Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Mami


__ADS_3

Mereka berenam terus aja berjalan menuju penjara dibagian paling ujung tempat Mami diinapkan. Di sepanjang perjalanan Aris melihat ada beberapa penjara yang ada orangnya sedang tergantung dan ada yang duduk tetapi sudah susah untuk bangun.


"Sayang mereka kamu apain?" tanya Aris sambil menatap orang yang berada di balik penjara.


"Yang kamu lihat sebelum ini, dia berani mengusik anak perusahaan GA Grub. Dia berani mencuri di perusahaan. Suatu hal yang jelas merupakan pelanggaran pertama. Mereka sudah tau resiko apa yang akan mereka peroleh saat mereka melakukan hal itu." ujar Ghina lagi.


"Kalau itu?" tanya Aris saat melihat seorang pria yang diikat.


"Kalau yang itu, dia udah berani mengganggu Frenya. Makanya diikat seperti itu oleh Stefen. Itu urusan Stefen." jawab Ghina sambil melihat orang yang pertama masuk ke sinj dalam keadaan ganteng sekarang berubah menjadi buruk rupa.


"Maaf sebelumnya sayang. Kalau yang si itu?" ujar Aris yang antara segan dan malu mengucapkan nama selingkuhannya.


"Vina?" tanya Ghina.


Aris mengangguk.


"Hahahahahahaha. Ngomong aja kenapa harus sampe nggak sebut nama. Dia udah aku ungsikan ke pulau tak bertuan. Nanti Nenek lampir juga akan di oper ke sana." Ghina memberitahukan tentang dimana keberadaan mantan selingkuhan suaminya.


Mereka berenam akhirnya sampai di depan ruang penjara Mami. Mami terlihat duduk dengan memegang kepalanya. Sepertinya dja sedang merasakan sakit yang luar biasa.


Seorang pengawal yang berdiri di depan ruangan Mami, membuka pintu sel saat melihat Ghina dan yang lainnya datang.


"Bagaimana dengan keadaan dia?" tanya Ghina kepada pengawal yang berjaga.


"Tadi dia meminta obat untuk sakit kepala. Saya sudah memberikan Nyonya. Tetapi sepertinya dia masih menahan sakit." ujar pengawal kepada Ghina


Mereka semua melangkah masuk ke dalam sel penjara Mami. Mami yang melihat ada yang datang langsung berdiri dari duduknya. Dia melihat penuh amarah ke mereka semua.


"Kalian mau menertawakan saya???? Saya tekankan saya tidak akan menyerah kepada kalian." ujar Mami dengan penuh amarah.


"Hay Nyonya, Anda tidak akan bisa mengusik kami. Anda masih belum sadar siapa kami?" tanya Argha maju.


Yang lain saat melihat Argha maju membiarkan saja, mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Argha kepada Nyonya besar yang sudah tidak besar lagi.


Argha berdiri tepat di depan Mami. Dia menatap Mami dengan sangat tajam. Mami membalas tatapan yang dihadiahkan oleh Argha. Tetapi sampai pada batasnya Mami sudah tidak sanggup membalas tatapan dari Argha yang makin lama semakin dingin.


"Tenang saja Nyonya, saya tidak akan menyakiti Nyonya lagi. Saya kasian melihat tubuh terawat Nyonya menjadi seperti ini." ujar Argha sambil melihat Mami dari bawah sampai le atas.


Mami menatap Argha dengan ngeri. Mami sangat sangat yakin Argha sedang memikirkan sesuatu untuk menghukum dirinya.


Arga mengeluarkan ponsel miliknya, dia kemudian mendial sebuah nomor.


"Hallo Felix, saya minta kamu sekarang datang ke penjara bawah paling ujung. Bawa hadiah yang telah saya siapkan kemaren." ujar Argha menelpon Felix salah satu orang kepercayaan Argha.

__ADS_1


Mami manatap Argha dengan tatapan penuh ketakutan. Mami merasakan aura aura kekejaman yang aneh dari dalam diri Argha.


"Apa yang akan kamu lakukan sama saya?" tanya Mami dengan nada yabg terdengar sangat takut.


"Tenang saja Nyonya. Saya tidak akan berbuat jelek dengan Nyonya." ujar Argha kembali.


Tidak beberapa lama Felix yang ditelpon oleh Argha tadi sudah berada di tengah tengah mereka.


"Nyonya, Tuan." sapa Felix kepada setiap orang yang berada di sana.


"Ada kamu bawa Felix?" tanya Argha dengan wajah dinginnya. Aura seorang pemimpin sudah terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Sudah Tuan muda. Apa harus saya lakukan sekarang juga?" tanya Argha sambil tersenyum sinis.


"Yup. Sekarang juga. Lakukan Felix." ujar Argha memerintahkan Felix untuk melakukan eksekusi.


