Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 27


__ADS_3

"Uni ada ide. Sini" ujar Rani membisikkan ide yang ada di otaknya kepada Frenya.


Rani sangat bersemangat menyampaikan ide yang terlintas di otaknya kepada Frenya.


"Wow keren uni. Aku akan ikuti ide dari Uni" kata Frenya dengan semangat.


"Uni memeng selalu terus the best" lanjut Frenya memuji Rani.


"Biasa aja kali" kata Rani yang merasa kalau pujian dari Frenya terlalu berlebihan.


"Mari kita eksekusi" kata Frenya dengan bersemangat.


"Kamu telpon Juan dulu, setelah itu baru kita eksekusi yang tadi. Bisa bisa Juan mengamuk sama kamu nanti kalau kamu tidak menghubunginya juga" kata Rani mengingatkan Frenya untuk menghubungi Juan.


"Bener juga ya. Bisa bisa mengamuk tu orang kalau aku tidak menghubunginya" jawab Frenya yang baru ingat untuk menghubungi Juan setelah Rani mengingatkan dirinya.


Frenya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Memang sudah terlalu banyak panggilan dari Juan yang tidak diterimanya. Frenya tidak menyangka kalau Juan akan menelpin sebanyak itu.


"Wow Uni, bisa bisanya tu orang nelpon sampai sebanyak ini" kata Frenya memperlihatkan berapa jumlah panggilan tak terjawab dari Juan.


"Namanya juga suami bucin, ya gitu. Uni juga sering mengalaminya." kata Rani yang memang sering mendapatkan telpon berkali kali dari Daniel, bahkan yang lebih parahnya lagi, kalau Rani tidak menjawab panggilan dari Daniel, maka Daniel akan langsung datang ke rumah sakit untuk melihat keberadaan Rani.


"Emang kalau uda parah Uni?" tanya Frenya penasaran.


"Parah banget. Kapan kapan kita bahas. Sekarang telpon Juan dulu" perintah Rani dengan tegas kepada Frenya.


"Okeh, aku telpon dulu suami bucin aku ini Uni" kata Frenya.


Frenya langsung saja menghubungi Juan. Baru satu kali dering, panggilan itu sudah langsung di terima Juan.


"Sayang kamu tidak apa apakan? Kamu tidak sakitkan? Kenapa telpon aku tidak kamu angkat" ujar Juan bertanya dengan cara memborong seperti itu.


"Sayang satu satu tanyanya. Aku tidak sakit. Telpon tidak diangkat karena aku asik ngobrol dengan Uni, makanya sampai nggak denger bunyi ponsel. Lagian ponsel juga dalam tas aku" jawab Frenya dengan santainya menanggapi kecemasan Juan yang terdengar sangat jelas saat bertanya kepada Vian.


"Syukurlah kalau kamu tidak apa apa. Setelah ini kamu langsung pulang ke mansion, atau ada acara lanjutan dengan Uni?"


Juan sangat lega sekali saat mendengar suara Frenya yang memang dalam keadaan baik baik saja. Sebenarnya kecemasan Juan sudah termasuk kecemasan yang berlebihan. Juan sudah tau kalau Frenya dalam kondisi baik baik saja dari Hendri. Tetapi dasarnya suami sudah terlalu bucin dengan istri, tentunya saat mendengar suara istri, dia akan langsung merasa bahagia dan lebih tenang lagi.


"Ada acara lanjutan sayang. Rencananya kami mau shoping, udah lama sekali tidak shoping berdua dengan Uni. Bolehkan?" kata Frenya meminta izin kepada Juan untuk pergi shoping dengan Rani.


"Boleh sayang, silahkan saja. Tetapi jangan kelelahan dan ingat makan" ujar Juan mengingatkan Frenya untuk makan siang.


"Tentu, sampai mall aku akan langsung makan dengan Uni" jawab Frenya dengan pasti. Ftenya memang sudah bisa membayangkan mau makan apa sesampainya mereka di mall nanti.


"Hati hati ya. Sampai mall" ujar Juan yang akan menyampaikan pesan berikutnya.


"Langsung kirim chat" sambung Frenya.


