Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bukan Paman tapi Papi


__ADS_3

"Sayang, mumpung hari minggu kita nyusun semua pakian yang di beli untuk blip yuk sayang. Sekalian kita masukin perlengkapan untuk melahirkan aku ke dalam biks. Jadi gampang saat aku tiba tiba mules mau melahirkan. Jadi tinggal angkat satu boks itu aja." kata Gina sambil ngos ngosan karena berbicara panjang lebar.


"Sayang, kamu ngomong lebih baik dikit dikit tapi sering. Dari pada ngomong panjang akhirnya sesak napas kayak gini sayang." ujar Aris memberikan nasehat kepada Gina.


Semenjak kehamilannya yang sudah masuk trimester akhir, Gina memang terlihat sering ngos ngosan setiap habis berbicara. Nafas Gina sudah pendek pendek.


"Hehehehe. Takut lupa apa yang mau diomongin sayang." jawab Gina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Alasan kamu yang masuk akal sedikit kenapa coba Nyonya Muda Soepomo" kata Aris sambil menggelitik pinggang Gina.


"Sayang jangan gelitik. Nanti aku buang air kecil di celana sayang. Semenjak hamil besar ini aku sering pengen buang air kecil." jawab Gina yang sudah tidak tahan untuk digelitik Aris.


Aris memberhentikan gelitikannya. Dia membawa Gina untuk masuk ke dalam kamar Blip. Mereka akan menyusun semua pakaian itu ke dalam almari. Serta memasukan sebagian ke dalam boks besar yang akan dibawa saat Gina akan melahirkan nantinya.


Aris dan Gina masuk ke dalam kamar blip. Mereka melihat semua kantong kantong belanjaan yang berisikan pakaian milik Blip. Begitu banyak kantong kantong yang berisi perlengkapan Blip. Mereka sampai tidak sanggup untuk menghitung karena banyaknya.


"Sayang, baru lihat aja aku pengen muntah. Apalagi harus menyusunnya." kata Gina sambil memegang kepala dan perutnya.


"Sama sayang. Kalau aku sendirian dipastikan tidak akan selesai satu hari ini. Bagaimana kalau kita minta tolong Bram aja sayang." jawab Aris.


Aris sudah menyerah sebelum menyusun. Gina nggak akan mungkin bisa ikut. Kalau dia sendirian tidak akan mungkin selesai. Akhirnya korban terakhir memang adalah Bram.


"Bener."


Gina kemudian menuju kamar Bram. Dia menggedor pintu Bram seperti biasanya. Bram yang sedang menghubungi Sari, mendengar pintu kamar digedor seperti itu sudah mengetahui siapa orangnya tanpa membuka pintu kamar.


[Siapa yang gedor kayak gitu yank?] tanya Sari.


[Kalau nggak Aris ya Gina. Siapa lagi yank. Mereka berdua yang berani gedor pintu kamar aku kayak ngegedor pintu sel tahanan.] jawab Bram dengan nada kesal.


Bram sudah berkali kali mengingatkan Aris dan Gina untuk tidak menggedor pintu kamarnya dengan begitu kuat. Tapi yang namanya Aris dan Gina akan tetap seperti itu.


Bram membuka pintu kamar. Dia melihat Gina dengan senyum tanpa dosanya berdiri di depan pintu kamar.


"Ada apa Gin?" tanya Bram.


"Kak Aris manggil kakak di kamar Blip. Katanya ada yang penting yang mau dibicarakan." jawab Gina yang terpaksa harus berbohong. Gina tidak mungkin mengatakan maksud yang sebenarnya kepada Bram.

__ADS_1


"Ya udah bentar." jawab Bram.


[Yank telponnya nanti aku ulang ya. Aris ada perlu dengan aku. Katanya penting] kata Bram kepada Sari.


[Sip. Jangan lupa nanti malam jam tujuh yank.] Sari mengingatkan Bram akan janji temu mereka.


[Sip. Nggak akan lupa.] jawab Bram.


"Kakak ada janjian dengan Sari? Kemana? Boleh ikut?" tanya Gina yang memang sudah kangen dengan sahabatnya itu.


"Boleh. Tapi pergi menemani Sari meeting, mau ikut?" tanya balik Bram kepada Gina.


"Ogah kalau meeting. Kira pergi nonton." jawab Gina yang kesal ternyata Bram dan Sari pergi meeting.


'Maafin gue Gin terpaksa boong. Kalau gue jujur pasti loe dan Aris mau ikut. Gue mau berduaan aja.' kata Bram dari dalam hatinya.