Felix mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jasnya. Dia kemudian membuka kotak itu dengan perlahan. Ghina dan Mira sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Argha.


"Sekarang Felix." perintah Argha.


Felix dibantu oleh seorang pengawal yang bertindak untuk memegang Mami mulai melakukan tugasnya. Felix dengan mulus melaksanakan tugas yang diberikan Argha tersebut. Felix sudah sangat terbiasa melakukan hal itu.


"Berapa lama Felix?" tanya Ghina.


"Paling lama lima menit Nyonya" jawab Felix.


"Sayang, ada apa ini? Apa yang disuntikkan Felix ke dia?" tanya Aris yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Felix tadi.


"Kamu lihat saja nanti sayang. Kamu akan tau apa yang akan dilakukan oleh mereka." ujar Ghina.


"Kamu nanti juga bisa ikut bermain. Aku yakin Argha melakukan ini untuk dirimu juga." kata Ghina menatap anaknya.


Argha mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Ghina tadi. Mereka kemudian menunggu sebentar.


"Bun, dia bangun." ujar Argha.


"Bunda atau aku?" tanya Argha selanjutnya.


"Kamu aja. Bunda mengikuti aja." ujar Ghina.


Argha kemudian maju mendekati Mami yang seperti kehilangan akal itu. Mami seperti bukan mami yang ditemui mereka tadi. Tapi sudah Mami yang baru.


"Hay Nyonya," sapa Argha.

__ADS_1


"Hay. Kamu siapa?" tanya Mami kepada Argha.


"Saya bukan siapa siapa. Saya mau tanya sama Nyonya. Nyonya kerja dimana?" tanga Argha lagi.


"Saya sekretaris tuan Andra Soepomo. Tapi nanti sebentar lagi saya akan jadi Nyonya Soepomo." ujar Mami sambil tersenyum jahat.


"Kenapa begitu? Bukannya istri Tuan Andra Soepomo adalah Erlin Soepomo?" tanya Argha lebih lanjut.


"Kamu anak kecil jadi tidak akan tau permasalahan orang besar." ujar Mami menatap sinis ke arah Argha.


"Oh ya sudah. Ini ada orang besar." ujar Argha menyuruh Aris untuk bertanya.


Aris maju mendekati Mami.


"Hallo Nyonya Soepomo. Perkenalkan nama saya" ujar Aris.


"Terimakasih Tuan sudah menganggap saya sebagai Nyonya Soepomo. Tapi sayangnya saya belum melakukan hal apa apa untuk bisa menjadi Nyonya Soepomo." ujar Mami menahan senyum bangganya.


"Oh maafkan saya. Saya kira anda adalah istri Tuan besar Soepomo." ujar Aris.


"Jadi Nyonya, bagaimana kisahnya sampai Anda bisa menjadi Nyonya Soepomo?" tanya Aris selanjutnya.


"Saya yang membunuh istri pertama Tuan Soepomo. Dia menjadi pengganggu dalam tujuan saya. Saya sebenarnya ingin membunuh dia dan anaknya Aris Soepomo. Tapi sayangnya yang meninggal hanya istrinya. Sedangkan Aris masih hidup. Kalau kedua duanya mati, saya akan langsung mendapatkan keuntungan."ujar Mami.


"Jadi apa anda melakukannya sendirian?" tanya Aris selanjutnya.


"Ya sendirian. Semua orang di rumah utama itu pengecut. Mereka tidak berani membunuh. Makanya saya lakukan sendirian. Akhirnya saya sekarang adalah Nyonya Soepomo." ujar Mami dengan bangganya.


"Lalu, kenapa Anda tinggal di sini?" tanya Aris kembali.


"Karena saya sekarang sedang liburan. Makanya saya tidak di rumah utama." ujar Mami sambil menatap dinding dingin penjara yang serasa sedang di hotel bintang lima.


"Ohw baiklah. Terimakasih atas infonya. Selamat liburan." ujar Aris.


"Sudah Dad?" tanya Argha.


Aris mengangguk. "Terimakasih Gha." ujar Aris sambil menepuk pundak anaknya.


"Felix, laksanakan. Jero panggil Stefen antarkan dia ke pulau terpencil itu." perintah Argha.


"Siap Tuan Muda." jawab Felix dan Jero.


Jero menghubungi Stefen. Mereka akan mengantarkan Nyonya Soepomo itu menuju pulau tempat Vina dan kedua orabg tuanya berada. Pulau yang sama sekali tidak bisa di jamah oleh orang lain. Masuk ke pulau itu harus seizin Ghina tidak bisa yang lain.

__ADS_1


Felix menyuntikkan obat tidur dengan dosis yang sudah diatur. Nanti Mami akan tersadar saat sudah berada di pulau tersebut.


Setelah selesai dengan urusan Mami. Mereka semua sekarang akan menuju sayap kanan markas. Mereka akan mencoba semua peralatan yang ada di sana.


__ADS_2