"Haha haha haha, tuh ngerti" ujar Juan.


"aku mengerti selalu" jawab Frenya.


"tetapi sering lupa aja kalau udah sibuk" lanjut Frenya yang tidak ingin Juan yang mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Haha haha" Juan tertawa renyah mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


"Aku tutup telpon dulu ya sayang. Uni sepertinya sudah siap untuk berangkat" ujar Frenya mengkambinghitamkan Rani yang dikatakan sudah siap untuk berangkat ke mall. Padahal yang tidak sabaran untuk pergi ke mall itu adalah Frenya sendiri.

__ADS_1


"Okeh hati hati" ujar Juan.


Frenya memutuskan panggilan telponnya dengan Juan. Dirinya akan pergi ke mall untuk mempersiapkan kejutan yang akan diberikan oleh Frenya kepada Juan.


"Ayo Uni kita jalan" ujar Frenya dengan bersemangat.


Frenya sudah memegang tangan Rani. Dia sudah tidak sabaran lagi untuk membuat kejutan yang akan diberikannya kepada Juan.


"Ambil tas dulu Nya, baru jalan" kata Rani yang tas miliknya dan juga milik Frenya masih di dalam ruang kerja Rani.


"Lupa" jawab Frenya dengan santainya.


"Kalau udah bahagia semua lupa" ujar Rani sambil geleng geleng kepala.


Frenya dan Rani pergi mengambil tas mereka terlebih dahulu, setelah itu barulah mereka akan pergi ke mall.


"Kita naik mobil kamu saja Nya. Biar mobil Uni mengikuti kita dari belakang" ujar Rani.


"Sip, mobil manapun oke oke saja" jawab Frenya.


Kedua dua pengawal sudah membukakan pintu penumpang bagian belakang. Mereka mengira kalau Nona Nona merea akan baik mobil masing masing.


"Saya akan ikut dengan mobil Frenya. Kamu iringi saja dari belakang" ujar Rani kepada pengawal sekaligus sopirnya itu


"Siap Nona" jawab sopir tanpa bantahan sedikitpun.


Frenya dan Rani masuk ke dalam mobil milik Frenya. Mereka sudah dalam posisi duduk dengan nyaman di kursi belakang.


"Kita ke mall pusat Hendri" ujar Frenya memberitahukan tujuan mereka akan kemana sekarang.


Hendri mengemudikan mobilnya menuju mall pusat seperti yang diminta oleh Frenya.


"Uni udah telpon Uda?" tanya Frenya yang melihat Rani sama sekali belum menghubungi Daniel.


"Sudah tadi, saat kamu menelpon Juan" jawab Rani.


"Oh oke, jadi nanti saat kita pulang, uda nggak ngamuk sama aku kan ya, karena melarikan istri tercintanya ke mall" ujar Frenya.


"Kamu masih ingat yang dulu itu?" tanya Rani.


"Ya, aku ingat sekali uni. Itu kali pertama aku dimarahi uda" jawab Frenya.


Frenya memang tidak bisa melupakan kejadian saat itu. Daniel benar benar marah kepada Frenya. Daniel sama sekali tidak mengizinkan Frenya untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Bener, sampai sampai Nana harus turun tangan untuk menyelesaikan" ujar Rani yang ingat dengan kejadian tersebut.


"Bener, nana harus mendamaikan kami berdua." kata Frenya.


"Itu bener bener cerita yang waw" Rani memberikan tanggapan nya.


Tak terasa karena obrolan mereka berdua, mobil yang dikemudikan oleh Hendri sudah berbelok masuk ke bestman mall pusat. Hendri memarkir mobilnya di parkiran yang kosong. Mobil yang dikemudikan oleh pengawal Rani, juga memarkir mobilnya di sebelah mobil Frenya.


"Kita langsung ke tempat itu terlebih dahulu, atau ke mana dulu Uni?" tanya Frenya yang ragu dengan tujuan pertama mereka.


"Kita ke tempat itu dulu aja. Kecuali kalau kamu sudah lapar, kita bisa ke restoran terlebih dahulu" ujar Rani memberikan alternatif tempat yang akan mereka tuju.