"Kakak nggak usah boong. Bilang aja mau berduaan nggak mau aku dan uda Aris ganggu." kata Gina sambil meledek Bram.


Bram melongo mendengar perkataan Gina. Dia tidak menyangka Gina akan menjawab seperti itu.


"Ada apa Ris. Kata Gina ada yang mau loe omongin ke gue. Penting." tanya Bram langsung saja saat dia sudah duduk di depan Aris.


Aris menatap Gina, yang ditatap malah senyam senyum tanpa ada rasa bersalah karena sudah menjebak Aris dengan kalimat kalimatnya kepada Bram.


"Sebenarnya yang ada perlu bukan gue tapi Gina." jawab Aris melemparkan kembali permasalahan ke Gina.


Bram melihat ke arah Gina. Gina melihat ke Aris dengan memajukan mulutnya. Gina tidak.menyangka Aris akan melemparkan bila kembali kepada dirinya.


"Udahlah ngomong aja. Ada apa nyuruh gue ke sini. Perasaan gue jadi nggak baik." kata Bram melihat ke Aris dan ke Gina.


"Sebenarnya. Kakak kan masih dalam mode kalah taruhan dengan Gina kan kak?" tanya Gina memastikan kepada Bram.


Gina takut Bram tiba tiba emosi dan mengingkari janjinya kepada Gina.


"Masihlah. Kan menjelang kamu lahiran kakak masih dalam mode kalah." jawab Bram.


"Nah pas kalau begitu. Aku kan susah neh duduk lesehan di bawah. Jadi......." kata Gina menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Jadi gue dan Aris harus menyusun pakian dalam kantong kantong belanja ini ke dalam almari." lanjut Bram.


"Nah bener. Ternyata paman blip pintar juga." kata Gina sambil menepuk pundak Bram.


"Tidak Paman tetapi Papi." jawab Bram yang menolak di panggil Paman.


"Yelah Papi." jawab Gina.


Bram dan Aris mulai melepaskan merk dari pakaian pakaian itu. Mereka menyusun berdasarkan jenisnya. Gina yang lelah berbaring di atas sofa. Tidak terasa Gina yang berbaring di tambah dengan hembusan alat pendingin langsung tertidur. Aris dan Bram yang mendengar ada nada ngorok melihat ke arah Gina.


"Yah tu orang tidur." kata Aris.


"Biarin aja Ris. Kita yang ngelipet dia yang capek. Ibu ibu hamil memang susah ditebak." kata Bram sambil geleng geleng kepala.


Aris juga telah memasukan pakaian dan peralatan bayi yang akan mereka bawa saat Gina lahiran. Bram membawa boks besar itu ke dalam mobil yang memang sudah sengaja dipersiapkan untuk mengantar Gina ke rumah sakit saat dia mau melahirkan. Mulai awal bulan besok, mobil tersebut akan parkir di perkarangan rumah tidak lagi di garasi.


Dalam waktu lima jam akhirnya Aris dan Bram selesai menyusun semua barang barang milik Blip. Aris dan Bram juga menyusun perlengkapan makan dan juga mandi blip pada tempatnya.


"Ris hanya satu yang tinggal lagi dalam kamar ini." kata Bram kepada Aris.


"Ya blip.itu sendiri." kata Aris.


Mereka kemudian menuju balkon. Aris dan Bram memilih untuk duduk duduk di balkon kamar yang langsung tersaji pemandangan danau buatan di belakang rumah utama.


"Gimana dengan pembangunan taman itu Bram?" tanya Aris.


"Sudah hampir selesai. Peresmiannya akan langsung saat acara aqiqah Blip." jawab Bram kepada Aris.


"Bagaimana dengan kerjasama dengan perusahaan Zain? Gue agak ragu dengan dia Bram." kata Aris yang memang sudah mendapat info kalau perusahaan Zain berada dalam jurang kebangkrutan.


"Ya. Gue akan cari tau lebih. Gue nggak mau dia mengambil kesempatan dalam kerjasama kita." kata Bram selanjutnya.


"Yup kamu harus cari tau Bram. Gue ingin ini semua selesai sebelum Gina melahirkan. Gue berencana akan cuti selama sebulan saat Gina selesai melahirkan. Gue akan fokus mengasuh anak gue."Aris membeberkan semua rencananya saat Gina sudah melahirkan anak mereka.


"Gue janji akan secepatnya menyelesaikan dan mencari tahu tentang perusahaan Zain itu." jawab Bram.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan obrolan ke arah yang lain. Gina masih berada di alam mimpi. Dia masih enggan untuk bangun.

__ADS_1


__ADS_2