
Saat sampai di rumah sakit Harapan Kita, Sopir melihat kerumunan wartawan yang sudah berada di depan ruangan IGD rumah sakit.
"Nyonya banyak wartawan." ujar Sopir kepada Ghina.
"Biarkan saja. Kamu tetap berhenti di depan pintu ruang IGD nanti para pengawal akan mengatasi mereka." ujar Ghina mmeberikan perintah.
Sopir yang sudah dapat perintah dati Ghina langsung memberhentikan mobil di depan ruangan IGD. Semua pengawal yang dari tadi tidak terlihat, langsung keluar dari tempat mereka berada. Mereka memberikan pengamanan kepada semua anggita keluarga Soepomo. Mereka memblokade pergerakan wartawan yang akan mewawancarai anggota kelyarga Soepomo.
Semua anggota Soepomo turun dengan cepat dan separo berlari masuk kedalam ruangan IGD yang luas itu. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin memastikan keadaan keluarga mereka yang sedang tertimpa musibah itu. Harusnya ini adalah hari berbahagia keluarga Soepomo malahan berubah menjadi hari petaka bagi keluarga.
"Nyonya Ghina, kasih kami kabar Nyonya." ujar salah satu wartawan.
Salah satu pengawal maju. Dia memberikan tatapan tajam membunuh kepada wartawan yang sudah berani bertanya tidak pada tempatnya itu. Wartawan yang mendapat hadiah tatapan membunuh kemudian dengan perlahan menghilang dari kerumunan. Dia masih sayang nyawanya untuk saat ini.
"Nyonya Ghina semua pasian di sini. Silahkan ikuti saya, Nyonya Ghina " ujar Kepala Dokter Jaga yang bertugas hari ini, saat melihat keluarga Soepomo sudah datang.
Ghina dan yang lainnya mengikuti kepala dokter jaga. Mereka berjalan dengan cepat menuju tempat Sari dan yang lainnya di rawat.
Setelah berjalan sebentar mereka sampai juga di ruangan tempat Sari dan yang lainnya diberikan perawatan oleh dokter. Betapa syoknya Bram saat melihat calon istri yang ditunggu tunggunya dari tadi sedang terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit. Gaun putih yang dipilih oleh Sari sudah bertukar dengan pakaian rumah sakit.
"Dokter, mana pakaian pengantin istri saya?" tanya Bram kepada dokter jaga.
Kepala dokter jaga mengambilkan pakaian pengantin milik Sari yang tadi sudah mereka buka dengan susah payah.
"Ini tuan." ujar kepala dokter jaga.
Bram memeluk gaun pengantin putih yang sudah penuh dengan darah itu. Tak terasa air mata Bram menetes mengenai gaun putih tersebut. Aria yang tau betapa lemahnya Bram, memeluk adiknya itu. Dia tau bagaimana rasa hati Bram sekarang.
"Dokter, bagaimana dengan semua korban?" ujar Papi.
"Sebelumnya kami minta maaf Tuan besar. Dari tiga pasien, mereka memiliki keluhan dan keadaan yang berbeda beda." ujar kepala dokter jaga.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Ayah Sari yang dari tadi hanya diam saja tidak berbicara sedikitpun.
"Lebih baik kita keruangan saya saja Tuan." ujar kepala dokter jaga.
"Tidak perlu. Disini saja." ujar Bram yang sudah bisa menguasai dirinya kembali.
__ADS_1
Kepala dokter jaga melihat ke arah Ghina. Ghina mengangguk meyakinkan kepala dokter jaga untuk mengatakan semuanya. Kepala dokter jaga mengangguk menyetujui pendapat Ghina.
"Begini Tuan dan Nyonya. Kondisi tiga pasien akan saya terangkan mulai dari Tuan Besar Wijaya. Untuk Tuan Besar Wijaya kondisinya mengalami patah kaki, luka di wajah dan beberapa bagian ada yang memar. Sekarang Tuan Besar masih dalam masa observasi tim dokter untuk lima jam ke depan." ujar Kepala Dokter Jaga.
"Sedangkan pasien kedua yaitu Nona Sari. Sebelumnya kami mohon maaf, Nona Sari memiliki luka di kepala, patah kaki kanan serta wajahnya mengalami lebam. Nona Sari juga dalam masa observasi tim dokter." lanjut kepala dokter jaga menerangkan keadaan Sari.
"Untuk Nyonya atau Ibu Nona Sari, kami mohon maaf yang sebesar besarnya kepada keluarga besar, tetapi kami dari tim dokter akan berusaha dengan sangat maksimal." ujar Kepala dokter jaga.
"Maksudnya apa?" tanya Tuan Soepomo.
