepat. Bagi mereka berdua sekarang bukan puncaknya yang mereka raih. Tetapi durasi permainan yang mereka butuhkan.
Setelah puas menjadi komando permainan. Sekarang giliran Aris yang mengambil alih komando permainan. Gina merasakan semuanya dengan sangat nikmat. Saat Aris mengambil alih komando permainan Gina juga sedikit mambantu Aris.
Gina sebenarnya sudah lelah, tetapi apa mau dikata dirinya masih menginginkan itu berada di situ.
"Sayang" ujar Aris yang sudah merasakan sesuatu akan meledak di sana.
"Apa?" tanya Gina yang sebenarnya sudah paham dengan apa yang diinginkan oleh Aris.
"Boleh ya" ujar Aris meminta sesuatu yang sebenarnya Gina juga inginkan.
Gina mengangguk. Aris mulai kembali bermain dengan cepat. Saat dia merasakan ada yang akan meledak, Aris memeluk Gina dengan kuat. Gina sudah tau akan hal itu. Kalau Aris sudah memeluknya dengan kuat berarti sesuatu di sana sudah keluar.
Aris dan Gina menenangkan diri mereka kembali. Aris mengecup kening Gina.
"Makasi sayang." ujar Aris.
"Sama sama sayang" jawab Gina sambil tersenyum.
Sesuatu yang sudah lama tidak mereka rengkuh sekarang berhasil mereka dapatkan kembali.
"Tapi ini baru pra sayang. Nanti setelah ini glady bersih. Baru ujiannya." ujar Aris.
"Hah masih ada dua kali ronde lagi?" tanya Gina dengan tersenyum.
"Yup. Dia masih luar biasa kangen." jawab Aris sambil menunjuk ke sana.
"Hahahahaha. Oke oke. Tapi istirahat bentar ya." ujar Gina.
Aris membawa Gina kedalam pelukannya. Dia membiarkan Gina beristirahat sebentar. Sedangkan Aris melihat ponselnya, ada panggilan dari Paman Hendri di sana.
"Ada apa ya Paman telpon?" ujar Aris.
Aris ingin rasanya menghubungi Pakan Hendri. Tetapi dia tidak ingin Gina terganggu karena suaranya yang berbicara dengan Paman Hendri
"Ah nanti ajalah saat Gina udah bangun." ujar Aris.
__ADS_1
Aris kembali memeluk Gina. Dia juga mulai masuk ke alam mimpi mereka masing masing. Aris benar benar lelah dengan aktifitasnya malam ini bermain dengan istrinya.