"Kita ke rumah makan dulu aja Uni. Aku lapar"

__ADS_1


"Oke. Mau makan apa?" tanya Rani.


"Sushi?" tanya Frenya.


"Jangan. Kalau dapat selama kehamilan kamu ini, kamu makan bener bener semua bahan makanan di masak dengan matang sempurna"


Rani melarang Frenya untuk menikmati shusi makanan Jepang yang diolah mentah tersebut. Rani menyarankan kepada Frenya untuk makan makanan yang benar benar di masak sampai matang sempurna.


"Oke, bagaimana kalau nasi padang? " tanya Frenya menawarkan jenis makanan kedua kepada Rani.


"Setuju" ujar Rani.


Kedua Nona dari keluarga Soepomo berjalan masuk ke dalam restoran yang menjual nasi padang di mall besar itu. Mereka menjadi pusat perhatian semua orang karena kecantikannya.


Frenya dan Rani duduk di kursi yang tidak di dalam ruangan VVIP mereka duduk di meja biasa saja. Mereka berdua makan dengan sangat lahap menu nasi padang yang dihidangkan di depan mereka berdua.


"Wow, ini bener bener lezat Uni" kata Frenya saat telah selesai menikmati hidangan yang disajikan pelayan di meja mereka.


"Terasa enak karena kita sudah lama tidak menyantap hidangan yang seperti ini Nya. Coba kalau kita sudah menyantapnya tiap hari, maka rasanya akan menjadi biasa saja" kata Rani menjelaskan kepada Frenya.


Setelah selesai menikmati semua menu yang mereka pesan, kedua wanita dari keluarga Soepomo itu keluar dari restoran. Hendri telah selesai melakukan pembayaran di kasir.


"Kita langsung ke sana Uni?" tanya Frenya.


"Yup, kita akan langsung ke tempat itu" jawab Rani.


Rani dan Frenya kemudian berjalan menuju tempat yang direkomendasikan oleh Rani untuk tempat membuat kejutan yang akan diberikan oleh Frenya kepada Juan.


Hendri dan Frans pengawal Rani berjalan mengikuti kedua Nona mereka itu. Mereka berdua sama sekali tidak terlibat dalam obrolan, mereka berdua sama sama hanya menjaga kedua Nona yang berjalan di depan mereka.


"Ke sini Nya" ujar Rani berbelok masuk ke dalam sebuah toko yang menjual apa yang diinginkan oleh Rani dan Frenya.


Frenya dan Rani masuk ke dalam sebuah studio fhoto. Mereka akan membuat kejutan untuk Juan di sana.


"Selamat datang Nyonya Daniel" ujar salah seorang yang sepertinya supervisor yang sudah sangat kenal dengan Rani.


"Ada yang bisa kami bantu?" lanjut supervisor tersebut.


"Saya mau buat kejutan buat suami adik saya ini" kata Rani menjelaskan tujuan kedatangan mereka berdua ke tempat itu.


"Kejutan itu berupa bongkar fhoto yang minimalis dengan menaruh fhoto ini di dalamnya." lanjut Rani memaparkan dengan lebih terperinci lagi.


Frenya memberikan fhoto hasil USG nya kepada Rani.


"Baik Nyonya, kami paham. Kami akan mengerjakannya. Kasih kami waktu satu jam" ujar supervisor yang sudah langsung mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Rani.


"Bikin seperti biasanya. Tidak norak dan tidak berlebihan" kata Rani memberikan rambu rambu yang tidak boleh di lewati oleh orang yang akan membuat depannya.


"Siap Nyonya" jawab Supervisor.


"Kita kemana Nya? Satu jam itu waktu yang tidak sebentar" ujar Rani yang memang tidak akan betah kalau harus menunggu di tempat tersebut.


"Makan ice cream bagaimana uni?" ujar Frenya memberikan usulan.


"Mantap. Ayok makan ice cream."


Rani setuju dengan ide yang diberikan oleh Frenya kepada dirinya. Mereka berdua kemudian meninggalkan studio fhoto tersebut. Mereka akan menuju toko ice cream favorit mereka di mall tersebut.

__ADS_1


__ADS_2