"Nyonya sedang dalam tindakan operasi Tuan besar. Tadi Ayah dari Nona Sari sudah setuju kami mengambil tindakan untuk Ibu nona Sari." jawab kepala dokter jaga.
Papi menatap ke arah Ayah. Ayah mengangguk.
"Jadi apakah Sari memiliki peluang untuk sehat?" tanya Bram.
"Semua kemungkinan untuk sehat ada Tuan muda. Kami dari tim dokter akan berusaha kuat untuk memberikan yang terbaik bagi semua pasien." ujar kepala dokter jaga.
Saat mereka semua sedang berdiskusi tentang keadaan ketiga pasien, seorang suster berlari menerobos pintu ruangan Sari.
"Dokter Irwan butuh bantuan Anda dokter." ujar suster.
Kepala dokter jaga masuk ke dalam ruangan Sari. Bram yang melihat wajah panik suster hendak menerobos masuk. Tetapi lengannya sudah ditahan oleh Aris.
"Ris, Sari Ris." ujar Bram yang sudah kembali meneteskan air matanya.
"Sabar Bram. Dokter sedang berusaha." ujar Aris kepada Bram.
Saat semua orang panik di depan ruangan Sari. Seorang suster membuka pintu ruangan dengan lebar.
"Tuan Bram dan Ayah Sari diminta Nona Sari untuk masuk." ujar Suster.
Kedua orang itu masuk dengan memakai pakaian steril ruangan IGD. Mereka berdiri di sisi kanan dan kiri Sari.
"Ayah tolong nikahkan aku dengan Bram sekarang Ayah." ujar Sari dengan suara yang sangat pelan.
"Tapi sayang." ujar Ayah.
__ADS_1
"Sayang, kita tunggu kamu sehat dulu ya." ujar Bram.
Sari menggeleng dengan lemah. Bram kemudian menatap dokter. Dokter mengangguk meyakinkan Bram.
"Baiklah sayang. Ayah nikahkan aku dengan Sari." ujar Bram.
Bram berjalan keluar.
"Aris tolong carikan hakim. Kami akan menikah sekarang. Sari memintanya. Tolong kabulkan Ris." ujar Bram sambil mengusap air matanya.
Ghina meraih ponselnya. Dia menghubungi Alex untuk langsung membawa hakim nikah ke rumah sakit.
Semua keluarga masuk ke dalam ruangan Sari. Mereka memakai pakaian steril rumah sakit. Ghina dan Mira membantu meletakan dengan bagus pakaian pernikahan milik Sari yang lain yang telah dibawakan oleh maid yang ada di rumah utama Wijaya.
Saat Sari sudah siap. Penghulu pernikahan dan orang dari kantor KUA juga sudah datang. Acara pernikahan itu dimulai dengan suasana yang bercampur aduk di dada mereka masing masing. Mereka semua tidak tau kenapa Sari tetap kekeh ingin menikah saat ini juga.
Pengucapan ijab kabul antara Bram dan Ayah Sari hanya satu kali dilakukan. Semua orang yang berada di dalam kamar mengatakan sah saat pengucapan itu selesai.
Sari meneteskan air matanya. Mira dengan sigap menyeka air mata itu. Dia tidak ingin Sari merasakan perih saat air matanya mengenai wajahnya yang luka.
Bram kemudian memasangkan cincin pernikahan mereka ke jari manis Sari. Cincin itu melingkar bersebelahan dengan cincin pertunangan mereka dua tahun yang lalu. Sari yang tidak bisa mengangkat tangannya hanya meminta Ghina mewakili dirinya untuk memakaian cincin milik Bram.
Saat semua prosesi pernikahan itu selesai. Sari mendadak sesak nafas. Semua orang laget melihat kondisi Sari yang tiba tiba drop itu. Semua orang yang ada di ruangan bergerak ke tepi. Sedangkan semua dokter yang ahli dibidangnya maju menangani keadaan Sari.
"Ghin." ujar Mira memeluk sahabatnya.
"Sabar Mir. Semoga Sari tidak kenapa kenapa." ujar Ghina.
Semua tim dokter bergerak cepat. Salah satu suster menemui keluarga besar.
"Maaf Tuan dan Nyonya. Kami harap Tuan dan Nyonya menunggu di luar ruangan. Kami Tim dokter akan memberikan yang terbaik untuk Nona Sari." ujar suster.
Semua keluarga besar bergerak meninggalkan ruangan Sari. Mereka akan melihat dari kaca yang ada di luar. Kaca yang menjadi dinding ruangan ICU.
...........................................................
Bagaimana dengan kondisi Sari ke depannya???? Nantikan terus ya kakak
__ADS_1